Makalah Pengantar Kemajuan Ilmu & Kebudayaan di Andalusia_

A.PENDAHULUAN

Dewasa ini, dunia Barat telah mencapai kemajuan yang pesat terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat dianggap mampu menyajikan berbagai temuan baru secara dinamis dan varian, sehingga memberikan kontribusi yang besar terhadap science dan teknologi modern saat ini. Namun demikian, Barat sekarang ini telah dianggap maju, fakta sejarah menunjukkan bahwa kemajuan yang mereka peroleh tidak terlepas dari perkembangan intelektual yang begitu pesat pada masa sebelumnya, yakni masa-masa kejayaan dunia Islam. Ketika itu, dunia Barat masih berada pada masa kegelepan akibat doktrin gereja, sementara di belahan Timur, umat Islam telah membentuk suatu peradaban gemilang yang dilatarbelakangi oleh semangat ilmiah yang berkembang dengan pesat.

Kemajuan yang diperoleh umat Islam pada saat itu juga dirasakan oleh masyarakat non-Muslim, termasuk dunia Barat. Namun, seiring dengan kemunduran yang dialami oleh umat Islam di abad pertengahan, sentuhan dunia Islam dengan dunia barat ini pada akhirnya memunculkan transformasi intelektual dari dunia Islam ke dunia Barat, sehingga melahirkan gerakan renaissance, reformasi, rasionalisme, dan aufklarung di dunia Barat. Dengan demikian, kemajuan science dan teknologi serta semangat intelektualime yang berkembang begitu pesat di Barat pada saat ini, tidak terlepas dari kontribusi kemajuan umat Islam pada masa sebelumnya.[1]

 

Transformasi peradaban Islam ke dunia Barat diawali oleh penaklukan Andalusia yang sekarang menjadi wilayah Negara Spanyol dan Portugal. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam telah menanamkan fondasi ilmu pengetahuan di Andalusia, sehingga dapat mengangkat  harkat masyarakat Andalusia ketika itu menjadi gudang ilmu pengetahuan di belahan Eropa. Tetapi, oleh karena kefanatikan agama, sehingga orang Eropa mengusir cendekiawan Muslim keluar dari daerahnya, sekiranya hal ini tidak dilakukan, maka masyarakat Spanyol akan lebih maju seabad daripada sekarang ini.

Di lain tempat, antara laut Tengah dan laut Lonia terdapat salah satu pulau terbesar yang bernama Sisilia, Islam di Sisilia berkuasa selama kurang lebih tiga abad (827-1091). Keseluruhan pemerintahan Islam di Sisilia di bawah kekuasaan tiga dinasti, yaitu Dinasti Aghlabiyah (827-909 M), disusul Dinasti Fathimiyah (909-948 M), dan akhirnya Dinasti Kalbiyyah (948-1091).

Kekuasaan Islam pada dua daerah ini telah memberi pengaruh yang sangat besar terhadap peradaban, teknologi dan industri, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, sehingga para rakyatnya dapat mencapai puncak peradaban. Delapan abad Islam berkuasa di Spanyol dan tiga abad di Sisilia, telah mengubah wajah peradaban ketika itu.

Namun demikian, perputaran jarum sejarah tidak selamanya menunjukkan arahnya ke dunia Islam. Selang beberapa waktu kemudian dunia Islam mengalami disintegrasi dan stagnansi roh ilmiah intelektual, kemunduran dinamika intelektual Muslim disebabkan oleh nilai-nilai ijtihad tidak teraflikasi lagi, yang distimuli al-Qur’an di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Untuk itu fenomena ini hendaknya memberikan nuansa sekaligus pemicu agar umat Islam kembali kepada semangat intelektual Qur’anik. Berdasarkan fenomena di atas penulis merasa perlu untuk mengenal, mengetahui sekaligus membahas lebih lanjut sejarah peradaban Islam di Spanyol dan bidang keilmuannya.

 

Spanyol Islam telah membawa peranan penting dalam konteks sejarah peradaban dan kebudayaan Islam. Kepesatan perkembangan peradaban dan kebudayaan yang dikembangkan Spanyol Islam telah membawa Spanyol Islam sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam di Barat, sebagaimana halnya Baghdad yang menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Islam di Timur. Kehadiran  dan perkembangan kebudayaan dan peradaban yang dikembangkan Spanyol Islam bukan saja telah memberikan warna dan ketinggian peradaban dunia Islam, bahkan kehadirannya juga telah memberikan kontribsi yang besar terhadap kebangkitan Eropa pada abad pertengahan dari tidurnya yang panjang.[2] Kegemilangan pendidikan yang diperkenalkan dunia Islam di Spanyol dari abad VI sampai X telah menyadarkan Barat akan ketertinggalannya selama ini. Untuk itu, mulai abad XI Eropa mulai melakukan upaya pentransferan ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Islam ke dunia Barat melalui Spanyol, Sicilia dan Perang Salib.[3] Dengan melihat data sejarah tersebut, maka sangat beralasan untuk mengatakan bahwa, jika seandainya Islam tidak diseberangkan  dari Benua Afrika bagian Utara Semenanjung Iberia (Andalusia-Spanyol), mungkin Eropa tidak akan mengalami kemajuan dalam peradabannya secepat yang kita saksikan dewasa ini.

Hal ini dikarenakan Muslim Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam, baik dalam bidang politik sosial maupun perekonomian serta peradaban antar negara. Menurut Mehdi Nakosteen, transformasi peradaban Islam ke Peradaban Barat khususnya dalam ilmu Pengetahuan setidaknya terbangun melalui dua saluran utama. Pertama melalui para mahasiswa dan cendikiawan dari Eropa Barat yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universitas Spanyol. Kedua melalui terjemahan karya Muslim dari sumber-sumber berbahasa Arab.

B.Perkembangan Pendidikan dan keilmuan Islam di Spanyol

Sebagai kelanjutan dari pembentukan suatu imperium yang kuat dengan daerahnya yang luas, maka diperlukan-setidaknya-penataan politik yang mapan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang tinggi. Untuk mewujudkan ambisinya ini, dengan cukup solid Abd al-Rahman al-Dakhil memanfaatkan potensi ini dengan sebaik-baiknya bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada imperiumnya. Adapun upaya untuk mengembangkan pendidikan dan peradaban dapat dilihat dari beberapa gerakan, yang kemudian diikuti oleh penguasa Spanyol sesudahnya. Adapun upaya-upaya tersebut antara lain:

      1.      Mendirikan Lembaga Pendidikan

Demi untuk pengembangan ilmu pengetahun dan kebudayaan di Spanyol, para penguasa awal mendirikan lembaga pendidikan seperti Kuttab[4] yang dilaksanakan di mesjid-mesjid. Pada tingkatan ini diajarkan cara menulis, membaca al-Qur’an dan tata bahasa Arab. Pada tahap selanjutnya didirikan Madrasah sebagai lembaga pendidikan formal yang terdiri dari sekolah rendah sampai sekolah menengah atas, dilembaga ini berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan diantaranya Fiqh, Bahasa dan Sastra, Musik dan Kesenian.[5] Madrasah–madrasah tersebar diseluruh kekuasaan Islam, antara lain di Qurthubah (Cordova), Isybiliah (Seville), Thulaithilah (Toledo), Granathah (Granada) dan lain sebagainya.[6] Kemudian, guna pengembangan lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan, khalifah Abd al-Rahman III mencoba merintisnya dengan mendirikan Universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas ini mengambil tempat disebuah mesjid. Pada masa al-Hakam II (961-976 M), universitas tersebut diperluas lokasinya, dan bahkan mendatangkan para profesor dari Timur (al-Azhar dan Nizamiyah). Di Universitas ini, para mahasiswa mempelajari materi pendidikan ilmu-ilmu akal,[7] seperti filsafat, matematika, farmasi, kedokteran, pelayaran, fisika, seni arsitektur, geografi, ekonomi dan sebagainya, serta pengembangan ilmu-ilmu naqli (ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Universitas Cordova telah menjadi pilihan utama bagi generasi muda yang mencintai ilmu pengetahuan. Untuk pengembangan ilmu-ilmu akal, mereka lakukan dengan jalan penerjemahan karya-karya Yunani kuno dan Persia kedalam bahasa Arab, terutama karya-karya Aristoteles dan Plato.

Langkah yang diambil al-Hakam II adalah dalam rangka memajukan  pendidikan Spanyol Islam, kemudian diikuti oleh para penguasa sesudahnya. Bahkan diantara para pengusaha ada yang menyiapkan istananya sebagai pusat pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan, seperti kajian filsafat, ilmu pengetahuan, dan leteratur. Khusus di Cordova, telah banyak berdiri lembaga pendidikan dari tingkat rendah sampai perguruan tinggi kurang lebih 800 buah sekolah.[8] Belum lagi sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah lain, seperti di Toledo, Seville, Granada dan lain-lain.

Sangat nampak bahwa lembaga pendidikan pada waktu itu sudah tertata dengan baik secara professional. Hal ini dapat dilihat dari stratafikasi tahapan-tahapan pendidikan dari tingkat rendah, madrasah sampai ke perguruan tinggi, sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik, guru, fasilitas, maupun materi yang diajarkan.

Semangat untuk menuntut ilmu yang diperkenalkan Spanyol Islam, bukan hanya untuk pelajar muslim saja akan tetapi juga terbuka untuk pelajar nonmuslin. Sikap toleransi yang ditawarkan, membuat para pelajar nonmuslim berlomba-lomba untuk menuntut ilmu di Spanyol Islam. Mereka diberlakukan sama sederajat.[9] Fenomena ini merupakan salah satu faktor penarik perhatian para pelajar untuk datang dan menimba ilmu pengetahuan ke Spanyol.

Dari uraian diatas, dapat dilihat dengan jelas bahwa pendidikan yang ditawarkan pada lembaga pendidikan Spanyol Islam tidak bersifat parsial, akan tetapi bersifat integral. Sistem pendidikannya tidak mengenal ras tertentu. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Ke-obyektifan inilah yang membuahkan nilai kompetisi positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan kearah yang lebih maju. Motivasi umat dalam menuntut ilmu pada waktu itu bukan disebabkan faktor untuk mendapatkan makan, akan tetapi kerena dorongan oleh nilai-nilai ajaran agamanya yang mewajibkannya untuk menuntut ilmu. Kesadaran inilah yang menupang pendidikan Spanyol Islam pada waktu itu. Tingginya motivasi agama, telah memotivasi umat Islam berlomba-lomba, apakah untuk mendirikan lembaga pendidikan, maupun mengisi (belajar) di lembaga pendidikan yang sudah ada.[10] Upaya swastanisasi lembaga pendidikan yang ditunjukkan, bukan berupaya mengkomersilkan lembaga tersebut, tetapi berupaya untuk melaksanakan tugas dan fungsinya di muka bumi, sebagai ‘abd dan khalifah.

Pendidikan Spanyol Islam memberlakukan kurikulum universal dan komprehensif. Artinya, menawarkan pendidikan agama dan umum secara integral pada setiap tingkatan pendidikannya, khususnya pendidikan tinggi. Indikasi dari kedalaman dan keluasan kurikulum Spanyol Islam waktu itu boleh jadi ditentukan konsekwensi-konsekwensi pratikal yang bermanfaat bagi manusia, sehingga pola kurikulum yang diterapkan tidakbersifat fleksibel dan adaptik. Untuk pendidikan kejuruan, kurikulum yang ditawarkan boleh memberikan penekanan khusus pada spesialisasi yang ditawarkan. Pengembangan kebijaksanaan ini diberikan hak kepada kebijaksanaan lembaga atau penguasa di mana pendidikan itu dilaksanakan.

Sedangkan metode yang diterapkan, dapat dibagi kepada dua macam. Pertama, Metode bagi pendidikan formal. Pada pendidikan ini, guru (dosen) duduk diatas podium. Ia memberikan pelajaran-khususnya pendidikan tinggi-dengan membacakan manuskrip-manuskrip. Setelah itu guru menerangkan secara jelas. Kemudian materi itu didiskusikan bersama. Para pelajar diberikan kebebasan untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat, bahkan diperkenankan untuk berbeda pendapat dengan statemen yang diberikan oleh gurunya, asal mereka dapat menunjukkan bukti-bukti yang mendukung kebenaran pendapatnya.[11] Mahasiswa biasanya diminta untuk menghafal materi-materi khusus, menganalisa dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Metode pendidikan bagi lembaga pendidikan nonformal, baik di istana maupun diluar istana. Model pendidikan ini menggunakan metode halaqah.[12] Posisi guru berada diantara pengunjung. Guru mendektikan sejumlah buku, dan kemudian menjelaskannya secara rinci. Diskusi semacam ini merupakan metode pengajaran yang telah membumi di Spanyol Islam.

Bila pendekatan diatas dianalisa lebih lanjut, terlihat sungguh adaptik, demokratis, tidak bersifat monoton dan absolut. Antara guru dan peserta didik terjalin hubungan yang harmonis. Kemerdekaan individu dalam mengeluarkan pendapat sangat dihargai, dengan bukti dan  argumentasi. Upaya pembelajaran tidak dibatasi ruang dan waktu, situasi yang kondusif ini yang membuat lembaga pendidikan Spanyol Islam mengalami kemajuan pesat. Para pelajarnya tidak dibatasi oleh usia dan status sosial. Ilmu yang yang dimiliki tidak saja menyentuh aspek kognitif, akan tetapi mencakup aspek afektif dan psikomotorik secara simultan dan integral. Keunikan inilah membuat pendidikan Spanyol Islam berbeda dengan pola pendidikan yang ditawarkan pendidikan Islam sebelumnya. Sebab, penekanannya berorentasi menstimuli seluruh potensi manusia secara komprehensif dan integral.

      2.  Pengembangan Perpustakaan

Bagaimanapun juga, kelancaran proses pendidikan sangat tergantung dari sarana dan prasarana yang mendukung. Diantaranya adalah fasilitas perpustakaan. Untuk itulah khalifah—khalifah Umayyah telah berupaya menyisihkan dana dari kas negara untuk membangun berbagai sarana pendudukung tersebut secara intensif. Ini dapat dilihat dari upaya khalifah ‘Abd al-Rahman III (912-961 M) membangun perpustakaan dikota Granada dengan koleksi hingga mencapai 600.000 jilid buku. Upaya yang sama juga dilakukan oleh khalifah al-Hakam II (961-976 M) tak mau kalah dengan upaya yang dilakukan oleh bapaknya. Ia juga membangun perpustakaan yang terbesar (Greatest Library) di seluruh Eropa pada masa itu dan masa-masa sesudahnya. Pada masa khalifah al-Manshur (977-1002 M), ibu kota Umayyah terdapat 73  perpustakaan, dan sejumlah besar toko buku, mesjid dan istana, ibukota Umayyah memperoleh popularitas internasional, serta membangkitkan pesona dan kekaguman di hati para pelancong.[13] 

Ambisi dan ketertarikan para khalifah ini telah diakui oleh ahli-ahli barat dengan mengatakan bahwa, al-Hakam II-begitu juga dengan pendahulunya-, kurang berminat dan tidak menginginkan peperangan. Mereka lebih tertarik dan gemar ketenangan. Waktunya lebih banyak dipergunakan untuk mendalami kesusasteraan. Para wakil-wakilnya ditugaskan untuk menulis dan mencari buku-buku di dunia Timur (Baghdad), atau melakukan sejumlah penerjemahkan karya-karya klasik. Bahkan ia sendiri sering menulis surat pada setiap penulis untuk menjual karangannya tersebut kepada khalifah di Spanyol. Ia tidak segan-segan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk usahanya itu, yang penting ia bisa memiliki karya-karya yang ada. Dengan koleksi-koleksi tersebut kemudian ia serahkan ke perpustakaan, baik perpustakaan pribadi maupun perpustakaan umum.

Ambisi untuk mendirikan perpustakaan tidak hanya dimiliki oleh para khalifah. Akan tetapi, juga diminati oleh masyarakat Spanyol Islam. Mereka mengoleksi berbagai buku bukan untuk keperluan pribadi saja, akan tetapi ia wakafkan untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum, seperti yang dilakukan oleh Abd Mutrif, seorang hakim di Cordova. Ia telah mengoleksi berbagai buku-buku langka. Ia juga mempekerjakan enam orang karyawan untuk menyalin buku-buku tersebut sehingga dapat disebar luaskan pada masyarakat umum. Ia mengeluarkan dana pribadi yang tidak sedikit untuk melaksanakan ambisinya tersebut. Bahkan, para wanitapun tidak ketinggalan, mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan buku-buku, demekian pula para budak.[14] Dengan fenomena ini tidaklah heran jika dalam waktu yang relatif singkat pertumbuhan perpustakaan di Spanyol Islam laksana jamur di musim hujan. Kondisi ini pula yang ikut mendukung bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol, sehingga dengan sekejap telah menyulap daerah Spanyol dari Negara yang kaya, makmur dan maju, disamping kemerdekaan ilmiah yang dikembangkan. Ilmu pengetahuan bukan hanya milik orang merdeka, akan tetapi juga milik para budak. Hubungan yang harmonis ini menjadi daya penggerak tersendiri bagi kemajuan pendidikan yang di perkenalkan Spanyol Islam.

Pada abad ke-10, kota Kordoba memiliki 700 masjid, 60.000 istana, dan 70 perpustakaan, dan salah satu perpustakaan yang terbesar memiliki hingga 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan terbesar di Eropa Kristen saat itu memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan pada abad ke-14 Universitas Paris baru memiliki sekitar 2.000 buku. Perpustakaan, penyalin, penjual buku, pembuat kertas, dan sekolah-sekolah di seluruh Al-Andalus menerbitkan sebanyak 60.000 buku tiap tahunnya, termasuk risalah, puisi, polemik dan antologi. Sebagai perbandingan, Spanyol modern menerbitkan rata-rata 46.300 buku tiap tahunnya, menurut UNESCO.

 

 3.  Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Pendidikan Spanyol Islam

a.    Adanya dukungan dari para khalifah yang berkuasa, menjadikan pendidikan Spanyol Islam dengan pesat berkembang, karena para khalifah sangat mencintai ilmu pengetahuan dan berwawasan ke depan.

b.    Menyebarnya  madrasah-madrasah (sekolah) serta universitas-universitas di beberapa kota di Spanyol Islam yang sangat terkenal, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, dan Granada.

c.    Banyaknya para sarjana Islam yang datang dari ujung Timur dan ujung Barat wilayah Islam dengan membawa berbagai buku dan berbagai gagasan. Ini menunjukkan bahwa, meskipun umat Islam terdiri dari beberapa kesatuan politik, terdapat juga apa yang disebut kesatuan budaya Islam.

d.   Adanya persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan dengan didirikannya Universitas Cordova yang menyaingi Universitas Nizamiyah di Baghdad yang merupakan persaingan positif, tidak selalu dalam peperangan.[15]

Dari beberapa bacaan dapat disimpulkan bahwa, selain dari beberapa faktor diatas pemerintah juga memberikan subsidi yang banyak terhadap pendidikan, yakni dengan murahnya buku-buku bacaan, atau diberikannya penghargaan yang tinggi berupa emas murni kepada penulis atau penerjemah buku, seberat buku yang diterjemahkannya.

Hal lain yang juga sangat menarik adalah,pemerintah juga memberikan subsidi kepada makanan pokok, sehingga masalah pengisian kepala dan pengisian perut tidak terlalu dihiraukan lagi dan relatif murah dijangkau serta didapat oleh masyarakat.

C. Kemajuann Peradaban dan kebudayaan di Spanyol

                        1. Kontribusi Intelektual Muslim Spanyol

Masyaraakat mulim Spanyol sebagai masyarakat multietnik, keberadaannya terbangun dari beberapa komponen masyarakat. didalamnya terdiri atas komunitas arab ( Baik dari utara maupun selatan), orang-orang Spanyol yang masuk Islam yang di kenal dengan al-Muwalladun, suku Barbar ( Umat Islam Dari Afrika Utara ), al-Shaqalibah , Yahudi, Kristen Muzareb dan Kristen yang menentang keberadaan Islam di Spanyol.

Semua komponen masyarakat tersebut kecuali yang menentang, saling bahu-membahu dalam mewujudkan peradaban Islam Spanyol yang pada akhirnya melahirkan kebangkitan intelektual, baik dalam bidang filsafat, tasawuf, sains, bahasa dan sastra, kesenian dan musik maupun kemegahan bangunan fisiknya.

a. Filsafat

Puncak pencapaian intelektual Muslim Spanyol terjadi dalam pemikiran filsafat. Dalam bidang ini, Muslim Spanyol merupakan mata rantai yang menghubungkan antara filsafat Yunani klasik dengan pemikiran Latin-Barat. Selain itu, muslim Spanyol juga turut andil besar dalam mendamaikan antara agama dengan ilmu, akal dengan iman yang sekaligus menandai akhir abad kegelapan Eropa. Pada kekhalifahan al-Hakam II (961-976M) ribuan karya ilmiah filosofis di Impor dari Timur. Karya-karya tersebut terhimpun dalam perpustakaan pribadinya. Kebijakan al-Hakam yang mendukung terciptanya lingkungan intelektual inilah yang pada akhirnya turut serta membidani lahirnya filosof-filosof besar sesudahnya.

Tokoh-tokoh filsafat tersebut antara lain :

Solomon Ben Gabirol ( Didunia barat ia terkenal dengan nama Avicebrol, Avencebrol) dengan karya monumentalnya adalah Yanbu al Hayah (Sumber Kehidupan). Ibn Bajjah, Maqnum Opusnya adalah Tadbir al-Mutawahhid (Rezim yang sendiri). Ibn Thufayl. Maqnum opusnya adalah Hayy Ibn Yaqzhan (yang hidup anak kesadaran). Ibn Rusyd, diantara karyanya; Tahafut al-Tahafut (kacauanya kekacauan)

b. Fiqh

Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.

 

c.  Tasawuf

Dalam bidang tasawuf, Muslim Spanyol juga mempunyai andil besar dalam perkembangan ilmu ini. Salah satu tokoh terbesarnya adalah Ibn Arabi. Ia merupakan wakil mazhab iluminasi (Isyraqi) yang dipelopori oleh Suhrawardi (w.1191 M) di Timur. Corak pemikiran tasawuf Ib Arabi bisa dikatakan dalam klasifikasi Tasawuf Falsafi, sebab dalam filsafat Ibn arabai adalah seorang Monist-Panteistik. Salah satu teori terkenalnya adalah Wahdah al-Wujud (kesatuan eksistensi). Berangkat dari teori ini, tasawuf Islam mengalami persentuhan dengan gagasan Phanteisme, sebuah gagasan yang menyatakan ”Tuhan mengejawantahkan dirinya pada manusia”. Pemikiran Ibn Arabi bukan hanya berpengaruh pada lingkaran sufi Persia dan Turki tetapi juga pada mazhab skolastik Kristen yang di sebut Mazhab Agustinian. Diantara karya-karyanya, yang paling membuat ia terkenal adalah al-Futuhat al-Makiyyah (penyingkapan Mekkah) dan Fushush al-Hikam (kantong-kantong kebijaksanaan) serta al-Isra’ ila Maqam al-Asra yang mengembangkan tema pendakian nabi sampai langit ketujuh. Menurut K. Hitti karya ini lebih dahulu dari karya Dente Aligeri.

d. Bidang Sains

Dalam bidang sains Muslim Spanyol juga turut membidani lahirnya tokoh-tokoh terkenal,antara lain:

e. Bidang Kedokteran

Tokoh terkenalnya adalah Ibn Rusdy. Selain sebagai filosof ia juga ahli kedokteran . namun kemahirannya dalam filsafat membuat keahlian dalam kedokterannya tertutupi. Karya Monumentalnya dalam bidang ini adalah al-Kulliyat fi al-Thibb (generalitas dalam kedokteran). Selain itu Abu Bakar Ar-Razi, dan, Ibnu Sina.[16]

f. Bidang Astronomi

Kajian-kajian astronomi di Spanyol mencapai puncaknya setelah pertengahan abad k-10 dan berkembang pesat melalui kontribusi dari penguasa Cordova, Seville, dan Toledo. Para ahli astronomi Spanyol pada Umumnya mempercayai pengaruh bintang sebagai sebab terjadinya berbagai peristiwa penting antara kelahiran dan kematian manusia di dunia ini. Selain itu dalam mengembangkan pemikiran Astronominya mereka memakai kerangka karya-karya astronomi dan astrologi yang di tulis oleh ahli astronomi Muslim Timur. Para ahli astronomi paling awal dari Muslim Spanyol adalah al-Majriti (w.1007) darai Cordova, al-Zarqali (1029-1087M) dari Toledo dan Ibn Aflah (w. antara 1140-1150M).

g. Bidang Sejarah

Dalam bidang ini terdapat 2 tokoh yang amat terkenal, yaitu Ibn Khatib dan Ibn Khaldun. Ibn Khatib (1313-1374M) berasal dari keluarga arab yang pindah ke Spanyol dari Suria. Ia terkenal dengan karyanya yang menceritakan tentang riwayat Kota Granada. Sedangkan Ibn Khaldun (1332-1406M) lahir di Tunis. Karya monumentalnya dalam sejarah adalah “ Kitab al-Ibar Wa diwan al-Mubtada, Wa al-Khabar Fi Ayyam al-Arab Wa al-Ajam Wa al-Barbar ” (buku tentang ibarat, daftar subjek dan prediket, serta sejarah bangsa Arab, Persia dan Berber). Buku tersebut terdiri atas 3 bagian, bagian pertama berisi Muqaddimah yang menjadi jilid pertama. Bagian kedua bagian utanma yang membahas kehidupan orang Arab dan bangsa-bangsa sekitarnya. Bagian ketiga berisi tentang sketsa sejarah Berber dan dinasti-dinasti Muslim afrika.

Namun demikian, ketenaran Ibn Khaldun sebagai sejarawan sesungguhnya terletak dalam Muqaddimahnya. Dalam bukunya tersebut dipaparkan teori perkembangan sejarah yang menempatkan dua aspek social berupa fakta-fakta fisik tentang iklim dan geografi serta aspek moral dan spiritual yang mempengaruhi perkembangan social.

h. Bidang Geografi

Tokoh dalam bidang ini adalah al-Bakri dan al-Idrisi. Al-Bakri meninggal tahun 1094, ia merupakan ahli geografi pertama yang mashur pada abad 11 M. karya monumentalnya adalah “al-Masalik wa al-Mamalik”(buku mengenai jalan dan kerajaan). Sedangkan al-Idrisi lahir di Ceuta pada tahun 1100 M. karya monumentalnya adalah ”Kitab Nadzah al-Muslak Fi Ikhtira al-Afaq” dan “Kitab al-Jami’ Li asytat an-Nabat”. Sumbangannya terhadap pengetahuan adalah menggambarkan secara astronomis letak suatu tempat dipermukaan bumi.

Selain kedua nama di atas, terdapat juga nama Ibn Jubayr dan Ibn Baththutah. Ibn bathuthah lahir di Tangier pada tahun 1304 dan meninggal di Maroko pada tahun 1377. Dalam perjalanan ketimurnya, Ibn Bathuthah mencapai Ceylon, Bengal, Benua Maldive dan China. Sedangkan dalam perjalanan terakhirnya pada tahun 1353 ia sampai pedalaman Afrika.

i. Musik Dan Kesenian

Dalam bidang musik dan kesenian, Muslim Spanyol terkenal dengan

 

tokohnya al-Hasan Ibn Nafi yang mendapatkan julukan Zaryab. Selain itu, ia juga terkenal dengan kemahirannya dalam menggubah lagu. Kemahirannya tersebut bukan hanya untuk dinikmatinya sendiri malainkan ia juaga mengajarkannya pada anak-anaknya baik pria maupun wanita seta pada budak-budaknya.

j. Bahasa dan Sastra

Tokoh yang terkenal dalam bidang ini adalah Muhammad Ibn al-Hasan al-Zubaydi (928-989M) dan Ali Ibn Hazm (994-1064M). al-Zubaydi pada masa al-Hakam diangkat menjadi pengawas pendidikan anak laki-lakinya Hisyam yang pada akhirnya di angkat menjadi Qadhi dan ketua Pengadilan di Seville. Karya utamanya adalah daftar klasifikasi ahli tata bahasa dan ahli filologi yang bermunculan sepanjang hidupnya.

Sedangkan Ibn Hazm merupakan pujangga besar dan yang mempunyai pemikiran murni. Menurut Ibn Khalikhan dan al-Qifthi bahwa Ibn Hazm memiliki karya tak kurang dari 4 ratus jilid buku yang berisi tentang sejarah, teologi, hadis, logika dan puisi. Salah satu bukunya adalah “ Thauq al-Hamamah”(kalung merpati) sebuah antologi syair-syair cinta yang memuja konsep cinta Platonis.

Selain itu, pada saat Islam berkuasa bahasa Arab menjadi bahasa adminitrasi pemerintahan. Keadaan yang demikian itu dapat di terima oleh golongan muslim maupun non Muslim, bahkan penduduk asli Spanyol menduakan bahasa asli mereka.

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalm pemerintahan islam sepanyol.hal itu dapat diterima oleh orang-orang islam dan non islam. Bahkan, penduduk asli sepanyol menomorduakan  bahsa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalm bahasa Arab, baik keterampilan dalam bicara maupun tat bahsa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, ibn Malik pengarang alfiyah, ibn Khuruf, Ibn Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan ibn Usfur,dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.

 

2. Kontribusi Peradaban Spanyol Terhadap Kemajuan Eropa

Ketika Spanyol Islam berada dimasa keemasan, pada saat kepemimpinan khalifah ‘Abd al-Rahman III, kemudian dilanjutkan oleh Hakam II serta al-Hajib al-Manshur, ditandai dengan kebagkitan dinamika intelektualitasnya dalam segala bidang ilmu pengetahuan secara integral dan harmonis.[17] Di sisi lain, pada waktu yang bersamaan dunia belahan Eropa mengalami stagnasi ilmu pengetahuan. Dogma gerejani yang melarang mempelajari dan menganggap filsafat dan ilmu Yunani berbahaya bagi agama Masehi (Kristen), menyebabkan faktor utama terjadinya zaman kegelapan di dunia Eropa. Banyak lembaga pendidikan yang mengajarkan filsafat Yunani ditutup, seperti yang dilakukan oleh Gestanian yang menutup sekolah-sekolah Athena.

Kondisi inilah yang menyebabkan banyak ilmuan Eropa yang haus akan ilmu pengetahuan, keluar dari negaranya. Perkenalan mereka dengan dunia Islam menyebabkan mereka kagum dengan kebijaksanaan pemerintah dan semangat umat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketertarikan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka untuk lebih mengetahui dan sekaligus menggali khazanah keilmuan dunia Islam.  Manuskrip Yunani yang telah “diselamatkan” dan di tambal oleh Islam mereka pelajari. Stimuli inilah yang memberikan inspirasi bagi para orientalis untuk menanamkan ide pencerahan dan kebangkitan Eropa dalam masa suramnya.[18]  Mereka berusaha mentransfer ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Islam ke dunia Eropa, dengan jalan menterjemahkan sejumlah buku-buku, mengirimkan para pelajar untuk menuntut ilmu di Spanyol Islam. Mereka banyak belajar di dunia Islam, seperti sistem dan materi ilmu pengetahaun inilah yang mereka kembangkan di sekolah dan universitas Eropa. Mereka tidak hanya mempelajari asas-asas pemikiran Yunani Kuno, akan tetapi juga mengkonsumsi muatan-muatan pemikiran muslim yang final dan siap pakai. Dari sinilah kemudian lahir beberapa lembaga pendidikan di Eropa, seperti Universitas Salermo (spesialis kedokteran), Bologna (spesialis hukum) di Italia. Universitas Paris dan Montpellier di Perancis, dan Universitas Cambridge (1209 M).[19]

Demikianlah upaya besar-besaran yang dilakukan oleh para ilmuan Eropa dalam mentransfer ilmu pengetahuan di dunia Islam pada abad pertengahan, khususnya di Spanyol yang secara geografis lebih dekat dengan negara-negara non muslim di Eropa, sehingga melahirkan reaksi terhadap kebijakan gerejani secara nyata. Konsekuensi dari upaya ini akhirnya membuahkan apa yang disebut renaissance.

Sebagaimana di depan telah di singgung bahwa Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam. Baik dalam hubungan politik, social, maupun perekonomian dan peradaban antar Negara. Muslim spanyol juga telah menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Eropa. Mereka merupakan mata rantai paling penting yang menghubungkan antara khasanah filsafat Yunani klasik dengan bangsa-bangsa Eropa.

Dalam proses peralihan khasanah ilmu pengetahuan dari Islam ke Barat, kota Toledo merupakan saluran utama, Sebab kota Toledo merupakan satu-satunya kota penting dalam pembelajaran Umat Islam setelah penguasaan Kristen atas Spanyol pada tahun 1085M. Dalam pandangan Mehdi Nakosteen proses tranmisi tersebut terbangun melalui 2 saluran utama, yaitu Pertama melalui para mahasiswa dan cendikiawan dari Eropa Barat yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universitas Spanyol. Kedua melalui terjemahan karya Muslim dari sumber-sumber berbahasa Arab.

Fakta real yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa tingginya peradaban intelektual Muslim Spanyol telah menginspirasi gerakan-gerakan pencerahan di Eropa. Salah satu ilmuan penting tersebut adalah Ibn Rusdy. Melalui pemikirannya bangsa Eropa mampu menemukan pemikiran Aristoteles yang menganjurkan kebebasan berfikir dan melepaskan belenggu taklid dari golongan gerejawan.

Tingginya animo masyarakat Eropa terhadap pemikiran Ibn Rusdy, pada akhirnya melahirkan gerakan Averroisme yang berujung pada lahirnya reformasi pada abad ke-16 M dan Rasionalisme pada abad ke-17M. Karya-karya Ibn Rusdy banyak yang diterjemahkan, setidaknya pada tahun 1553 dan 1557M buku Ibn Rusdy di terbitkan dalam edisi lengkapnya. Selain itu juga, pada abad ke-16 buku-buku tersebut juga diterbitkan di Napoli, Bologna, Lyonms, dan Strasbourg.

Tingginya gerakan penerjemahan karya-karya ilmuan Muslim oleh bangsa Eropa, di awali oleh inisiatif uskup besar Raymond I (1126-1152). Atas inisiatif uskup tersebut dibangunlah sekolah khusus untuk menerjemahkan di kota Toledo. Dari sekolah ini lahir penerjemah-penerjemah dalam jumlah besar antara kurun 1135 sampai 1284 M.

Salah satu karya dari lembaga ini adalah diterjemahkannya “Buku al-Jabar“ karya al-Khawarizmi pada tahun 1145 oleh Robert Chester dan terjemahan al-Qur’an dalam bahasa latin pada tahun 1143 bersama Dalmatin. Di kota Toledo pula didirikan sekolah Orientalisme yang pertama pada tahun 1250 atas permintaan para pendeta dengan misi untuk mencetak para misionaris yang bertujuan untuk mengkristenkan umat Islam dan Yahudi.

Universitas pertama yang didirikan di Eropa adalah universitas paris yang didirikan pada tahun 1231M 30 tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman pertengahan Eropa barau berdiri 18 buah Universitasa. Di universitas-universitas tersebut, ilmu yang diperoleh dari Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti dan filsafat. Adapun pemikiran filsafat yang paling di gemari di Eropa adalah pemikiran al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusdy.

Sekitar akhir abad ke-13 M seluruh ilmu pengetahuan dari Islam bisa dikatakan telah selesai ditaransmisikan ke Barat. Berangkat dari sini pula gerakan-gerakan penting lahir di Eropa, seperti Gerakan Renaisance sekitar abad ke-14M yang di awali di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M serta zaman pencerahan (Aufklaerung) pada abad ke-18 M.[20]

Kemegahan Pembangunan Fisik

Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian ummat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian juga. Sistem irigasi baru diperkenalkan kepada masyarakat Spanyol yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-kanal, saluran sekunder, tersier, dan jembatan-jembatan air didirikan. Tempat-tempat yang tinggi, dengan begitu, juga mendapat jatah air.

Orang-orang Arab memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek curah air, waduk (kolam) dibuat untuk konservasi (penyimpanan air). Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air (water wheel) asal Persia yang dinamakan naurah (Spanyol: Noria). Disamping itu, orang-orang Islam juga memperkenalkan pertanian padi, perkebunan jeruk, kebun-kebun dan taman-taman.[21]

Industri, disamping pertanian dan perdagangan, juga merupakan tulang punggung ekonomi Spanyol Islam. Diantaranya adalah tekstil, kayu, kulit, logam, dan industri barang-barang tembikar.

Namun demikian, pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Diantara pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, masjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.

a. Cordova

a. Cordova adalah ibu kota Spanyol sebelum Islam, yang kemudian diambil alih oleh Bani Umayyah. Oleh penguasa muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan besar dibangun di atas sungai yang mengalir di tengah kota. Taman-taman dibangun untuk menghiasi ibu kota Spanyol Islam itu. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimpor dari Timur. Di seputar ibu kota berdiri istana-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap istana dan taman diberi nama tersendiri dan di puncaknya terpancang istana Damsik. Diantara kebanggaan kota Cordova lainnya adalah masjid Cordova. Menurut ibn al-Dala’i, terdapat 491 masjid di sana. Disamping itu, ciri khusus kota-kota Islam adalah adanya tempat-tempat pemandian. Di Cordova saja terdapat sekitar 900 pemandian. Di sekitarnya berdiri perkampungan-perkampungan yang indah. Karena air sungai tak dapat diminum, penguasa muslim mendirikan saluran air dari pegunungan yang panjangnya 80 Km.

Pemerintahan Islam di Andalusia juga mengembangkan dan membangun beberapa lembaga berikut sarana dan prasarananya, misalnya  membangun tropong bintang di Cordova, membangun pasar dan jembatan, melakukan upaya pengendalian banjir dan penyimpanan air hujan, membangun sistem irigasi hidrolik dengan menggunakan roda air (water wheel), memperkenalkan tanaman padi dan jeruk, dan mendirikan pabrik-pabrik tekstil, kulit, logam, lain dari itu, model dekorasi Spanyol Muslim mencapai puncak kebesarannya pada bangunan istana al-Hambra. Istana yang menjadi akropolis Granada ini, dengan hiasannya yang kaya mosaic, stalaktit dan kaligrafi, dirancang dan dibangun dengan rancangan yang sangat luas dan megah. Sebuah skala desain yang tidak mungkin ditolak untuk karya agung semacam itu.[22]

b. Granada

Granada adalah tempat pertahanan terakhir ummat Islam di Spanyol. Di sana berkumpul sisa-sisa kekuatan Arab dan pemikir Islam. Posisi Cordova diambil alih oleh Granada di masa-masa akhir kekuasaan Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana al-Hamra yang indah dan megah adalah pusat dan puncak ketinggian arsitektur Spanyol Islam. Istana itu dikelilingi taman-taman yang tidak kalah indahnya. Kisah tentang kemajuan pembangunan fisik ini masih bisa diperpanjang dengan kota dan istana al-Zahra, istana al-Gazar, menara Girilda dan lain-lain.[23]

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

Tiga orang yang terkenal dalam penaklukan Spanyol, yaitu Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nusair. Islam berkuasa di Spanyol kurang lebih tujuh setengah abad (711-1492 M).

Perkembangan pendidikan dan kebudayaan Spanyol Islam

Mendirikan lembaga pendidikan nonformal yang berupa kuttab-kuttab dan bertempat di mesjid-mesjid, disini diajarkan cara menulis, membaca al-Qur’an dan tatabahasa Arab. Pada tahan selanjutnya didirikan madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan formal dari tingkat rendah sampai tingkat menengah atas, lembaga ini mengajarkan berbagai disiplin ilmu, seperti Fiqh, Bahasa dan Sastra, Musik dan seni serta ilmu-ilmu pondasi agama lainnya. Demi untuk pengembangan khazanah ilmu pengetahuan, pada tahap berikutnya didirikanlah universitas-universitas dengan berbagai jurusan keilmuan, seperti filsafat, matematika, farmasi, kedokteran, pelayaran, fisika, arsitektur, geografi, ekonomi, serta pengembangan ilmu-ilmu naqli.

Pengembangan Perpustakaan, Perpustakaan sebagai sebuah infrastruktur pengembangan ilmu pengetahuan menjadi sangat penting. Ghirah umat Spanyol Muslim pada waktu itu sangat tinggi terhadap penyediaan perpustakaan, dari para penguasa, rakyat bisa sampai budak sangat berminat untuk itu. Perpustakaan tidak hanya dimiliki oleh universitas dan sekolah sebagai perpustakaan umum tetapi juga tersedia di istana-istana dan rumah-rumah penduduk, yang dikenal dengan perpustakan pribadi.

Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Pendidikan Spanyol Islam, adalah:

Adanya dukungan dari penguasa, Persaingan sehat antar madrasah dan universitas dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, Kontribusi para sarjana Islam yang datang ke Spanyol Islam membawa buku-buku dan gagasan, Persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah sendiri di Spanyol

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan Spanyol Islam sangat besar sumbangsihnya bagi perkembangan dunia modern, ini dapat dibuktikan bahwa pada masa keemasan Spanyol Islam banyak sekali para ilmuan Eropa mentransfer dan mengadopsi gagasan-gagasan Islam ke universitas-universitas di Eropa. Sehingga ketika Spanyol Islam runtuh, Eropa bangkit dari tidur panjangnya selama ini dan dari sinilah ilmu pengetahuan berkembang sampai pada zaman modern sekarang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA         

 

Abu Bakar ,Istianah, , Sejarah Peradaban Islam, Malang: UIN Malang Press, 2008

Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Terj. Ibrahim Husaein, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Hitti, Philip K., History of the Arab, terbitan Palgrave Macmillan, edisi revisi ke-10, New York: 2002.

http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/sejarah/allsub/158/kemajuan-peradaban.html

http://sahurikohort.blogspot.com/2013/04/islam-spanyol-perkembangan-pendidikan.html

Nakosteen, Mehdi, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat; Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Nasution,  Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1979.

Nata, Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.

Nizar, Samsul, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, Jakarta: Quantum Teaching, 2005.

Nizar,H. Samsul, M. Ag, Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri Jejak Sejarah      Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana, 2008)

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT   Rajagrafindo Persada , 2011

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1989.


[1] H. Samsul Nizar, M. Ag, Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana, 2008), h. 135

[2] Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat; Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Terj. Joko S. Kahhar dan Supriyanto Abdullah, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996),h. 12

[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jilid I, (Jakarta: UI Press, 1979), h. 74

[4] Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan Islam, Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, (Jakarta: Quantum Teacing, 2005), h. 15

[5] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), h. 263

[6] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), h.80

[7] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Terj. Ibrahim Husaein, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 22

[8] Fuad Mohd. Fachruddin, Perkembangan Kebuayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h.203.

[9] M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pendidikan Islam. Terj. H.Bustami (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 205

[10] Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam. Terj. Ibrahim Husaein, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.,h.  52

[11] Mehdi Nakosteen, Op.cit, h.78

[12] Asma Hasan Fahmi, Op.cit, h. 48

[13] Hitti, History of the Arab, terbitan Palgrave Macmillan, edisi revisi ke-10, New York: 2002,h,. 669

[14] Asma Hasan Fahmi, Op.cit, h. 51

[15] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004., h. 267

[16] Istianah Abu Bakar , M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, Malang: UIN Malang Press, 2008,

h. 116

[17] Mehdi Nakosteen, Op.cit, h. 266

[18] Ibid.,h. 267

[19] Ibid., 269

[21] Dr. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada , 2011, h. 104

[22] Hitty, op.cit., h. 761

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: