MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (Contextual Teaching and Learning)

MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

(Contextual Teaching and Learning)

 

“Student learn best by actively constructing their own-understanding”

 

  1. Pendahuluan

Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utamadalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti keberhasilan pendidikan berpulang pada aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan. Pembelajaran pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak yaitu: pendidik dan peserta didik. Keterlibatan dua pihak tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human interaction). Menurut Dimyati dan Mujiono, “Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar”.[1]Itu artinya pembelajaran bukanlah aktivitas spontan, tapi aktivitas yag terencana mulai dari penentuan materi, metode sampai pada penggunaan instrumen evaluasi pada seluruh mata pelajaran, termasuk mata pelajaran PAI.

Pendekatan pembelajaran pendidikan agama Islam selama ini masih bersifat normatif, dalam arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya sehingga siswa kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian. Selain itu, metodologi pendidikan agama tidak kunjung berubah sejak dulu hingga sekarang, padahal masyarakat yang dihadapi sudah banyak mengalami perubahan.[2] Sehingga tak mengherankan jika kemudian PAI di sekolah jauh dari kenyataan yang dihadapi siswa di lingkungannya. Tulisan ini berupaya mendeskripsikan model pembelajaran kontekstual secara komperhensif.

  1. Pembahasan
  2. Pengertian dan Kata kunci Model Pembelajaran Kontekstual

Model kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepeada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.[3] Definisi tersebut menunjukkan bahwa ada 3 kata kunci dalam model kontekstual; 1) Model kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi (pengalaman), 2) Mendorong siswa untuk menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi nyata. 3) mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan.[4]

Model kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.[5]

Model Kontekstual sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.[6]

Pengertian-pengertian di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.

Dari pengertian di atas, maka ada beberapa kunci dalam model pembelajaran kontekstual, yaitu: 1) Real World Learning 2) Mengutamakan pengalaman nyata, 3) Berfikir tingkat tinggi, 4) Berpusat pada siswa, 5) Siswa aktif, kritis, dan kreatif, 6) Pengetahuan bermakna dalam kehidupan, 7) Dekat dengan kehidupan nyata, 8) Perubahan perilaku, 9) Siswa praktek bukan menghafal, 10) Learning not teaching, 11) Pendidikan bukan pengajaran, 12) Pembentukan manusia, 13) Memecahkan masalah, 14) Hasil belajar diukur dengan berbagai cara
bukan hanya dengan Tes.[7]

  1. Latar belakang CTL; Filosofis dan Psikologis

Model kontekstual dipengeruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Aliran filsafat kontruktivisme berangkat dari pemikiran epistemologi Giambastista. Pandangan filsafat konstruktivisme tentang hakikat pengetahuan mempengaruhi konsep tentang hakikat proses belajar mengajar, bahwa belajar bukan sekedar menghafal, tetapi mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil “pemberian” dari orang lain seperti guru, tetapi hasil mengonstruksi yang dilakukan setiap individu.[8]

Model konstektual berpijak pada aliran psikologis kognitif, menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukan peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon, belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi dan kemampuan atau pengalaman.[9] Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang secara bertahap dari sederhana menuju yang kompleks. Oleh karena itu, belajar tidak dapat sekaligus, akan tetapi sesuai dengan irama kemampuan siswa.

  1. Komponen Model Pembelajaran Kontekstual

Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:[10]

a)      Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.

b)     Bertanya (questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

c)      Inkuiri (inquiry)

Inkuiri adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengamati atau melakukan observasi, 3) Menganalisis dan menyejikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.[11]

Secara singkat pola ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya secara intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan ilmiah. Kemampuan tersebut dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang benar.[12]

d)     Masyarakat Belajar (learning community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik dari pada belajar secara individual.

 

e)      Pemodelan (modeling)

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

f)       Refleksi (reflection)

Refleksi memungkinkan cara berpikir tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa menggambarkan makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian, kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa menggunakan pengatahuan baru tersebut. Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.

g)      Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, yaitu; proyek, PR, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, karya tulis.[13]

  1. Perbedaan Model Kontekstual dan Pendekatan Tradisional

Ada beberapa perbedaan antara model kontekstual dengan model tradisional, yaitu:[14]

No

Model Kontekstual

Tradisional

1

Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran

Siswa adalah penerima informasi secara pasif

2

Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi.

Siswa belajar secara individual

3

Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau yang disimulasikan

Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis

4

Perilaku dibangun atas dasar kesadaran diri

Perilaku dibangun atas dasar kebiasaan

5

Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman

Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan

6

Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri

Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian (angka) rapor

7

Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan

Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman

8

Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata

Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham kemudian dilatihkan

9

Pemahaman siswa dikembangkan atas dasar yang sudah ada dalam diri siswa

Pemahaman ada di luar siswa, yang harus diterangkan, diterima, dan dihafal

10

Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat dalam mengupayakan terjadinnya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan membawa pemahaman masing-masing dalam proses pembelajaran

Siswa secara pasif menerima rumusan atau pemahaman (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran

11

Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia diciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya

Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia

12

Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu selalu berkembang.

Bersifat absolut dan bersifat final

13

Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing

Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran

14

Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan

Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa

15

Hasil belajar diukur dengan berbagai cara : proses, bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll.

Hasil belajar hanya diukur dengan hasil tes

16

Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting

Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas

17

Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek

Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek

18

Perilaku baik berdasar motivasi intrinsic

Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik

19

Berbasis pada siswa

Berbasis pada guru

20

Seseorang berperilaku baik karena ia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat

Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenagkan

 

  1. Karakteristik Model Kontekstual

Pembelajaran kontekstual menurut Muslich mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1)      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).

2)      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).

3)      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).

4)      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).

5)      Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).

6)      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).

7)      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).[15]

Sedangkan menurut Yatim Riyanto, ciri-ciri pembelajaran kontekstual antara lain:

1)      Kerjasama

2)      Saling menunjang

3)      Menyenangkan, tidak membosankan

4)      Belajar dengan bergairah

5)      Pembelajaran terintegrasi

6)      Menggunakan berbagai sumber

7)      Siswa aktif

8)      Sharing dengan teman

9)      Siswa kritis, guru kreatif

10)  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan sebagainya

11)  Laporan kepada orang tua bukan saja rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.[16]

  1. Implementasi Model Kontekstual di Kelas

Contextual Teaching & Learning (CTL) dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.

a)      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.

b)      Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.

c)      kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

d)     Ciptakan masyarakat belajar.

e)      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

f)       Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

g)      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.[17]

  1. Implementasi Model Kontekstual Pada Mata Pelajaran PAI

Model Kontekstual bisa diterapkan dalam seluruh mata pelajaran. Berikut beberapa contoh penerapan kontekstual dalam mata pelajaran PAI. Menurut zakiyah darajat, pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agarsenantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh lalumenghayati tujuan yang akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikanIslam sebagai pandangan hidup.[18]

Model kontekstual bisa dilakukan dengan mengambil persoalan-persoalan di lingkungan siswa. Dalam hal ini, guru menyuruh siswa untuk menonton VCD tentang kejadian manusia, tentang Alam Akhirat, azab Ilahi, dan sebagainya; mengikuti sholat berjamaah di masjid, mengikuti ibadah qurban, menyantuni fakir miskin. Selanjutnya guru memerintahkan siswa untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul, seperti narkoba, pergaulan bebas (zina), geng motor dll.y

Setelah menonton VCD atau mendengarkan kisah-kisah Al Qur`an, siswa diharuskan membuat catatan tentang pengalaman yang mereka alami, melalui diskusi dengan teman-temannya. Selanjutnya setelah mengamati dan melakukan aktivitas keagamaan siswa diwajibkan untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul serta mereka dapat mengungkapkan perasaannya kemudian mendiskusikan dengan teman sekelasnya.

Memanfaatkan Lingkungan Siswa untuk Memperoleh Pengalaman Belajar
Guru memberikan penugasan kepada siswa untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan konteks lingkungan siswa, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan penugasan kepada siswa di luar kelas. Misalnya mengikuti sholat berjamaah, mengikuti sholat jum`at, mengikuti kegiatan ibadah qurban. Selain itu, siswa bisa ditugaskan untuk menjadi Imam atau kultum di bulan ramdhan.

  1. Penutup

Model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.

Model kontekstual merupakan salah satu alternative yang bisa digunakan dalam pembelajaran PAI di madrasah maupun sekolah. Model kontekstual diharapkan mampu menjembatani antara teori dengan realitas kehidupan, sehingga nilai-nilai yang ditanaman di sekolah bukan hanya sekedar teori, tetapi lebih aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, keberhasilan pelaksanaan model pembelajaran kontekstual berpulang pada kemampuan guru dalam menerapkannya di kelas. Wallahu A’lam.

 

 

 

 

 

 

 

Image

Daftar Pustaka

Daradjat, Zakiyah, Pedidikan Agama Dan Peminaan Mental, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Masnur, Muslich, Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Kontekstual, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.

Nurhadi, dkk., Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK, Malang: Universitas Negeri Malang, 2002.

Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran; sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembeajaran yang Efektif dan Berkualitas, Jakarta: Kencana, 2010.

Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2008.

Sugiyanto, Model-model Pembelajaran Inovatif, Surakarta:FKIP UNS, 2009.

Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran; Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

 

 

  • Disampaikan dalam diskusi kelas mata kuliah Model-model Pembelajaran pada Madrasah program Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, 2014.

[1]Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 283.

[2]Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 106

[3]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 255

[4]Ibid, h. 255

[5]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran; sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembeajaran yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 163

[6]Nurhadi, dkk., Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2002), h. 5

[7]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran;…….h. 164

[8]Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran; Berorientasi……………,h. 257

[9]Ibid, h. 260

[10]Muslich Masnur, Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 44-47

[11]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran;….h. 171

[12]Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran; Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 16

[13]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran;….h. 176

[14]Ibid, h. 165-168

[15]Muslich Masnur, Pembelajaran Berbasis Kompetensi Dan Kontekstual……… h. 42.

[16]Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran;….h. 176

[17]Sugiyanto, Model-model Pembelajaran Inovatif, (Surakarta:FKIP UNS, 2009), h. 22

[18]Zakiyah Daradjat, Pedidikan Agama Dan Peminaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 6

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: