KAIDAH-KAIDAH UMUM DALAM MENELITI HADIS NABI (KAIDAH IKHTILAF AL-HADIS) _KELAS NUSANTARA

A.  PENDAHULUAN

Hadis adalah sumber hukum kedua bagi umat Islam. Kedudukannya merupakan penjelas bagi al-Quran. Umat Islam tidak bisa menerapkan ajaran dari al-Quran tanpa petunjuk secara rinci dari hadis. Berbagai ibadah utama dalam Islam perintahnya ada dalam al-Quran, seperti shalat, puasa, zakat dan lain-lain. Perintah itu berbentuk umum, sementara hadis datang dengan rincian yang jelas. Hadis sangat diperlukan untuk dapat mengamalkan ajaran Islam secara  sempurna.  Ibadah  shalat  lima  waktu  perintahnya  dalam  al-Qur‟an, teknis pelaksanaanya hadis yang menjelaskan. Pengamalan perintah al-Quran tidak bisa terlepas dari hadis.

Hadis Nabi Muhammad yang sampai pada kita hari ini banyak jumlahnya. Tidak semuanya hadis Nabi itu dapat kita terima secara mutlak. Hal  ini  disebabkan  hadis  Nabi  tersebut  masih  terbagi  ke  dalam  berbagai bentuk hadis, seperti hadits mutawatir, sahih, hasan dan dhaif serta maudhu‟. Dalam penggunaanya hujjah, hanya hadits mutawatir, sahih dan hasan yang bisa dipedomani. Ke tiga hadis ini adalah maqbul, diterima sebagai hujjah. Tentunya kita sepakat bahwa hadis yang dapat dijadikan sebagai hujjah adalah hadis  yang  termasuk  kategori  maqbul.  Namun  hadis  maqbul  tidak  dapat

diterima begitu saja karena pada hadis maqbul terdapat persoalan-persoalan

1  Disampaikan dalam diskusi kelas mata kuliah Qawaid at Tahdist, diampuh oleh Dr. Khaerul Hudayah pada pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin, 2013

 

yang   meragukan   untuk   dijadikan   sebagai   hujjah   dalam   menyelesaikan masalah. Persoalannya adalah terdapatnya pada hadis maqbul riwayat-riwayat yang  antara  satu  dengan  yang lainnya  tampak  saling bertentangan  artinya menyangkut masalah yang dihadapi tersebut disatu pihak ditemukan hadis dengan ketentuan hukum yang membolehkan  atau bahkan memerintahkan. Sedangkan dipihak lain ditemukan pula hadis dengan ketentuan hukum yang melarang.

Dalam   proses   perkembangan   ilmu   hadist   mengalami   beberapa kemajuan dalam tingkat kualitasnya, hal ini didukung karena adanya perkembangan pemikiran yang lahir dari para pemikir-pemikir modern yang berkecimpung dalam dunia penelitian hadist. Kitab-kitab khusus yang membahas tentang hadist-hadist, baik dari segi pembagiannnya ataupun ilmu-

ilmu   yang   mendukung   adanya   pembukuan   hadist.2     Dan   juga   dalam

perkembangannya hadist juga membutuhkan berbagai ilmu yang membahas tentang   bagaimana   caranya   memahami   hadist.   Dalam   hal   ini   penulis bermaksud menguraikan seputar masalah ilmu Ikhtilaf Al-Hadist. Hal ini disebabkan banyak diantara hadist-hadist yang ikhtilaf yang mungkin hanya karena perbedaan pemahaman terhadap hadist tersebut. Oleh karenanya dalam menyelesaikan  berbagai  masalah  seputar  hadist-hadist  Ikhtilaf  dibutuhkan ilmu Ikhtilaf al hadist.

Adanya   hadis-hadis   mukhtalif   (bertentangan)   menyangkut   suatu

masalah  tertentu,  secara  praktis,  hal  ini  dapat  menimbulkan  kebingungan

 

2 Assa‟idi, Sa‟adullah. Hadis-hadis Sekte.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996. h. 11

 

dalam mengambil kepastian ajaran (ketentuan hukum) yang mengatur masalah tersebut, yang manakah di antaranya yang harus diikuti dan diamalkan. Agar kita tidak terjebak di dalam memahami hadits yang kelihatannya bertentangan, maka kita perlu membahas suatu kajian hadis  yaitu  Ikhtilaf al Hadis  dan penyelesaiannya. Dalam makalah ini dibahas pengertian ikhtilaf al-Hadis, sebab terjadinya Ikhtilaf al Hadis, dan kaidah penyelesaian ikhtilaf al-Hadis.

B.  PENGERTIAN IKHTILAF AL-HADIS

Secara etimologi, kata Ikhtilaf   berasal dari kata ikhtilafa-yakhtalifu- ikhtilaf, adalah isim fa‟il (kata sifat) yang berarti berselisih atau bertentangan. Dengan demikian, Ikhtilaf al hadis adalah hadis yang bertentangan satu sama lain.3  Menurut para ulama Ikhtilaf al hadis adalah hadis-hadis yang tampak

saling bertentangan satu sama lain.4

Beberapa definisi lain ikhtilaf al-Hadis yaitu:

1.   Menurut Imam Syafi‟i, ikhtilaf al-Hadis adalah dua hadis hadis tidak bisa dikatakan bertentangan jika ada alasan yang melatarbelakanginya, tetapi perbedaan bisa terjadi apabila tidak ada alasan yang melatarbelakangi kecuali dengan menggugurkan salah satu. Contonya; ada dua hadis tentang satu  permasalahan,  salah  satu  hadis  menghalalkannya  dan  yang  lain

mengharamkannya.5

2.   Menurut   Hakim   an-Naisabur,   ikhtilaf   al-Hadisi   adalah   bagian   dari beberapa  ilmu  untuk  mengetahui  hadis-hadis  Nabi  yang  bertentangan

3 Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., Ilmu Ma’anil Hadist, Berbagai Teori dan Metode

Memahami Hadis Nabi, Yogyakarta: Idea Press, 2008. h. 84

4 Ibid,

5 PDF Ilmu Mukhtalif al-Hadis, Ushulahu wa Kawa‟idah, h. 5

 

dengan hadis yang serupa, maka ulama mazhab mengambill salah satunya dari hadis yang sahih dan yang tidak sahih, pernyataan itu mengandung pertentangan yang hakiki dan dhahiri juga mencakup hadist yang diterima dan lemah.6

3.   Menurut al-Nawawy dikutip oleh al-Suyuthy, hadis mukhtalif adalah dua

buah  hadis  yang  saling  bertentangan  pada  makna  lahiriahnya  (namun makna sebenarnya bukanlah bertentangan, untuk mengetahui makna sebenarnya tersebut) maka keduanya dikompromikan atau di-Tarjih (untuk mengetahui mana yang kuat di antaranya).7

4.   Sebagian ulama hadis memberikan batasan dalam kategori maqbul dalam

memberikan defenisi hadis mukhtalif adalah dua buah hadis (sama-sama dalam kategori) maqbul yang salih bertentangan pada makna lahiriyahnya (namun sebenarnya bukanlah bertentangan) karena maksud yang dituju oleh satu dengan yang lainnya dapat dikompromikan dengan cara yang wajar (tidak dicari-cari).8

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang demaksud hadis-

hadis  mukhtalif  adalah  hadis  sahih  atau  hadis  hasan  yang  secara  lahiriah tampak saling bertentangan hadis sahih atau hadis hasan lainnya. Namun makna yang sebenarnya atau maksud yang dituju oleh hadis-hadis tersebut tidaklah bertentangan karena satu dengan lainnya sebenarnya dapat dikompromikan atau dicari penyelesaiannya dalam bentuk naskh atau tarjih.

6 Ibid,

7   Jalal al-Din Abd Rahman ibn Aby Bakr al-Suyuty (selanjutnya disebut al-Suyuty),

Tadrib al-Rawy fiy Syarh Taqrib al-Nawawy, al-Maktabat al-Ilmiyyah. Madinah. Cet. II. 1972. Jilid II, h. 196

8 Aliy Hasabillah, Ushul al-Tasyri al-Islamiy, Dar al-Ma‟arif. Mesir. Cet. V. 1976. H. 210

 

Jadi  dalam  kajian Ikhtilaf   al  hadis  membahas  hadits- hadits  yang secara lahiriah saling bertentangan (kontradiksi), untuk menghilangkan pertentangan itu harus mengkompromikan keduanya sebagaimana halnya membahas hadits-hadits yang sukar difahami atau diambil isinya, untuk menghilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakikatnya.

Namun   kita   jangan   terburu-buru   menolak   suatu   hadis   yang kontradiktif, sebelum benar-benar melakukan verifikasi secara mendalam. Hal ini  bisa  jadi  hadis-hadis  tersebut  tidak  benar-benar  kontradiksi,  sehingga masih bisa diberikan solusi.

C.  PENYEBAB ADANYA IKHTILAF AL-HADIS

Pertanyaan   mendasar   berkaitan   dengan   ikhtilaf   al-hadis   adalah mengapa   sebagian   hadis   Nabi   Muhammad   Saw   itu   tampak   saling bertentangan? Dalam hal ini, diuraikan ada empat faktor yang menyebabkan hadis-hadis tampak saling bertentangan, yaitu:

1.   Faktor  internal  hadis  (al-amil  al-dakhili),  yakni  menyangkut  internal redaksi teks hadis yang memang terkesan bertentangan. Jika kontradiksi ini  benar-benar terjadi,  maka biasanya karena  hadis  tersebut  ada  ‘illat (cacat) yang menyebabkan hadis tersebut menjadi dla’if (lemah). Dan ketika itu jelas bahwa hadis yang lemah tersebut harus ditolak, terutama

ketika bertentangan hadis yang shahih.9

2.   Faktor eksternal (al-amil al-khariji), yakni faktor yang disebabkan oleh konteks dimana Nabi Muhammad Saw menyampaikan hadis dan kepada

9 Ibid, h. 87

 

siapa beliau berbicara. Biasanya hadis-hadis yang tampak bertentangan seperti  ini  masih  bisa  dikompromikan  dan  diletakkan  sesuai  dengan konteks  masing-masing,  sehingga  kedua-duanya  bisa  diamalkan. Termasuk  dalam  kategori  faktor  eksternal  adalah  konteks  waktu  dan tempat (geografis) dimana Nabi Muhammad Saw menyampaikan hadis.10

3.   Faktor metodologi (al-bu’du al-manhaji), yakni berkaitan dengan proses

dan  cara  seseorang  memahami  hadis  tersebut.  Ada  sebagian  hadis dianggap bertentangan dengan hadis lain, atau dengan akal (ilmu pengetahuan), karena hadis tersebut dipahami secara tekstualis. Padahal jika hadis tersebut dipahami dengan kontekstual, misalnya dengan metode ta‟wil, kesan pertentangan tersebut akan hilang.

4.   Faktor ideologi (al-bu’du al-madzhabi), yakni berkaitan dengan ideologi atau madzhab seseorang ketika memahami suatu hadis. Suatu hadis dinilai bertentangan dengan hadis atau ayat tertentu yang menjadi dasar ideologi madzab atau alirannya tertentu. Solusi terhadap hadis-hadis yang tampak bertentangan disebabkan oleh faktor ideologi adalah bagaimana “mengurung diri”, kemudian mengumpulkan hadis-hadis tersebut secara tematik, kemudian dianalisis secara kritis, sehingga akan menghasilkan

kesimpulan secara relatif lebih objektif dan intersubjektif.11

D.  METODE PENYELESAIAN IKHTILAF AL-HADIS

Dari  definisi  ikhtilaf  al-hadis  yang  telah  dijelaskan  dapat  ditarik kesimpulan  bahwa,  pertentangan  yang  terjadi  pada  hadits-hadits  mukhtalif

10 Ibid,

11 Ibid, h. 88

 

bersifat lahir, bukan hakiki. Hal ini tentu saja berangkat dari asumsi yang sangat kuat bahwa tidak mungkin terjadi pertentangan yang sangat kuat antara hadits-hadits yang sumbernya sama yaitu Rasulullah saw.

Rasulullah diyakini tidak mungkin akan mengajarkan dua hal yang saling bertentangan dengan umatnya. Tidak mungkin beliau memerintahkan umatnya agar berbuat sesuatu, namun bersamaan dengan itu juga memerintahkan agar jangan memperbuatnya karena dalam hal ini berarti tidak ada kepastian hukum.

Adanya kesan bahwa sebagian hadis-hadis Nabi Saw. itu bertentangan satu dengan yang lain, mendorong para ulama untuk merumuskan teori bagaimana  cara  menyelesaikan  problem  tersebut.  Untuk  menyelesaikan hadis-hadis yang tampak bertentangan, cara yang ditempuh para ulama tidak sama, ada yang menempuh lebih dari satu cara dengan urutan yang berbeda. Menurut Syhudi Ismail cara yang dapat ditempuh yaitu:

1.   Al-tarjih (meneliti dan menentukan petunjuk hadis yang memiliki argumen yang lebih kuat)

2.   Al-jam‟u    al-taufiq     (kedua     hadis     yang     tampak     bertentangan dikompromikan atau sama-sama diamalkan sesuai konteksnya)

3.   Al-nasikh  wa al-mansukh  (petunjuk  dalam  hadis  yang satu  dinyatakan sebagai penghapus sedangkan yang satunya lagi sebagai yang dihapus)

 

4.   Al-tauqif  (menunggu  sampai  ada  petunjuk  atau  dalil  lain  yang  dapat menjernihkan dan menyelesaikan pertentangan).12

Sebelumnya As-Syafi‟i memiliki konsep yang hampir sama dengan apa yang ditawarkan oleh Suhudi Ismail, dalam menyelesaikan hadis-hadis mukhtalif yaitu:

1.   Penyelesaian dalam bentuk kompromi

Yang dimaksud dengan penyelesaian dalam kompromi (al-jam‟u wal al- taufiq) ini adalah peyelesaian   hadis-hadis mukhtalif dari pertentangan yang tampak (makna lahiriahnya) dengan cara menyelusuri titik temu kandungan  makna  masing-masing  sehingga  maksud  sebenarnya  yang dituju oleh satu dengan yang lainnya dapat dikopromikan.13

2.   Penyelesaian dalam bentuk Naskh

Maksudnya adalah bahwa suatu hukum yang sebelumnya berlaku, kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi oleh syari‟ (Allah dan Rasul-Nya), yakni  dengan  didatangkannya  dalil  syar‟i yang  baru,  yang  membawa ketentuan  hukum  lainnya dari  yang berlaku  sebelumnya.  Hukum  lama yang tidak diberlakukan  lagi atau yang di-naskh-kan disebut mansukh, sedangkan hukum baru yang datang kemudian atau yang me-nasakh-kan

disebut nasikh.14

12 Prof. Dr. M. Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1984. h. 73

13 Dr. Edi Safri, Disertasi: Al-Imam Al-Syafi’iy, Metode Penyelesaian Hadis-hadis

Mukhtalif. Padang; IAIN Imam Bonjol Press. 1999., h. 97

14 Ibid, h.123-124

 

3.   Penyelesaian dalam bentuk tarjih.

Tarjih sebagaimana dirumuskan oleh para ulama, dapat diartikan sebagai memperbandingkan  dalil-dalil  yang  tampak  bertentangan  untuk mengetahui  manakah  di  antaranya  yang  kuat  dibanding  dengan  yang lain.15

Untuk   lebih   jelasnya   penulis   memberikan   penjelasan   mengenai

penyelesaian hadis-hadis yang tampak bertentangan (mukhtalif) dari beberapa pendapat ulama dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu:

1.   Metode al-Tarjih

Metode al-Tarjih yaitu meneliti dan menentukan petunjuk hadis yang memiliki argumen yang lebih kuat.16

Harus diakui bahwa ada beberapa matan Hadits yang saling bertentangan. Bahkan ada juga yang benar-benar bertentangan dengan Al-Quran. Antara lain  adalah Hadits  tentang nasib  bayi  perempuan  yang dikubur  hidup- hidup akan berada di neraka. Sebagai contoh adalah Hadits berkut ini:

ساُنا ٙف  ةدٔؤًٕنأ ةذئإنا

Artinya: Perempuan yang mengubur bayi hidup-hidup dan bayinya akan masuk neraka. (HR Abu Dawud)

Hadist tersebut diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dari Ibnu Mas‟ud dan Ibn Abi Hatim. Konteks munculnya hadist tersebut (Sabab Wurudnya) adalah  bahwa  Salamah  Ibn  Yazid  al  Ju‟fi pergi  bersama  saudaranya

15 Al-Syawkaniy, Muhammad ibn ali ibn Muhammad, Irsyad al-fuhul Ila Tahqiq al-Haqq

Min ‘Ilmu al-Ushul, Dar al-Fikr. Beirut. H. 273

16 Ibid. h. 73

 

menghadap Rasulullah SAW. Seraya bertanya : “wahai Rasul sesungguhnya   saya   percaya   Malikah   itu   dulu   orang   yang   suka menyambung silaturrahmi,  memuliakan  tamu, tapi  ia meninggal  dalam keadaan  Jahiliyah.  Apakah  amal  kebaikannya  itu  bermanfaat  baginya? Nabi   menjawab   :   tidak.   Kami   berkata:   dulu   ia  pernah   mengubur saudaranya perempuanku hidup-hidup di zaman Jahiliyah. Apakah amal akan kebaikannya bermanfaat baginya? Nabi menjawab : orang yang mengubur anak  perempuannya  hidup-hidup  dan  anak  yang dikuburnya berada dineraka, kecuali jika perempuan yang menguburnya itu masuk Islam, lalu Allah memaafkannya. Demikian hadist yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Al Nasa‟i, dan dinilai sebagai hadis hasan secara sanad

oleh imam Ibnu Katsir.17

Hadist tersebut dinilai Musykil dari sisi matan dan Mukhtalif dengan Al

Quran surat al Takwir ayat 8-9 :

 

ÇÒÈ Mn=G% =R

“r’/ ÇÑÈ Mn=´™ oyŠ¼äqyJ9# #sŒ)ur

 

Artinya: dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.(QS. At-Takwir: 8-9)

Kalau seorang perempuan yang mengubur bayinya itu masuk ke neraka dapat dikatakan logis, tetapi ketika sang bayi yang tidak tahu apa-apa itu juga masuk keneraka, masih perlu adanya tinjauan ulang. Maka dari itu, hadist tersebut harus ditolak meskipun sanadnya Hasan, dan juga karena

adanya pertentangan dengan hadist lain yang lebih kuat nilainya, yang

17 Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., Ibid, h. 94

 

diriwayatkan  oleh  Imam  Ahmad.  Nabi  pernah  ditanya  oleh  paman Khansa‟, anak perempuan Mu‟awiyyah al Sharimiyyah: Ya Rasul, siapa yang akan masuk surga? Beliau menjawab: Nabi Muhammad SAW akan masuk surga, orang yang mati Syahid juga akan masuk surga, anak kecil juga akan masuk surga, anak perempuan yang dikubur hidup-hidup juga

akan masuk surga. (HR. Ahmad).18

2.   Metode penyelesaian dalam bentuk kompromu (al-jam’u wa al-Taufiq).

Metode  ini  dilakukan  dengan  cara  menggabungkan  dan mengkompromikan dua hadis yang tampak bertentangan, dengan catatan bahwa dua hadis tersebut sama-sama berkualitas shahih. Metode ini dinilai lebih baik ketimbang melakukan tarjih (menunggulkan salah satu dari dua hadis   yang   tampak   bertentangan).   Dalam   salah   satu   keadaan   fiqh dikatakan bahwa “i’mal al qawl khairun min ihmaalihi (mengamalkan suatu ucapan atau sabda itu lebih baik dari pada membiarkannya untuk tidak  diamalkan).  Metode  al-jam‟u wa  al-taufiq  ini  tidak  berlaku  bagi hadis-hadis  dla‟if (lemah)  yang  bertentangan  dengan  hadis-hadis  yang

shahih.19

Contoh aplikasi dari metode al-jam’u wa taufiq adalah hadis tentang cara wudlu Rasulullah saw. Hadis pertama menyatakan bahwa Rasulullah Saw. Berwudlu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala

satu kali, sebagaimana tampak dalam hadis berikut ini :

18   Ibid, h. 96

19 Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., Ibid, h. 88

 

ٍب   ذٚص ٍع , ذًحي ٍب   ضٚضعنا ذبع اَشبخا : لاق , ٙعفاشنا اَشبخا : لاق عٛبشنا اُثذح

, ّٚذٚ ٔ ّٓجٔ أضٔ و ص الله لٕسس ٌا ,طابع ٍبا ٍع ,ساسٚ ٍب   ءاطع ٍع , ىهسا

6 ص 1 ج – ثٚذحنا فلاتخا .ةشي ةشي ّسأشب حسي ٔ

Artinya: Rabbi’ telah bercerita kepada kami, dia berkata: imam Al-Syafi’i memberi kabar kepada kami, Ia berkata: Abdul Azizi ibn Muhammad telah memberi kabar kepada kami dari Zaid ibnu Aslam dari Atho ibn Yasar dari ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW berwudhu membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali-satu kali. (H.R. Al-Syafi’i)

Sementara dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Nabi Saw berwudhu dengan membasuh wajah dan kedua tangannya, serta mengusap kepala tiga kali, sebagaimana terlihat dalam hadits berikut ini:

ٍع ,ّٛبا ٍع ةٔشع ٍب   واشْ ٍع , ُّٛٛع ٍب   ٌاٛفس اَشبخا : لاق , ٙعفاشنا اَشبخا

– ثٚذحنا فلاتخا. اثلاث اثلاث أضٕت و ص ٙبُنا ٌا ,ٌافع ٍب   ٌاًثع ٗنٕي ٌاشًح

7ص 1 ج

Artinya: Imam Al-Syafi’i telah memberi kabar kepada kami, dia berkata Sufyan ibnu

Uyainah telah  memberi  kabar  kepada  kami,  dari  Hisyam  bin  Urwah  dari ayahnya,  dari  Hamran  maulana  ‘Utsman  ibnu  ‘Affan  bahwa  Nabi  Saw berwudhu dengan mengulangi tiga kali (dalam membasuh dan mengusap). (HR Al-Syafi’i).

Kedua Riwayat tersebut tampak bertentangan namun keduanya sama-sama sahih dan akhirnya diselesaikan dengan metode al Jam’u wa Al Taufiq dengan komentar imam Syafi‟I dalam kitab Ikhtilaful Hadist :

 

اي مقا :لاقٚ ٍكنٔ اقهطي فهتخي : ثٚداحلاا ِزْ ٍي ءٙشن لاقٚ لأ : ٙعفاشنا لاق

1  ج – ثٚذحنا فلاتخا .اثلاث إضٕنا ٍي ٌ                                                                                                   ٕكٚ اي مًكأ ,ةشي ءٕضٕنا ٍي ٘ضجٚ

Artinya: Dengan terjemahan bebasnya adalah Imam Syafi’I berkata : “ hadist-hadist itu tidak bisa dikatakan sebagai hadist yang benar-benar kontradiktif. Akan tetapi bias   dikatakan   bahwa   berwudhu   dengan   membasuh   wajah   dan   kedua tangannya, serta mengusap kepala satu kali, sudah mencukupi, sedangkan yang lebih sempurna dalam berwudhu adalah mengulanginya tiga kali (dalam hal membasuh wajah dan mengusap Tangan serta mengusap kepala).20

3.   Metode Nasikh-Mansukh

Jika ternyata hadis tersebut tidak mungkin ditarjih, maka para ulama menempuh metode naskh-mansukh (pembatalan). Maka akan dicari makna hadis yang lebih datang dulu dan makna hadis yang datang belakangan. Otomatis yang datang lebih awal dinaskh dengan yang datang belakangan. Secara bahasa naskh bisa berarti menghilangkan (al-izalah), bisa pula berarti al- naql (memindahkan). Sedangkan secara istilah naskh berarti penghapusan yang dilakukan oleh syari‟ (pembuat syariat; yakni Allah dan Rasulullah) terhadap ketentuan hukum syariat yang datang lebih dahulu

dengan dalil syar‟i yang datang belakangan.21  Dengan definisi tersebut,

berarti  bahwa  hadits-hadits  yang  sifatya  hanya  sebagai  penjelasnya (bayan)   dari   hadits   yang   bersifat   global   atau   hadits-hadits   yang memberikan ketentuan khusus (takhsish) dari hal-hal yang sifatnya umum, tidak dapat dikatakan sebagai hadits nasikh (yang menghapus).

20 Ibid, h. 90

21 Muhammad „Ajjaj al-Khatib, Ushulul Hadist: Ulumuhu wa musthalahuh. Beirut: Dar a- Fikr, 1989. h. 287

 

Namun perlu diingat bahwa proses naskh dalam hadits hanya terjadi disaat nabi Muhammad Saw masih hidup. Sebab yang berhak menghapus ketentuan hukum syara‟, sesungguhnya hanyalah syari‟, yakni Allah dan Rasulullah. Naskh hanya terjadi ketika pembentukan syari‟at sedang berproses. Artinya, tidak akan terjadi setelah ada ketentuan hukum yang

tetap (ba’da istiqroril hukmi).22

Salah satu contoh dua hadis yang saling bertentangan dan bisa diselesaikan dengan  metode  naskh-mansukh  adalah  hadist  tentang  hukum  makan daging kuda:

واذقًنا ٍب  ٗٛحٚ ٍب  حناص ٍع ذٚضٚ ٍب  سٕث ٍع تٛقب اُثذح لاق ذٛبع ٍب  شٛثك اَشبخأ

ّٛهع الله ٗهص الله لٕسس ٌأ ذٛنٕنا ٍب  ذناخ ٍع ِذج ٍع ّٛبأ ٍع بشك ٘ذعي ٍب اابسنا ٍي باَ ٘ر مكٔ شًٛحنأ لا بنأ مٛخنا وٕحن مكأ ٍع َٗٓ                                                                                                   ىهسٔ

لاق شباج ٍع ساُٚد ٍب  ٔشًع ٍع ٌاٛفس اُثذح لااق ٙهع ٍب  شصَٔ تبٛتق اُثذح

.شًحنا وٕحن ٍع اَآَٔ مٛخنا وٕحن ىهسٔ ّٛهع الله ٗهص الله لٕسس اًُع  أ

Dua  Hadîts di atas terlihat saling bertantangan,  Hadîts pertama bersisi tentang larangan makan daging kuda yang sekaligus menjadikan ia haram. Hadîts  kedua  menunjukkan  kebolehan  memakan  daging  kuda. Pertentangan   ini   mesti   dihilangkan   dengan   cara   nasakh.   Hukum keharaman makan daging kuda pada  Hadîts pertama telah di-nasakh-kan oleh hukum kebolehan makan daging kuda pada  Hadîts Jâbir Ibn Abdallah

yang datang setelahnya.

22 Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., op. cit, h. 97

 

4.   Metode Ta‟wil

Metode Ta‟wil merupakan alternative baru dalam menyelesaikan hadis- hadis  yang  bertentangan.  Sebagai  contoh  hadis  tentang  lalat.  Hadis tersebut dinilai kontradiktif dengan akal dan teori kesehatan. Sebab lalat merupakan serangga yang sangat berbahaya dan bisa menyebarkan penyakit. Lalu bagaimana mungkin Nabi Saw. Menyuruh supaya menenggelamkan lalat yang hinggap diminuman? Demikian kurang lebih keraguan dan penolakan Taufik Sidqi terhadap kebenaran hadis tentang lalat sebagaimana dikutip G.H.A. Juynboll. Hadis tersebut :

َٙشبخأ لاق ىهسي ٍب  تبتع ُٙثذح لاق للاب ٍب  ٌاًٛهس اُثذح ذهخي ٍب  ذناخ اُثذح

ّٛهع الله ٗهص ٙبُنا لاق :لٕقٚ ُّع الله ٙضس ةشٚشْ ابأ    عًس لاق ٍُٛح ٍب  ذٛبع ءاد ّٛحاُج ٖذحئ ٙف  ٌاف ّعضُٛن ىث ّسً  ٛهف ىكذحأ باشش ٙف  بابزنا عقٔ ارئ ىهسٔ ءافش ٖشخاأ

Artinya: Khalid Ibn Makhlad bercerita kepada kami, Sulaiman ibn Bilal bercerita kepada kami, dia berkata: Uthbah ibn Muslim telah bercerita kepadaku, dia berkata, Ubaidah ibn Hunain berkata: saya mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: apabila ada lalat jatuh dalam minuman salah seorang kalian, maka hendaklah ia membenamkannya sekalian, lalu buanglah lalat  tersebut.  Sesungguhnya  pada  salah  satu  sayapnya  terdapat  penyakit, sedang pada sayap yang lain terdapat penawar (obat). (HR Al-Bukhori).

Selintas hadist tersebut memang tidak masuk akal dan kontradiksi dengan teori kesehatan. Namun ternyata penelitian dari sejumlah peneliti Muslim di Mesir dan Saudi Arabia terhadap masalah ini, justru membuktikan lain. Mereka membuat minuman yang dimasukkan kedalam beberapa bejana yang terdiri dari air, madu dan juice, kemudian dibiarkan terbuka agar

 

dimasuki lalat. Setelah lalat masuk kedalam beberapa minuman tersebut, mereka  melakukan  komparasi  penelitian,  antara  minuman  yang kedalamnya dibenamkan  lalat  dan  tidak  dibenamkan. Ternyata melalui pengamatan mikroskop diperoleh hasil bahwa minuman yang dihinggapi lalat dan yang tidak dibenamkan dipenuhi dengan banyak kuman dan mikroba, sementara minuman yang dihinggapi lalat lalu dibenamkan justru

tidak  dijumpai  sedikitpun  kuman  dan  mikroba.23    Ini  adalah  sebuah

penelitian ilmiah dan semakin membuktikan kebenaran hadist tersebut secara ilmiah meskipun pada awalnya dari dhohir hadist kelihatan mempunyai pertentangan dengan ilmu kesehatan.

5.   Metode al-Tauqif

Metode al-Tauqif yaitu metode penyelesaian hadis yang tampak bertentangan dengan menunggu sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menjernihkan dan menyelesaikan pertentangan.24

Penyelesaian    dalam    bentuk    ini    berarti    mendiamkan    atau    tidak

mengamalkan kedua hadis yang saling bertentangan untuk sementara waktu, sampai terdapat dalil lain yang mengunggulkan salah satunya. Sebagian ulama berpendapat bahwa konsekuensi dari bentuk penyelesaian ini adalah menganggap tidak adanya kedua hadis yang bertentangan tersebut dan mengembalikan semua permasalahan pada kaidah ushul yang menyatakan bahwa pada dasarnya segala sesuatu boleh dilakukan, sampai

terdapat dalil yang mengharamkannya.

23 Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., Ibid, h. 100

24 Prof. Dr. M. Syuhudi Ismail, op. cit. h. 73

 

Sebagian  ulama  yang lain  tidak  menggunakan  bentuk  tawaqquf dalam menyelesaikan hadis-hadis mukhtalif. Hal ini dilakukan sebab tawaqquf berarti mendiamkan permasalahan hukum tanpa ada pemecahannya. Sedangkan mendiamkan suatu peristiwa tanpa adanya penyelesaian hukum termasuk perbuatan yang sia-sia.

E.  KESIMPULAN

Secara etimologi, kata Ikhtilaf   berasal dari kata ikhtilafa-yakhtalifu- ikhtilaf, adalah isim fa‟il (kata sifat) yang berarti berselisih atau bertentangan. Dengan demikian, Ikhtilaf al hadis adalah hadis yang bertentangan satu sama lain. Menurut para ulama Ikhtilaf al hadis adalah hadis-hadis yang tampak saling bertentangan satu sama lain.

Namun   kita   jangan   terburu-buru   menolak   suatu   hadis   yang kontradiktif, sebelum benar-benar melakukan verifikasi secara mendalam. Hal ini  bisa  jadi  hadis-hadis  tersebut  tidak  benar-benar  kontradiksi,  sehingga masih bisa diberikan solusi.

Ikhtilaf al-hadis terjadi disebabkan beberapa faktor, yaitu: faktor internal (al-aamil al-dakhili), faktor eksternal (al-aamil al-khariji), faktor metodologi (al-bu’du al-manhaji) dan faktor ideologi (al-bu’du al-madzhabi).

Penyelesaian ikhtilaf al-hadis dapat ditempuh dengan menggunakan beberapa metode, yaitu: Metode tarjih, metode al-jam‟u wa al-taufiq, metode nasikh wal al-mansukh, metode ta‟wil dan petode al-tauqif.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Adhlabi, Shalahuddin Ibn Ahmad. Manhaj Naqd al Matan ‘inda Ulama al

Hadist al Nabawi. Beirut : Dar al fikr al jadidah, 1983

Aliy Hasabillah, Ushul al-Tasyri al-Islamiy, Dar al-Ma‟arif. Mesir. Cet. V. 1976

„Ajjaj al-Khatib, Muhammad Ushulul Hadist: Ulumuhu wa musthalahuh. Beirut: Dar a-Fikr, 1989

Ismail, M. Syuhudi, Prof. Dr., Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1984

Jalal al-Din Abd Rahman ibn Aby Bakr al-Suyuty (selanjutnya disebut al-Suyuty), Tadrib al-Rawy fiy Syarh Taqrib al-Nawawy, al-Maktabat al-Ilmiyyah. Madinah. Cet. II. 1972. Jilid II

Mustaqim, H. Abdul, Dr.  Ilmu Ma’anil Hadist . Yogyakarta : Idea Press, 2008

Syaikh Manna‟,Al-Qaththan. Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

2005

Sa‟adullah, Assa‟idi. Hadis-hadis Sekte.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1996

Safri, Dr. Edi., Disertasi: Al-Imam Al-Syafi’iy, Metode Penyelesaian Hadis-hadis

Mukhtalif. Padang; IAIN Imam Bonjol Press. 1999

Al-Syawkaniy, Muhammad ibn ali ibn Muhammad, Irsyad al-fuhul Ila Tahqiq al-

Haqq Min ‘Ilmu al-Ushul, Dar al-Fikr. Beirut. PDF Ilmu Mukhtalif al-Hadis, Ushulahu wa Kawa‟idah

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: