Tantangan Pendidikan Masa Kini dalam Perpektif Islam

Revitalisasi Peran Pendidikan

Pendidikan dalam pandangan klasik dikatakan sebagai   institusi atau pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus. Pertama; menyiapkan generasi anak manusia agar kelak dapat memainkan peranan-peranan tertetu dalam masyarakat di masa datang. Kedua; mentransfer (memindahkan) pengetahuan, sikap dan kecakapan tertentu sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga; mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyararakat dan peradaban. Pada butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengertian bahwa pendidikan bukan hanya transfer of knowledges, attitudes and skills tetapi juga sekaligus sebagai transfer of value.

Dalam perkembangan berikutnya, perluasan atau ekstensifikasi pengertian pendidikan sejalan dengan tuntutan masyarakat, maka lahir misalnya dua fungsi suplementasi yaitu melestarikan tata sosial dan tata nilai yang ada dalam masyarakat, dan sekaligus sebagai agen pembaharuan. Di sini terlihat hubungan timbal balik antara pendidikan dan perubahan. Dengan kata lain, fungsi pendidikan sebagai konservasi budaya semakin menonjol, tetapi di sisi lain kurang (tidak) mampu mengatasi masa depan secara akurat dan memadai. Kritik terhadap pendidikan pada umumnya bermula dari ketidakpuasan masyarakat terhadap situasi pendidikan yang mengalami stagnasi sehingga tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Vembriarto berpendapat bahwa pendidikan setidaknya harus menjalankan empat macam fungsi, yaitu:

  1. Transmisi kultutural; berupa pengetahuan, sikap, nilai dan norma.
  2. Memilih dan mengajarkan peranan sosial:

a. Mengembangkan fasilitas untuk mengajarkan berbagai macam spekulasi.

b. Mengusahakan agar jumlah manusia yang terlatih dan memiliki spesialisasi, sesuai dengan kebutuhan.

c. Mengembangkan mekanisme untuk menyesuaiakan talenta dan bakat anak didik dengan spesialisasi.

3.   Menjamin integrasi sosial, dan

4.   Mengadakan inovasi-inovasi sosial (Syafi Ma’arif, 1991)

Christoper J.Lucas (1979) mengemukakan, pendidikan seharusnya menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pasangan hidup masa depan di dunia, serta membantu peserta didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghargai perubahan.

          Pernyataan senada juga dikemukakan oleh Harold G. Shane, menurutnya:

  1. Pendidikan adalah cara memperkenalkan peserta didik pada keputusan soal yang timbul.
  2. Pendidikan adalah cara menanggulangi masalah sosial tertentu.
  3. Pendidikan adalah cara menerima dan mengimplementasikan alternatif-alternatif baru.
  4. Pendidikan adalah cara membimbing perkembangan manusia dan terdorong untuk memberikan kontribusi pada kebudayaan di masa mendatang.

Perubahan menuju masyarakat madani membutuhkan kemampuan personal yang berkualitas unggul serta profesional di bidangnya. Itulah sebabnya pendidikan diharapkan mampu menghasilkan manusia ber-akhlaqul karimah, berpengatahuan luas serta memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Konsep ini memang tidak mudah dicapainya, tetapi perlu diupayakan, untuk itu diperlukan kemampuan melakukan perubahan dengan mendesain ulang konsep filosofis yang jelas dan baku, visi dan misinya, tujuan dan fungsi lembaga, kurikulum, materi dan proses pendidikannya agar memenuhi tuntutunan perubahan dan kebutuhan masyarakat.

Untuk menuju perubahan, pendidikan diupayakan sebisa mungkin tidak semata-mata bersifat konsumtif, dalam pengertian pemuasan secara langsung atas kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara saja, melainkan:

  1. Pendidikan dapat membantu meningkatkan kualitas iman yang aplikatif.
  2. Pendidikan sebagai proses pembebasan dan proses pencerdasan.
  3. Pendidikan sebagai proses menjunjung hak-hak anak.
  4. Pendidikan sebagai proses pemberdayan potensi manusia.
  5. Pendidikan dapat menjadikan manusia demokratis dan membangun watak persatuan.
  6. Pendidikkan dapat menghasilkan manusia cinta perdamaian dan peduli terhadap lingkungan.

Atas dasar tersebut pendidikan perlu diorientasikan pada: 1) pendidikan   berwawasan kemanusiaan dan 2) pendidikan yang mendorong pada peningkatan sumber daya manusia (SDM).

  1. Pendidikan berwawasan kemanusiaan; pendidikan mempunyai peran strategis bagi kehidupan manusia baik dalam konteks sosiologis maupun psikologis. Dengan konsep fitrah, Islam memandang pendidikan sebagai berikut:

a. Pendidikan harus diorientasikan pada upaya optimalisasi potensi dasar manusia secara keseluruhan. Artinya pendidikan tidak semata-mata diorientasikan pada upaya penumbuhan dan pengembangan manusia secara psikologi yang lebih menekankan pada upaya pengayaan secara material, seperti penekanan yang berlebihan pada aspek keterampilan.

b. Implikasi tentang pandangan kemanusiaan tersebut mengharuskan tujuan pendidikan masa depan yang diarahkan pada pencapaian pertumbuhan kepribadian manusia secara seimbang. Pencapaian kepribadian yang seimbang sangat diperlukan agar prasarat manuisa di masa depan dapat tercapai.

c. Terletak pada muatan materi dan metodologi pendidikan; karena manusia diakui mempunyai banyak potensi dasar yang terangkum dalam fitrah, maka muata materi pendidikan harus dapat melingkupi seluruh potensi itu.

  1. Pendidikan yang mendorong pada peningkatan sumber daya manusia (SDM): pendidikan dalam kerangka dimensi manusia seutuhnya (insan kamil) setidaknya harus menghasilkan dua kepastian yang strategis, yaitu melestarikan dan mengembangkan secara terus menerus nilai-nilai kehidupan sesuai dengan kodratnya, dan senantiasa menjaga keharmonisan untuk meraih kehidupan yang abadi dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan khalik-Nya.

Salah satu fungsi pendidikan adalah proses memanusiakan manusia dalam rangka mewujudkan budaya kemanusiaan. Manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, tepatnya potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dimana diri mereka pada dasarnya siap menerima kondisi apapun yang ada di sekelilingnya dan mampu menghadapi tantangan seberat apapun.

Oleh karena itu, pendidikan tidak lain adalah untuk membentuk manusia kamil yang harus diarahkan pada dua dimensi, yaitu dimensi dialektikal horisontal dan dimensi ketundukan vertikal.

Dimensi pertama pendidikan pada hakekatnya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan kongkrit; yaitu kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam atau lingkungan sosialnya. Pada dimensi ini manusia harus mempu mengatasi tantangan dan kendala dunia kongkritnya melalui sains dan teknologi. Dimensi kedua adalah pendidikan sains dan teknologi; yaitu selain menjadi alat untuk memanfaatkan, memelihara serta melestarikan sumber daya alami, juga menjadi jembatan untuk memahami fenomena dan misteri kehidupan dalam mencapai hubungan abadi dengan Yang Maha Pencipta.

 

 

Pendidikan dan Tantangan Kekinian

Sebagaimana yang kita saksikan, bahwa fenomena yang terjadi di Indonesia dewasa ini adalah perubahan terus menerus pada setiap lini kehidupan yang selanjutnya banyak menimbulkan pergeseran kultur maupur struktur di tengah masyarakat.

          Usaha pembangunan yang terus menerus dipacu oleh pemerintah telah memberi nilai tersendiri bagi kemajuan bangsa setidaknya dalam bersaing dengan masyarakat global terutama di bidang budaya maupun pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi harus diakui adanya celah yang kurang kondusif bagi pengembangan sosial secara menyeluruh.

          Diakui atau tidak, bahwa proses modernisasi dalam berbagai dimensi akan menimbulkan ekses sampingan bagi masyarakat terutama lahirnya kecenderungan masyarakat kepada hal-hal yang bersifat konsumtif, materialistik dan individualistik. Hal tersebut terjadi dikarenakan masing-masing individu dituntut untuk memenuhi kebutuhan riil sesuai dengan tuntutan pembangunan. Di bawah ini merupakan ekses sampingan yang dialami oleh masyarakat yang sedang membangun:

1. Berkembangnya mass culture karena pengaruh kemajuan mass media, sehingga kultur tidak   lagi bersifat lokal melainkan bersifat nasional atau bahkan global. Hal ini akan berakibat meningkatnya heterogenitas nilai-nilai dalam masyarakat. Maka selain nilai-nilai agama yang diperlukan, masyarakat merasa perlu melengkapi dirinya dengan nilai-nilai lain yang datang dari sekitarnya, baik karena kesepakatan politik, ekonomi maupun budaya.

  1. Menurunnya sikap-sikap fatalistik dan meningkatnya sifat-sifat yang lebih mengakui kebebasan bertindak menuju perubahan masa depan, dengan semakin dapat ditaklukannya alam, masyarakat merasa lebih leluasa bahkan merasa lebih berkuasa.
  2. Masyarakat industri pada dasarnya dibangun atas proses yang rasional. Meskipun yang irrasional itu nampaknya tidak bisa hilang sama sekali dari kehidupan umat manusia, akan tetapi sebagian terbesar kehidupan semakin diatur oleh aturan-aturan yang rasional, ini berarti pula faham-faham keagamaan atau kepercayaan yang tidak dapat diterima rasio akan ditinggalkan.
  3. Masyarakat industri juga akan ditandai oleh semakin meningkatnya sikap hidup materialistik. Setiap kemajuan harus dapat diukur dengan ukuran-ukuran ekonomi dan kebendaan, baik pada tingkat individu maupun kelompok. Jika setiap masyarakat menyenangi kenikmatan dunia itu bukan persoalan, karena sudah menjadi kenyataan sejarah sejak zaman dulu, akan tetapi jika semua orang sepakat bahwa ukuran keberhasilan hidup itu ialah kemajuan materi saja, justru hal yang demikian menentang terhadap eksistensi agama, sebab agama mengajarkan bahwa keberhasilan itu harus diukur dari dua aspek, yakni keberhasil dibidang materi dan keberhasilan dibidang ibadah/keimanan.
  4. Masyarakat industri juga ditandai oleh maraknya urbanisasi yang pesat, hal ini dapat menimbulkan konsekwensi tersendiri terhadap nilai-nilai agama dan nilai-nilai yang telama berlaku di masyarakat.

Jalaluddin Rahmat (1997) memberi ilustrasi bahwa pendidikan telah melahirkan para ahli di bidangnya, mereka bisa melahirkan teknologi nuklir yang dapat memberi sumber energi, ketika sumber energi lain mulai menyusut. Dunia kedokteran telah menggunakan teknologi nuklir, bukan saja untuk mendiagnosis penyakit melainkan juga untuk membunuh sel-sel kanker. Pion cance therapy misalnya, menggunakan tembakan partikel pion untuk membunuh tumor ganas. Tetapi, seperti yang kita ketahui, lebih dari 50.000 senjata nuklir yang ada di dunia sekarang ini memiliki daya penghancur jutaan kali bom yang jatuh di Hirosima. Biologi dan kimia telah melahirkan teknologi yang mempertahankn struktur kehidupan modern, seperti purifikasi air, pembuangan sampah, imunisasi, peningkatan produksi pertanian, kesehatan, pengobatan, pengolahanan dan penyimpanan makanan. Sekarang bioteknologi sudah sanggup dengan teknik pembelahan ‘gen” atau recombinant DNA menjadikan bakteri-bakteri semacam pabrik kimia yang menghasilkan insulin dan interferon. Insulin diperlukan oleh mereka yang menderita diabetis, dan interferon diperlukan oleh mereka yang mengidap penyakit kanker. Tetapi, kemajuan biokimia juga telah dipakai untuk mengembangkan senjata pemusnah massal bukan untuk memusnahkan hama penyakit akan tetapi juga untuk manusia .

          Teknologi ruang angkasa telah melahirkan satelit yang dapat digunakan untuk navigasi, ramalan cuaca, monitor sumber daya alam, menunjukkan masalah polusi, kegagalan panen, atau penyakit hewan. Pada saat yang sama lebih dari seribu delapan ratus satelit yang sekarang berada di ruang angkasa telah dipakai untuk tujuan-tujuan militer, di samping untuk menghancurkan sesama satelit sehingga ruang angkasa penuh dengan sampah-sampah radioaktif

          Teknologi pengobatan lingkungan dapat dipakai untuk menyelamatkan suatu daerah dari bahaya banjir, mencegah desertifikasi (meluasnya gurun pasir), atau menyediakan air bagi daerah yang kekeringan. Namun, teknologi ini juga telah dapat digunakan untuk peperangan geofisik: menimbulkan kebakaran hutan, penyimpangan air sungai, gempa bumi, gelombang laut, atau ledakan vulkanis.

          Revolusi teknologi juga telah menimbulkkan saluran-saluran komunikasi yang baru. Radio dapat dikaitkan dengan pesawat telepon sehingga sinyal dapat dikirim ke kantor, rumah, mobil, atau ke beeper portabel, semacam telepon saku. Telepon dapat digunakan untuk telekonferensi, atau dikombinasikan dengan rekaman dan komputer guna menyebarluaskan informasi. Namun, secara diam-diam melebarnya perluasan dan intensitas jaringan-jaringan informasi juga bisa mendorong perilaku-perilaku negatif.

          Akibat lain dari revalusi teknologi dan informasi tersebut adalah terjadinya revolusi sosial. Revolusi teknologi pada umumnya akan menempatkan negara-negara superpower pada kedudukan yang menguntungkan secara politis, ekonomis, dan kultural. Banyak negara-negara terbelakang akan memandang negara-negara Barat sebagai rujukan nilai, maka akan terjadi tidak saja ketergantungan politis dan ekonomis, tetapi juga kultural. Di sini nilai-nilai agama khusunya Islam akan banyak berbenturan dengan nilai-nilai Barat.

          Karena adanya ekses sampingan yang kurang menguntungkan dari teknologi tersebut, kini timbul kesadaran betapa pentingnya memperhatikan etika dalam pengembangan teknologi. Di beberapa negara maju telah didirikan lembaga-lembaga “pengawal moral” untuk sains. Yang paling terkenal diantaranya ialah The Institut of Society, Ethics and Life Sciences di Hastings, NewYork.

Berkaitan dengan berbagai problem sosial tersebut, maka perlu untuk direnungkan hal-hal berikut, bahwa pendidikan bukanlah sekadar proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tapi sekaligus sebagai proses alih nilai-nilai kemanusiaan (transfer of human values), dengan tujuan menjadikan manusia yang bertakwa kepada kepada Allah. Inilah tujuan utama pendidikan.

Membangun Pendidikan Ideal

Dalam konteks “makro pendidikan”, pendidikan tidak hanya semata-mata diarahkan pada penumbuhan dan pengembangan manusia yang secara filosofis lebih menekankan pada pencapaian secara material. Pendidikan bukan hanya diarahkan pada upaya pengayaan aspek mental spiritual dalam rangka mengejar tujuan normative, melainkan juga diarahkan untuk tercapainya manusia yang   sempurna secara etik maupun moral serta mempunyai kepekaan susila. Jika tidak demikian, pendidikan akan terjebak pada pola yang bercorak dualisme dikotomik. Sementara dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan rekayasa insaniyah yang berjalan secara sistematis yang dikembangkan dalam rangka keutuhan manusia, sesuai dengan potensi fitrahnya. Maka muatan pendidikan yang hanya mementingkan salah satu aspek dari keduanya tidak akan mengantarkan manusia pada corak personalitas yang utuh.

          Dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa pendidikan hendaknya serba meliputi. Sebagaimana yang terungkap dalam QS. Luqman (31):1-34. Intinya, pendidikan hendaknya memberi penyadaran potensi fitrah keagamaan, menumbuhkan, mengelola dan membentuk wawasan (fitrah), akhlak serta tingkah laku yang sesuai dengan ajaran Islam, menggerakkan dan menyadarkan manusia untuk senantiasa beramal shaleh dalam rangka beribadah kepada Allah.

          Dalam merumuskan hakekat pendidikan, A Malik Fadjar (1999) menawarkan “pendidikan idealistik”, yakni pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar budaya kuat. Adapun pendidikan yang idealistik ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

1. Pendidikan integralistik; yakni mengandung komponen-komponen kehidupan yang meliputi: Tuhan, manusia dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik, serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani-rohani, intelektual, perasaan dan individu-sosial.

Pendidikan yang integralsitik diharapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas tinggi, yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhannya, yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri (agar tidak memiliki kepribadian belah), menyatu dengan masyarakatnya (agar bisa menghilangkan disintegrasi sosial), dan bisa menyatu dengan alam (agar tidak berbuat kerusakan).

2. Pendidikan yang humanistik memandang manusia sebagai manusia; yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai makhluk batas –antara hewan dan malaikat- ia menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang dan lain sebagainya.

Pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk, khaira ummah. Manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan bisa berfikir, berasa dan berkemauan, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan dan lain sebagainya.

  1. Pendidikan yang pragmatik; adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya, baik bersifat jasmani, seperti pangan, sandang, papan, sex, kendaran dan sebagainya; juga bersifat rohani, seperti berfikir, merasa, aktualisasi diri, kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi seperti dorongan untuk berhubungan dengan Adikodrati.

Pendidikan yan pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya, peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.

4. Pendidikan yang berakar kuat, yakni pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tertentu. Pendidikan yang berakar budaya kuat diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya pada diri sendiri dan membangun peradaban berdasarkan budayanya sendiri yang merupakan warisan monumental dari nenek moyangnya. Tetapi bukan orang yang anti kemodernan, yang menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar.

Jika dirumuskan, maka proses pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil), akan diwujudkan melalui pendidikan yang berorientasi pada pengembangan sains, teknologi dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan (fitrah) untuk membebaskan manusia dari belenggu kehidupan serta mendapatkan pemahaman   hakiki tentang fenomena atau misteri di balik kehidupan nyata, guna memperoleh kebahagiaan yang abadi di sisi Allah. Itulah pendidikan yang bermakna secara horisontal sekaligus vertikal yang akan menghasilkan manusia berkualitas iman kepada Allah, komitmen dengan ilmu pengetahuan serta senantiasa beramal shaleh.

Keseluruhan aspek yang tercakup dalam konfigurasi kesatuan iman, ilmu dan amal shaleh merupakan takaran bagi pembentukan kerangka ideal manusia yang bertaqwa kepada Allah, cerdas, kreatif. Yakni manusia yang berdaya cipta, bercita rasa, berjiwa karsa. Di dalam dirinya terdapat kesimbang dalam tiga aspek yaitu kognitif, efektif dan motorik yang diperlukan untuk memainkan peran pada zamannya. Itulah blue print manusia masa depan yang memiliki kualitas dzikir, fikir dan amal shaleh sekaligus.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Tarjamahnya, 2005, Depag, Jakarta.

Abdul Hafidz, Muhammad Nur, 1997, Mendidik Anak Bersama Rasulullah,     Al-Bayan, Bandung.

Al-Attas, Syed M. Naquib, 2003, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, Mizan, Bandung

An-Nahlawi, Abdurrahman, 1995, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Gema Insani Press, Jakarta.

Darmaningtyas, 2005, Pendidikan Rusak-Rusakan, LKiS Pelangi Aksara, Yogyakarta.

Daud Ali, Muhammad, 1999, Pendidikan Agama Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Daud Ibrahim, Marwah, 1994, Teknologi, Emansipasi dan Transendensi (Wacana Peradaban dengan Visi Islami), Mizan, Bandung.

Fadjar, Malik, Pengembangan Pendidikan Islam yang Menjanjikan Masa Depan, Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Ampel Malang, 29 Juli 1995, (tidak diterbitkan).

……………., 1999, Reorientasi Pendidikan Islam, Fajar Dunia, Jakarta.

F. O’neil, William, 2001, Ideologi-Ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Freire, Paulo, 1999, Politik Pendidikan (Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebsan), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Ismail, (ed), 2000, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Latif, Yudi, 2005, Inteligensia Muslim dan Kuasa (Geneologi Intelgensia Muslim Indonesia Abad ke 20), Mizan, Bandung.

Ma’arif, Syafii, A., dkk, 1991, Pendidikan Islam di Indonesia (Antara Cita dan Fakta), Tiara Wacana, Yogyakarta.

Madjid, Nurcholish, 1992, Islam Doktrin dan Peradaban, Yayasan Paramadina, Jakarta.

Mukti, Abdul, 2000, (editor), Pendidikan, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Nata, Abuddin, 2000, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Rahmat, Jalaluddin, 1997, Catatan Kang Jalal (Visi Media, Politik dan Pendidikan, Mizan, Bandung.

Shihab, Quraisy, 1996, Wawasan Al-Qur’an (Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat), Mizan, Bandung.

Soebahar, Abd. Halim, 2002, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta.

Tafsir, Ahmad, 1994, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosda Karya, Bandung.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: