Perkembangan Pendidikan Islam Era Modern di Malaysia

Sejarah Sosial Pendidikan Islam
(Perkembangan Pendidikan Islam Era Modern di Malaysia)
Oleh: Al Kautsar Kalebbi*

A. Latar Belakang Masalah
Malaysia adalah negara tetangga terdekat Indonesia selain Brunei dan Singapura di wilayah Asia Tenggara. Secara geografis, Malaysia terletak pada 70 Lintang Utara garis katulistiwa, bahkan sering disebut berada di pusat atau jantung Asia Tenggara yang memilki selat Malaka. Luas Negara Malaysia adalah 329.758 km2, meliputi semenanjung Malaysia yang terletak di ujung daratan Asia Tenggara, serta Sabah dan Sarawak yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan. Negara ini memiliki iklim panas dan lembab sepanjang tahun, hampir sama dengan iklim di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan suhu udara bekisar antara 300 Celcius pada siang dan 220 Celcius pada malam hari.
Malaysia adalah negeri multi-etnis dan multi-ras dengan jumlah penduduknya kini lebih dari 23 juta, terdiri dari ras Melayu sebagai ras utama, ras China, dan India sebagai golongan ras lainnya. Ada juga orang-orang berkebangsaan lain. Mereka datang ke Malaysia untuk belajar, bekerja, atau berbisnis. Bahasa nasional negara Malaysia adalah bahasa Melayu karena ras Melayu merupakan ras utama. Agama Islam merupakan agama resmi di Malaysia, karena mayoritas penduduknya beragama Islam, meskipunsebagian lainnya beragama Kristen, Budha, dan Hindu. Baik penduduk yang beragama Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu, semuanya dilindungi dan dapat mempraktikkan ibadahnya dengan bebas.
Kedatangan Islam dan proses Islamisasi berlangsung melalui jalur perdagangan atas peranan para pedagang muslim dan muballig dari Arab dan Gujarat. Proses Islamisasi ini berjalan baik dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama pada pertengahan abad ke-12 di Semenanjung Malaka yaitu kerajaan Islam Kelantan.
Kondisi sosial masyarakat di Malaysia yang notabene merupakan mayoritas melayu tentu dipengaruhi oleh kejadian tersebut. Refleksinya, pada saat itu Malaysia menjadi salah satu kawasan dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Sedikit dapat diketahui bagaimana posisi agama Islam di Malaysia, walaupun terdiri dari berbagai etnis dan suku bangsa yang bercampur baur. Tetapi Malaysia mampu menjadikan Islam menjadi agama yang resmi, dan bahkan hampir yang kelihatan dari malaysia adalah kentalnya nuansa keislamannya. Meskipun Malaysia dianggap sebagai sebuah negara muslim yang menyatakan Islam sebagai agama resmi, namun sesungguhnya adalah sebuah negara pluralitas yang sekelompok minoritas penting penduduknya adalah non muslim.
Pendidikan Islam merupakan salah satu daripada usaha berterusan untuk menerapkan ilmu pengetahuan agama Islam kepada para pelajar dan masyarakat awam. Merangkum usaha memberi pengetahuan tentang agama Islam yang meliputi akidah, syariah dan akhlak.
Menekankan kepada penghayatan terhadap akidah dan kepercayaan dalam Islam, perlaksanaan ibadah-ibadah khusus dan umum serta memberikan panduan dalam membentuk sikap bertanggungjawab dalam diri terhadap pencipta, manusia dan alam. Dalam usaha menjadikan kehidupan seorang insan itu memiliki cara hidup yang berlandaskan ajaran Islam yang benar, maka ilmu yang disampaikan mestilah mengikut kaidah yang benar dan memudahkan masyarakat terutama para pelajar memahami isi kandungan agama Islam.
Aktivitas pengajaran dan pembelajaran juga perlu sentiasa dinilai agar segala kelemahan dapat diperbaiki dan ditambah baik. Harapannya supaya hasil pembelajaran yang disampaikan oleh para pendidik dapat melahirkan pelajar yang berilmu pengetahuan serta dapat menjadikannya sebagai amalan harian dalam setiap aspek cara hidup mereka.
Perkembangannya di era modern saat ini, sistem pendidikan di Malaysia yang banyak dipengaruhi oleh model Inggris (Eropa pada umumnya) yang mementingkan aspek pemahaman dan analisis. Berangkat dari latar belakang tersebut maka pemakalah akan menguraikan perkembangan pendidikan Islam era modern di Malaysia.

B. Definisi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam apabila digabungkan, akan memberikan satu pengertian yang berbeda dengan maksud pendidikan. Hasan Al-Sharqawi menyifatkan pendidikan Islam sebagai satu paham terhadap ajaran Islam yang membawa seorang manusia kepada menjauhi diri dari sifat-sifat tercela dan mendekatkan diri dengan sifat-sifat terpuji. Semuanya ini akan dapat mencerdaskan akal, menguatkan tubuh, membersihkan diri dan menyucikan hati tanpa menjadikan salah satu darinya melemahkan yang lain. Baginya, pendidikan Islam ialah satu usaha untuk menyeimbangkan dan menyetarakan diantara kekuatan yang ada pada tubuh dan antara kekuatan diri dan hubungannya dengan Allah, kejadian disekitarnya dan manusia seluruhnya.
Pengertian pendidikan Islam tidak terlepas dari tiga istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Meskipun sesungguhnya terdapat beberapa istilah lain yang memiliki makna serupa seperti kata tabyin, tadris dan riyadhah, akan tetapi ketiga istilah tersebut dianggap cukup representatif dan amat sering digunakan dalam rangka mempelajari makna dasar pendidikan Islam. Formulasi dari hakikat pendidikan Islam tidak boleh dilepaskan begitu saja dari ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur`an dan As-Sunnah. Karena merupakan sumber yang otentik dalam penggalian khasanah keilmuwan apapun.
Fathi Yakan menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses membina individu dan masyarakat berdasarkan sudut pandang Islam yang ada dalam landasannya, pemikiran maupun perbuatan. Proses pendidikan dalam Islam adalah berusaha untuk membina individu dan masyarakat berdasarkan paham Islam yang sempurna tanpa campur tangan unsur-unsur yang lain. Hasilnya, pembinaan individu muslim akan menjadi pembinaan yang sempurna, seimbang dan terkawal.
Abdullah Nasih Ulwan memberikan definisi tersendiri terhadap maksud pendidikan Islam. Beliau mengkhususkan maksud pendidikan Islam ini kepada pendidikan anak-anak. Pendidikan Islam menurut beliau adalah berusaha untuk menyediakan dan membentuk anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang baik dan menjadi manusia yang shale h di dalam kehidupan ini. Pendidikan untuk anak-anak yang beliau maksud adalah bermula daripada pemilihan pasangan hidup, kemudian setelah anak itu lahir hingga menjadi dewasa. Beliau turut menggambarkan bahwa pendidikan Islam yang ideal adalah meliputi aspek-aspek pendidikan keimanan, akhlak, jasmani, akal, psikologi, sosial dan seks.
Azyumardi Azra memberikan definisi pendidikan Islam sebagai suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam seperti yang telah diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad.
Shamsul Nizar mendefinisikan pendidikan Islam sebagai rangkaian proses yang sistematik, terencana dan komprehensif dalam usaha menafsirkan nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi yang ada pada diri anak didik, sehingga anak didik dapat melaksanakan tugasnya di muka bumi dengan sebaik-baiknya sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan yang didasarkan pada ajaran agama dalam semua aspek kehidupan.
Ghazali Darussalam berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah segala bentuk pengajaran dan pendidikan yang diterima oleh umat Islam yang berlandaskan al-Quran dan al-Sunnah. Beliau menafikan bahawa pendidikan selain yang dinyatakan tersebut adalah pendidikan asing.
Rata-rata tokoh pendidikan menerjemahkan maksud pendidikan Islam adalah berdasarkan maksud pendidikan yang telah dikemukakan dari awal perbincangan. Ke mudian pe rkataan pendidikan digabungkan dengan perkataan Islam yang menjadikan pendidikan berdasarkan ajaran Islam. Jadi dapat disimpulkan disini bahwa pendidikan Islam ialah suatu proses menyampaikan ilmu kepada seseorang dalam usaha untuk membentuk pribadi dan syahsiah dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan ajaran Islam. Hal ini agar tempat kembali seseorang di akhirat nanti ialah di tempat yang baik sebagai balasan mengamalkan ilmu berlandaskan pendidikan Islam yang diterima semasa hidup di dunia.

C. Perkembangan Pendidikan Islam Pada Awal Kedatangan Islam
Perkembangan pendidikan Islam di Malaysia tidak dapat dipastikan secara tepat kapan bermulanya. Namun perkara ini dapat dilihat pada latar belakang sejarah kedatangan agama Islam ke negara ini yang dikenali dengan nama Tanah Melayu dan aktivitas serta kegiatan pendidikan yang berlaku pada waktu tersebut. Apabila Raja Malaka yang pertama yaitu Parameswara (kemudian dikenali sebagai Megat Iskandar Syah) telah memeluk Islam pada 1414M, mengawali perkembangan sistem Pendidikan Islam di Tanah Melayu pada waktu itu. Keislaman baginda turut diikuti oleh para pembesar kerajaan dan rakyat jelata. Bagi memantapkan pemahaman tentang Islam, baginda mempelajari Islam dari para ulama dan da’i yang datang berdakwah ke Malaka.
Perkara yang sama juga dilakukan oleh raja-raja Malaka yang lain. Sebagai minat dan kecintaan yang mendalam para pemerintah terhadap ilmu, istana dijadikan sebagai salah satu tempat mempelajari ilmu. Bukan sebatas itu saja, mereka turut memberikan sanjungan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan Islam, ulama- ulama, kitab-kitab agama dan hari-hari kebesaran Islam. Hal ini membuktikan mereka mempunyai perasaan cinta yang mendalam terhadap Islam dan sistem pendidikannya hasil pengorbanan para da’i Islam ketika itu.
Pemerintah Malaka turut menyerukan rakyat jelata supaya memberikan perhatian yang berat terhadap amalan agama disamping partisipasi para pemerintah sendiri dalam hal tersebut. Sebagai contoh perkara ini dapat dilihat dalam tindakan Sultan Muhammad Syah apabila menyambut kedatangan bulan Ramadhan, baginda memuliakan bulan tersebut terutama pada malam dua puluh tujuh, disamping menunaikan sembahyang Tarawih di mesjid bersama-sama rakyat. Begitu juga apresiasi tinggi yang diberikan pemerintah kepada kitab-kitab agama dan hukum-hukum agama. Salah seorang pemerintah Malaka adalah Sultan Mansur Syah memberikan penghormatan yang begitu tinggi dan memuliakan Kitab Darul Mazlum, ialah sebuah kitab tasawuf karangan Maulana Abu Ishaq dari Mekah. Kitab itu dibawa ke Malaka oleh Maulana Abu Bakar. Baginda mengantar kitab tersebut ke Pasai untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Baginda turut mengantar Tun Bija Wangsa ke Pasai agar mendapatkan penjelasan dari ulama Pasai, Makhdum Musa berkenaan dengan kedudukan ahli surga atau neraka sama kekal atau tidak di dalamnya.
Para pemerintah, pembesar negeri dan rakyat jelata yang sama-sama melibatkan diri dalam mengembangkan agama dan ilmu pengetahuan Islam di Malaka pada waktu itu, maka terdapat berbagai institusi pengajian seperti rumah, mesjid, surau atau istana sebagai pusat dakwah dan aktivitas keilmuan. Sistem pendidikan Islam yang diwujudkan pada waktu tersebut ialah kelas mengaji Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan pelajaran utama kepada semua lapisan masyarakat ketika itu walaupun tidak dilakukan secara formal. Pada waktu itu juga diperkenalkan huruf jawi untuk memudahkan penduduk setempat mempelajari huruf-huruf Arab yang menjadi penunjang kepada pembacaan Al-Qur’an. Huruf jawi adalah berindukkan huruf Arab campuran Parsi. Dan turut mengikat satu perpaduan bahasa meliputi seluruh golongan bangsa Melayu. Justru pembacaan Al-Quran menjadi lebih mudah. Pada peringkat awal, kelas pengajian Al-Qur’an dilakukan di rumah guru yang mengajar Al-Qur’an. Apabila bilangan pelajar-pelajar mulai bertambah, kelas Al-Qur’an kemudian berpindah ke surau dan mesjid.
Al-Qur’an menjadi pengajian dasar, pendidikan Islam di Malaka terus berkembang apabila ia turut menjadi pusat pengajian ilmu Fikih, Tauhid, Tafsir, Sejarah, Tasawuf dan Falsafah Islam sebagai kurikulumnya. Kegiatan yang dilakukan ini tidaklah berbeda dari pendidikan yang dilakukan di zaman Rasulullah, para sahabat dan tabi’in. Struktur pendidikan dan kurikulumnya hampir sama yaitu penekanan dibuat kepada pembacaan, penulisan dan pengajian Al-Qur’an di samping ilmu-ilmu asas agama. Selain Malaka yang terkenal sebagai pusat pengetahuan agama dan pendidikan Islam, negeri-negeri lain seperti Johor, Pahang, Jambi, Kampar, Bangkalis, Bentan dan Gugusan Pulau-Pulau Melayu yang lain turut mendapat tempat dikalangan penduduk setempat terutama pada zaman pemerintahan Sultan Mansur Syah (1459-1477).

D. Perkembangan Pendidikan Islam Pada Zaman Penjajahan Barat
Keruntuhan Malaka pada 1511M ke tangan penjajah menjadikan bangsa Melayu mulai memasuki zaman kegelapan. Tanpa terkecuali dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan, agama dan pendidikan. Kedatangan Barat ke Alam Melayu khususnya ke Malaka bertujuan memusnahkan pusat penyebaran Islam dan pendidikan Islam di rantau ini selain motif politik dan ekonomi. Penaklukan mereka ke Tanah Melayu khususnya merupakan suatu jalan dan cara mereka untuk menghalangi perkembangan agama dan ilmu pengetahuan Islam serta dapat menghidupkan paham Kristen kepada para penduduk.
Penjajah tidak berjaya menukar akidah umat Islam yang sudah dipengaruhi dan dibentuk dengan konsep Islam yang benar, kedatangan mereka sedikit banyak mengganggu perjalanan sistem pendidikan Islam di Tanah Melayu. Sebagai contoh, ketika Portugis menjajah Malaka mereka mengambil sikap berdiam diri tanpa melakukan tindakan inisiatif dalam membantu perkembangan agama dan pendidikan Islam pada waktu itu. Kegiatan agama dan pendidikan Islam menjadi stagnan. Disamping itu, kegiatan dakwah berjalan dalam situasi yang tidak menonjol. Ada yang berpendapat kegiatan dakwah terpaksa dijalankan secara rahasia untuk melawan tantangan ganas dari penjajah pada saat penjajahan Belanda di Tanah Melayu.
Pertumbuhan sekolah Melayu oleh pemerintahan Inggris, sistem pendidikan Islam dilaporkan masih berjalan seperti biasa. Menurut catatan Abdullah Munshi ketika beliau menuju ke Melaka, Singapura dan Pulau Pinang, terdapat sekolah-sekolah Al-Qur’an yang dilaksanakan di negeri-negeri tersebut. Selepas tahun 1854, sekolah Al-Qur’an awalnya berubah corak saat diambil alih oleh pemerintahan Inggris melalui Syarikat Hindia Timur Inggris.
Sekolah agama ini diberi bantuan penuh dengan syarat ia melaksanakan mata pelajaran membaca, menulis dan ilmu hisab disamping pelajaran agama dan membaca Al-Qur’an. Bangunannya digunakan sebagai sekolah Melayu pada waktu pagi dengan mendapat bantuan penuh dari pemerintahan Inggris manakala sekolah Al-Qur’an pula dilaksanakan pada waktu petang di bangunan yang sama. Perkara ini dinyatakan dalam Kode Pelajaran (Education Code) bagian 5 Undang-Undang Pelajaran Melayu di Negeri Selat dan Negeri Bersekutu tahun 1936 dalam senarai tugas Penolong Nazir Melayu Sekolah.
Penjajah dapat menumbuhkan sekolah Melayu dan mengasingkan sekolah Al-Qur’an di sebelah petang, namun masyarakat Melayu tetap mengekalkan asas pendidikan Islam yang menjadi warisan agama dan bangsa. Mereka berjaya mempertahankan institusi tradisional Melayu yang menjadi warisan sejak turun temurun.
Sistem pendidikan Islam masih menjadi landasan para pelajar. Ada ibu dan bapak yang sanggup meningkatkan tahap pengajian anak mereka ke peringkat yang lebih tinggi dengan mengantar ke luar negeri seperti Pattani, Mekah, Mesir dan negara-negara yang lain. Apabila mereka telah tamat pengajian dan kembali ke Tanah Melayu, golongan inilah yang meneruskan sistem pendidikan Islam dengan meluaskan lagi sistem dengan membuka institusi-institusi pengajian yang lebih tinggi tarafnya yang dikenali sebagai “Pondok”.
Pengajian pondok bermula dan berkembang dari aktivitas pengajaran di mesjid yang menjadi rumah Allah dan tempat pertemuan masyarakat Islam. Berbagai aktivitas dan kegiatan keagamaan dilaksanakan di pondok untuk mengenalkan masyarakat tentang segala permasalahan dalam Islam seperti hukum hakam, akidah, dan masalah-masalah lain yang bersangkut paut dalam soal agama Islam.
Bertitik tolak daripada sistem pondok, pendidikan Islam diperkemaskan lagi melalui sistem madrasah atau sekolah agama yang dilengkapi dengan infrastruktur dari segi bangunan sekolah, asrama, kemudahan rekreasi dan pejabat pentadbiran. Institusi ini lahir pada saat gerakan islah di Timur Tengah sedang berlaku. Kesan gerakan islah disana turut membawa perubahan di Tanah Melayu apabila pelajar-pelajar yang belajar di Universiti al-Azhar, Mesir kembali ke Tanah Melayu membawa bersama perubahan ini. Mereka berusaha untuk mengubah sikap orang Melayu supaya memahami Islam dalam bentuk yang lebih lengkap. Salah seorang tokoh yang terlibat dalam usaha untuk mengubah sistem pendidikan yang lebih sistematik adalah Syed Syeikh al-Hadi. Beliau telah menumbuhkan sebuah madrasah di Bukit Mertajam, Seberang Prai pada tahun 1906. Madrasah tersebut dikenali dengan nama al Madrasah al Misriyah. Seterusnya pada tahun 1907, dikembangkan juga madrasah di Singapura yang dikenali dengan nama Madrasah Iqbal dan Madrasah al-Hadi pada tahun 1917 di Banda Kaba, Melaka.
Pada tahun 1952, satu pelajaran asli telah diubah yang dinamakan sebagai Ordinan Pelajaran 1952. Dalam ordinan tersebut diadakan peruntukan Seksyen 70 mengenai pelajaran agama Islam dan menjadikannya sebagai sebagian kursus-kursus pelajaran di sekolah bantuan kerajaan. Pelajaran Agama Islam terus mendapat perhatian yang wajar daripada kerajaan apabila Syor Penyata Jawatankuasa Pelajaran 1956 mencadangkan agar setiap sekolah yang murid-muridnya tidak kurang daripada 15 orang yang beragama Islam, maka pelajaran agama yang diberikan kepada mereka hendaklah di bawah peruntukan oleh ke rajaan .
Cadangan tesebut diterima oleh kerajaan dan dimasukkan dalam Seksyen 49, Ordinan Pelajaran 1957. Selain itu, turut ditetapkan bahwa sekolah yang mempunyai murid Islam melebihi 15 orang diwajibkan mengadakan kelas agama Islam. Peruntukan masa juga ditetapkan untuk kelas agama Islam disitu sekurang-kurangnya dua jam seminggu.
D. Perkembangan Pendidikan Islam Pasca Merdeka
Perkembangan pendidikan Islam terus membaik apabila Tanah Melayu mencapai kemerdekaannya pada tahun 1957. Perkara ini dapat dilihat kepada perubahan yang berlaku dalam perundangan dan syor kerajaan dalam perkara berkaitan. Sebagai contoh, di dalam Ordinan Pelajaran 1957 tidak menetapkan hak pihak yang menguruskan tentang biaya mengikuti pelajaran agama Islam menyebabkan perlaksanaan pelajaran agama Islam tidak berjalan dengan sistematik. Jadi di dalam syor statemen Abdul Rahman Talib 1960, perkara berkaitan biaya dinyatakan secara terperinci ialah segala biaya berkaitan pelajaran agama Islam ditanggung oleh Kementerian Pelajaran.
Berdasarkan cadangan tersebut, Akta Pelajaran 1961 telah mengadakan aturan berkaitan aturan kewenangan selain mewajibkan sekolah-sekolah bantuan kerajaan mengadaka n pelajaran agama Islam kepada murid-murid selama dua jam seminggu sekiranya di sekolah tersebut terdapat sebanyak 15 orang murid Islam atau lebih. Pada tahun 1962 merupakan tahun Akta Pelajaran 1961 mula dikuatkan, pelajaran agama Islam telah diadakan dalam jadwal waktu pelajaran biasa kepada murid-murid yang beragama Islam dengan aturan ma sa pe ngajaran da n pembelajaran sebanyak 120 menit seminggu.
Guru Agama juga dilantik untuk mengajar mata pelajaran tersebut. Dengan terlaksananya akta ini, murid-murid Islam terjamin mendapat pendidikan Islam selama sebelas tahun yakni enam tahun di sekolah rendah dan lima tahun di sekolah menengah. Menggambarkan agama Islam berada di bawah kuasa Yang Dipertuan Agun g dan Ra ja-Raja Melayu, legitimasi pelaja ra n pendidikan Islam hendaklah terlebih dahulu disetujui oleh Majlis Raja-Raja sebelum dilaksanakan di sekolah-sekolah. Maka mata pelajaran agama Islam yang pertama untuk sekolah bantuan kerajaan telah disusun pada tahun 1959. Hal ini telah disetujui oleh Majlis Raja-Raja dan dilaksanakan mulai dari tahun 1962 hingga 1967.
Pada tahun 1967, susunan pelajaran pendidikan Islam sekali lagi disusun oleh sebuah pihak yang kompeten, terdiri dari wakil Kementerian Pelajaran, Universitas Islam dan Sekolah-Sekolah Agama Kerajaan Negeri. Susunan tersebut telah disisipkan oleh instansi yang berkompetensi peringkat Kementerian Pelajaran sebelum dikemukakan kepada Majlis Penasehat Raja-Raja Melayu yang terdiri dari wakil-wakil dari pihak yang berkuasa Jabatan Hal Ihwal Agama Islam Kerajaan Negeri. Keputusan susunan tersebut kemudian disetujui oleh Majlis Raja-Raja pada bulan April 1967 dan dipublikasikan dalam Berita warta Kerajaan. Susunan awal mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah bantuan kerajaan mulai awal aspek berkaitan dengan sekolah tahun 1968. Isi kandungan pendidikan Islam sekolah rendah dan menengah mengandung beberapa perbedaan sesuai dengan tahap dan umur murid-murid.
Susunan pelajaran agama Islam di sekolah rendah mengandung perkara yang mustahil dipelajari oleh murid-murid dan disusun mengikuti umur serta kemampuan mereka. Diantaranya ialah akidah, ibadah, sejarah rasul-rasul, budi pekerti dan bacaan Al-Qur’an. Manakala sukatan pelajaran sekolah menengah juga mengandung perkara-perkara yang mustahil diketahui oleh tiap orang Islam pada usia akil baligh. Susunan tersebut juga disesuaikan dengan keperluan masyarakat dan kepentingan negara. Diantaranya ialah fikih, tauhid, sejarah Islam, ayat Al-Qur’an dan Hadis. Namun tidak semua aspek dalam kehidupan dapat dikategorikan pada peringkat ini memandang masa yang diperuntukkan kepada pelajaran ini adalah beban mata pelajaran yang lain yang harus dihadapi oleh murid-murid.
Sebelum Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR) dan Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM) diperkenalkan, mata pelajaran pendidikan Islam tidak wajib diambil dalam peperiksaan seperti peperiksaan Sijil Rendah Pelajaran (SRP) dan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) walaupun wajib dipelajari. Pada tahun 1979,Pemerintah Kabinet yang mengkaji pelaksanaan dasar pelajaran telah mengeluarkan satu laporan menyeluruh berkaitan aspek pendidikan negara termasuk kurikulumnya. Hasil kajian tersebut, KBSR telah diubah dan dilaksanakan secara keseluruhan pada 1983. KBSR diteruskan diperingkat sekolah menengah pada tahun 1988 yakni setelah enam tahun KBSR dilaksanakan di sekolah rendah dengan nama Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah (KBSM).
Pada saat itu juga mata pelajaran pendidikan Islam dijadikan mata pelajaran utama di peringkat menengah rendah dan menengah tinggi. Selaras dengan itu, diwajibkan di dalam pengawasan. Manakala pada peringkat menengah atas terdapat mata pelajaran pendidikan Islam sebagai mata pelajaran efektif selain Pendidikan Islam yakni Tasawuf Islam, Pendidikan Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan Pendidikan Syariah Islam.
Awal Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR) diperkenalkan, mata pelajaran pendidikan Islam memberi penekanan kepada asuhan dan latihan membaca Al-Qur’an dan asas pelajaran agama Islam yang meliputi akidah, ibadah, sirah rasul dan budi pekerti dimana aspek-aspek amaliah dititikberatkan. Mata pelajaran pendidikan Islam terus dikemas setelah diperkenalkan Kurikulum Bersepadu Sekolah Rendah (KBSR) pada tahun 1993 untuk menggantikan Kurikulum Baru Sekolah Rendah. Mata pelajaran pendidikan Islam ditambah satu lagi bidang yaitu bidang asas akhlak Islam. Ini menjadikan mata pelajaran pendidikan Islam mempunyai tiga bidang yakni asuhan Al-Qur’an, asas syariah Islam dan asas akhlak Islam. Penambahan ini bertujuan untuk membentuk perilaku murid Islam ke arah mengamalkan nilai-nilai yang terpuji.
Mata pelajaran pendidikan Islam terus diperkuat lagi dengan mewujudkan program j-QAF adalah singkatan kepada jawi, Al-Qur’an, bahasa Arab dan fardu ain. Program yang telah di ilhami oleh mantan Perdana Menteri yang kelima adalah Tun Abdullah Hj. Ahmad Badawi bertujuan untuk memperkokoh penguasaan jawi, memastikan murid-murid khatam Al-Qur’an di sekolah rendah, mewajibkan pelajaran bahasa Arab dan memantapkan amalan dan penghayatan fardu ain.
Program j-QAF adalah sebagian daripada usaha untuk menguatkan pendidikan Islam dan sekaligus memantapkan sistem pendidikan kebangsaan. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2005 untuk pelajar sekolah rendah. Dan diprediksi akan mulai dilaksanakan di sekolah menengah apabila semua tahap di sekolah rendah telah dilaksanakan seluruhnya.
Penutup
A. Kesimpulan
Sistem pendidikan Malaysia yang digunakan pada masa ini merupakan warisan budaya dari bangsa Inggris. Di waktu zaman jajahan Inggris, terbentuk lima jenis sekolah, yakni sekolah Vernukular Melayu, Sekolah Vernukular Cina, Sekolah Vernukular India, Sekolah Vernukular Inggris dan Sekolah Agama.
Pada masa Penjajahan Jepang, pendidikan Tamil dan pendidikan Melayu dikembangkan dan ditambah dengan bahasa Jepang. Jepang menggatikan sekolah Vernukular Cina dan Inggris dengan pengajaran yang lebih ditekankan pada lagu-lagu klasik dan Kebudayaan Jepang dengan bahasa pengantar bahasa jepang.
Pasca perang dunia kedua (1946) dengan kekalahan di tangan Jepang, pasukan Inggris berupaya untuk memasuki kembali tanah Melayu. Keadaan sistem pendidikan pada zaman tersebut tidak beraturan, warga melayu telah menanamkan semangat nasionalisme, dan begitu pula dengan masyarakat Cina dan India. Selain itu, di kalangan bangsa melayu telah timbul kesadaran untuk memajukan pendidikan. Melalui pendidikan, ekonomi dan sosial masyarakat dapat meningkat.
Warga Melayu mulai mendesak kepada pihak kerajaan Inggris atas kesadaran bangsa Melayu untuk memperluas peluang pendidikan bagi putra-putri Melayu, untuk memperbaiki keadaan pendidikan di sekolah-sekolah Melayu. Maka pada tahun 1950, salah satu jabatan penting yang diurus oleh L.J.Barnes, telah ditugaskan untuk memperbaiki keadaan pendidikan orang Melayu. Pada tahun 1951 terbentuklah Jawatankuasa L.J.Barnes yang memfokuskan untuk memperbaiki pendidikan orang-orang Melayu. Selain Laporan dari Barnes, terdapat Jawantankuasa lain yang membantu perbaikan sistem pendidikan di tanah Melayu, yakni Fenn-Wu (1951) memperbaiki pendidikan Kaum Cina, Ordian Pelajaran (1952) mengusulkankan sekolah kebangsaan sebagai corak sistem sekolah kebangsaan, dan Razak (1956) meletakkan asas bagi perkembangan sistem pendidikan untuk memupuk perpaduan melalui sistem pelajaran kebangsaan, sukatan pelajaran dan sistem pemeriksaan yang sama bagi semua sekolah.
Pada masa penjajahan pendidikan di Malaysia masih dibawah kendali oleh bangsa Inggris dengan menkotak-kotak pendidikan berdasarkan etnis dengan kurikulum yang telah disusun oleh pemerintahan Inggris. Dan hal tersebut mulai berubah ketika Jepang berupaya untuk menjajah tanah melayu ini. mereka memasukan ideology dan budaya Jepang dalam kurikulum pendidikan. setelah kekalahan jepang pad PD II dan disertai munculnya kembali bangsa inggris ke tanah, keadaan pendidikan Malaysia masih morat marit hingga muncul kesadaran dari bangsa melayu untuk mengubah dan memperbaiki system pendidikan mereka. Dan pada tahun 1974, Malaysia membentuk Jawatan Kuasa Kabinet yang bertugas mengkaji semua pelaksanaan pendidikan. Laporan Jawatan Kabinet ini telah mulai terbit sejak tahun 1979.
Dasar pendidikan Malaysia, yakni Falsafah Pendidikan Kebangsaan, diintegrasikan pada ideologi dan falsafah Negara yang berupa ideologi rukun Negara. Kurikulum Pendidikan Malaysia yang berupa KBSR dan KBSM adalah susulan dari perubahan yang dilakukan oleh Laporan Komite Kabinet Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan yang dirilis pada tahun 1979. Untuk tenaga kependidikan negara Malaysia, Pada dasarnya peran guru adalah sebagai pengajar, pendidik, guru, fasilitator, pengelola, penasihat dan pembimbing. Pendek kata peran ini bisa disatukan sebagai peran seorang pemimpin yang serba boleh.
Pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah federal. Sistem pendidikan nasional meliputi pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, pendidikan menengah atas, pasca pendidikan menengah, dan perguruan tinggi.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Islam ke Tanah Melayu telah banyak mengubah pola hidup masyarakat sekaligus menjadikan agama Islam sebagai agama resmi negara ini. Walaupun negara ini pernah dijajah, agama Islam dan seputar mengenai pendidikan tetap terlaksana di negara ini. Dalam hal pendidikan, pengajian mengenai agama Islam turut diberikan keutamaan. Ini dapat dilihat apabila beberapa akta pendidikan yang di ubah turut memasukkan perkara-perkara berkenaan dengan agama Islam untuk diajarkan di sekolah-sekolah dan institusi-institusi pengajian. Ini menunjukkan bahwa perkembangan Pendidikan Islam di Malaysia mendapat dukungan bukan saja dari rakyat yang memerlukan pendidikan tetapi juga oleh kerajaan yang menjamin posisi pendidikan ini dapat dilaksanakan.

Daftar Pustaka

Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak-anak Dalam Islam. Syed Ahmad Semait (terj.) Singapura: Pustaka Nasional Pte. Ltd 1988.
Ahmad Jelani Halimi, Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn. Bhd 2008.
Ahmad Kilani Mohamed, Pengurusan Pendidikan Di Sekolah: Huraian Menurut Perspektif Islam. Skudai: Universiti Teknologi Malaysia 2003.
Ahmad Mohd. Salleh, Pendidikan Islam. Falsafah Sejarah dan Kaedah Pengajaran Pembelajaran Sah Alam: Oxford Fajar Sdn. Bhd 2004.
Arif Rachman, Pendidikan Komparatif: Menuju ke arah metode perbandingan pendidikan antar negara, (Yogyakarta : Laksbang Grafika, 2010).
Auni Abdullah, Tradisi Pemerintahan Islam dan Kolonialisme Dalam Sejarah Alam Melayu. Kuala Lumpur: Darulfikir 2005.
Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu 1998.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam 1991.
Fathi Yakan, al-Tarbiah a l-Wiqaiyyah fi a l-Islam, c. 2. Beirut: Muassasah al-Risalah 1997.
Ghazali Darussalam, Pedagogi Pendidikan Islam, c. 2. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd 2004.
Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999).
Kementerian Pelajaran Malaysia, Buku Pandua n Dasar, Pela ksa naa n dan Pengurusan Kurikulum dan Kokurikulum Program j-QAF. Putrajaya: Jabatan Pendidikan Islam dan Moral 2007.
Kementerian Pelajaran Malaysia, Buku Penerangan Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah. Kuala Lumpur: Pusat Perkembangan Kurikulum 1992.
Kementerian Pelajaran Malaysia, Kurikulum Baru Sekolah Rendah: Matlamat, Ra sional Bidang Pelaksanaan da n Strategi Penga jaran dan Pembelaja ran, c. 2. Kuala Lumpur: Kementerian Pelajaran Malaysia 1982.
Kementerian Pelajaran Malaysia, La poran Jawa tankuasa Kabinet Mengka ji Pelaksanaan Dasar Pelajaran. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka 1979.
Kementerian Pelajaran Malaysia, Laporan Mengenai Pelaksanaan Dasar Pelajaran Terhadap Pelajaran Ugama Islam Mengikut Shor 2 Penyataan Razak 1965, dan Jawatan kuasa Menyemak Pelajaran 1960. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka 1972.
Kementerian Pendidikan Malaysia, Buku Penerangan Kurikulum Bersepadu Sekolah Rendah. Kuala Lumpur: Pusat Perkembangan Kurikulum 1997.
Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia, Struktur Kursus Pendidikan Islam Politeknik (Putrajaya: Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia 2006).
Mohammad Redzuan Othman, “The Arabs Migration and Its Importance in the Historical Development of the Late Nineteenth and Early Twentieth Century Malaya”, (Kertas Kerja yang dibentangkan di Persidangan Persatuan Sejarah Dunia yang ke 15 yang diadakan di California, Amerika Serikat pada 22-25 Jun 2006).
Mohd Roslan Mohd Nor, et. al, “Madrasah System in Malaysia: Its Contribution and Challenges” (Kertas kerja yang dibentangkan dalam International Conference on Islamic Area Studies, anjuran National Institute of Humanities, Japan & Asia-Europe Institute, Malaysia, 22-24 November 2008).
Muhd Nur Manuty, “Perkembangan Pendidikan di Malaysia: Beberapa Analisa Kritis Terhadap Pemikiran-pemikiran Asas Dalam Perspektif Sejarah”, Jurnal Pendidikan Islam, Bil.2. Selangor: Angkatan Belia Islam Malaysia 1984.
Ramlah Adam, Ma ktab Melayu Melaka 1900-1922. Kuala Lumpur: Dewan Bahan dan Pustaka 1991.
Shamsul Nizar, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama 2001.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: