PENDALAMAN MATERI FIKIH PADA MADRASAH TSANAWIYAH

PENDALAMAN MATERI PADA MADRASAH TSANAWIYAH

  1. Latar Belakang

            Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ini merupakan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

            Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di madrasah adalah Pendidikan Agama Islam (PAI), yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah terdiri atas empat mata pelajaran, yaitu: Al-Qur’an-Hadis, Akidah-Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi.

Pendidikan fiqih merupakan salah satu pendidikan agama islam yang diterapkan dalam institusi pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi islam sebagai sarana mewujudkan tujuan pendidikan, membentuk manusia yang mengerti akan syari’at agama Islam.

Kurikulum Pendidikan fiqih di lembaga pendidikan telah diterapkan berdasarkan pada peraturan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 tentang standar kompetensi lulusan dan standar isi pendidikan agama islam di madrasah Tsanawiyah. Maka kurikulum pendidikan fiqih di Madrasah Tsanawiyah harus sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan dimana pendidikan fiqih di Madrasah Tsanawiyah diharapkan mampu menciptakan dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dengan adanya kurikulum pendidikan fiqih peserta didik diharapkan mengetahui dan memahami serta mengaplikasikan ilmu-ilmu fiqih dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Tujuan Pembelajaran Fikih

            Pembelajaran fikih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikankan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat Islam secara kaaffah (sempurna). Pembelajaran fikih di Madrasah Tsanawiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:

  1. Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah yang diatur dalam fikihibadah dan hubungan manusia dengan sesama yang diatur dalam fikihmuamalah.
  2. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

 

  1. Ruang Lingkup Fikih

            Ruang lingkup fikih di Madrasah Tsanawiyah meliputi ketentuan pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Adapun ruang lingkup mata pelajaran Fikih di Madrasah Tsanawiyah meliputi :

  1. Aspek fikih ibadah meliputi: ketentuan dan tatacara taharah, shalat fardu, salat sunnah, dan salat dalam keadaan darurat, sujud, adzan dan iqamah, berzikir dan berdoa setelah shalat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan akikah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.
  2. Aspek fikih muamalah meliputi: ketentuan dan hukum jual beli, qirad, riba, pinjam- meminjam, utang piutang, gadai, dan borohserta upah.

 

D. Fiqh dalam Konstelasi Keilmuan Islam

            Perlu ditegaskan bahwa fiqh adalah hasil pemikiran para ulama tentang suatu hukum yang didasarkan pada dalil-dalil nash. Aktifitas dalam merumuskan hukum itu disebut sebagai ijtihad. Karena ijtihad, atau aktifitas memeras kemampuan akal dalam mengeluarkan hukum berdasar dalil-dalil nash, maka fiqh sebagai hasil ijtihad tidak terlepas dari unsur keterlibatan akal manusia (ulama). Karena akal atau pemikiran ulama itu tidak terlepas dari pengaruh faktor sosiologis yang melingkupinya maka sudah menjadi keniscayaan jika hasil ijtihad para ulama itu berbeda satu dengan yang lain. Dengan demikian Fiqh sebagai hasil pemikiran ulama tidak dapat disejajarkan dengan wahyu. Jika wahyu itu kebenarannya mutlak, maka fiqh sebagai hasil kerja akal, kebenarannya menjadi relatif. Bisa benar dan bisa juga salah. Dalam konstelasi ajaran Islam, fiqh dengan demikian tidak dapat disejajarkan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Melihat kenyataan yang semacam itu maka, kita seyogyanya tidak fanatik kepada pemikiran fiqh seorang ulama di satu sisi, sementara pada sisi yang lain apriori dengan pemikiran fiqh ulama yang lain.

 

E. Materi Fiqh Madrasah Tsanawiyah

            Pembelajaran fiqih pada Madrasah Tsanawiyah meliputi kelas VII:

  1. Bersuci

–          Thaharah

–          Najis

–          Istinja

–          Hadats

  1. Shalat Fardhu dan Sujud Syahwi

–          Shalat lima waktu

–          Sujud Syahwi

  1. Adzan, Iqamah dan shalat berjamaah

–          Adzan

–          Iqamah

–          Shalat berjamaah

  1. Dzikir dan Do’a

–          Zikir

–          Do’a

  1. Shalat Jum’at dan Shalat Jenazah

–          Shalat Jum’at

–          Khutbah jum’at

–          Shalat Jenazah

  1. Shalat Jama Qashar dan Shalat dalam keadaan darurat

–          Shalat Jama

–          Shalat Qashar

–          Shalat Jama Qashar

–          Shalat dalam keadaan darurat

  1. Shalat sunat muaqad dan ghairu muakad

–          Shalat sunat muaqad

–          Shalat sunat ghairu muakad

            Pembelajaran fiqih pada Madrasah Tsanawiyah meliputi kelas VIII:

  1. Macam-macam sujud

–          Sujud syukur

–          Sujud tilawah

  1. Puasa

–          Puasa ramadhan

–          Puasa sunnah dan puasa yang dilarang

–          Puasa najar

  1. Zakat

–          Zakat fitrah

–          Zakat mal

  1. Sadaqah, hibah dan hadiah

–          Sadaqah

–          Hibah

–          Hadiah

  1. Haji

–          Pengertian haji

–          Syarat wajib haji

–          Rukun haji

–          Wajib haji

–          Sunnah-sunnah haji

–          Mengenal miqat

–          Tata urutan pelaksanaan ibadah haji

–          Pelaksanaan haji dan umrah

–          Bimbingan ziarah ke tempat-tempat bersejarah

  1. Umrah

–          Pengertian dan hukum umrah

–          Syarat wajib dan syarat sah umrah

–          Rukun umrah

–          Wajib dan miqat umrah

–          Tata urutan pelaksanaan ibadah umrah

  1. Hukum islam tentang makanan dan minuman

–          Makanan yang halal dan haram

–          Minuman yang halal dan haram

 

      Pembelajaran fiqih pada Madrasah Tsanawiyah meliputi kelas IX:

  1. Penyembelihan kurban dan aqiqah

–          Penyembelihan

–          Qurban

–          Aqiqah

  1. Jual beli dan mudharabah

–          Jual beli

–          Khiar dalam jual beli

–          Mudharabah

  1. Riba dan bunga bank

–          Riba

–          Bunga bank

  1. Pinjam meminjam, Hutang piutang, Gadai dan jaminan

–          Pinjam meminjam

–          Hutang piutang

–          Gadai

–          Jaminan hutang (kafallah)

  1. Ijarah dan Ju’alah

–          Upah atas sewa menyewa

–          Upah atas jasa kerja

  1. Pengurusan jenazah, takziah, dan jiarah kubur

–          Perngurusan jenazah

–          Takziah

–          Jiarah kubur.[1]

 

            Cakupan materi fiqih kelas VII sampai kelas IX di atas merupakan materi bahasan yang umumnya terdapat pada tingkat madrasah Tsanawiyah. Adapun sumber bahan ajar tersebut dari buku paket siswa penerbit Erlangga, judul buku Ayo Memahami Fiqih.

            Cakupan materi pada buku paket di atas pada umumnya sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Agama No. 2 tahun 2008, namun terdapat materi yang tidak selaras dengan aturan Permenag. Ini terdapat pada materi kelas VII yaitu dalam buku paket tertulis shalat jum’at dan shalat jenazah, sementara dalam permenag yaitu melaksanakan tatacara shalat wajib selain shalat lima waktu. Ini mengindikasikan adanya ketidak sesuaian dengan aturan yang ditetapkan, tetapi hanya dalam bentuk tulisan.

 

F. Pendalaman Materi

            Berdasarkan materi yang terdapat pada kelas VII sampai kelas IX Madrasah Tsanawiyah penulis beranggapan bahwa materi ini masih memerlukan pendalaman, adapun materi yang dimaksud adalah zakat kelas VIII pelaksanaan shalat jenazah pada kelas VII. Walaupun menurut hemat kami materi lain juga masih membutuhkan pendalaman juga.

 

  1. Zakat

            Zakat merupakan salah satu dari lima pondasi Islam rukun Islam, dimana hukumnya wajib untuk dilaksanakan bagi setiap muslim yang telah memenuhi ketentuan syar’i sebagai mukallafseseorang yang wajib mengeluarkan zakat. Hukum membayar zakat adalah wajib, hal ini tersirat dalam Surah Al Baqarah ayat :43

(#qßJŠÏ%r&urno4qn=¢Á9$#(#qè?#uäurno4qx.¨“9$#(#qãèx.ö‘$#uryìtBtûüÏèÏ.º§9$#

Artinya :   Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.(Q.S. Al-Baqarah : 43).[2]

            Abd. Al-Rahman Al-Juzairy dalam Ahmad Rofiq menyatakan bahwa: “Zakat secara harfiah artinya bersih, meningkat, dan berkah. Secara istilah zakat adalah sebagian kadar (harta) dari harta yang memenuhi syarat minimal (nishab) dan rentang waktu satu tahun (haul) yang menjadi hak dan diberikan kepada mustahiq (penerima) zakat).[3]

            Zakatmenurut etimologi (bahasa),berarti nama’ yang artinya kesuburan,thaharahberartikesucian,barakahberartikeberkahan,dan tazkiyahberarti mensucikan.[4]Syara’memakaikatatersebutuntukkeduaartiini pertama, denganzakat,diharapkan akanmendatangkankesuburan pahala. Kedua,zakatitumerupakansuatu kenyataanjiwasucidarikikirdandosa.Al Imam AnNawaimengatakanbahwazakat,mengandungmakna kesuburan. Kata zakat dipakai untuk dua arti yaitu subur dan suci.[5]

Para pemikir ekonomi Islam kontemporer mendefinisikan zakat sebagai harta yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau pejabat berwenang, kepada masyarakat umum atau individu yang bersifat mengikat, tanpa mendapat imbalan tertentu yang dilakukan pemerintah sesuai dengan kemampuan pemilik harta, yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan delapan golongan yang telah ditentukan oleh Al-Qur’an serta untuk memenuhi tuntutan politik bagi keuangan Islam.[6]

Penjelasandi atas dapat memberikan pemahaman bahwa zakat adalah sejumlah harta tertentu dengan persyaratan tertentu yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya.

Zakat dapat dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Zakat Fitrah, adalah mengeluarkan 2,5 kg (3,1 liter) dari makanan pokok (yang senilai) yang bersangkutan (setiap orang islam besar, kecil, tua, muda dan hamba) diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustahiq). Waktunya sebelum pelaksanaan shalat idul fitri selama dalam bulan ramadhan.
  2. Zakat Maal, adalah zakat yang dikeluarkan oleh seorang muslim dimana zakat tersebut mencakup hasil pertanian, pertambangan, perniagaan, hasil ternak, hasil laut, emas, perak ataupun harta temuan, yang dimana dalam perhitungannya terdapat tata cara perhitungan masing-masing yang telah di atur dalam aturan syariah Islam.[7] 

 

            Golongan yang berhak menerima zakat :

  • Fakir-Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Miskin-Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
  • Amil-Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
  • Muallaf-Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
  • HambaSahaya yang ingin memerdekakan dirinya
  • Gharimin-Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
  • Fisabilillah-Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
  • IbnusSabil-Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan, (umroh, penuntut ilmu, para da’i).[8]

 

            Permasalahan yang sering muncul dikalangan masyarakat tentang zakat adalah :

–          Pembayaran Zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok atau uang

            Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah penunaian zakat fitrah dengan uang.

            Pertama, pendapat yang membolehkan adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. Dalil mereka antara lain firman Allah SWT,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (Q.S. at-Taubah: 103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang.[9]

            Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW, ”Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini(idul fitri”)” (HR Daruquthni dan Baihaqi). Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang.[10]

            Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.

            Karena ada dua pendapat yang berbeda, maka kita harus bijak dalam menyikapinya. Ulama sekaliber Imam Syafi’i, mujtahid yang sangat andal saja berkomentar tentang pendapatnya dengan mengatakan, ”Bisa jadi pendapatku benar, tapi bukan tak mungkin di dalamnya mengandung kekeliruan. Bisa jadi pendapat orang lain salah, tapi bukan tak mungkin di dalamnya juga mengandung kebenaran”.[11]
            Dalam masalah ini, sebagai orang awam (kebanyakan), kita boleh bertaqlid (mengikuti salah satu mazhab yang menjadi panutan dan diterima oleh umat). Allah tidak membebani kita di luar batas kemampuan yang kita miliki. “Allahtidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”  (Q.S. Al-Baqarah: 286).

            Sesungguhnya masalah membayar zakat fitrah dengan uang sudah menjadi perbincangan para ulama salaf, bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja. Imam Abu Hanifah, Hasan Al-Bisri, Sufyan Ats-Tsauri, bahkan Umar bin Abdul Aziz sudah membincangkannya, mereka termasuk orang-orang yang menyetujuinya. Ulama Hadits seperti Bukhari ikut pula menyetujuinya, dengan dalil dan argumentasi yang logis serta dapat diterima.

            Menurut kami, membayar zakat fitrah dengan uang itu boleh, bahkan dalam keadaan tertentu lebih utama. Bisa jadi pada saat Idul Fitri jumlah makanan (beras) yang dimiliki para fakir miskin jumlahnya berlebihan. Karena itu, mereka menjualnya untuk kepentingan yang lain. Dengan membayarkan menggunakan uang, mereka tidak perlu repot-repot menjualnya kembali yang justru nilainya menjadi lebih rendah. Dan dengan uang itu pula, mereka dapat membelanjakannya sebagian untuk makanan, selebihnya untuk pakaian dan keperluan lainnya. 

 

–          Sumber Zakat Mal Saat ini

            Beberapa sumber zakat meskipun secara langsung tidak dikemukakan dalam Al-Qur`an dan Hadits, akan tetapi saat ini menjadi sumber atau obyek zakat yang penting. Penentuan hukum zakat untuk obyek-obyek baru hasil ‘ijtihad’ ini banyak menggunakan dalil analogi (qiyas) yang merupakan salah satu dari dalil-dalil yang menjadi kesepakatan para ulama (al-Adillah al-Muttafaq `alaiha).[12]

            Disamping menggunakan juga beberapa kaidah-kaidah fiqh dan tujuan umum dari syari`ah (maqashid as-syari`ah).Sumber zakat masih dianggap hal yang baru, sehingga belum terdapat pembahasan secara mendalam dan terinci, berbagai macam kitab-kitab fiqh terdahulu belum banyak menjelaskannya, sebagai contoh zakat profesi.

            Menurut Yusuf Qardhawi bentuk penghasilan yang paling menyolok pada zaman sekarang ini adalah apa yang diperoleh dari pekerjaan dan profesinya.[13]

            Pekerjaan yang menghasilkan uang dua macam :

            Pertama adalah pekerjaan yang dikerjakan sendiri tanpa tergantung kepada orang lain, berkat kecekatan tangan atau otak. Penghasilan yang diperoleh dengan cara ini merupakan penghasilan profesional, seperti penghasilan seorang dokter, insinyur, advokat, seniman, penjahit dan lain sebagainya.

            Kedua adalah pekerjaan yang dikerjakan seseorang buat pihak lain, baik pemerintah, perusahaan, maupun perorangan dengan memperoleh upah. Penghasilan dari pekerjaan seperti ini berupa gaji, upah atau honorarium.[14]

            Landasan hukum kewajiban zakat profesi adalah QS. At-Taubah : 103, Al-Baqarah : 267 dan Adz-Dzariyaa : 19. Sayyid Quthub dalam Fi Dzilaal Al-Quranketika menafsirkan Al-Baqarah: 267 menyatakan bahwa nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup juga seluruh yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam dan atas bumi, seperti hasil-hasil pertanian, dan hasil pertambangan. Karena itu nash ini mencakup semua harta benda, baik yang terdapat dizaman Rasulullah saw, maupun di zaman sesudahnya.[15]

            Contoh di atas merupakan bahagian kecil dari sekian banyak sumber dari zakat mall yang pada zaman Rasulullah belum ada contoh kongkritnya. Tentunya ini membutuhkan penentuan hukum atas obyek baru ini. Hasil‘ijtihad’ ini dengan menggunakan dalil analogi (qiyas) merupakan salah satu dalil-dalil yang menjadi kesepakatan para ulama yang tentunya menjadi alternatif tepat dalam perumusannya.

–          Pendistribusian zakat

            Selama ini zakat yang kita kenal belum dapat menjadi sebuah solusi dalam menangani kemiskinan yang terdapat di masyarakat, hal ini bisa saja diakibatkan oleh pendistribusian zakat yang tidak tepat sasaran atau badan pengelola yang tidak profesional atau bahkan unsur zakat lain yang tidak mendukung.

            Ahmad Rofiq menyebutkan bahwa “selama ini pendistribusian zakat lebih diorientasikan kepada pembagian konsumtif, sehingga pihak yang menerima hanya dapat memanfaatkannya untuk kepentingan konsumtif atau bahkan sesaat”.[16]

            Kutipan ini menggambarkan pendistribusian zakat dalam mengentaskan kemiskinan akan sulit tercapai, maka ini tentunya masih membutuhkan solusi yaitu bagaimana zakat bisa dapat disalurkan kepada para mustahiq dengan baik dan benar. Hal ini tentu menuntut badan pengurus zakat agar bekerja secara profesional.

            Badan pengurus zakat hendaknya jangan lagi menggunakan sistem manajemen tradisional tapi sudah selayaknya diganti dengan manajemen dan sistem pengadministrasian yang baik, jika ini dapat dilakukan penyaluran zakat terhadap para mustahiq akan terwujud dengan baik dan benar.


 

–          Fungsi Zakat

  1. Fungsi Zakat fitrah
  2. Membersihkan jiwa, dari sifat bohong iri, dengki, hasut, sombong (takabur), riya’ dan lain-lain.
  3. Menghapus kesedihan kaum dhu’afa (fakir dan miskin).
  4. Sarana mendekatkan diri pada Allah SWT.
  5. Bentuk pembuktian atas keimanan kita pada Allah SWT.
  6. Menjadikan pelajaran untuk bersikap dermawan, karena sikap dermawan dicintai oleh Allah SWT.
  7. Fungsi Zakat Mal
  8. Menciptakan lingkungan masyarakat yang dinamis, sebab yang kaya melindungi yang miskin.
  9. Menjauhkan jurang pemisah antara Si Kaya dan Si Miskin.
  10. Memberikan dampak positif pada Negara, bahwa semakin banyak orang kaya yang mau membayar zakat mal akan mengurangi angka kemiskinan.
  11. Memberikan dampak positif bagi agama, bahwa dengan syari’at Zakat Islam dikenal sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial.
  12. Akan mengurangi jumlah kriminalitas, baik berupa pencurian atau perampokan, sebab sifat iri dan dengki terkikis dengan kasih sayang antara yang kaya dan yang miskin.

 


 

–          Analisis Penulis pada Pembelajaran Materi Zakat MTs

            Pembelajaran pada Madrasah Tsanawiyah dalam materi zakat selama ini siswa hanya diberikan pemahaman tentang zakat sebatas normatif yaitu hanya tugas dan kewajiban. Sehingga apa yang dipahami anak tentang zakat hanya sebatas kumpulan-kupulan pengetahuan yang tidak dapat dilaksanakannya secara penuh dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, materi zakat sesungguhnya harus diajarkan dalam berbagai perspektif. Dalam konteks ini, pemahaman zakat tidak hanya sekedar dogma, tetapi bagaimana zakat diajarkan sebagai langkah untuk membangun kesalehan sosial. Sehingga zakat yang dipahami siswa bukan sekedar pemenuhan kewajiban dengan Allah (hablum minnallah), tetapi lebih dari itu, yaitu membangun kepedulian dengan manusia (Hablum minnannas).

            Untuk itu guru dituntut mampu membangun sensitifitasanak didik terhadap perubahan sosial dari pembelajaran materi zakat, jadi anakdidik tidak hanya melihat ajaran itu dalam bentuk dogma yang hanya dapat menghubungkan dia dengan Tuhan tapi implementasi dilapangan adalah bagaimana ketika anak didik mampu menjadi perwakilan Tuhan yaitu sebagai makhluk sosial. Ketika konsep berfikir anak didik telah dirubah maka aspek sosial akan sangat tersentuh oleh pengelolaan zakat dan akan menimbulkan sikap kesalehan sosial di kalangan anak didik dan seterusnya akan berimplikasi kepada masyarakat banyak.

Pelaksanaan ibadah dalam bentuk pembayaran zakat mampu merubah paradigma masyarakat terhadap islam, bahwa ternyata ajaran islam tidak hanya bersifat statis tetapi dinamis.

  1. Shalat Jenazah

Dalam buku paket Penerapan Fikih Kelas VII semester 2, penerbit Tiga Serangkai terdapat materi

–          Ketentuan Sholat Jenazah Dengan Beberapa Sub Materi:

  1. Pengertian dan hukum sholat jenazah

Dalam buku tersebut mengatakan jumhur ulama, hal ini mengindikasikan bahwa buku tersebut memberikan kelonggaran berfikir dalam penetapan suatu hukum tentang hukum tentang sholat jenazah yaitu fardhu kifayah. [17] Dalam buku tersebut secara umum sudah menerangkan tentang tata cara pelaksanaan jenazah, rukun dan dan bacaannya. Di bawah ini ada contoh hadits begitu pentingnya sholat jenazah.

Di antaranya hadits Abu Qatadah, ia menceritakan: Didatangkan jenazah seorang lelaki dari kalangan Anshar di hadapan Rasulullah  agar beliau menshalatinya, ternyata beliau , bersabda: “Shalatilah teman kalian ini, (aku tidak mau menshalatinya) karena ia meninggal dengan menanggung hutang.” Mendengar hal itu berkatalah Abu Qatadah: “Hutang itu menjadi tanggunganku.” Nabi  bersabda: “Janji ini akan disertai dengan penunaian?”. “Janji ini akan disertai dengan penunaian,“ jawab Abu Qatadah. Maka Nabi pun menshalatinya.”[18]

Dalam hal ada firman Allah yang menyatakan Nabi Muhammad dilarang melaksanakan sholat seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik). Q.S at-Taubah :48. Begitu pentingnya tentang sholat jenazah.

  1. Syarat dan rukun sholat jenazah

Dalm hal ini syarat jenazah seperti :

  • Suci badan, pakaian, tempat sholat hadats dan najis, menutup aurat dan menghadap kiblat, sholat dilaksanakan setelah jenazah setelah dimandikan dan dikafani, jenazah ditaruh didepan para para jamaah

Sedangkan Rukun jenazah seperti:

  • Niat, berdiri (jika mampu), membaca takbir 4 x, membaca fatihah dan sholawat nabi, dan membaca doa.

Dari materi yang diajarkan pada kelas VII semester 2, menurut telaah penulis masih bersifat teori dan sekedar informasi. Namun ada keganjillan dalam tahap pelaksanaan pembelajaran ya adanya praktik pada tugas untuk siswa dengan menggunakan boneka atau sejenisnya. Yang menjadi tanda Tanya besar adalah dalam buku paket fikih kelas IX semester 2, masih berkenaan dengan jenazah dengan topik   Kepengerusan Jenazah dan dan takziah dan ziarah kubur.

Dalam materi tersebut menurut analisa penulis adanya keganjilan, mengapa teori dan pengertian jenazah di ajarkan pada kelas VII sedangakan tahap pendalamannya pada kelas IX, pada kelas VIII tidak ada?

            Pertanyaan tersebut masih mengganjal dalam penulis. Dalam hal ini penulis mencoba menguraikan dari sisi psikologis anak. Usia anak pada tingkat kelas VII adalah masih belum dikatagorikan dewasa (belum Mukallaf) yaitu masih berusia 13 tahun dalam konteks keindonesiaan. Sedangkan siswa pada kelas IX adalah sudah memasuki masa mukallaf, hal inilah yang menjadi pertimbangan pembuatan materi berdasarkan PERMENAG Tahun 2008 adanya materi tentang jenazah yang terdapat pada kelas VII yang akhirnya di lanjutkan pada kelas IX.

 

G. Kesimpulan

  1. Tujuan mempelajari fiqih pada Madrasah Tsanawiyah yaitu mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah dan melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial.
  2. Zakat adalah kewajiban seorang mukallaf atas harta yang dimiliki untuk dikeluarkan sebahagian dan diberikan kepada para mustahiq dengan ketentuan yang sudah tertera berdasarkan Al-Qur’an. Zakat meliputi zakat fitrah dan mall.
  3. Analisis materi fiqh pada Madrasah Tsanawiyah yaitu guru diharapkan mampu merubah pola pembelajaran dalam materi zakat yang selama ini hanya sebatas dogma dimana pemahaman siswa lebih pada pendekatan dan menjalankan kewajiban kepada Allah, namun lebih dari itu dimana siswa diajak dalam memahami zakat lebih luas dan mendalam.
  4. Materi tentang jenazah serta kepengurusannya pada Mts yang terdapat pada kelas VII yang kemudian di lanjutkan pada kelas IX memiliki aspek psikologis pada peserta didik kelas IX yang berawal dari teori yang akhirnya pada tingkat implementasi sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menerima dan melaksanakan suatu hukum syar’i yaitu mukallaf.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahhab Khalaf, 2004, `Ilmu Ushul al-Fiqh, Al-Haramain, Jeddah.

Abdullah Al-Ghafili, tt, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat, al-Fithr.

Ahmad Rofiq, 2004, Fiqih Kontekstual dari Normatif ke Pemaknaan Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Al-Hawil Kabir 3/52, Al-Majmu’ 5/169, Al-Minhaj 7/22, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah 1/439, Asy-Syarhul Mumti’ 2/523.

Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295.

As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83.

Departemen Agama RI, 2001, Al-Qur’an dan Terjemahan, Bandung: Pustaka Pelajar.

Ghazi Inayah, 2003, Teori Komprehensif Tentang Zakat dan Pajak, Yogyakarta : Tiara Wacana.

HR. An-Nasa`i no. 1960, kitab Al-Jana`iz, bab Ash-Shalah ‘ala man ‘alaihi Dainun, Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani  dalam Shahih An-Nasa`i.

Muhammad Hasbi Ash Shadieqy, 2006, Pedoman Zakat menurut Al-Qur’an dan As Sunnah, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Nor Hadi, 2009, Ayo Memahami Fikih untuk MTs/SMP Islam Kelas IX, Jakarta: Erlangga.

Sayyid Quthub, 1977,  Fi Dzilaal Al-Quran, Daar al-Syuruq, Beirut, juz 1, hal. 310

T. Ibrahim, H. Darsono, 2009, Penerapan Fikih untuk kelas VIII Madrasah Tsanawiyah, Solo : Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Wahbah Al-Zuhaili, 2000, ZakatKajianBerbagaiMazhab, (Terj.Agus Efendi dan Baharuddin  Fananny), Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000.

Yusuf Qardhawi: Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits, terj. Dr. Salman Harun, Dr. Didin Hafidhuddin dan Drs. Hasanuddin, Litera Antar Nusa, Jakarta, Cetakan kesepuluh, 2007.

 

 

Lampiran

PERHITUNGAN ZAKAT SECARA SEDERHANA

No

Jenis Barang

Nisab

Zakat

Keterangan

1

Ternak unta

5-9 ekor

10-14 ekor

1 unta

1 unta

Usia 2 tahun

Usia 2 tahun (dst)

 

Ternak kerbau

30-39 ekor

40-59 ekor

60-69 ekor

1 kerbau

1 kerbau

2 kerbau

2 tahun

 

 

Ternak kambing

40-120 ekor

120-200 ekor

210-399 ekor

1 kamb. Betina

2 kamb. Betina

3 kamb. Betina

2 tahun

2

Emas

20 misqal

2,5% = 0,5 misqal

20 misqal = 93,6 gr diluar perhiasan wajar

 

Perak

200 dirham

2,5% = 5 dirham

200 dirham = 624 gr

 

Perhiasan di luar kewajaran (simpanan)

20 misqal

2,5% = 0,5 misqal

 

3

Makanan pokok (mengenyangkan)

Lebih dr 5 wasaq = 200 dirham

1/10 irigasi alam

Setiap panen 1 wasaq = 40 dirham

4

Buah-buahan

Lebih dr 5 wasaq = 200 dirham

1/20 irigasi biaya

Setiap panen 1 wasaq = 40 dirham

5

Perniagaan

Analog dgn emas 93,6 gram

2,5%

1 tahun dari awal perhitungan

6

Profesi

Analog dgn emas 93,6 gram jika digunakan rata-rata 2,5% setiap Rp. 1.000.000 =

Rp. 25.000

2,5%xRp.7488.000 =Rp. 127.200

Harga emas 1 gr = Rp. 80.000,-

93,6xRp. 80.000 =

Rp. 7.488.000

Sumber :      Ahmad Rofiq, Fikih Konstektual. (diolah dan disederhanakan dari Syauqi Ismail Syahatih, Penerapan zakat dalam Dunia Modren, Alih Bahasa Anshori Umar Sitanggal).

Disampaikan dalam diskusi kelas mata kuliah Pendalaman Materi PAI, Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, 2014.

                [1] Nor Hadi, 2009, Ayo Memahami Fikih untuk MTs/SMP Islam Kelas IX, Jakarta: Erlangga.

                [2] Departemen Agama RI, 2001, Al-Qur’an dan Terjemahan, Bandung: Pustaka Pelajar, hal. 117.

                [3] Ahmad Rofiq, 2004, Fiqih Kontekstual dari Normatif ke Pemaknaan Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 261.

[4]Wahbah Al-Zuhaili, 2000, ZakatKajianBerbagaiMazhab, (Terj.Agus Efendi dan Baharuddin  Fananny), Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000, hal. 3.

                [5]Muhammad Hasbi Ash Shadieqy, 2006, Pedoman Zakat menurut Al-Qur’an dan As Sunnah, Semarang: Pustaka Rizki Putra, hal. 5.

                [6] Ghazi Inayah, 2003, Teori Komprehensif Tentang Zakat dan Pajak, Yogyakarta : Tiara Wacana, hal. 3

                [7]Ahmad Rofiq, 2004, Fiqih Kontekstual.., 263.

                [8] Ahmad Rofiq, 2004, Fiqih Kontekstual.., 263.

                [9]As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83.

                [10]Abdullah Al-Ghafili, tt, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat, al-Fithr, hal. 3.

                [11]Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295.

                [12]Abdul Wahhab Khalaf, 2004, `Ilmu Ushul al-Fiqh, Al-Haramain, Jeddah, hal. 20.

                [13]Yusuf Qardhawi : Hukum Zakat, Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Al-Qur`an dan Hadits, terj. Dr. Salman Harun, Dr. Didin Hafidhuddin dan Drs. Hasanuddin, Litera Antar Nusa, Jakarta, Cetakan kesepuluh, 2007, hal : 459

                 [14]Yusuf Qardhawi : Hukum Zakat, Studi Komparatif.., hal. 459.

                  [15]Sayyid Quthub, 1977,  Fi Dzilaal Al-Quran, Daar al-Syuruq, Beirut, juz 1, hal. 310

                  [16] Ahmad Rofiq, 2004, Fiqih Kontekstual.., 268.

                   [17]Al-Hawil Kabir 3/52, Al-Majmu’ 5/169, Al-Minhaj 7/22, At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah 1/439, Asy-Syarhul Mumti’ 2/523.

[18]HR. An-Nasa`i no. 1960, kitab Al-Jana`iz, bab Ash-Shalah ‘ala man ‘alaihi Dainun. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani  dalam Shahih An-Nasa`i.

Image

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: