Biografi Asywadie Syukur Sang Rektor Kharismatik

       Muhammad Asywadie Syukur dilahirkan pada tanggal 8 Agustus 1939 di kota Muara teweh Barito Utara Kalimantan Tengah. Kedua orang tuanya berasal dari suku Bakumpai yang berasal dari daerah Marabahan Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan. Dari perkawinannya dengan Tsuaibatul Aslamiyah pada tahun 1968, ia memiliki lima orang anak perempuan dan satu orang laki-laki.

       Asywadie menyelesaikan pendidikan dasar pada Sekolah Rakyat di desa Benua Hulu Barito Utara Kalimantan Tengah tahun 1953. Selepas lulus dari Sekolah Menengah Islam Hidayatullah (SMIH) Martapura tahun 1957, ia memperoleh beasiswa untuk memperdalam studi hukum Islam pada Fakultas Syariah dan hukum di Universitas al-Azhar Kairo hingga lulus pada tahun 1965. Selanjutnya ia kembali memperoleh beasiswa pada jurusan Ushul Fikih dirasah al-ulya Fakultas Syariah Universitas al-Azhar dan lulus pada tahun 1976. Beberapa rekan sedaerah semasa Asywadie menempuh studinya di Al-Azhar antara lain K.H. Mukri Gawith, H. Rusdi Taufik, H. Mukri Sa’ad, Saleh Abdurahim dan Hamdan Khalid. Beberapa tokoh nasional yang semasa dengan Asywadie menempuh studi di Al-Azhar antara lain Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Quraish Shihab dan Alwi Shihab.

       Beberapa orang guru yang masih lekat dalam kenangannya semasa sekolah di Sekolah Rakyat bernama Frans Nahan dan Pantung. Pada Sekolah Menengah Islam Hidayatullah di Martapura, ia memperoleh dasar-dasar agama pada beberapa orang guru antara lain H. Hasyim Mukhtar, H. Nashrun Taher (keduanya merupakan tokoh pendiri Sekolah Menengah Islam Hidayatullah Martapura) dan H. Nawawi Ma’ruf. Pada H. Nasrun Taher, Asywadie sempat mempelajari qiraat sab’ah. Pada Universitas Al-Azhar Kairo, Asywadie belajar pada Syekh Madani (Fikih), Syekh Jadurab (Ushul Fikih), Abdurrahman Qisyqi (Qawa’id Fiqhiyah), Syekh Mahluf (Filsafaf) dan Syekh Abu Zahrah. Di samping itu, ia juga pernah mengikuti Graduate Course di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selama tiga bulan sejak 15 Juli sampai 15 Oktober 1971. Beberapa ilmu yang sempat dipelajarinya saat itu antara lain Fikih dengan bimbingan T.M. Hasby Ash Shiddieqy, Sejarah dengan Mukhyar Yahya dan Hukum Pidana dengan dosen yang bernama Mulyono

     Setelah kembali ke Banjarmasin, ia melanjutkan studi pada jurusan qadha Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin dan lulus pada tahun 1980. Teman sejawat Asywadie selama menempuh studi di Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin antara lain Drs. H. M. Yusran Asmuni dan Drs. H. Husnan Budiman.

     Guru Besar pada Ilmu Fikih yang pertama di IAIN Antasari ini, dikenal sebagai seorang yang aktif berkecimpung dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Hal ini dimulainya sejak ia datang dari Mesir. Selain aktif berdakwah, ia juga banyak terlibat dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan politik. Salah satu aktivitas dakwah yang menjadikan menjadi dikenal di Banjarmasin khususnya dan di Kalimantan pada umumnya adalah kegiatannya dalam mengisi dialog tanya jawab masalah keagamaan pada Radio Republik Indonesia (RRI) Nusantara III Banjarmasin yang dikenal dengan program acara “Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan”. Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan yang disiarkan sejak tahun 1984 ini merupakan sebuah acara konsultasi agama melalui surat dari penanya yang kemudian dijawab oleh Asywadie. Nampaknya keberadaan acara ini cukup diminati masyarakat Kalimantan Selatan khususnya dan daerah-daerah lain yang menangkap siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Nusantara III Banjarmasin saat itu. Siaran ini tidak hanya diikuti oleh para pendengar di kawasan Kalimantan, tetapi juga oleh para pendengar di wilayah lain di Indonesia, bahkan juga hingga ke negara tetangga seperti Brunei, Malaysia, Singapura dan Philipina. Belakangan, karena kesibukannya, acara ini digantikan oleh K. H. Husin Nafarin, Lc, MA, teman dan tokoh ulama terkenal di daerah ini.

       Dalam mengasuh program acara Konsultasi Masalah Hidup dan Kehidupan ini, menurut Asywadie, ia berusaha menjawab pertanyaan pendengar dengan memberikan jawaban yang sesuai dengan isi pertanyaan dengan melakukan bimbingan yang mengarah pada kebaikan serta mengupayakan agar tidak terjadi kemungkaran. Dalam hal ini, apabila pertanyaan tersebut menyangkut permasalahan yang telah disepakati para ulama tentang kebaikan atau keburukan suatu masalah, maka Asywadie memberikan jawaban dengan menyampaikan kesimpulan para ulama tersebut. Akan tetapi, apabila pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya menyangkut permasalahan yang diperselisihkan (khilafiyah) oleh para ulama, maka dalam hal ini Asywadie berupaya menyampaikan informasi mengenai pendapat-pendapat serta dalil setiap pendapat tersebut tanpa memberikan kesimpulan akhir sehingga penanya atau pendengar dapat memilih sendiri pendapat yang lebih kuat menurut mereka.

Pada tahun 1968 hingga tahun 1970, ia mengawali kariernya sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Tarbiyah. Lima tahun kemudian, yakni tahun 1970 sejak dinegerikannya Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin hingga tahun 1975, ia dipercaya sebagai dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari. Di samping itu, pada tahun 1974, Asywadie juga menjadi anggota Lembaga Research dan Survey (sekarang Pusat Penelitian) IAIN Antasari dan menjadi Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat di IAIN Antasari pada tahun 1981. Sejak tahun 1981 hingga 1983, ia kembali menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari.

Bersamaan dengan jabatannya sebagai Dekan Fakultas Dakwah, ia juga terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat I Kalimantan Selatan periode tahun 1982 hingga tahun 1987. Setelah sempat vakum dari jabatan struktural di IAIN Antasari, atas dukungan dan kepercayaan dari civitas akademika IAIN Antasari, Asywadie diangkat kembali menjadi Dekan Fakultas Dakwah untuk periode tahun 1995 sampai 1998. Ia kemudian mendapat kepercayaan sebagai Rektor IAIN Antasari sejak tahun 1997 sampai tahun 2001.

Dosen pengajar mata kuliah Fikih, Ushul Fikih dan Tasawuf yang kerap tampil sederhana dan low profile ini, menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan pada dua periode yakni tahun 1980-1985 dan 1985-1990. Selanjutnya, ia menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan untuk periode tahun 1995 hingga akhir hayatnya pada tahun 2010. Perannya sebagai ketua umum MUI Kalimantan Selatan dalam waktu yang cukup lama dan ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalimantan Selatan menjadikan kepemimpinannya dapat diterima oleh semua golongan umat beragama.

Perjalanan ke beberapa negara yang merupakan tugas negara yang pernah diembannya adalah :

  1. Ketua delegasi Indonesia pada kunjungan muhibbah ke Tunisia, Mesir, Arab Saudi, 1991.
  2. Ketua delegasi Indonesia pada kunjungan muhibbah ke Emirat Arab, 1994.
  3. Ketua delegasi Indonesia pada kunjungan ke Arab Saudi, 1996.

Dosen pengajar mata kuliah Fikih, Ushul Fikih dan Tasawuf ini, juga berkiprah dalam beberapa organisasi sosial kemasyarakatan sebagai berikut :

  1. Palang Merah Indonesia Kalimantan Selatan sebagai pengurus, tahun 1986-1992.
  2. Majelis Dakwah Islamiyah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai ketua, tahun 1983-1988.
  3. Dewan Mesjid Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan sebagai ketua, tahun 1985-1992.
  4. GAKARI Provinsi Kalimantan Selatan sebagai pengurus, tahun 1983-1993.
  5. Persatuan Pertahanan Tarekat Islam (PPTI) Provinsi Kalimantan Selatan sebagai pengurus, tahun 1984-1993.
  6. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai pengurus selama dua periode dari tahun 1991-2001.
  7. Badan Amil, Zakat, Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi Kalimantan Selatan sebagai ketua, tahun 1995-1998.

Karier politiknya berawal ketika ia terlibat sebagai Ketua Biro Kerohanian DPD Golongan Karya Tingkat I Kalimantan Selatan selam dua periode berturut-turut dari tahun 1983-1988 dan 1988-1993. Pada tahun 1993-1998, ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Golongan Karya Tingkat I Kalimantan Selatan. Berbagai kiprahnya di atas, akhirnya mengantarkannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Kalimantan Selatan tahun 1982-1987. Pada tahun 1997 sampai 2002, Asywadie juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia dari utusan daerah Kalimantan Selatan.

Di samping aktif dalam berbagai kegiatan di atas, mengisi ceramah, sarasehan seminar dan lainnya, Asywadie Syukur juga cukup produktif dalam menghasilkan karya ilmiah. Beberapa karya ilmiah Asywadie berupa buku yang telah dipublikasikan, antara lain:

  1. Filsafat Al-Qur’an (1969)
  2. Filsafat Islam (1969)
  3. Islamologi (1970)
  4. Pengantar Ilmu Agama Islam (2 jilid, 1975)
  5. Ilmu Tasawuf (2 jilid, 1980)
  6. Perbandingan Mazhab (1980)
  7. Apakah Hukum Islam Dipengaruhi Oleh Hukum Romawi (1981)
  8. Studi Perbandingan tentang Masa dan Lingkungan Berlakunya Hukum Positif dan Fikih Islam (1990)
  9. Sejarah Perkembangan Dakwah Islam dan Filsafat Tasawuf di Indonesia (1982)
  10. Studi Perbandingan tentang beberapa Macam Kejahatan dalam KUHP dan Fikih Islam (1990)
  11. Filsafat Tasawuf dan Aliran-Alirannya (1981)
  12. Bimbingan Ibadah Bulan Ramadhan (1982)
  13. Asas-Asas Hukum Perdata Islam (1970)
  14. Asas-Asas Hukum Kebenaran dan Perjanjian dalam Fikih Islam (1984)
  15. Intisari Hukum Perwarisan dalam Fikih Islam (1992)
  16. Intisari Hukum Wasiat dalam Fikih Islam (1992)
  17. Intisari Hukum Perkawinan dalam Fikih Islam (1985)
  18. Pengantar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih (1990)
  19. Khutbah sebagai Media dan Metode Dakwah (1982)
  20. Strategi dan Teknik Dakwah Islam (1982)
  21. Ilmu Dakwah (1970)
  22. Hukum Konstitusi dalam Fikih Islam (1990)
  23. Hukum Keuangan dalam Fikih Islam (1990)
  24. Internasional dalam Fikih Islam (1990)
  25. Ringkasan Ilmu Perbandingan Mazhab (1983)
  26. Laporan Penelitian tentang Naskah Risalah Tuhfatur Raghibin (1990)
  27. Konsultasi Hidup dan Kehidupan 1 (2002).

Karya dalam bentuk terjemahan juga tidak lepas dari konsentrasi beliau. Adapun karya yang telah dihasilkannya adalah:

  1. Ilmu Tasawuf (1980)
  2. Perbandingan Mazhab (1980)
  3. Bimbingan Ibadah Bulan Ramadhan (1982)
  4. Intisari Hukum Perwarisan dalam Fikih Islam (1992)
  5. Intisari Hukum Perkawinan dalam Fikih Islam (1985)
  6. Pengantar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih (1990)

Diantara karya terjemahan yang telah dihasilkannya adalah:

  1. Dasar-dasar Ilmu Dakwah (1979)
  2. Allah Menurut Syariat Islam (1982)
  3. Beberapa Petunjuk untuk Juru Dakwah (1982)
  4. Kitab Sabilal Muhtadin (1967) Al-Milal wa al-Nihal (2005).

Pemikiran Asywadie telah dituangkan melalui berbagai tulisan, baik berupa artikel, makalah, diktat, hasil penelitian, dan lain-lain pada berbagai media cetak di Banjarmasin seperti Banjarmasin Post, Kalimantan Post, Serambi Ummah, Buletin Kerukunan Beragama (diterbitkan Departemen Agama Kalimantan Selatan) dan lain-lain.

Pemikiran-pemikiran Asywadie berupa makalah yang telah dipublikasikan dalam berbagai kegiatan ilmiah yang telah diikutinya antara lain adalah:

  1. Keluarga Berencana Menurut Ajaran Islam
  2. Hukum Pemasangan Spiral Menurut Fikih Islam
  3. Ilmu Kependudukan Menurut Ajaran Islam
  4. Cara Perempuan yang Masih bias Haid menyelesaikan Tawaf Ifadhah
  5. Pengertian Fi Sabilillah sebagai Salah Satu Asnaf Zakat
  6. Miqat Makani Bagi Jamaah Haji Indonesia
  7. Pandangan Islam tentang Transplantasi Kornea Mata
  8. Hukum Pemasangan IUD Menurut Pandangan Agama Islam
  9. Kedudukan Zawil Arham dan Hukum Islam
  10. Problematika Muncul Berbagai Aliran dan Paham Keagamaan serta Antisipasi dan Solusinya
  11. Pandangan Islam tentang Wajib Belajar
  12. Perbedaan Agama menjadi Penghalang bagi Ahli Waris Menerima Perwarisan Menurut Fikih dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia
  13. Hukum Perempuan Haid Membaca dan Menulis ayat Al-Qur’an dalam Ujian
  14. Golongan yang berhak Menerima Zakat dan cara membagikan Harta Zakat
  15. Hukum Pembongkaran dan Pemindahan Kerangka Jenazah menurut Ketentuan Fikih Islam
  16. Keturunan (Nasab) Menjadi Patokan Sejodoh (Kafaah) dalam Perkawinan Menurut Mazhab Zaidiyah
  17. Perkembangan Pelaksanaan Peringatan Maulid Rasul
  18. Penetapan Awal Bulan Ramadhan dan Syawal serta yang Berwenang Menetapkannya Menurut Mazhab Syafi’i
  19. Hukum Bedah Mayat untuk Keperluan Pendidikan dan Penyelidikan Menurut Fikih Islam
  20. Wali Hakim Menurut Fikih Islam dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia dan Wali Nasab dalam Perjanjian Perkawinan Menurut Fikih dan Kompilasi Hukum Islam.

Intensitas mengisi kegiatan-kegiatan ilmiah seperti dialog, seminar, bedah buku telah menjadi rutinitas beliau yang tergolong padat. Rutinitas kegiatan ilmiah di tingkat Nasional maupun Internasional. Beberapa diantaranya, yaitu:

  1. The International Congress on Islam and Population Policy, di Jakarta tahun 1990.
  2. Asia Pasific Conference on Islamic Dakwah, di Jakarta Tahun 1995.
  3. Asia Pasific Conference on Islamic Education, di Jakarta Tahun 1995.
  4. Lokakarya Muballigh se-Indonesia, di Jakarta tahun 1971.
  5. Musyawarah Antar Umat Beragama sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1989.
  6. Lokakarya Para Alim Ulama dalam program BKKBN se-Kalimantan Selatan sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1979.
  7. Lokakarya Pembangunan Hukum Islam Melalui Yurisprudensi, di Jakarta Tahun 1981.
  8. Musyawarah Nasional Ulama se-Indonesia sebagai Penyaji Makalah, di Jakarta Tahun 1983.
  9. Lokakarya Penanggulangan Kawin Usia Muda, di Jakarta Tahun 1991.
  10. Seminar Kawin Usia Muda sebagai Penyaji Makalah, di Pelaihari Tahun 1989.
  11. Seminar Peran Ulama dalam Gerakan Koperasi di Pedesaan Kalimantan Selatan, di Banjarmasin Tahun 1990.
  12. Simposium Bedah Mayat untuk Pendidikan dan Penyelidikan, di Banjarmasin.
  13. Seminar tentang Peningkatan Peran Agama dalam Realita Sosial, di Banjarmasin Tahun 1990.
  14. Seminar Nasional Peningkatan Peranan Ulama dalam Gerakan KB Nasional, Tahun 1990.
  15. Seminar Pemikiran Keagamaan Syekh Arsyad Al-Banjari, di Banjarmasin Tahun 1988.
  16. Orientasi Hukum Islam, di Jakarta Tahun 1992.
  17. Seminar Orientasi Sosial Budaya III, di Banjarmasin Tahun 1983.
  18. Orientasi Ulama se-Kalimantan Selatan, di Banjarmasin Tahun 1983.
  19. Seminar Sejarah Perkembangan Hukum Islam sebagai Penyaji Makalah¸ di Banjarmasin Tahun 1989.
  20. Seminar Konsep KAMTIBNAS dan Peran Pemuka Agama¸ di Banjarmasin Tahun 1992.
  21. Seminar Pemantapan Tasawuf Sunni di Kalimantan Selatan sebagai Pembanding Utama, di Banjarmasin Tahun 1986.
  22. Seminar Kelembagaan Agama dan Perubahan Sosial, di Jakarta Tahun 1971.
  23. Simposium Bedah Mayat Menurut Hukum dan Nilai Agama sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1993.
  24. Seminar terhadap Pandangan Islam tentang Transplantasi Kornea Mata sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1993.
  25. Sarasehan tentang Merokok Menurut Pandangan Agama Islam sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1993.
  26. Seminar tentang Pemasangan IUD Menurut Pandangan Agama Islam sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1993.
  27. Seminar tentang Hasil Penelitian Dosen dan Peneliti, di Banjarmasin Tahun 1993.
  28. Seminar Penanggulangan Kemiskinan, di Jakarta Tahun 1993.
  29. Seminar Badan Koordinasi Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI), di Jakarta Tahun 1993.
  30. Seminar tentang Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi PJPT II, di Banjarmasin Tahun 1993.
  31. Simposium tentang Memasyarakatkan ASEAN, di Banjarmasin Tahun 1993.
  32. Seminar Pengentasan Kemiskinan sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1993.
  33. Seminar Peran Tasawuf dalam Abad Modern sebagai Pembanding, di Banjarmasin Tahun 1993.
  34. Mudzakarah Penanggulangan AIDS, di Bandung Tahun 1995.
  35. Seminar Regional tentang Peran Hukum Islam dalam Pembangunan Hukum Nasional sebagai Pembanding, di Banjarmasin Tahun 1996.
  36. Mudzakarah BAZIS se-Kalimantan sebagai Penyaji Makalah, di Banjarmasin Tahun 1996.

Sejatinya, karya-karya Asywadie dan deskripsi yang telah dihasilkan, dapat diketahui bahwa sebagian besar karyanya berkaitan dengan masalah Hukum Islam. Partisipasinya dalam berbagai kegiatan-kegiatan ilmiah membuat masyarakat memberikan penghargaan yang tinggi kepadanya dan beliau termasuk tokoh yang berpengaruh di tingkat Kalimantan Selatan, tingkat Kalimantan bahkan di tingkat Nasional dan Internasional. Kapasitas dan integritas Asywadie sebagai seorang Guru Besar pada Ilmu Fikih dan Tokoh Masyarakat di Banjarmasin menjadikan beliau selalu aktif dan haus terhadap kegiatan-kegiatan di kalangan akademis maupun non akademis. Kegigihan beliau dalam menuntut Ilmu Pengetahuan tidak pernah kering hingga akhir hayatnya.

Setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin, pada tanggal 27 Maret 2010 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman umum Alkah Mahabbah Gunung Ronggeng Martapura. Ungkapan bela sungkawa atas kepergiannya tidak hanya datang dari kalangan umat Islam, bahkan komunitas Katolik, Kristen, Hindu dan Budha turut menyampaikan ungkapan duka cita di berbagai media. Sikapnya yang bersahaja, mengayomi dan mudah menyesuaikan diri di tengah pergaulan lintas agama inilah yang barangkali patut ditiru dan meninggalkan kesan tersendiri bagi orang-orang mengenalnya. Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: