Hakikat Pendidikan dan Pendidikan Islam_Alkautsar Kalebbi dalam Agung Nugroho

A. Pendahuluan

Image      Diskursus tentang pendidikan dan pendidikan Islam sampai sekarang masih berlangsung. Perdebatan panjang mengenai makna (hakikat) pendidikan itu sendiri masih sering terjadi. Berbagai pendapat dari sudut pandang yang berbeda membuat pendidikan mempunyai banyak arti. Pendidikan kadang dimaknai sebagai transfer of knowledge, atau terkadang juga dimaknai sebagai proses bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada peserta didik untuk menjadi dewasa dan mampu melaksanakan tugas dalam hidupnya.

      Bahkan pendidikan juga sering dimaknai sebagai internalisasi nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. Pengertian-pengertian tentang pendidikan seperti di atas, kerap kali membingungkan kita. Alhasil berbagai pertanyaan tentang apa sebenarnya hakikat pendidikan masih sering terdengar di mana-mana.

      Beranjak dari permasalahan di atas, dalam kesempatan kali ini penulis tertarik untuk membahas lebih jauh tentang hakikat pendidikan, khususnya pendidikan Islam.

B. Hakikat Pendidikan

  1. Definisi Pendidikan

Sebelum membahas lebih jauh tentang hakikat pendidikan, terlebih dahulu akan dibahas makna dari pendidikan itu sendiri. Secara etimologi (bahasa), pendidikan berasal dari bahasa Yunani yang berarti paedagogie, terdiri dari kata “pais” yang artinya anak, dan “Again” diterjemahkan dengan membimbing. Jadi paedagogie adalah bimbingan yang diberikan kepada anak.[1]Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masayarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa.[2]

Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[3] Untuk memahami lebih jauh tentang pendidikan, maka di sini akan dipaparkan pendidikan menurut para ahli.

Menurut Langeveld pendidikan ialah usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.[4] Sedangkan John Dewey mengartikan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.[5]

Tidak jauh berbeda dengan Langeveld dan John Dewey, Carter V. Good mengartikan bahwa pendidikan adalah ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.[6]

Sedangkan tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan sebagai tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[7]

Adapun dalam UU Sisdiknas 2003, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[8]

  1. Hakikat Pendidikan

Dari beberapa pengertian di atas, walaupun memiliki perbedaan secara redaksional, akan tetapi secara esensial memiliki kesamaan, yaitu pendidikan merupakan proses bimbingan, tuntunan atau pemimpin yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, peserta didik dan tujuan.

Secara pribadi penulis mengalami kesulitan dalam menentukan hakikat pendidikan karena definisi pendidikan itu sendiri, akan tetapi menurut hemat penulis hakikat pendidikan adalah proses mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia. Atau dengan kata lain bisa diartikan sebagai proses memanusiakan manusia (humanisasi)- meminjam istilahnya Poulo Freire. Dalam konteks ini manusia diberi kebebasan dalam memilih, mengembangkan potensi yang merupakan fitrahnya.

Sebenarnya istilah memanusiakan manusia juga digunakan orang-orang Yunani tempo dulu, yang mengatakan bahwa hakikat pendidikan itu ialah “pertolongan” kepada manusia agar ia menjadi manusia. Jadi ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, pertama “manusia”, kedua “menolong”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. [9]

Orang-orang Yunani lama menentukan tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri, kedua, cinta tanah air dan ketiga berpengetahuan. Aspek pendidikan yang kedua adalah “menolong”. Dalam hal ini pendidik menolong mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia. Kata “menolong” juga mengajarkan kepada pendidik bahwa ia mestilah melakukan pertolongan dengan kasih sayang. Konsekuensinya ialah pendidik tidak akan berhasil menolong bila dalam menolong tidak ada rasa kasih sayang kepada yang ditolong (peserta didik).

Dengan demikian pada hakikatnya pendidikan merupakanproses bimbingan ataupun pertolongan yang diberikan pendidik kepada peserta didik dengan tujuan agar “peserta didik” dapat mengembangkan dirinya untuk dapat survive di masa datang. Alih kata pendidikan merupakan proses pendewasaan bagi peserta didik.

Hanya saja dalam proses bimbingan tersebut peserta didik ditempatkan sebagai subyek, bukan sebagai obyek- atau yang biasa disebut banking concept-meminjam istilahnya Poulo Freire. Dikatakan “gaya bank” karena peserta didik hanya dijadikan sebagai obyek yang harus tunduk terhadap pendidik. Tentunya pola hubungan seperti ini dapat melahirkan tekanan-tekanan bahkan bisa dikatakan penindasan-penindasan terhadap peserta didik. Disinilah letak urgensi pendidikan yang humanis, dimana manusia dengan manusia lain memiliki peran yang sama. Artinya pendidik dan peserta didik mempunyai kedudukan yang sama dalam proses belajar mengajar, dimana nilai-nilai kemanusiaan lebih diutamakan.[10]

Seorang pendidik dalam pendekatan humanis bukanlah seorang raja, yang bisa menghukum dengan cara apapun. Akan tetapi pendidik lebih bersifat sebagai fasilitator yang mampu mengakomodir segala kepentingan peserta didik. Alih kata, seorang pendidik tidak boleh sewenang-wenang dalam mengajar, karena guru dan siswa merupakan mitra dialog yang sejajar. Sebagai mitra dialog yang sejajar, guru haruslah menghargai hak-hak peserta didik.

C. Hakikat Pendidikan Islam

1)                  Definisi pendidikan Islam

Pengertian pendidikan Islam tidak terlepas dari tiga istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Meskipun sesungguhnya terdapat beberapa istilah lain yang memiliki makna serupa seperti kata tabyin, tadris dan riyadhah, akan tetapi ketiga istilah tersebut dianggap cukup representatif dan amat sering digunakan dalam rangka mempelajari makna dasar pendidikan Islam.[11] Dalam perjalanannya ketiga istilah tersebut masih mengundang perdebatan panjang dalam menentukan istilah yang tepat bagi pendidikan Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut, di sini akan dijelaskan ketiga Istilah tersebut.

  1. Tarbiyah

Istilah tarbiyah berakar dari tiga kata, yakni pertama dari kata rabba-yarbu yang berarti “bertambah dan tumbuh”, kedua rabiya, yarba yang berarti “tumbuh dan berkembang”, dan ketiga kata rabba, yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai dan memimpin menjaga dan memelihara. Kata al-rabb, juga berasal dari kata tarbiyah dan berarti “mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan” secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur”.[12]

Najib Khalid al-Amir menyatakan bahwa menurut ilmu bahasa, tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata yaitu masing-masing “Rabbaba-Rabba-Yurabbi” yang artinya memperbaiki sesuatu yang meluruskan. Kata “Rabba” berasal dari suku kata “Ghata-yughati” dan “Halla-Yuhalli” yang artinya menutupi. Dari fi’il “Rabba-Yurabbi” kata “Ar-rabbu-Tarbiyatun” ditujukan kepada Allah swt, yang artinya tuhan segala sesuatu, raja dan pemiliknya. Ar-Rabb “tuhan yang ditaati”, “tuhan yang memperbaiki”. Juga ditegaskan Ar-rabbu merupakan masdar yang bermakna tarbiyah yaitu menyampaikan sesuatu menuju titik kesempurnaan sedikit demi sedikit.[13]

Penggunaan istilah Tarbiyah untuk menunjukkan makna pendidikan Islam dapat difahami dengan merujuk firman Allah:

ôÙÏÿ÷z$#ur$yJßgs9yy$uZy_ÉeA—%!$#z`ÏBÏpyJôm§9$#@è%urÉb>§‘$yJßg÷Hxqö‘$#$yJx.’ÎT$u‹­/u‘

#ZŽÉó|¹ÇËÍÈ  

Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

tA$s%óOs9r&y7În/tçR$uZŠÏù#Y‰‹Ï9ur|M÷WÎ6s9ur$uZŠÏùô`ÏBx8̍çHéåtûüÏZřÇÊÑÈ

                        Artinya: Fir’aun menjawab: “Bukankah Kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) Kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama Kami beberapa tahun dari umurmu.

mø?yŠurºu‘urÓÉL©9$#uqèd†Îû$ygÏF÷t/`tã¾ÏmÅ¡øÿ¯RÏMs)¯=yñuršUºuqö/F{$#ôMs9$s%ur|Mø‹ydšs94tA$s%sŒ$yètB«!$#(¼çm¯RÎ)þ’În1u‘z`|¡ômr&y“#uq÷WtB(¼çm¯RÎ)ŸwßxÎ=øÿペcqßJÎ=»©à9$#ÇËÌÈ  

                       

                        Artinya: dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

                        Menurut Quraish Shihab, kata Rabbika disebut dalam al-Qur’an sebanyak 224 kali. Kata tersebut bisa diterjemahkan dengan tuhanmu. Kata yang bersumber dari akar kata ini memiliki arti yang berbeda-beda, namun pada akhirnya, arti-arti itu mengacu kepada arti pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan serta perbaikan.[14]

Sedangkan Menurut Zakiah Darajat, kata kerja Rabb yang berarti mendidik sudah dipergunakan sejak zaman Nabi Muhammad saw seperti di dalam al-Qur’an dan Hadis. Dalam bentuk kata benda, kata “Rabba” ini juga digunakan untuk “tuhan” mungkin karena juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara dan mencipta.[15]

Abdurrahman al-Nahlawi merumuskan definisi pendidikan justru dari kata al-tarbiyah, dari segi bahasa menurut pendapatnya, kata al-tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, kata raba-yarbu, yang berarti bertambah, bertumbuh, seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Rum ayat 39, kedua, rabiya-yarbu yang berarti menjadi besar, ketiga, dari kata rabba-yarubbu memperbaiki, menguasasi urusan, menuntun menjaga, memelihara.[16]

Dengan kata lain menurut Abdurrahman al-Nahlawi istilah tarbiyah berarti, memelihara fitrah anak, menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya, mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, bertahap dalam prosesnya.[17] Dengan demikian kata tarbiyah itu mempunyai arti yang sangat luas dan bermacam-macam dalam menggunakannya, dan dapat diartikan menjadi makna “pendidikan, pemeliharaan, perbaikan, peningkatan, pengembangan, penciptaan dan keagungan yang kesemuanya itu menuju dalam rangka kesempurnaan sesuatu sesuai dengan kedudukannya.

  1. Ta’lim

Adapun at-Ta’lim secara etimologis berasal dari kata kerja “allama” yang berarti “mengajar”. Jadi makna ta’lim dapat diartikan “pengajaran” seperti dalam bahasa arab dinyatakan tarbiyah wa ta’lim berarti “pendidikan dan pengajaran”, sedangkan pendidikan dalam bahasa arabnya “at-Tarbiyah al-islamiyah“. Kata Ta’lim dengan kata kerja “allama” juga sudah digunakan pada zaman nabi, baik di dalam al-Qur’an maupun Hadis serta pemakaian sehari-hari pada masa lalu lebih sering digunakan dari pada tarbiyah. Kata “allama” memberi pengertian sekedar memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung arti pembinaan kepribadian, karena sedikit sekali ke arah pembentukan kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan.[18]

Rasyid Ridha mengartikan Ta’lim sebagai proses tranmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa ada batasan dan ketentuan tertentu.[19] Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada ayat ini:

!$yJx.$uZù=y™ö‘r&öNà6‹ÏùZwqߙu‘öNà6ZÏiB(#qè=÷GtƒöNä3ø‹n=tæ$oYÏG»tƒ#uäöNà6ŠÏj.t“ãƒurãNà6ßJÏk=yèãƒur|=»tGÅ3ø9$#spyJò6Ïtø:$#urNä3ßJÏk=yèãƒur$¨BöNs9(#qçRqä3s?tbqßJn=÷ès?ÇÊÎÊÈ

Artinya: Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Kalimat wa yu’allimu hum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktifitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Menurut Abdul Fattah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.

Dengan demikian, makna ta’lim tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan, perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku.[20]

Kecenderungan Abdul Fattah Jalal sebagaimana dikemukakan di atas, didasarkan pada argumentasi bahwa manusia pertama yang dapat pengajaran langsung dari Allah adalah nabi Adam a.s. Hal ini secara eksplisit disinyalir dalam Q.S al-Baqarah. Pada ayat tersebut dijelaskan, bahwa penggunaan kata “allama” untuk memberikan pengajaran kepada Adam a.s memiliki nilai lebih yang sama sekali tidak dimiliki para malaikat.[21]

Dikemukakan juga istilah Ta’lim yang berasal dari kata “allama” berarti “mengajar” (pengajaran), yaitu transfer ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan hanyalah sebagian saja dari unsur yang ditransformasikan dalam pendidikan Islam. Dalam konteks lain Ta’lim masih terbatas pada kepada “pengenalan”, belum sampai kepada “pengakuan” sebagaimana menjadi unsur penting dalam konsep pendidikan Islam. Pengenalan dan pengakuan merupakan dua hal penting.

Pengenalan yang benar akan membawa kepada pengakuan yang benar. Dalam kerangka inilah makna pengajaran yang juga mengandung makna pendidikan dinyatakan dalam konsep pendidikan Islam dirumuskan “pengenalan dan pengakuan tentang tempat-tempat yang benar (tepat) dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan (keteraturan penciptaan sedemikian rupa), sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan akan tempat tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.[22]

Istilah Ta’lim yang juga digunakan dalam rangka menunjuk konsep pendidikan dalam Islam punya makna, pertama, ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati. (Q.S. An-Nahl 16: 78) sampai akhir usia.

ª!$#urNä3y_t÷zr&.`ÏiBÈbqäÜç/öNä3ÏF»yg¨Bé&ŸwšcqßJn=÷ès?$\«ø‹x©Ÿ@yèy_urãNä3s9yìôJ¡¡9$#t»|Áö/F{$#urnoy‰Ï«øùF{$#ur öNä3ª=yès9šcrãä3ô±s?ÇÐÑÈ

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Kedua, proses ta’lim tidak saja berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognisi semata, melainkan juga terus menjangkau psikomotor dan afeksi.

  1. Ta’dib

Salah satu konsep kunci utama lain yang merujuk kepada hakikat dari inti makna pendidikan adalah istilah ta’dib yang berasal dari kata adab. Istilah ini dianggap mewakili makna utama pendidikan Islam. Menurut Syaid M Naquib al-Attas, Istilah ta’dib merupakan istilah yang paling tepat untuk menggambarkan pengertian pendidikan Islam, sementara tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mencakupi juga untuk pendidikan hewan.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa istilah ta’dib merupakan masdar dari kata kerja addaba yang berarti pendidikan. Dari kata addaba ini diturunkan juga kata adabun. Menurut al-Attas, adabun berarti pengenalan dan pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara hirarkis sesuai dengan berbagai tingkat dan derajat tingkatan mereka dan tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta dengan kapasitas dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.

Terlepas dari perdebatan panjang ketiga istilah tersebut, sebenarnya para ahli pendidikan telah merumuskan definisi pendidikan Islam, diantaranya: Marimba dalam bukunya “Filsafat Pendidikan Islam” menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran Islam.[23] Sedangkan Chabib Thoha menyebutkan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan didasarkan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis nabi.[24]

Dari definisi pertama dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan Islam diartikan sebagai proses, yaitu bimbingan yang diberikan pada peserta didik, yang bertujuan membentuk kepribadian menurut Islam. Sedangkan pengertian kedua lebih menitikberatkan pendidikan yang berdasarkan Islam. Pada intinya kedua pengertian sama-sama menjelaskan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-qur’an dan Hadits.

Selanjutnya, Syahmin Zaini menyatakan dalam bukunya “Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam” bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran Islam, agar terwujud kehidupan manusia yang makmur dan bahagia.[25] Dari pengertian tersebut penyusun beranggapan bahwa pengertian ini memiliki kesamaan dengan pengertian pertama. Dimana pendidikan dijadikan sebagai proses pembentukan peserta didik, akan tetapi pengertian ini lebih menitikberatkan pengembangan (fitrah manusia) kreatifitas manusia dalam menjalani hidup, yang berujung pada kemakmuran dan kebahagiaan.

Sedangkan M. Arifin mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan dan perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.[26] Dari definisi ini nampak bahwa pendidikan juga diartikan sebagai proses bimbingan kepada peserta didik dalam rangka mengembangkan kemampuan dasar (fitrah).

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibani mendefinisikan pendidikan Islam dengan “proses mengubah tingkah laku individu bagi kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. [27] Muhammad Athiyah Al-Abrsyi memberikan pengertian bahwa “pendidikan Islam mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pikirannya, halus perasaannya mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik lisan mapun tulisan.[28]

2)                 Hakikat Pendidikan Islam

Suatu kewajaran jika penulis merasa kesulitan dalam menentukan apa sebenarnya hakikat dari pendidikan Islam, mengingat banyaknya pengertian tentang pendidikan Islam. Terlepas dari banyaknya pengertian tentang pendidikan Islam, ada satu hal yang penulis garis bawahi dari beberapa pengertian tersebut, yaitu pendidikan diartikan sebagai proses pengembangan potensi dan pembentukan pribadi dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, sudah seharusnya lah pendidikan Islam lebih diorientasikan untuk mengembangkan potensi dasar manusia (fitrah). Penulis cenderung mengamini pendapatnya Muhammad Fadhil al-Jamaly bahwa pendidikan Islam merupakan proses pengembangan diri (potensi dasar). Dalam konteks ini beliau mengartikan fitrah sebagai kemampuan-kemampuan dasar dan kecenderungan-kecenderungan yang murni bagi setiap individu.[29]

Allah SWT, menciptakan manusia dengan membawa jiwa imanitasnya dan hubungan humanitas yang tumbuh sebelum manusia lahir di dunia. Pangkal insaniyah manusia terletak pada jiwa imanitasnya, sedangkan jiwa insaniah tumbuh sebagai pancaran dari jiwa imanitasnya, jiwa inilah yang menandakan substansi kemanusiaan manusia yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain.

Potensi rohani yang dimiliki manusia mempunyai kecenderungan-kecenderungan tertentu. Oleh karena itu, tugas pendidikan Islam adalah mengembangkan dan melestarikan, serta menyempurnakan yang baik dan menggantikan atau mengendalikan kecenderungan-kecenderungan jahat menuju kecenderungan positif. Dalam konteks ini Al-Ghazali membagi pengertian ruh menjadi dua, yaitu roh yang bersifat jasmani dan roh yang bersifat rohani.[30]

Selain itu, Al-Ghazali juga mengklasifikasikan rohani manusia dengan tiga dimensi, yaitu:

o   Dimensi diri, pendidikan diarahkan agar manusia dapat melakukan kewajiban kepada tuhannya, seperti ibadah.

o   Dimensi sosial, pendidikan diarahkan agar manusia dapat berkomunikasikan dan berinteraksi pada masayarakat, pemerintah, dan pergaulan sesamanya.

o   Dimensi metafisik, pendidikan diarahkan agar manusia dapat memegangi kaidah dan pedoman dasarnya yang kuat.[31]

            Selain roh, Allah memberikan potensi qalb yang mempunyai kecenderungan serba halus dan mulia. Maka upaya pendidikan adalah:

ü  Teknis pendidikan diarahkan agar menyentuh dan merasuk dalam kalbu dan dapat memberikan bekas yang positif, misalnya dengan cara yang lazim digunakan oleh Rasulullah SAW.

ü  Materi pendidikan Islam tidak hanya berisikan materi yang dapat mengembangkan daya intelek anak didik tetapi lebih dari itu, juga berisi materi yang mengembangkan daya intuisi atau daya perasaan sehingga bentuk pendidikan islam dirasakan pada pengembangan daya pikir dan zikir.

ü  Aspek moralitas dalam pendidikan Islam tetap dikembangkan, karena aspek ini dapat menyuburkan perkembangan qalb.

ü  Proses pendidikan dilakukan dengan cara membiasakan anak didik untuk membentuk kepribadian utuh, dengan cara menyandarkan akan peraturan atau rasa hormat terhadap peraturan yang berlaku serta melaksanakan peraturan tersebut.[32]

            Sebaliknya, untuk potensi akal, upaya pendidikan Islam dalam mengembangkannya adalah sebagai berikut:

v  Membawa dan mengajak anak didik untuk menguakkan hukum-hukum alam dengan dasar suatu teori dan hipotesis ilmiah melalui kekuatan akal pikiran.

v  Mengajar anak didik untuk memikirkan ciptaan Allah sehingga memperoleh konklusi bahwa alam diciptakan dengan tidak sia-sia.

v  Mengenalkan anak pada materi logika, filsafat, matematika, kimia, fisika dan sebagainya, serta materi-materi yang dapat menumbuhkan daya kreatifitas dan produktifitas daya nalar.

v  Memberikan ilmu pengetahuan menurut kadar akalnya, dengan cara memberikan materi yang lebih mudah dalu, lalu beranjak pada materi yang sulit, dari yang konkret menuju abstrak.

v  Melandasi pengetahuan aqliah dengan jiwa agama (wahyu), dalam arti anak didik dibiasakan untuk menggunakan kemampuan akalnya semaksimal mungkin sebagai upaya ijtihad, bila ternyata akal belum mampu memberikan konklusi tentang suatu masalah, masalah tersebut dikembalikan kepada wahyu.

v  Mencetak anak didik menjadi seorang yang berpredikat “ulil albab” yaitu seorang muslim cendekiawan dan muslim intelektual dengan cara melatih daya intelek, daya pikir dan daya nalar.

                        Untuk potensi nafsu, upaya pendidikan Islam diarahkan pada:

  • Mengembangkan nafsu anak didik pada aktivitas yang positif, misalnya nafsu agresif, yaitu memberikan tugas harian yang dapat menyibukkan nafsu tersebut, sehingga nafsu tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang tidak berguna.
  • Menanamkan rasa keimanan yang kuat dan kokoh, sehingga dimanapun berada, anak didik tetap dapat menjaga diri dari perbuatan amoral.
  • Menghindarkan pendidikan yang bercorak materialistis, karena nafsu mempunyai kecenderungan serba kenikmatan tanpa mempertimbangkan potensi lainnya.

            Dengan demikian dapat dikatakan pendidikan merupakan proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia, dalam arti berusaha untuk menampakkan (aktualisasi) potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

                 

 

 

            Beberapa uraian tentang potensi rohani manusia yang harus dikembangkan oleh pendidikan Islam, dapat disimpulkan dalam bentuk bagan berikut ini:

                                                   Roh, sebagai subtansi kehidupan manusia

 

Qalb, sebagai sentral perasaan yang baik yang membimbing ke arah kebaikan

                                                                                                                        Akal Hayulani

                                                                                                       Akal Naluri

                                                Akal (daya nalar)                                   Akal Aktif

                                                                                                     Akal Mustafad

 

Potensi Rohani Manusia

 

                                                                                                    

Mutlumainnah

Rodiyah

Mardiah

                       Nafsu                                   Kamilah

Kulhamah

Lawwamah

Ammarah

Sufiah

 

                                                                                   

D. Penutup

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat pendidikan adalah proses bimbingan, tuntunan atau pemimpin yang di dalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, peserta didik dan tujuan. Dalam konteks ini pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia (humanisasi), dengan kata lain pendidikan berorientasi pada pengembangan potensi-potensi yang ada diri peserta didik, jadi tidak hanya bertumpu pada transfer of knowledge.

Sedangkan hakikat pendidikan Islam adalah proses pengembangan potensi yang dimiliki oleh manusia yang mencakup, potensi ruh, potensi qalb, potensi, akal (akal haluyani, naluri, aktif dan mustafad), potensi nafsu (nafsu mutlmainnah, rodiyah, mardiyah, kamilah, kulhamah, lawwamah, amarah dan sufiah), sehingga mampu menjadi manusia yang berkualitas menurut pandangan Islam.

 


Daftar Pustaka

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991.

Agung Nugroho, Menuju Humanisasi Pendidikan, Banjarmasin Post 17 April 2007.

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

__________, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan manusia, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1989

Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Langeveld, (terj), Paedagoiiek Teoritis/Sistematis, FIP-IKIP Jakarta 1971; fatsal 5, 5a.

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praksis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta; Bumi Aksara, 1994.

Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam), Yogyakarta: Ircisod, 2004.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Bandung: Pustaka Hidayah, 1977.

Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Deweiy, Yogyakarta: Safaria Insania Press, 2004.

Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.

Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003, BAB I, ketentuan Umum Pasal 1, Yogyakarta : Media Wacana, 2003.

Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan historis teoritis dan praktis, Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Syahmin Zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islami, Jakarta: Kalam Mulia, 1986.

Sudirman., dkk, Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992.

Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta: Aksara Baru, 1985.

Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.

 

[1] Lihat Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1991, Hlm. 69.

[2]Dewasa di sini dimaksudkan adalah dapat bertanggungjawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis. Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 1

[3]Lihat Sudirman., dkk, Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 4

[4]Langeveld, (terj), Paedagoiiek Teoritis/Sistematis, FIP-IKIP Jakarta 1971; fatsal 5, 5a. Lihat juga Hasbullah, Op. Cit, hlm. 2

[5]Hasbullah, Op. Cit, hlm. 2

[6]Ibid, hlm. 3

[7]Lihat Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta: Aksara Baru, 1985), hlm. 2

[8]Undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003, BAB I, ketentuan Umum Pasal 1, Yogyakarta : Media Wacana, 2003, Hlm. 9.

[9] Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan manusia, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 33-37

[10] Agung Nugroho, Menuju Humanisasi Pendidikan, Banjarmasin Post 17 April 2007.

[11] Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 3

[12] Lihat al-Ragib al-Isfahani, Mu’jam al-Mufradat Alfazh al-Qur’an, (Beirut: Dar al-fikr) hlm. 189. Lihat juga Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam), (Yogyakarta: Ircisod, 2004), hlm. 38

[13]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 38-39

[14]Ibid, hlm. 39. lihat juga M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1977), hlm. 82

[15]Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 25-26

[16]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 29

[17]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 40

[18]Moh. Shofan, Op. Cit, hlm. 41-41. lihat juga Zakiah Darajat, Op. Cit., hlm. 26

[19]Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan historis teoritis dan praktis, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 26

[20] Ibid, hlm. 28

[21] Ibid, hlm. 28

[22]Moh Shofan, Op. Cit, hlm. 42

[23] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm. 23 lihat juga Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 24

[24] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 99

[25] Syahmin Zaini, Prinsip-prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islami, (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), hlm. 4

[26]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praksis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta; Bumi Aksara, 1994), hlm. 32

[27] Omar Muhammad al-Toumi al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979, Hlm. 399.

                [28]

[29]Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif; Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey, (Yogyakarta: Safaria Insania Press, 2004), hlm. 24

[30]Roh merupakan bagian dari jasmani manusia, yaitu dzat yang amat halus bersumber dari ruangan hati (jantung), yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merasakan berbagai rasa. Roh dapat diumpamakan sebagai lampu yang mampu menerangi setiap sudut organ, inilah yang sering disebut nafs (jiwa). Sedangkan disebut Roh yang bersifat rohani karena roh meruapak bagian dari rohani manusia, yang mempunyai ciri halus dan ghaib. Dengan roh ini, manusia dapat mengenal dirinya sendiri, mengenal Tuhannya, dan mampu mencapai ilmu yang bermacam-macam. Di samping itu, roh dapat menyebabkan manusia berkeprimanusiaan, berakhlak yang baik dan berbeda dengan binatang. Muhaimin & Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasinalisasinya), (Bandung: PT Trigenda Karya, 1993), hlm. 35

[31]Ibid, hlm. 53

[32]Ibid, hlm. 54

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: