Cinta Ilmu?

Umma’ Selleng…

Selama 62 tahun masa hayatnya, Imam Syuyuthi menghasilkan lebih dari 300 judul buku, tebal-tebal. Sesuai testimoninya dalam Husnul Muhadharah, hampir seluruh disiplin ilmu yang berkembang pada jamannya beliau kuasai, tujuh diantaranya dikuasai secara sangat mendalam; Tafsir, Hadis, Fikih, Nahwu, Ma\’ani, Bayan, dan Badi\’. Gurunya 600 orang, kata Imam Sya\’rani, pengarang Mizan Kubra, yang juga murid langsung Imam Syuyuthi. Tapi hanya 178 orang saja disebutkan Syuyuthi dalam buku biografi tentang guru-gurunya, al-Munajam Fil Mu\’jam. Nama lengkapnya, al-Imam al-Hafid Abu al-Fadl Jalaludin Abdurahman bin Kamaliddin Abil Manaqib Abi Bakr Ashuyuthi (849 H/1445M – 911 H/1505 M). Diakui atau tidak -lepas dari kritikan bahwa dia hanya sebagai naqil bukan mubdi\’- jasa terbesar dia pada khazanah keilmuan Islam, adalah melakukan transformasi keilmuan abad-abad sebelumnya, terutama karya-karya yang lahir sebelum jatuhnya Baghdad ke tangan pasukan Tatar (656 H/1258 M). Karenanya lah kita bisa mengembara menikmati hidangan karya intelektual muslim abad 8 Hijriah ke bawah.

Hanya dua hal yang ingin saya renungkan dalam cerita ini. Pertama, Tingkat produktifitas Syuyuthi yang luar biasa, dengan penguasaan berbagai disiplin ilmu, menunjukan pada masanya kehidupan intelektual di Mesir sangat baik. Jawabnya adalah ya, memang bagus! Tapi ada pemandangan paradoksial. Kata sejarawan, al-Maqrizi, masa-masa itu, selain krisis ekonomi, juga mengalami goncangan sosia-politik. Peralihan tampuk kekuasaan pun kerap tak konstitusional. Kudeta berdarah bisa terjadi kapan saja. Sesuai kesempatan. Siapa yang kuat, dia yang akan jadi raja. Perlu diketahui Syuyuthi hidup pada masa Dinasti Mamalik Jarakisah atau Burjiah yang mulai berkuasa sejak 874 H/1382M sampai 923 H/1517 M. Bertepatan masuknya bala tentara Dinasti Ustmaniah ke Mesir.

Realitas di atas menunjukan kemajuan pendidikan atau intelektual sebuah bangsa tidak selalu bergantung pada mapannya stabilitas politik-ekonomi. Lalu faktor apa yang membuat intelektual pada jaman beliau bisa maju padahal stabiliats negara tak terlalu baik? Hanya satu ternyata rahasianya; pada saat itu siapapun pejabat yang berkuasa mereka selalu cinta ilmu. Mereka selalu peduli pendidikan. Di mana-mana mereka (raja dan para pejabat negara) berlomba-lomba membangun lembaga pendidikan, lengkap dengan fasilits pendukungnya, mulai perpustakaan, tenaga pengajar plus gajinya, juga beasiswa buat pelajar, dll. Begitu bangunan selesai, mereka waqafkan kepada pihak yang kompeten di bidangnya. Pada momen-momen tertentu raja atau pejabat tinggi mengundang para ilmuwan untuk sekedar diskusi di Istana Negara.

Para ilmuwan saat itu benar-benar dihargai keilmuannya. Kira-kira karena alasan yang sama -peduli pendidikan-, pada abad ke-4 Dinasti Abasiah mengalami masa keemasan intelektual. Maka saya sangat setuju dengan al-Qanuji, dalam Abjadul Ulumnya, bahwa kemajuan peradaban sebuah bangsa, tergantung kepada kepedulian pemerintah atas pendidikan dan keilmuan. Kita berharap, walau keadaan ekonomi kita sedang tak baik, semoga APBN untuk puyendidikan, minimal bisa dipenuhi, syukur-syukur ditambah. Semoga pemerintah dan pengusaha kita berlomba-lomba menyediakan fasilitas pendidikan. Para politisi pun, yuk jangan hanya sibuk berpolitik demi menambah kantong suara? Tapi perjuangkan juga pendidikan bangsa kita!

Kedua, dalam usia muda, penguasaan ilmunya sudah cukup mapan bahkan ketika wafat meninggalkan lebih dari 300 judul buku, dan menguasai banyak ilmu, termasuk kedokteran. Pertanyaannya kapan dia belajar dan kapan dia mengarang? Kok bisa yah? Kalau kita bandingkan dengan model pendidikan tinggi (Universitas) sekarang, dimana pengajaran di bagi-bagi sesuai kecenderungan mahasiswa –Syariah, Ushulludin, kedokteran, dll.,- dengan jenjang waktu dan materi yang sudah dibatasi, maka penguasan keilmuan seperi Syuyuthi akan susah terwujud. Lalu dengan metode pendidikan model apa dia bisa begitu? Jawabnya dengan metode talaqi (langsung ngaji secara rutin kepada seorang Guru). Metode ini sangat ampuh untuk mempercepat penguasaan keilmuan. Dan otomatis penguasaan satu disiplin ilmu akan makin cepat. Artinya, kita tak bisa hanya mengandalkan materi yang ada di bangku kuliah. Selain rajin belajar sendiri, perlu juga berburu, aktif diskusi dan talaqi pada guru-guru yang mumpuni!

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: