HAKIKAT, TUJUAN.., PENDIDIKAN ISLAM

HAKIKAT, TUJUAN, KEGUNAAN, PENDIDIK, ANAK DIDIK, LINGKUNGAN, SERTA

SARANA DAN METODE PENDIDIKAN§

 

A. PENDAHULUAN

      Diskursus tentang pendidikan dan pendidikan Islam sampai sekarang masih berlangsung. Perdebatan panjang mengenai makna (hakikat) pendidikan itu sendiri masih sering terjadi.Berbagai pendapat dari sudut pandang yang berbeda membuat pendidikan mempunyai banyak arti. Pendidikan kadang dimaknai sebagai transfer of knowledge, atau terkadang juga dimaknai sebagai proses bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada peserta didik untuk menjadi dewasa dan mampu melaksanakan tugas dalam hidupnya.

      Bahkan pendidikan juga sering dimaknai sebagai internalisasi nilai-nilai budaya masyarakat yang ada.Pengertian-pengertian tentang pendidikan seperti di atas, kerap kali membingungkan kita. Alhasil berbagai pertanyaan tentang apa sebenarnya hakikat pendidikan masih sering terdengar di mana-mana.

B. HAKIKAT PENDIDIKAN

  1. Definisi Pendidikan

Sebelum membahas lebih jauh tentang hakikat pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas makna dari pendidikan itu sendiri. Secara etimologi (bahasa), pendidikan berasal dari bahasa Yunani yang berarti paedagogie, terdiri dari kata “pais” yang artinya anak, dan “Again” diterjemahkan dengan membimbing. Jadi paedagogie adalah bimbingan yang diberikan kepada anak.[1]Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masayarakat dan kebudayaan.Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.[2]

Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[3] Untuk memahami lebih jauh tentang pendidikan, maka di sini akan dipaparkan pendidikan menurut para ahli.

Menurut Langeveld pendidikan ialah usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.[4] Sedangkan John Dewey mengartikan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.[5]

Tidak jauh berbeda dengan Langeveld dan John Dewey, Carter V. Good mengartikan bahwa pendidikan adalah ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.[6]

Sedangkan tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[7]

Adapun dalam UU Sisdiknas 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[8]

  1. Hakikat Pendidikan

Dari beberapa pengertian di atas, walaupun memiliki perbedaan secara redaksional, akan tetapi secara esensial memiliki kesamaan, yaitu pendidikan merupakan proses bimbingan, tuntunan atau pemimpin yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, peserta didik dan tujuan.

Secara pribadi penulis mengalami kesulitan dalam menentukan hakikat pendidikan karena definisi pendidikan itu sendiri, akan tetapi menurut hemat penulis hakikat pendidikan adalah proses mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia. Atau dengan kata lain bisa diartikan sebagai proses memanusiakan manusia (humanisasi)- meminjam istilahnya Poulo Freire. Dalam konteks ini manusia diberi kebebasan dalam memilih, mengembangkan potensi yang merupakan fitrahnya.

Sebenarnya istilah memanusiakan manusia juga digunakan orang-orang Yunani tempo dulu, yang mengatakan bahwa hakikat pendidikan itu ialah “pertolongan” kepada manusia agar ia menjadi manusia. Jadi ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, pertama “manusia”, kedua “menolong”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan.[9]

Orang-orang Yunani lama menentukan tiga syarat untuk disebut manusia.Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri, kedua, cinta tanah air dan ketiga berpengetahuan.Aspek pendidikan yang kedua adalah “menolong”. Dalam hal ini pendidik menolong mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia. Kata “menolong” juga mengajarkan kepada pendidik bahwa ia mestilah melakukan pertolongan dengan kasih sayang. Konsekuensinya ialah pendidik tidak akan berhasil menolong bila dalam menolong tidak ada rasa kasih sayang kepada yang ditolong (peserta didik).

Dengan demikian pada hakikatnya pendidikan merupakan proses bimbingan ataupun pertolongan yang diberikan pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar “peserta didik” dapat mengembangkan dirinya untuk dapat survive di masa datang. Alih kata pendidikan merupakan proses pendewasaan bagi peserta didik.

Hanya saja dalam proses bimbingan tersebut peserta didik ditempatkan sebagai subyek, bukan sebagai obyek atau yang biasa disebut banking concept meminjam istilahnya Poulo Freire. Dikatakan “gaya bank” karena peserta didik hanya dijadikan sebagai obyek yang harus tunduk terhadap pendidik. Tentunya pola hubungan seperti ini dapat melahirkan tekanan-tekanan bahkan bisa dikatakan penindasan-penindasan terhadap peserta didik. Disinilah letak urgensi pendidikan yang humanis, dimana manusia dengan manusia lain memiliki peran yang sama. Artinya pendidik dan peserta didik mempunyai kedudukan yang sama dalam proses belajar mengajar, dimana nilai-nilai kemanusiaan lebih diutamakan.[10]

Seorang pendidik dalam pendekatan humanis bukanlah seorang raja, yang bisa menghukum dengan cara apapun. Akan tetapi pendidik lebih bersifat sebagai fasilitator yang mampu mengakomodir segala kepentingan peserta didik.Alih kata, seorang pendidik tidak boleh sewenang-wenang dalam mengajar, karena guru dan siswa merupakan mitra dialog yang sejajar. Sebagai mitra dialog yang sejajar, guru haruslah menghargai hak-hak peserta didik.

C. HAKIKAT PENDIDIKAN ISLAM

  1. Definisi pendidikan Islam

Pengertian pendidikan Islam tidak terlepas dari tiga istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Meskipun sesungguhnya terdapat beberapa istilah lain yang memiliki makna serupa seperti kata tabyin, tadris dan riyadhah, akan tetapi ketiga istilah tersebut dianggap cukup representatif dan amat sering digunakan dalam rangka mempelajari makna dasar pendidikan Islam.[11] Dalam perjalanannya ketiga istilah tersebut masih mengundang perdebatan panjang dalam menentukan istilah yang tepat bagi pendidikan Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut, di sini akan dijelaskan ketiga Istilah tersebut.

a)      Tarbiyah

Istilah tarbiyah berakar dari tiga kata, yakni pertama dari kata rabba-yarbu yang berarti “bertambah dan tumbuh”, kedua rabiya, yarba yang berarti “tumbuh dan berkembang”, dan ketiga kata rabba, yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai dan memimpin menjaga dan memelihara. Kata al-rabb, juga berasal dari kata tarbiyah dan berarti “mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan” secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur”.[12]

Najib Khalid al-Amir menyatakan bahwa menurut ilmu bahasa, tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata yaitu masing-masing “Rabbaba-Rabba-Yurabbi” yang artinya memperbaiki sesuatu yang meluruskan.Kata “Rabba” berasal dari suku kata “Ghata-yughati” dan “Halla-Yuhalli” yang artinya menutupi.Dari fi’il “Rabba-Yurabbi” kata “Ar-rabbu-Tarbiyatun” ditujukan kepada Allah swt, yang artinya tuhan segala sesuatu, raja dan pemiliknya.Ar-Rabb “tuhan yang ditaati”, “tuhan yang memperbaiki”.Juga ditegaskan Ar-rabbu merupakan masdar yang bermakna tarbiyah yaitu menyampaikan sesuatu menuju titik kesempurnaan sedikit demi sedikit.[13]

Penggunaan istilah Tarbiyah untuk menunjukkan makna pendidikan Islam dapat difahami dengan merujuk firman Allah dalam QS. Al-Isra/17:24

Artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.”

Artinya:

Fir’aun menjawab: “Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu. (QS. Asy Syu’ara/26:18)

Artinya:

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS.Yusuf/12:23)

Menurut Quraish Shihab, kata Rabbika disebut dalam al-Qur’an sebanyak 224 kali. Kata tersebut bisa diterjemahkan dengan tuhanmu. Kata yang bersumber dari akar kata ini memiliki arti yang berbeda-beda, namun pada akhirnya, arti-arti itu mengacu kepada arti pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan serta perbaikan.[14]

Sedangkan Menurut Zakiah Darajat, kata kerja Rabb yang berarti mendidik sudah dipergunakan sejak zaman Nabi Muhammad saw seperti di dalam al-Qur’an dan Hadis. Dalam bentuk kata benda, kata “Rabba” ini juga digunakan untuk “tuhan” mungkin karena juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara dan mencipta.[15]

Abdurrahman al-Nahlawi merumuskan definisi pendidikan justru dari kata al-tarbiyah, dari segi bahasa menurut pendapatnya, kata al-tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, kata raba-yarbu, yang berarti bertambah, bertumbuh, seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Rum ayat 39, kedua, rabiya-yarbu yang berarti menjadi besar, ketiga, dari kata rabba-yarubbu memperbaiki, menguasasi urusan, menuntun menjaga, memelihara.[16]

Dengan kata lain menurut Abdurrahman al-Nahlawi istilah tarbiyah berarti, memelihara fitrah anak, menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya, mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, bertahap dalam prosesnya.[17]Dengan demikian kata tarbiyah itu mempunyai arti yang sangat luas dan bermacam-macam dalam menggunakannya, dan dapat diartikan menjadi makna “pendidikan, pemeliharaan, perbaikan, peningkatan, pengembangan, penciptaan dan keagungan yang kesemuanya itu menuju dalam rangka kesempurnaan sesuatu sesuai dengan kedudukannya.

b)      Ta’lim

Adapun at-Ta’lim secara etimologis berasal dari kata kerja “allama” yang berarti “mengajar”. Jadi makna ta’lim dapat diartikan “pengajaran” seperti dalam bahasa arab dinyatakan tarbiyah wa ta’lim berarti “pendidikan dan pengajaran”, sedangkan pendidikan dalam bahasa arabnya “at-Tarbiyah al-islamiyah“. Kata Ta’lim dengan kata kerja “allama” juga sudah digunakan pada zaman nabi, baik di dalam al-Qur’an maupun Hadis serta pemakaian sehari-hari pada masa lalu lebih sering digunakan dari pada tarbiyah.Kata “allama” memberi pengertian sekedar memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, karena sedikit sekali ke arah pembentukan kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan.[18]

Rasyid Ridha mengartikan Ta’lim sebagai proses tranmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa ada batasan dan ketentuan tertentu.[19] Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada ayat ini:

Artinya:          

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.(QS. An-Nahl/16:78)

Kalimat wa yu’allimu hum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktifitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Menurut Abdul Fattah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.

Dengan demikian, makna ta’lim tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan, perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku.[20]

Kecenderungan Abdul Fattah Jalal sebagaimana dikemukakan di atas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang dapat pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s. Hal ini secara eksplisit disinyalir dalam Q.S al-Baqarah. Pada ayat tersebut dijelaskan, bahwa penggunaan kata “allama” untuk memberikan pengajaran kepada Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.[21]

Dikemukakan juga istilah Ta’lim yang berasal dari kata “allama” berarti “mengajar” (pengajaran), yaitu transfer ilmu pengetahuan.Padahal ilmu pengetahuan hanyalah sebagian saja dari unsur yang ditransformasikan dalam pendidikan Islam. Dalam konteks lain Ta’lim masih terbatas pada kepada “pengenalan”, belum sampai kepada “pengakuan” sebagaimana menjadi unsur penting dalam konsep pendidikan Islam. Pengenalan dan pengakuan merupakan dua hal penting.

Pengenalan yang benar akan membawa kepada pengakuan yang benar. Dalam kerangka inilah makna pengajaran yang juga mengandung makna pendidikan dinyatakan dalam konsep pendidikan Islam dirumuskan “pengenalan dan pengakuan tentang tempat-tempat yang benar (tepat) dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan (keteraturan penciptaan sedemikian rupa), sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.[22]

Istilah Ta’lim yang juga digunakan dalam rangka menunjuk konsep pendidikan dalam Islam punya makna, pertama,ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati.

Kedua, proses ta’lim tidak saja berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognisi semata, melainkan juga terus menjangkau psikomotor dan afeksi.

c)      Ta’dib

Salah satu konsep kunci utama lain yang merujuk kepada hakikat dari inti makna pendidikan adalah istilah ta’dib yang berasal dari kata adab. Istilah ini dianggap mewakili makna utama pendidikan Islam.Menurut Syaid M Naquib al-Attas, Istilah ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan pengertian pendidikan Islam, sementara tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mencakupi juga untuk pendidikan hewan.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa istilah ta’dib merupakan masdar dari kata kerja addaba yang berarti pendidikan. Dari kata addaba ini diturunkan juga kata adabun.Menurut al-Attas, adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.

Terlepas dari perdebatan panjang ketiga istilah tersebut, sebenarnya para ahli pendidikan telah merumuskan definisi pendidikan Islam, diantaranya: Marimba dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam” menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam.[23]Sedangkan Chabib Thoha menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan didasarkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis nabi.[24]

Dari definisi pertama dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam diartikan sebagai proses, yaitu bimbingan yang diberikan pada peserta didik, yang bertujuan membentuk kepribadian menurut Islam. Sedangkan pengertian kedua lebih menitikberatkan pendidikan yang berdasarkan Islam.Pada intinya kedua pengertian sama-sama menjelaskan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-qur’an dan Hadits.

Selanjutnya, Syahmin Zaini menyatakan dalam bukunya “Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam” bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran Islam, agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia.[25]Dari pengertian tersebut penyusun beranggapan bahwa pengertian ini memiliki kesamaan dengan pengertian pertama. Dimana pendidikan dijadikan sebagai proses pembentukan peserta didik, akan tetapi pengertian ini lebih menitikberatkan pengembangan (fitrah manusia) kreatifitas manusia dalam menjalani hidup, yang berujung pada kemakmuran dan kebahagiaan.

Sedangkan M. Arifin mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[26] Dari definisi ini nampak bahwa pendidikan juga diartikan sebagai proses bimbingan kepada peserta didik dalam rangka mengembangkan kemampuan dasar (fitrah).

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan Islam dengan “proses mengubah tingkah laku individu bagi kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.[27] Muhammad Athiyah Al-Abrsyi memberikan pengertian bahwa “pendidikan Islam mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan mapun tulisan.

  1. Hakikat Pendidikan Islam

Suatu kewajaran jika penulis merasa kesulitan dalam menentukanapa sebenarnya hakikat dari pendidikan Islam, mengingat banyaknya pengertian tentang pendidikan Islam. Terlepas dari banyaknya pengertian tentang pendidikan Islam, ada satu hal yang penulis garis bawahi dari beberapa pengertian tersebut, yaitu pendidikan diartikan sebagai proses pengembangan potensi dan pembentukan pribadi dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, sudah seharusnya lah pendidikan Islam lebih diorientasikan untuk mengembangkan potensi dasar manusia (fitrah). Penulis cenderung mengamini pendapatnya Muhammad Fadhil al-Jamaly bahwa pendidikan Islam merupakan proses pengembangan diri (potensi dasar). Dalam konteks ini beliau mengartikan fitrah sebagai kemampuan-kemampuan dasar dan kecenderungan-kecenderungan yang murni bagi setiap individu.[28]

Allah SWT, menciptakan manusia dengan membawa jiwa imanitasnya dan hubungan humanitas yang tumbuh sebelum manusia lahir di dunia. Pangkal insaniyah manusia terletak pada jiwa imanitasnya, sedangkan jiwa insaniah tumbuh sebagai pancaran dari jiwa imanitasnya, jiwa inilah yang menandakan substansi kemanusiaan manusia yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain.

Potensi rohani yang dimiliki manusia mempunyai kecenderungan-kecenderungan tertentu. Oleh karena itu, tugas pendidikan Islam adalah mengembangkan dan melestarikan, serta menyempurnakan yang baik dan menggantikan atau mengendalikan kecenderungan-kecenderungan jahat menuju kecenderungan positif.Dalam konteks ini Al-Ghazali membagi pengertian ruh menjadi dua, yaitu roh yang bersifat jasmani dan roh yang bersifat rohani.[29]

Selain itu, Al-Ghazali juga mengklasifikasikan rohani manusia dengan tiga dimensi, yaitu:

o   Dimensi diri, pendidikan diarahkan agar manusia dapat melakukan kewajiban kepada tuhannya, seperti ibadah.

o   Dimensi sosial, pendidikan diarahkan agar manusia dapat berkomunikasikan dan berinteraksi pada masayarakat, pemerintah, dan pergaulan sesamanya.

o   Dimensi metafisik, pendidikan diarahkan agar manusia dapat memegangi kaidah dan pedoman dasarnya yang kuat.[30]

            Selain roh, Allah memberikan potensi qalb yang mempunyai kecenderungan serba halus dan mulia. Maka upaya pendidikan adalah:

ü  Teknis pendidikan diarahkan agar menyentuh dan merasuk dalam kalbu dan dapat memberikan bekas yang positif, misalnya dengan cara yang lazim digunakan oleh Rasulullah SAW.

ü  Materi pendidikan Islam tidak hanya berisikan materi yang dapat mengembangkan daya intelek anak didik tetapi lebih dari itu, juga berisi materi yang mengembangkan daya intuisi atau daya perasaan sehingga bentuk pendidikan islam dirasakan pada pengembangan daya pikir dan zikir.

ü  Aspek moralitas dalam pendidikan Islam tetap dikembangkan, karena aspek ini dapat menyuburkan perkembangan qalb.

ü  Proses pendidikan dilakukan dengan cara membiasakan anak didik untuk membentuk kepribadian utuh, dengan cara menyandarkan akan peraturan atau rasa hormat terhadap peraturan yang berlaku serta melaksanakan peraturan tersebut.[31]

            Sebaliknya, untuk potensi akal, upaya pendidikan Islam dalam mengembangkannya adalah sebagai berikut:

v  Membawa dan mengajak anak didik untuk menguakkan hukum-hukum alam dengan dasar suatu teori dan hipotesis ilmiah melalui kekuatan akal pikiran.

v  Mengajar anak didik untuk memikirkan ciptaan Allah sehingga memperoleh konklusi bahwa alam diciptakan dengan tidak sia-sia.

v  Mengenalkan anak pada materi logika, filsafat, matematika, kimia, fisika dan sebagainya, serta materi-materi yang dapat menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas daya nalar.

v  Memberikan ilmu pengetahuan menurut kadar akalnya, dengan cara memberikan materi yang lebih mudah dalu, lalu beranjak pada materi yang sulit, dari yang konkret menuju abstrak.

v  Melandasi pengetahuan aqliah dengan jiwa agama (wahyu), dalam arti anak didik dibiasakan untuk menggunakan kemampuan akalnya semaksimal mungkin sebagai upaya ijtihad, bila ternyata akal belum mampu memberikan konklusi tentang suatu masalah, masalah tersebut dikembalikan kepada wahyu.

v  Mencetak anak didik menjadi seorang yang berpredikat “ulil albab” yaitu seorang muslim cendekiawan dan muslim intelektual dengan cara melatih daya intelek, daya pikir dan daya nalar.

                        Untuk potensi nafsu, upaya pendidikan Islam diarahkan pada:

  • Mengembangkan nafsu anak didik pada aktivitas yang positif, misalnya nafsu agresif, yaitu memberikan tugas harian yang dapat menyibukkan nafsu tersebut, sehingga nafsu tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang tidak berguna.
  • Menanamkan rasa keimanan yang kuat dan kokoh, sehingga dimanapun berada, anak didik tetap dapat menjaga diri dari perbuatan amoral.
  • Menghindarkan pendidikan yang bercorak materialistis, karena nafsu mempunyai kecenderungan serba kenikmatan tanpa mempertimbangkan potensi lainnya.

            Dengan demikian dapat dikatakan pendidikan merupakan proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, dalam arti berusaha untuk menampakkan (aktualisasi) potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Beberapa uraian tentang potensi rohani manusia yang harus dikembangkan oleh pendidikan Islam.

 

D. KEGUNAAN PENDIDIKAN

Ilmu pendidikan Islam memiliki arti dan peranan penting dalam kehidupan.Menurut Arifin yang dikutip oleh Nur Uhbiyati, bahwa Kegunaan pendidikan Islam, antara lain:[32]

  1. Pendidikan sebagai usaha untuk membentuk pribadi manusia harus melalui proses yang panjang, dengan hasil yang tidak dapat diketahui dengan segera, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan pembuatnya. Dalam proses pembentukan tersebut diperlukan suatu perhitungan yang matang dan hati-hati berdasarkan pandangan dan pikiran-pikiran atau teori yang tepat, sehingga kegagalan atau kesalahan-kesalahan langkah pembentukannya terhadap anak didik dapat dihindarkan. Oleh karena itu lapangan tugas dan sasaran pendidikan adalah makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang yang mengandung berbagai kemungkinan.
  2. Pendidikan Islam pada khususnya yang bersumberkan nilai-nilai agama Islam di samping menanamkan atau membentuk sikap hidup yang dijiwai niali-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan berilmu pengetahuan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang melandasinya adalah proses ikhtiari yang secara pedagogis mampu mengembangkan hidup anak didik kepada arah kedewasaan/kematangan yang menguntungkan dirinya.
  3. Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah dengan tujuan mensejahterahkan dan membahagiakan hidup dan kehidupan manusia di dunia dan akhirat, baru dapat mempunyai arti fungsional dan actual dalam diri manusia bilamana dikembangkan melalui proses pendidikan yang sistematis. Oleh karena itu, teori-teori pendidikan Islam yang disusun secara sistematis merupakan kompas bagi tersebut.
  4. Pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliah dalam pribadi manusia baru dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan.

 

E. PENDIDIK

  1. Pengertian Pendidik

Menurut W.J.S Poerwadarminta yang dikutip Abdin Nata, dari segi bahasa pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberikan kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik.[33]

Jika dari segi bahasa pendidik dikatakan sebagai orang yang mendidik, maka dalam arti luas dapat dikatakan bahwa pendidik adalah semua orang atau siapa saja yang berusaha dan memberikan pengaruh terhadap pembinaan orang lain (peserta didik) agar tumbuh dan berkembang potensinya menuju kesempurnaan. Menurut Wiji Suwarno bahwa pendidik adalah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain (peserta didik) untuk mencapai tingkat kesempurnaan (kemanusiaan) yang lebih tinggi. Status pendidik dalam model ini bisa diemban oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.[34]

Apabila kita pahami pendidik dalam arti yang luas, maka konteks pendidikan sebagai aktivitas fenomenal yang dilakukan oleh orang dengan orang lain dan dapat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan diri manusia yang terjadi di masyarakat, dan dilaksanakan kegiatannya melalui jalur-jalur luar sekolah, maka yang dinamakan pendidik bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, seperti orang tua menjadi pendidik bagi anak-anaknya, pemimpin menjadi pendidik terhadap yang dipimpinnya, dan sebagainya.

Dalam konteks pendidikan sebagai usaha sadar yang dengan sengaja dirancang atau didesain dan dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik agar tumbuh dan berkembang potensinya menuju kearah yang lebih sempurna, dan dilaksanakan melalui jalur sekolah formal, maka yang disebut dengan pendidik dapat disederhanakan atau dipersempit maknanya. Yakni, pendidik adalah orang yang dengan sengaja dipersiapkan untuk menjadi pendidik yang profesional.Artinya pekerjaan seorang pendidik merupakan pekerjaan profesional.[35]

Suatu pekerjaan dikatakan profesi dan harus dikerjakan secara profesional, manakala mentaati beberapa ketentuan.Pertama, setiap profesi dikembangkan untuk memberikan layanan tertentu kepada masyarakat.Kedua, profesi bukan sekedar mata pencaharian, tetapi juga tercakup pengertian “pengabdian kepada masyarakat”.Ketiga, profesi mempunyai kewajiban untuk menyempurnakan prosedur kerja yang mendasari pengabdiannya secara terus menerus dan tidak berhenti.[36]

Uraian di atas menunjukkan bahwa, secara luas pengertian pendidik tidak terikat dengan lembaga pendidikan.Tetapi ketika menjelaskan pengertian pendidik dikaitkan dengan tugas dan pekerjaan, maka variabel yang melekat adalah kegiatan yang ada dilembaga pendidikan.Ini menunjukkan bahwa pada akhirnya pekerjaan seorang pendidik merupakan suatu jabatan atau profesi tertentu yang melekat pada seseorang yang tugasnya berkaitan dengan kegiatan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan.

  1. Perspektif Islam Tentang Pendidik

Kata pendidik dalam bahasa Indonesia, jika dicarikan sinonim dalam literatur bahasa Arab yang sering digunakan oleh umat Islam dalam melaksanakan kegiatan pendidikan, maka dapat ditemukan beberapa istilah yang bisa disepadankan dengan kata pendidik tersebut, yang antara lain; ustāz, mu’allim, murabbĩy, mursyid, mudarris, mu’addib.[37]

  1. Sebagai Ustāz. Menurut Muhaimin yang dijutip oleh A. Fatah Yasin, bahwa kata pendidik adalah identik dengan kata murabbiy. Seorang murabbiy, ketika melaksanakan kegiatan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan, dalam arti berprofesi/bekerja sebagai pendidik profesional, umumnya dipanggil dengan sebuatan ustāz. Kata ustāz biasa digunakan untuk memanggil seorang profesor. Ini mengandung makna bahwa seorang pendidik (guru, ustāz ) dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seorang Ustāz memiliki tugas dan kompetensi yang melekat pada dirinya sebagai mu’allim, mu’addib, mudarris, mursyid.[38]
  2. Sebagai Mu’allim. Kata Mu’allim berasal dari kata ‘allama-yu’allimu-ta’lĩman yang berarti mengajar atau memberi ilmu. Jadi kata Mu’allim berarti orang yang mengajar atau orang yang memberi ilmu. Seseorang mengajarkan ilmu pada orang lain agar orang tersebut memiliki ilmu pengetahuan. Dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 31 Allah berfirman:

Artinya :    Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,

Sebagai mu’allim artinya bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu pengetahuan, dan mampu menjelaskan, mengajarkan, mentransferkan ilmu tersebu kepada peserta didik, sehingga peserta didik bisa mengamalkannya dalam kehidupan.

  1. Sebagai Murabbiy. Dalam literatur kependidikan Islam, bahwa yang paling populer digunakan dalam menyebut kata pendidikan adalah tarbiyah. Menurut Abdurrahman al-Nahlawi, bahwa kata tarbiyah berasal dari kata rabā-yarbūw yang berarti tumbuh, tambah, dan berkembang. Atau bisa pula dari kata rabiya-yarbā, yang berarti tumbuh menjadi besar dan dewasa. Dan bisa juga berasal dari kata rabbā-yurabbĩy-tarbiyyatan, yang artinya memperbaiki, mengatur, mengurus, memelihara, atau mendidik. Dari beberapa istilah asal di atas dapat disimpulkan bahwa kata tarbiyah berarti upaya memelihara, mengurus, mengatur, dan memperbaiki sesuatu potensi atau fitrah manusia yang sudah ada sejak lahir agar tumbuh dan berkembang menjadi dewasa atau sempurna.[39] Dalam al-Quran dapat dilihat pada surat al-Isrā: 24

Artinya:     “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Upaya menumbuh-kembangkan potensi manusia tersebut, bisa dilakukan dengan cara menanamkan pengetahuan, mengurus dan memelihara dengan cara diberi contoh prilaku, dan mengatur atau melatih dengan cara memberi ketrampilan agar manusia sebagai peserta didik bisa bertambah dan berkembang menjadi sempurna dalam segala aspeknya.

  1. Sebagai Mursyid, artinya orang yang memiliki kedalam spiritual atau memiliki tingkat penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, memiliki ketaatan dalam menjalankan ibadah, serta berakhlak mulia. Kemudian berusaha untuk mempengaruhi peserta didik agar mengikuti jejak kepribadiannya melalui kegiatan pendidikan.
  2. Sebagai Mudarris, artinya orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual lebih, dan berusaha membantu menghilangkan, menghapus kebodohan/ketidaktahuan peserta didik dengan cara melatih intelektualnya (intellectual training) melalui proses pembelajaran sehingga peserta didik memiliki kecerdasan intelektual dan ketrampilan.
  3. Sebagai Mu’addib, artinya apabila kata mu’addib sebagai isim fāil dari kata “addaba-yuaddibu-ta’dĩban“ yang berarti mendisiplinkan atau menanamkan sopan santun. Maka seorang mu’addib adalah seorang yang memiliki kedisiplinan kerja yag dilandasi dengan etika, moral dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada peserta didik melalui contoh untuk ditiru oleh peserta didik. Bahkan menurut Syed Muhammad al-Naquib al-Attas yang dikutip oleh A. Fatah yasin, mengartikan pendidikan Islam (ta’dib) sebagai upaya membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan dengan cara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia.[40]
  4. Tugas dan Tanggung Jawab Pendidik

Apabila pendidik itu dikaitkan dengan orang yang memiliki pekerjaan mendidik dan mengajar di lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini, dasar, dan menengah, wajib memenuhi kualifikasi, kriteria, kompetensi sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan yang berlaku. Guru memiliki kedudukan sebagai tenaga profesional, sebagai agen pembelajaran yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Menurut Oemar Hamalik, bahwa pada hakikatnya guru memiliki tugas danggung jawab yang apabila dijabarkan indikatornya antara lain; (a) pendidik sebagai model; (b) pendidik sebagai perencana; (c) pendidik sebagai peramal; (d) pendidik sebagai pemimpin dan; (e) pendidik sebagai penunjuk jalan atau sebagai pembimbing kearah pusat-pusat belajar.[41]

Oleh karena itu, kegiatan mendidik adalah kegiatan yang di dalamnya terdapat proses mengajar, membimbing, melatih, memberi contoh, dan atau mengatur serta memfasilitasi berbagai hal kepada peserta didik agar bisa belajar.

  1. Sikap dan Perilaku Pendidik

Pada umumnya para tokoh pendidikan dalam Islam menyebutkan bahwa seorang pendidik itu sebaiknya memiliki sifat, sikap dan perilaku yang antara lain; zuhud, bersih (berpenampilan menarik dan menyenangkan), bersih jiwanya (tidak memiliki dosa besar) ikhlas, selalu sesuai antara perbuatan dan perkataan, bijaksana, tegas dalam mengambil keputusan, selalu rendah hati, lemah lembut, suka memberi maaf, sabar, berkepribadian, bersifat kebapakan, memahami karakteristik peserta didiknya (meliputi pembawaan, kebiasaan, perasaan, dan pikirannya). Disamping itu, hal-hal yang perlu dihindari oleh seorang pendidik antara lain; tidak boleh riya dan sombong, tidak boleh iri dan dengki, tidak boleh menjalin permusuhan, tidak boleh malu mengakui ketidakmampuannya dalam hal tertentu, tidak boleh merasa rendah diri.[42]

F. ANAK DIDIK

  1. Pengertian Anak Didik

Mengacu kepada konsep pendidikan sepanjang masa atau seumur hidup (long life education), maka dalam arti luas yang disebut dengan peserta didik adalah siapa saja yang berusaha untuk melibatkan diri sebagai peserta didik dalam kegiatan pendidikan, sehingga tumbuh dan berkembang potensinya, baik yang masih berstatus sebagai anak yang belum dewasa, maupun orang yang belum dewasa.[43]

Dalam konteks ini, siapa saja sebagai anggota masyarakat bisa menjadi peserta didik, apabila mereka mengikuti proses pembelajaran pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun pemerintah.

Peserta didik yang mengikuti proses pendidik atau pembelajaran di jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan menengah biasanya disebut anak didik, artinya mereka adalah manusia yang masih berstatus sebagai anak dan masih belum dewasa secara utuh, sehingga membutuhkan bimbingan dan pembinaan terhadap potensi yang dimilikinya

  1. Anak Didik dalam Pendidikan Islam

Dalam perspektif pendidikan Islam, anak didik merupakan orang yang belum dewasa secara sempurna dan memiliki sejumlah potensi dasar yang masih perlu dikembangkan.Disini anak didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaninya, ia memiliki bakat, memiliki kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.[44]

Secara kodrati, anak memerlukan pendidikan atau bimbingan dari orang dewasa.Dasar kodrati ini dapat dimengerti dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimiliki anak yang hidup di dunia ini.

Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan untuk berkembang melalui proses pendidikan. Dalam pandanga Islam kemampuan dasar atau pembawaan itu disebut dengan fitrah. Kata fitrah ini disebutkan dalam al-Quran surat ar-Ruum ayat 30:

Artinya :Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Di samping itu terdapat hadits Nabi SAW yang populer yang banyak disitir oleh para ulama antara lain sebagai berikut:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أويمجسانه

Artinya: tiap-tiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi”

Bila diinterpretasi lebih lanjut dari istilah fitrah sebagaimana tersebut dalam al-Quran dan Hadits tersebut di atas, maka fitrah mengandung makna kejadian yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus (addĩnul qayyim) yaitu Islam.Secara terminology dapat diambil pengertian bahwa fitrah mengandung implikasi kependidikan perlu dikembangkan lebih lanjut.Anak didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dikembangkan secara dinamis.Disini tugas pendidik adalah membantu mengembangkan dan mengarahkan perkembangan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan, tanpa melepaskan tugas kemanusiaan.Islam menekankan pendidikan dan usaha diri manusia untuk berusaha agar mencapai pertumbuhan optimal.

  1. Tugas dan kewajiban anak didik

Menurut Asma Hasan Fahmi yang diutib oleh Nizar dan Rasyidun, bahwa di antara tugas dan kewajiban yang perlu dipenuhi anak didik adalah:

  1. Anak didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu karena belajar adalah ibadah.
  2. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.
  3. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat.
  4. Setiap anak didik wajib menghormati pendidiknya
  5. Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.[45]

G. LINGKUNGAN

Lingkungan pendidikan merupakan suatu institusi atau kelembagaan dimana pendidikan itu berlangsung. Lingkungan tersebut akan mempengaruhi proses pendidikan yang berlangsung. Dalam beberapa sumber bacaan kependidikan, jarang dijumpai pendapat para ahli tentang pengertian lingkunganpendidikan, namun lingkungan pendidikan biasanya terintegrasi secara implisit dengan pembahasan mengenai macam-macam lingkungan pendidikan. Menurut Abuddin Nata yaitu “lingkungan pendidikan (tarbiyah Islamiyah) itu adalah suatu lingkungan yang didalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik”.[46]

Di dalam Al-Qur’an tidak dikemukakan penjelasan tentang lingkungan pendidikan Islam tersebut, kecuali lingkungan pendidikan yang terdapat dalam praktek sejarah yang digunakan sebagai tempat terselenggaranya pendidikan, seperti masjid, rumah, sanggar para sastrawan, madrasah, dan universitas. Meskipun lingkungan seperti itu tidak disinggung secara langsung dalam Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an juga menyinggung dan memberikan perhatian terhadap lingkungan sebagai tempat sesuatu. Seperti dalam menggambarkan tentang tempat tinggal manusia pada umumnya, dikenal istilah al-qaryah yang diulang dalam Al-Qur’an sebanyak 52 kali yang dihubungkan dengan tingkah laku penduduknya. Sebagian ada yang dihubungkan dengan pendidiknya yang berbuat durhaka lalu mendapat siksa dari Allah (Q.S. 4: 72; 7:4; 17:16; 27:34) sebagian dihubungkan pula dengan penduduknya yang berbuat baik sehingga menimbulkan suasana yang aman dan damai (16:112) dan sebagian lain dihubungkan dengan tempat tinggal para nabi (Q.S. 27: 56; 7:88; 6:92). Semua ini menunjukkan bahwa lingkungan berperan penting sebagai tempat kegiatan bagi manusia, termasuk kegiatan pendidikan Islam.

Namun demikian, dapat dipahami bahwa lingkungan pendidikan Islam adalah suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri ke-Islaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik.

Lingkungan atau tempat berguna untuk menunjang suatu kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan, karena tidak ada satupun kegiatan yang tidak memerlukan tempat dimana kegiatan itu diadakan. Sebagai lingkungan tarbiyah islamiyah,ia mempunyai fungsi antara lain menunjang terjadinya proses kegiatan belajar mengajar secara aman, tertib dan berkelanjutan. Untuk ini Al-Qur’an memberi isyarat tentang pentingnya menciptakan suasana saling menolong, saling menasehati, dan seterusnya agar kegiatan yang dijalankan manusia dapat berjalan dengan baik. “Sebelum belajar di madrasah-madrasah tersebut, kaum muslim belajar di Kutab dimana diajarkan bagaimana cara membaca dan menulis huruf Al-Qur’an, dan kemudian diajarkan ilmu agama dan ilmu Al-Qur’an”.[47]

Memperhatikan uraian dan informasi di atas dapat diindentifikasikan bahwa lingkungan atau tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan Islam itu terdiri dari rumah, masjid, kutab, dan madrasah.Pada perkembangan selanjutnya institusi lembaga pendidikan ini disederhanakan menjadi lingkungan sekolah pendidikan dan pendidikan luar sekolah. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, misalnya mengatakan sebagai berikut: a) Suatu pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah. b) Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan. c) Satuan pendidikan di luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis.[48]

  1. Satuan Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan luar sekolah adalah keluarga yang berlangsung di rumah.Secara literal keluarga merupakan “unit sosial terkecil yang terdiri dari orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-kurangnya terdiri dari suami istri”.[49] Maulana Muhammad Ali menjelaskan dalam Abudin nata keluarga dalam arti normatif merupakan “kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh suatu ikatan perkawinan, lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai suatu gabungan yang khas dan bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kebahagiaan, kesejahteraan dan ketentraman semua anggota yang ada di dalam lingkungan tersebut”.[50]

Keluarga yang sekurang-kurangnya berangkat dari suami dan istri maka kajian tentang keluarga dapat dikoordinasikan dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan terciptanya keluarga, peran dan tugas suami istri, hak dan kewajibannya masing-masing, manajemen keluarga dan seterusnya yang kesemuanya itu mengacu pada terciptanya keluarga yang berkualitas yang dapat menopang tugasnya dalam membina putra putri dalam keluarga tersebut.

Sebelum dibangun sebuah keluarga perlu dipersiapkan syarat-syarat pendukungnya. Al-Qur’an antara lain memberikan syarat yang bersifat psikologis, saling mencintai (Q.S. an-Nisa : 3), kedewasaan yang ditandai oleh batas usia tertentu dan kecukupan bekal ilmu dan pengalaman untuk memikul tanggung jawab dalam bahasa Al-Qur’an disebut balight (Q.S. An-Nisa: 6), ini merupakan sebagaian syarat yang dituangkan dalam Al-Qur’an.

Keluarga diharapkan dapat memainkan perannya dalam membina masa depan putra-puterinya secara berkualitas dan berdaya guna. Harta benda dan putra-putri yang tumbuh dalam keluarga dipandang sebagai fitrah atau ujian dari Allah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT salah satunya (Q.S. Al-Anfal: 28).

Artinya:“dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.[51] (Q.S. Al-Anfal: 28)

Sepasang suami istri merupakan pemeran pokok dalam sebuah keluarga muslim yang berpadu dalam merealisasikan tujuan pendidikan Islam untuk itulah pembinaan keluarga disyari’atkan. Abdurrahman an-Nahlawi menyatakan bahwa tujuan utama dari pembinaan keluarga adalah :

  1. Menegakkan hukum Allah SWT

Merealisasikan agama dan keridhaan Allah SWT dalam kaitannya dengan segala urusan dan hubungan suami istri. Ini berarti menegakkan keluarga muslim yang kehidupannya didasarkan atas perealisasian ibadah kepada Allah SWT.

  1. Merealisasikan ketentraman jiwa

Suami istri bersatu atas dasar kasih sayang dan ketentraman jiwa, maka anak akan terdidik dalam suasana bahagia yang diliputi rasa percaya diri, tentram penuh kelembutan dan kasih sayan, mereka akan terhindar dari kegelisahan keterkekangan dan penyakit psikis yang melemahkan kepribadiannya.

  1. Melaksanakan printah Rasulullah Saw

Keluarga muslim wajib mendidik anak-anaknya dengan tujuan agar dapat merealisasikan ajaran Islam dan rukun iman di dalam jiwa dan tingkah laku mereka, di atas pundang orang tua terletak tanggung jawab mendidik, melindungi anak-anak dari kerugian, kejahatan dan api neraka.[52]

Begitu pentingnya peranan yang harus dimainkan oleh keluarga dalam mendidik, maka dalam berbagai macam sumber mengenai kependidikan keluarga selalu disinggung dan diberi peran penting. Ki Hajar Dewantara misalnya mengatakan bahwa “alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan”, pendidikan di sini pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (memberi contoh). Tiga bagian ini dalam hidup keluarga belum terpisahkan akan tetapi masih bersifat global atau total.

Lingkungan pendidikan selanjutnya adalah masjid, mushala, pesantren, madrasah dan universitas-universitas yang secara keseluruhan memiliki fungsi sosial kependidikan yang bersifat umum.

Di dalam alam keluarga anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri, karena di dalam hidup keluarga itu mereka tidak berbeda kedudukannya seperti orang hidup di dalam masyarakat, yang sering sekali mengalami macam-macam kejadian hingga dengan sendirinya menimbulkan pendidikan diri sendiri itu.Kepala keluarga (bapak) dengan bantuan anggotanya yang mempersiapkan semua atau sebagian yang diperlukan dalam keluarga tersebut, dimana pendidikan dan bimbingan terhadap anak-anak dari segi pekerjaan, agama dan sosial terpikul atas pundak keluarga, atas pundak orang-orang yang berhubungan erat dengan mereka.

Secara normatif keluarga dengan rumah sebagai tempat tinggalnya dapat dipergunakan sebagai lingkungan pendidikan yang pertama. Sejarah pendidikan juga menginformasikan bahwa bahwa pendidikan pada mulanya dilaksanakan di rumah-rumah sebagaimana disebutkan di atas sejalan dengan petunjuk Al-Qur’an, bahkan lebih dari itu rumah memiliki fungsi yang amat luas dan kompleks, selain dari itu rumah masih dapat dikembangkan fungsinya berdasarkan tuntutan kemajuan zamanya juga, baik untuk rekreasi, olah raga, latihan kerja juga fungsi lainnya selama itu tidak menghilangan kenyamanan dan ketentraman sebuah kehidupan berkeluarga.

  1. Lingkungan Pendidikan Sekolah

Sekolah atau dalam Islam sering disebut madrasah, merupakan lembaga pendidikan formal, juga menentukan membentuk kepribadian anak didik yang Islami.Bahkan sekolah bisa disebut sebagai lembaga pendidikan kedua yang berperan dalam mendidik peserta didik.Hal ini cukup beralasan, mengingat bahwa sekolah merupakan tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati menyebutkan bahwa disebut “sekolah bila mana dalam pendidikan tersebut diadakan di tempat tertentu, teratur, sistematis, mempunyai perpanjangan dan dalam kurun waktu tertentu, berlangsung mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, dan dilaksanakan berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan”[53].

Lingkungan sebagai tempat belajar sudah tidak dipersoalkan lagi keberadaannya.“Secara historis keberadaan sekolah merupakan perkembangan lebih lanjut dari keberadaan masjid, yaitu karena adanya diantara mata pelajaran-mata pelajaran yang untuk mempelajarinya diperlukan soal jawab, perdebatan dan tukar pikiran.Cara mengajarkan suatu pelajaran yang semacam ini tidak serasi dengan ketenangan dan rasa keagungan yang ada pada pengunjung-pengunjung masjid”.[54]

Di dalam Al-Qur’an tidak ada satupun kata yang secara langsung menunjukkan pada arti sekolah, yaitu madrasah.Tetapi sebagai akar kata dari madrasah yaitu darasa di dalam Al-Qur’an dijumpai sebanyak enam kali. Kata-kata darasa dalam Al-Qur’an yang diartikan bermacam-macam, diantaranya berarti mempelajari sesuatu (Q.S. Al-An’am :105), mempelajari Taurat (Q.S. Al-A’raf :169), perintah agar mereka (ahli kitab) menyembah Allah lantaran mereka telah membaca al-Kitab (Q.S. ‘Ali Imran: 79) serta beberapa ayat lain juga dijumpai kata darasa.

Keterangan di atas memberikan gambaran bahwa kata-kata darasa yang merupakan akar kata dari madrasah terdapat di dalam Al-Qur’an.Ini menunjukkan bahwa keberadaan madrasah sebagai tempat belajar atau tempat mempelajari sesuatu sejalan dengan semangat Al-Qur’an yang senantiasa menunjukkan kepada umat manusia agar mempelajari sesuatu.

Berangkat dari tiga komponen lingkungan sekolah yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah.Pemahaman yang berkembang terhadap sekolah adalah penekanan pendidikan formal ada pada lingkungan sekolah. Sebagai konsekuensi ketika terjadi ketidakselarasan atau penyimpangan pendidikan yang berlangsung dengan tujuan yang ditetapkan, maka sekolah akanmendapatkan sorotan yang paling tajam. Sementara pendidikan di luar sekolah dan pendidikan keluarga kurang mendapatkan perhatian, bahkan cenderung terbaikan.Inilah yang kemudian membuat situasi pendidikan terlihat pincang, sebab setiap pertumbuhan manusia atau masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pengalaman pendidikan formal.Pengaruh-pengaruh yang datang dari pengalaman-pengalaman pendidikan non formal dan informal sungguh tidak kalah penting.Dari sini dapat dilihat arti penting pendidikan dalam lingkungan di luar sekolah dan pendidikan dilingkungan keluarga.

Untuk itu dibutuhkan kondisi yang mendukung terciptanya suatu masyarakat dan keluarga yang terdidik, tidak hanya kemampuan transfer ilmu, akan tetapi juga transinternalisasi nilai-nilai, sehingga akan membentuk watak bangsa yang tidak hanya cerdas, tapi juga bermoral. Dengan keterpaduan ketiganya diharapkan pendidikan yang dilaksanakan mampu mewujudkan tujuan yang diinginkan.Pendidikan terpadu seperti inilah yang diinginkan dalam perspektif pendidikan Islam.Bahkan prinsip integral (terpadu) menjadi salah satu prinsip dalam sistem pendidikan Islam. Prinsip ini tentu tidak hanya keterpaduan antara dunia dan akhirat, individu dan masyarakat, atau jasmani dan rohani; akan tetapi keterpaduan antara lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat juga termasuk di dalamnya.

 

H. SARANA PENDIDIKAN

     Pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen penting yang saling berhubungan.Di antara komponen yang ada dalam sistem tersebut adalah sarana dan prasarana.Sarana dan prasarana turut menentukan berhasil tidaknya proses pendidikan yang dilaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu sarana dan prasarana mesti dikembangkan secara dinamis sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman.

    Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Adapun, prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan-pelaksanaan proses pendidikan di sekolah. Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu 1) habis tidaknya dipakai; 2) bergerak tidaknya pada saat digunakan; 3) hubungannya dengan proses belajar mengajar.[55]

    Menurut Suharsimi dan Lia Yuliana bahwa “Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, efektif, teratur dan efisien”.[56]

    Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana adalah fasilitas yang tidak secara langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran seperti, halaman, kebun, taman Islam, jalan menuju sekolah Islam, dan lain-lain.[57]

    Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang ada harus didaya gunakan dan dikelola untuk kepentingan proses pembelajaran. Pengelolaan sarana dan prasarana tersebut dimaksudkan agar penggunaannya bisa berjalan dengan efektif dan efisien dan tujuan pendidikan Islam dapat tercapai.

    Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi pada proses pendidikan secara optimal dan berarti. ”Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan serta penataan”.[58]

    Sarana dan prasarana pendidikan itu dalam lembaga pendidikan Islam sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin dengan mengikuti kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut:

  1. Lengkap, siap dipakai setiap saat, kuat dan awet.
  2. Rapi, indah, bersih, anggun, dan asri sehingga menyejukkan pandangan dan perasaan siapa pun yang memasuki komplek lembaga pendidikan Islam.
  3. Kreatif, inovatif, responsif dan bervariasi sehingga dapat merangsang timbulnya imajinasi peserta didik.
  4. Memiliki jangkauan waktu  yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghindari kecenderungan bongkar pasang bangunan.
  5. Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-religius seperti mushalla atau masjid.[59]

Penataan lingkungan dalam kompleks madrasah seharusnya rapi, indah, bersih, anggun dan asri selian ini sudah menjadi perintah syari;at keadaan ini juga setidaknya menjadikan peserta didik merasa betah (kerasan) berada di lembaga pendidikan baik sewaktu proses pembelajaran berlangsung di kelas, waktu istirahat, ketika berkunjung ke sekolah, bahkan tamu-tamu dari luar juga diharapkan merasakan hal yang sama.

Gedung yang dibangun harus diupayakan melalui perencanaan yang matang sehingga minimal dalam waktu 25 tahun. Untuk itu gedung harus kuat, awet dan posisinya tepat sehingga tidak sampai dibongkar kemudian didirikan gedung baru di tempat yang sama dalam waktu yang relatif cepat, karena cara itu adalah pemborosan. Sebaiknya gedung itu dibangun bertingkat yang mengandung manfaat di samping menghemat tanah juga terkesan kokoh. Bentuk gedung pun sebaiknya juga indah dan memiliki gaya arsitektur yang khas yang menyebabkan orang yang memandang merasa tertarik.

Di samping itu, suatu keharusan juga untuk membangun masjid atau setidaknya mushalla. Bangunan ini bukan sekadar simbol bagi lembaga pendidikan Islam tetapi memang merupakan kebutuhan riil untuk beribadah ketika pegawai dan peserta didik berada di sekolah. Masjid atau Mushalla itu juga bisa dimanfaatkan sebagai laboratorium ibadah bagaimana cara berwudhu yang benar, dan bagaimana mempraktekkan shalat yang benar, keduanya bisa dilaksanakan di tempat tersebut. Lebih dari itu, masjid atau mushalla diupayakan ikut mewarnai perilaku islami warga sekolah sehari-hari dengan mengoptimalkan kegiatan keagamaan maupun kegiatan ilmiah yang ditempatkan di masjid atau mushalla

  1. METODE PENDIDIKAN ISLAM

       Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya ke arah tujuan yang dicita-citakan. Bagaimanapun baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan Islam, tidak akan berarti apa-apa bila tidak diikuti metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada anak didik. Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan memperhambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu dan tenaga secara percuma. Karenanya metode merupakan syarat mutlak untuk efesiensinya aktivitas pendidikan Islam.

       Menurut Mohammad Noor Syam yang telah mengutip pendapat Runes, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah :

  1. Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan
  2. Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu
  3. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.[60]

       Berdasarkan kutipan di atas Samsul Nizar mengaitkannya dengan proses kependidikan Islam yaitu “metode berarti suatu prosedur yang dipergunakan pendidikan dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (dari segi pendidik).[61] Kemudian dapat pula berarti cara yang dipergunakan dalam merumuskan aturan-aturan tertentu dari suatu prosedur (dari segi pembuat kebijakan).

       Ahmad Tafsir secara umum membatasi bahwa metode pendidikan ialah “semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik”.[62] Sementara al-Syaibany dalam Samsul Nizar, menjelaskan bahwa metode pendidikan adalah “segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangka kemestian-kemestian mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri peserta didiknya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan membimbing peserta didik untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka”.[63]

       Sudut pandang filosofis memandang bahwa metode merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara esensial metode sebagai alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan mempunyai fungsi ganda diantaranya :

  1. Polipragmatis, yaitu metode mengandung kegunaan yang serba ganda (multi purpose). Misalnya metode pada suatu situasi dan kondisi tertentu dapat dipergunakan untuk merusak, pada situasi dan kondisi yang lain dapat digunakan untuk membangun dan memperbaiki. Kegunaannya dapat bergantung kepada sipemakai atau pada corak dan bentuk serta kemampuan dari metode sebagai alat. Contoh kongkrit dalam hal ini seperti Audio Visual Methods yang mempergunakan Video Casette Recorde yang dapat merekam dan menayangkan semua jenis film, baik yang moralis maupun pornografis.
  2. Monopragmatis, yaitu alat yang hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu tujuan saja. Misalnya metode eksperimen ilmu alam yang menggunakan laboratorium ilmu alam, hanya dapat dipergunakan untuk eksperimen-eksperimen bidang ilmu alam, dan tidak dipergunakan untuk eksperimen ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial dan lain-lain.[64]

       Sumiati dan Asra menjelaskan dalam Metode Pembelajaran bahwa: “proses pembelajaran menuntut guru dalam merancang berbagai metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Rancangan ini merupakan acuan dan panduan baik bagi guru itu sendiri maupun siswa”.[65]

       Berdasarkan kutipan di atas dipahami bahwa metode sebagai alat yang dirancang oleh guru dan dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan mempunyai fungsi Polipragmatis dimana fungsi ini memiliki kegunaan yang serba ganda dapat merusak tatanan moral ada dan sebaliknya dapat membangun tatanan moral juga.Penggunaan metode dalam pendidikan Islam pada prinsipnya adalah pelaksanaan sikap hati-hati dalam pekerjaan mendidik dan mengajar.Hal ini mengingat bahwa sasaran pendidikan Islam itu adalah manusia yang telah memiliki kemampuan dasar untuk dikembangkan. Karena hemat penulis sikap kurang hati-hati akan berakibat fatal sehingga mungkin saja kemampuan awal peserta didik tidak akan berkembang secara wajar, atau pada tingkat paling fatal dapat menyalahi hukum-hukum arah perkembangannya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT, Tuhan pencipta sekalian alam. Untuk itu sangat dibutuhkan pengetahuan yang utuh mengenai jati diri manusia dalam rangka membawa dan mengarahkannya untuk memahami realitas diri, Tuhan dan alam semesta, sehingga ia dapat menemukan esensi dirinya dalam lingkaran realitas itu.

       Metode pendidikan Islam memiliki asas-asas dimana ia tegak berdiri dan memperoleh unsur, tujuan dan prinsip. Asas tersebut pada dasarnya tidak banyak berbeda dengan asas-asas tujuan kurikulum pendidikan Islam. Konsep ini menggambarkan bahwa seluruh komponen yang terkait dalam proses pendidikan Islam adalah merupakan satu kesatuan yang membentuk sistem.

       Secara umum asas metode pendidikan Islam itu menurut al-Syaibany adalah ;

  1. Asas agama, yaitu prinsip, asas-asas dan fakta umum yang diambil dari sumber asasi Islam yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
  2. Asas biologis, yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia peserta didik.
  3. Asas pskilogis, yaitu prinsip yang lahir di atas pertimbangan kekuatan psikologis, seperti motivasi, kebutuhan, emosi, minat, sikap, keinginan, kesediaan, bakat dan kecakapan akal atau kapasitas intelektual.
  4. Asas sosial, yaitu Asas yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.[66]

      Metode pendidikan Islam harus digali, didayagunakan, dan dikembangkan dengan mengacu pada asas yang dikemukakan di atas. Melalui aplikasi nilai-nilai Islam dalam proses penyampaian seluruh materi pendidikan Islam, diharapkan proses tersebut dapat diterima, difahami, dihayati dan diyakini sehingga pada gilirannya memotivasi peserta didik untuk mengamalkannya dalam bentuk nyata.

      Metode pendidikan Islam memiliki karakteristik tersendiri, adapun yang menjadi karakteristik dari metode pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

  1. Keseluruhan proses penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari pembentukannya, penggunannya sampai pada pengembangannya tetap didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal.
  2. Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat dipisahkan dengan konsep al-akhlak al-karimah sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam, sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam.
  3. Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik, pendidik, materi pelajaran dan lain-lain.
  4. Metode pendidikan Islam berusaha bersungguh-sungguh untuk menyeimbangkan antara teori dan praktek.
  5. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya menekankan kebebasan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan dan al-akhlak al-karimah.
  6. Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai keteladanan dan kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajarannya.
  7. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi dan kondisi memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif dan kondusif.
  8. Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efesien.

 

      Krakteristik metode pendidikan Islam di atas hendaklah harus difahami dan diketahui oleh para pendidika muslim. Menurut M. Arifin menyatakan bahwa “persoalan penting yang harus dilihat para pendidik adalah prinsip bahwa penggunaan metode dalam proses kependidikan Islam harus mampu membimbing, mengarahkan dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam bersikap dan kepribadiannya, sehingga tergambar dalam dirinya tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam”.[67]

      Selanjutnya setiap pendidik muslim wajib mengetahui pendekatan umum pembentukan dan penerapan metode pendidikan Islam sebagaimana yang telah dikemukakan Allah SWT dalam proses pendidikan Rasulullah, yaitu dengan pendekatan tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (pensucian diri) dan ta’lim (mengajarkan kitab dan hikmah). Bahkan metode pendidikan Islam dikembangkan juga dari konsepsi amr ma’ruf nahi munkar dengan pendekatan islah atau perbaikan dengan penuh hikmah, mau’izhah dan mujadalah.

      Berdasarkan hal ini maka paradigma pembentukan dan penerapan metode pendidikan Islam dalam proses internalisasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang terpuji kepada peserta didik harus dilakukan dengan pendekatan menyeluruh, integral dan sistematis.

      Pengembangan metode pendidikan Islam saat ini Abdul Munir Mulkhan telah mendiskripsikan beberapa petunjuk Al-Qur’an sebagai rujukan pengembangan metode pendidikan Islam yaitu :

  1. Allah SWT menyuruh hamba-Nya untuk mencontoh Rasulullah, sebab sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh yang baik (Q.S. Al-Ahzab / 33:21).
  2. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menyeru manusia kejalan Tuhan dengan hikmah, pengajaran yang baik dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan (Q.S. An Nahl/16:125).
  3. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengembangkan sikap arif dan bijaksana dalam melakukan dan menyelesaikan suatu aktivitas (berdiskusi dan bermusyawarah) serta bertawakal kepada-Nya (Q.S. Ali Imran / 3:159. Asy Syuura / 42:38).
  4. Manusia diperintahkan untuk melakukan ekplorasi di muka bumi dan memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah (Q.S. Al An’aam / 6:11).[68]

 

      Kutipan di atas merupakan model penyampaian firman Allah SWT yang evolutif dan risalah kenabian Muhammad SAW memperlihatkan bahwa sosialisasi Islam adalah dilakukan melalui pendidikan dan dakwah. Sehingga melalui hal ini dapat dipahami bahwa penanaman nilai-nilai Islam dan transformasi kebudayaan Islam kepada generasi muslim sehingga tercapai tujuan pembentukan kepribadian muslim sebagai manusia paripurna (al-insan al-kamil) harus dipahami sebagai metode pendidikan Islam dalam arti yang seluas-luasnya.

      An-Nahlawi dalam Samsul Nizar mengemukakan beberapa metode yang paling penting dalam pendidikan Islam yaitu :

  1. Metode hiwar (percakapan) Qur’ani dan Nabawi
  2. Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi
  3. Mendidik dengan amtsal (perumapamaan) Qur’ani dan Nabawi
  4. Mendidik dengan memberi teladan
  5. Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
  6. Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan muidhah (peringatan)
  7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).[69]

 

      Abudin Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam 1 menyatakan bahwa macam-macam metode yang ditawarkan oleh Al-Qur’an diantaranya adalah: “Metode teladan, kisah-kisah, nasihat, pembiasaan, hukum dan ganjaran, ceramah (khutbah), diskusi”.[70]

      Penggunaan metode pendidikan Islam secara formal adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Syaibany adalah: “1). Deduksi (pengambilan keputusan), 2). Perbandingan (Qiyasiah) 3). Kuliah, 4). Dialog dan perbincangan, 5). Halaqah, 6).Riwayat, 7).Mendengar, 8).Membaca, 9).Imla’, 10).Hafalan, 11).Pemahaman, 12).Lawatan untuk menuntut (pariwisata)”.[71]

      Keseluruah metode di atas penerapannya dalam kependidikan Islam adalah prinsip bahwa tidak ada satu metodepun yang ideal untuk semua tujuan pendidikan, semua ilmu dan mata pelajaran, semua tahap pertumbuhan dan perkembangan, ketamatangan dan kecerdasan, guru dan peserta didik, lingkungan dan sarana kependidikan. Oleh karenya hendaknya seorang pendidik diharapkan mampu dalam mengkolaborasikan dari berbagai metode yang telah disebutkan dalam praktek pengajarannya di lapangan. Untuk itu dituntut sikap arif dan bijaksana dari seorang pendidik dalam memilih dan menerapkan metode kependidikan yang relevan dengan situasi dan kondisi yang meliputi proses pendidikan Islam dengan demikian dapat terlaksana proses pendidikan Islam yang baik yaitu membina, membimbing peserta didik secara maksimal dan melahirkan pribadi-pribadi muslim yang paripurna (al-insan al-kamil).


 

DAFTAR PUSTAKA

‘Athiyah al-Abrasyi, Muhammad, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, (Mesir: Isa al-Baby, 1975)

Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta: SI Press, 1993).

Abdurahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam dalam keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, (Bandung: CV. Diponegoro, 1996).

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991.

Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).

Agung Nugroho, Menuju Humanisasi Pendidikan, Banjarmasin Post 17 April 2007.

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1989

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992).

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

__________, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan manusia, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

al-Nahlawi, Abdurrahman, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bait, wa al-Madrasah wa al-Mujtama, (Beirut: Darul Fikr, 1983)

Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet.I; Surabaya: Mahkota Surabaya, 2002).

 

H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), Cet-1.

Hamalik, Oemar, Manajemen Belajar Di Perguruan Tinggi; Pendekatan Sistem Kredit Semester, (Bandung: Sinar Baru, 1991)

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Langeveld, (terj), Paedagoiiek Teoritis/Sistematis, FIP-IKIP Jakarta 1971; fatsal 5, 5a.

M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987).

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praksis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta; Bumi Aksara, 1994.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Bandung: Pustaka Hidayah, 1977.

Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam), Yogyakarta: Ircisod, 2004.

Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003)

Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Deweiy, Yogyakarta: Safaria Insania Press, 2004.

Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Deweiy, Yogyakarta: Safaria Insania Press, 2004.

Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2007).

Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, strategi, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002).

Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997)

Nizar, Rasyidin dan Samsul Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press. Cet. II edisi Revisi, 2005)

 

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.

Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), cet. 1.

Samsul Nizar, Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, 2002

________, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, 2002

Sudirman., dkk, Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992.

Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 2008).

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Kosenp Strategi dan Aplikasi, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009).

Sumiati, Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2008).

Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta: Aksara Baru, 1985.

Suwarno, WijiDasar-Dasar Ilmu Pendidikan, ( Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006)

Syahmin Zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islami, Jakarta: Kalam Mulia, 1986.

Uhbiyati, NurIlmu Pendidikan Islam (IPI) 1: Untuk IAIN,STAIN, PTAIS, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 17-18

Undang-undang Nomor 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV, pasal 9.

Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003, BAB I, ketentuan Umum Pasal 1, Yogyakarta : Media Wacana, 2003.

W.J.S. Powerwardarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet. 12.

Yasin, A. Fatah, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008)

Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992).

 

[1]Lihat Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991, Hlm. 69.

[2]Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis. Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 1

[3]Lihat Sudirman., dkk, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 4

[4]Langeveld, (terj), Paedagoiiek Teoritis/Sistematis, FIP-IKIP Jakarta 1971; fatsal 5, 5a.Lihat juga Hasbullah, Op. Cit, hlm. 2

[5]Hasbullah, Op. Cit, hlm. 2

[6]Ibid, hlm. 3

[7]Lihat Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), hlm. 2

[8]Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003, BAB I, ketentuan Umum Pasal 1, Yogyakarta : Media Wacana, 2003, Hlm. 9.

[9] Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 33-37

[10] Agung Nugroho, Menuju Humanisasi Pendidikan, Banjarmasin Post 17 April 2007.

[11]Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 3

[12] Lihat al-Ragib al-Isfahani, Mu’jam al-Mufradat Alfazh al-Qur’an, (Beirut: Dar al-fikr) hlm. 189. Lihat juga Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam), (Yogyakarta: Ircisod, 2004), hlm. 38

[13]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 38-39

[14]Ibid, hlm. 39. lihat juga M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1977), hlm. 82

[15]Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 25-26

[16]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 29

[17]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 40

[18]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 41-41. lihat juga Zakiah Darajat, Op. Cit., hlm. 26

[19]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan historis teoritis dan praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 26

[20]Ibid, hlm. 28

[21]Ibid, hlm. 28

[22]Moh Shofan, Op. Cit, hlm. 42

[23] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm. 23 lihat juga Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 24

[24] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 99

[25] Syahmin Zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islami, (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), hlm. 4

[26]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praksis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta; Bumi Aksara, 1994), hlm. 32

[27]Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979, Hlm. 399.

[28]Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey, (Yogyakarta: Safaria Insania Press, 2004), hlm. 24

[29]Roh merupakan bagian dari jasmani manusia, yaitu dzat yang amat halus bersumber dari ruangan hati (jantung), yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merasakan berbagai rasa.Roh dapat diumpamakan sebagai lampu yang mampu menerangi setiap sudut organ, inilah yang sering disebut nafs (jiwa).Sedangkan disebut Roh yang bersifat rohani karena roh meruapak bagian dari rohani manusia, yang mempunyai ciri halus dan ghaib.Dengan roh ini, manusia dapat mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya, dan mampu mencapai ilmu yang bermacam-macam.Di samping itu, roh dapat menyebabkan manusia berkeprimanusiaan, berakhlak yang baik dan berbeda dengan binatang.Muhaimin & Abd.Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasinalisasinya), (Bandung: PT Trigenda Karya, 1993), hlm. 35

[30]Ibid, hlm. 53

[31]Ibid, hlm. 54

[32] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI) 1: Untuk IAIN,STAIN, PTAIS, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 17-18

[33] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 61

[34] Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, ( Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2006), h. 37

[35] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 69

[36] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 64

[37] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, h. 84

[38] Ibid, h. 84-85

[39] Abdurrahman al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bait, wa al-Madrasah wa al-Mujtama, (Beirut: Darul Fikr, 1983), h. 12-13

[40] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, h. 22

[41] Oemar Hamalik, Manajemen Belajar Di Perguruan Tinggi; Pendekatan Sistem Kredit Semester, (Bandung: Sinar Baru, 1991), h. 44

[42] Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, (Mesir: Isa al-Baby, 1975), h. 174:131

[43] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan islam, h. 95

[44] Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Press. Cet. II edisi Revisi, 2005), h. 47

[45] Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, h. 103-104

                [46]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 95-111.

[47]H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), Cet-1, h. 83.

                [48]Undang-undang Nomor 2 tahun 1989, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV, pasal 9, h.5.

                [49]W.J.S. Powerwardarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet. 12, h. 471.

                [50]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1…, h. 113.

                [51]Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Cet.I; Surabaya: Mahkota Surabaya, 2002), h. 108.

                [52]Abdurahman an-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam dalam keluarga di Sekolah dan di Masyrarakat, (Bandung: CV. Diponegoro, 1996), h.194-196

                [53]Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h.31.

                [54]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1…, h. 119.

                [55]Rustiyah NK, Kompetensi Mengajar dan Guru, (Jakarta: Nasco, 1979), h. 6.

                [56]Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya Media, 2008), 273

                [57]Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Kosenp Strategi dan Aplikasi, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2009, h. 115)

                [58]Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, strategi, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), h. 49-50.

                [59]Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 171.

                [60]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), cet. 1, h.66.

                [61]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, h.66.

                [62]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 131.

                [63]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, h.66.

                [64]M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h.8.

                [65]Sumiati, Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2008), h. 91.

                [66]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, h.68.

                [67] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam.., h.99.

                [68]Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta: SI Press, 993), h.50.

                [69]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, h.73.

                [70]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan…, h. 95-107.

                [71]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, h.74.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: