ILLAH HADIS_RAHMATULLAH

A.      PENDAHULUAN

Meneliti kebenaran suatu berita, merupakan bagian dari upaya membenarkan yang benar dan membatalkan yang batal. Kaum muslimin sangat besar perhatiannya dalam hal ini, baik untuk menetapkan suatu pengatahuan atau pengambilan suatu dalil. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan riwayat hidup Nabi mereka, yang berupa hadis.

Hadis, bisa berupa ucapan, perbuatan dan hal yang didiamkan oleh Nabi dalam menerangkan sebuah hukum atau hanya sekedar menerangkan hal yang bersifat mubah. Dalam kajian kali ini kita akan membahas satu topik yang sangat menarik dengan bahasan mu’allal al-hadits  yang mana hadis itu yang kita anggap benar baik dalam sistem sanad maupun matannya, namun sejatinya ia memiliki kecacatan pada keduanya. Maka sudah barang tentu apabila hadis itu memiliki kecacatan tidaklah patut kita menggunakannya sebagai landasan hukum, terlebih lagi tatkala sebuah hadis itu dijadikan sebagai landasan suatu hukum.

Pada makalah ini akan dibahas tentang salah satu sub judul dalam ilmu Qawaid at-Tahdits, yaitu tentang illah. Bagaimana pengertian illah dan penelitian hadis, yang titik pembahasan pada hadis mu’allal.

Pemakalah sangat berharap adanya kritikan dan saran guna perbaikan serta penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat membantu an memudahkan dalam memahami illah yang terdapat dalam suatu hadis. Dengan harapan yang sangat semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang mengkaji, membaca dan mendengarkannya. Amin.

 

B.       ILLAH HADIS

1.        Makna dan Pengertian Illah Hadis

Secara etimologi illah berasal dari kata ‘alla – ya’ullu yang berarti maridha atau sakit.[1] Orang yang sakit dikatakan ‘aliel. Hadis ber-illah, dinamakan hadis mu’allal atau mu’all. Seolah-olah hadis ini terdapat penyakit yang membuat tidak sehat dan tidak kuat. Bagi kesehatan, penyakit ini merupakan cacat dan pengahalang bagi kesehatan seseorang. Seorang menjadi lemah kesehatannya ketika terserang suatu penyakit. Selain itu, sebagian ahli hadis  dan sebagian ahli lughah memakai kalimat ma’lul.[2] Secara terminologi para ahli hadis mendefinisikan illah atau mu’allal adalah:

الْعِلَّةُ هِيَ عِبَارَةٌ عَنْ أَسْبَابٍ خَفِيَّةٍ غَامِضَةٍ طَرَأَتْ عَلَى الْحَدِيْثِ فَقَدَحَتْ فِى صِحَّتِهِ مَعَ أَنَّ الظَّاهِرَ السَّلاَمَةُ مِنْهَا

Artinya: “illah ialah ungkapan beberapa sebab yang samar dan tersembunyi yang datang pada hadis kemudian membuat cacat dalam keabsahannya padahal lahirnya selamat dari padanya.”[3]

Sedangkan hadis yang ber-illah atau mu’allal atau ma’lul menurut        Al-Qasimi adalah sebagai berikut :

الْمُعَلَّلُ وَيُقَالُ الْمَعْلُوْلُ وَهُوَ مَا ظَاهِرُهُ السَّلاَمَةُ أُطْلِعَ فِيْهِ بَعْدَ التَّفْتِيْشِ عَلَى قَادِحٍ وَتُدْرِكُ الْعِلَّةُ بَعْدَ جَمْعِ الطُّرْقِ وَالْفَحْصِ عَنْهَا بِتَفَرُّدِ الرَّاوِى وَبِمُخَالَفَةِ غَيْرِهِ لَهُ مِمَّنْ هُوَ أَحْفَظُ أَوْ أَضْبَطُ أَوْ أَكْثَرُ عَدَدًا مَعَ قَرَائِنَ تَضُمُّ إِلَى ذَلِكَ يَهْتَدِى النَّاقِدُ إِلَيْهَا إِلَى اطْلاَعِهِ عَلَى تَصْوِيْبِ إِرْسَالٍ فِى الْمَوْصُوْلِ أَوْ تَصْوِيْبِ وَقْفٍ فِى الْمَرْفُوْعِ أَوْ دُخُوْلِ حَدِيْثٍ فِى حَدِيْثٍ أَوْ وَهْمِ وَاهِمٍ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَإِبْدَالِ رَاوٍ ضَعِيْفٍ بِثِقَةٍ بِحَيْثُ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ مَا وَقَفَ عَلَيْهِ مِنْ ذَلِكَ فَحُكِمَ بِهِ أَوْ يُرَدَّدُ فِى ذَلِكَ فَوَقَفَ عَنِ الْحُكْمِ بِصِفَةِ الْحَدِيْثِ مَعَ أَنَّ ظَاهِرَهُ السَّلاَمَة مِنَ الْعِلَّةِ[4]

Artinya: “Mu’allal atau bisa disebut dengan ma’lul adalah hadis yang nampak sahih, namun setelah dilakukakn pemeriksaan terdapat hal yang mencacatkannya. Illah dapat diketahui baik karena ketersendirian perawinya maupun pertentangannya dengan riwayat lain yang lebih hafal, dhabit atau lebih banyak perawinya. Hal ini diketahui dengan cara mengumpulkan sejumlah jalur sanad dan menelitinya serta adanya unsur-unsur lain (qarinah) yang mendukung peneliti untuk menetapkan hadisnya mursal namun nampak maushul, atau mauquf yang nampak marfu’, atau bercampurnya hadis dengan hadis lainnya atau sebab kurang kuatnya ingatan perawi sehingga mengubah rawi yang lemah dengan tsiqah. Ulama hadis tersebut yakin dengan apa yang ia tetapkan sehingga menilai lemah hadis tersebut atau ragu-ragu sehingga bertawaqquf dalam menetapkan kesahihannya. Meski secara lahir hadis tersebut selamat dari hal-hal yang mencacatkannya.

Dengan mengetahui arti illah hadis, maka dapat ditetapkan ta’rif atau definisi ilmu ‘Ilal al-Hadits sebagai berikut:

الْعِلْمُ الَّذِيْ يَبْحَثُ عَنِ اْلأَسْبَابِ الْخَفِيَّةِ الْغَامِضَةِ مِنْ جِهَةِ قَدْحِهَا فِى الْحَدِيْثِ كَوَصْلِ مُنْقَطِعٍ وَرَفْعِ مَوْقُوْفٍ وَإِدْخَالِ حَدِيْثٍ إِلَى حَدِيْثٍ أَوِ الْزَاقِ سَنَدٍ بَمَتْنٍ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

Artinya “Ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi membuat kecacatan suatu hadis. Seperti memuttashilkan (menganggap bersambung) sanad suatu hadis yang sebenarnya sanad itu munqathi’ (terputus), merafa’kan (mengangkat sampai kepada Nabi) berita yang mauquf (yang berakhir kepada sahabat), menyisipkan suatu hadis pada hadis yang lain, meruwetkan sanad dengan matannya atau lainnya sebagainya.[5]

Dari definisi ini dapat difahami bahwa ada dua kriteria illah yaitu (1) adanya cacat yang tersembunyi dan (2) cacat itu mengurangi atau menghilangkan kesahihan suatu hadis. Jika salah satu kriteria tersebut tidak ditemukan, seperti cacat itu tidak tersembunyi (terlihat jelas) atau tidak mengurangi atau menghilangkan keabsahan suatu hadis, maka tidak disebut dengan illah.

 

2.        Langkah-langkah Meneliti Illah Hadis

Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui ‘illah hadis adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadis dan mencermati perbedaan perawinya dan ke-dhabith-an mereka, yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam ilmu ini. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu’tal (ada ‘illat-nya) atau tidak. Jika menurut dugaan penelitinya ada illah pada hadis tersebut maka dihukuminya sebagai hadis tidak sahih.[6]

Ke-illah­-an hadis dapat diketahui dengan cara mengumpulkan jalur-jalur periwayatan hadis dari semua kitab hadis yang dijadikan sandaran baik kitab jami’ maupun kitab musnad kemudian meneliti perbedaan pada perawinya baik kekuatan ingatannya atau kepintaran mereka. Kemudian baru memutuskan riwayat yang ma’mul. Ali bin Al-Madiny berkata: dalam hal ini apabila tidak dikumpulkan jalur sanadnya maka tidak akan nampak kesalahannya.[7] Atau dapat diketahui dari ketersendirian perawinya dan pertentangannya dari perawi lainnya disertai dengan qarinah-qarinah yang ada pada jalur tersebut yang menunjukkan pada peneliti adanya kekeliruan perawi yang me-maushul-kan hadis mursal, me-mursal-kan hadis maushul atau me-mauquf-kan hadis marfu’.[8]

Dengan demikian langkah yang perlu dilakukan untuk meneliti illah hadis adalah )1(menghimpun seluruh sanad hadis yang semakna (bila memiliki syahid atau mutabi), )2) mengkritik seluruh periwayat dalam berbagai sanad berdasarkan kritik yang telah dikemukakan oleh para kritikus hadis, kemudian (3) membandingkan sanad yang satu dengan sanad yang lain. Berdasarkan ketinggian ilmu hadis yang telah dimiliki oleh peneliti hadis tersebut, maka akan dapat ditemukan, apakah sanad hadis yang bersangkutan mengandung illah ataukah tidak.[9]

 

3.        Contoh Illah Hadis

Al-Hakim Abu Abdillah membagi jenis-jenis illah itu menjadi sepuluh macam sebagai berikut, (1) me-muttashil­-kan sanad hadis yang munqathi, (2) me-marfu’-kan hadis yang mursal, (3) men-syadz­-kan hadis yang mahfudz, (4) me-waham-kan sanad hadis yang mahfudz, (5) meriwayatkan secara an’anah suatu hadis yang sanadnya telah digugurkan seorang atau beberapa orang, (6) melawani peng-isnad-an rawi yang lebih tsiqah, (7) men-tadlis-syuyukh-kan hadis mahfudz, (8) men-tadlis-isnad-kan hadis yang mahfudz, (9) meng-isnad-kan secara waham suatu hadis yang sudah musnad, dan (10) me-mauquf-kan hadis yang marfu’.[10]

Dari sepuluh jenis illah tersebut dapat disimpulkan bahwa illah terdapat pada sanad saja, atau pada matan saja, atau terdapat pada keduanya yaitu sanad dan matan.[11]

a.         Pada Sanad

Illah yang terdapat di dalam sanad itu lebih banyak terjadi jika dibandingan dengan illah yang terdapat pada matan. Ia adakalanya menjadikan cacat pada sanadnya saja, tidak sampai mencacatkan matannya dan adakalanya kecacatan itu merembet kepada matannya sekali. Illah pada sanad yang hanya berpengaruh pada sanadnya saja itu dapat diketahui apabila hadis tersebut juga diriwayatkan oleh rawi lain dengan sanad lain yang sahih. Misalnya sabda Rasullah saw:

 

Jika hadis tersebut kita ambil sanad Ya’la bin Uqbah (nomor 1) dari Sufyan Ats-Tsaury dari Amr bin Dinar dari Ibnu Umar ra. tahulah kita bahwa hadis tersebut sanadnya muttashil dan rawinya tsiqah namun masih ber-illah (cacat). Illah-nya terletak pada adanya kekeliruan Ya’la bin Uqbah dalam menyandarkan periwayatannya kepada Sufyan dari Amr bin Dinar. Diketahui adanya kekeliruan itu setelah diadakan perbandingan dengan sanad yang lain. Yaitu sanad Abu Nu’aim (nomor 2) sanad Muhammad bin Yusuf (nomor 3) dan sanad Makhlad bin Yazid (nomor 4). Mereka ini meriwayatkan hadis itu melalui Sufyan Ats-Tsaury, Abdullah bin Dinar dan Ibnu Umar ra.

Nyatalah sekarang bahwa sanad Ya’la bin Uqbah itu ber-illah. Karena ia menyandarkan periwayatannya dari Amr bin Dinar, padahal sebenarnya dari Abdullah bin Dinar.

Biarpun sanad Ya’la ber-illah, namun matannya sahih. Karena sama dengan matan hadis yang diriwayatkan oleh sanad-sanad lain yang tiada ber-illah (sahih).

b.        Pada Matan

Illah yang terdapat pada matan itu tidak sebanyak illah yang terdapat pada sanad. Sebagian contoh hadis yang ber-illah pada matannya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Thuhman:

Hadis Ibrahim bin Thuhman yang bersanad Hisyam bin Hisan, Muhammad bin Sirin, dan Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya, keduanya dari Abu Hurairah ra. (nomor 1) adalah bahwa ber-illah (ma’mul) pada matannya. Sebab menurut Abu Hatim Ar-Razy bahwa kalimat “Tsumma liyaghtarifa sampai dengan maq’adatahu” itu adalah perkataan Ibrahim sendiri. Ia menyambung perkataan itu pada akhir hadis, sehingga orang-orang yang menerima hadis dari padanya tidak dapat membedakan apakah kalimat itu matan hadis yang sebenarnya atau tambahan dari padanya. Akan tetapi setelah kita membandingkannya dengan matan hadis riwayat Bukhari yang bersanad: Abdullah bin Yusuf, Malik, Abuz-Zinad, Al-A’raj, dari Abu Hurairah ra. (nomor 2) dan hadis At-Turmudzy yang diriwayatkan melalui sanad Al-Walid, Al-Auza’iy, Az-Zuhry, Sa’id ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah ra (nomor 3), maka tahulah kita bahwa kalimat tersebut itu bukan sabda Rasulullah saw.

 

 

c.         Pada Sanad dan Matan

Illah hadis yang terdapat pada sanad dan matan mempunyai pengaruh yang mencacatkan kepada kedua (sanad dan matan). Contoh hadis yang ber-illah pada sanad dan matan seperti hadis yang diriwayatkan oleh Baqiyah bin Al-Walid:

Baqiyah bin Al-Walid meriwayatkan hadis tersebut melalui sanad-sanad: Yunus, Az-Zuhry, Salim, Ibnu Umar ra. dari Rasulullah saw.

Menurut Abu Hatim Ar-Razy pengisnadan Baqiyah tersebut terdapat kekeliruan. Yaitu ia mengatakan bahwa Az-Zuhry menerima hadis itu dari Salim dan Salim dari Ibnu Umar ra. Padahal sebenarnya Az-Zuhry menerimanya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ra. Kekeliruan itu dapat kita ketahui berdasarkan penelitian lewat sanad-sanad lain.

Imam Muslim mentakhrij hadis tersebut melalui sanad-sanad: Harmalah bin Yahya, Ibnu Wahb, Yunus, dan Yahya bin Yahya, Malik, yang keduanya yaitu Yunus dan Malik menerimanya dari Az-Zuhry, Abu Salamah dan dari Abu Hurairah ra (nomor 2). Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadis tersebut melalui sanad-sanad: Abdullah, Malik, Az-Zuhry, Abu Salamah dan dari Abu Hurairah ra. (nomor 3). Jelas sekarang bahwa sanad Baqiyah tersebut adalah ber-illah (ma’mul).

Di samping sanadnya ber-illah, matan hadis Baqiyah itu pun ber-illah pula. Yaitu dengan adanya tambahan (sisipan) perkataan “jumu’ati” setelah perkataan “min shalatin”, yang menurut matan dari rawi-rawi yang tsiqah perkataan itu tidak ada. Dengan demikian hadis Baqiyah tersebut adalah tidak sahih baik sanad maupun matannya.

 

4.        Kitab-kitab Illah Hadis

Sebagai sebuah istilah, illah tentu saja memiliki awal mula, namun tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menggunakannya,  meskipun sudah dikenal luas di kalangan ahli hadis sejak masa Syu’bah, Yahya ibnu Sa’id al-Qattan (w. 198 H) dan ‘Abdurrahman ibnu Mahdiy. Hal ini bisa dipahami mengingat pengetahuan tentang teori ini hanya dikuasai oleh segilintir kalangan yang memiliki pemahaman yang brilian, hapalan yang kuat, dan wawasan yang luas mengenai kondisi-kondisi sanad, matan, dan status para perawi.[12]

Identifikasi illah hadis membutuhkan penelaahan yang luas, memori ingatan yang bagus, dan pemahaman yang jelimet karena illah merupakan virus laten (sabab ghamid) yang bersifat samar-samar, sekalipun bagi kalangan yang intens mengkaji disiplin ilmu-ilmu hadis. Sehingga muncul satu disipin varian dari ‘ulum al-hadits yang disebut Ilmu ‘illal al-hadist; yaitu ilmu yang membahas mengenai sebab-sebab samar dari implikasinya dalam menodai kesahihan hadis.

Ibnu Hajar mengungkapkan bahwa illah merupakan jenis disiplin ilmu hadis yang paling kabur (samar) dan paling jelimet, dan tidak ada yang mengaksesnya kecuali orang yang dianugerahi oleh Allah pemahaman yang tajam, kapabilitas yang luas, dan pengetahuan yang sempurna mengenai tingkatan-tingkatan perawi dan kompetensi yang mumpuni mengenai sanad-sanad dan matan-matan.[13]

Ilmu ilal al-hadits yang sudah dirintis oleh para ulama pada akhir abad II dan awal abad III Hijriah yang tergabung dalam kumpulan kitab-kitab hadis, belum diatur secara sistematis bab per bab. Kemudian ilmu tersebut berkembang menuju coraknya yang tersendiri sebagai suatu ilmu. Sebagian ulama mensistematiskan susunannya dengan bab per bab dan sebagian yang lain menyusunnya menurut sistem musnad.

Kitab-kitab ilal al-hadits yang muncul sebelum abad II antara lain ialah:

a.         At-Tarikh wa al-‘ilal, karya Imam Al-Hafidz Yahya bin Ma’in (158-233 H), diterbitkan dengan judul ílal al-Hadits wa Mairifat ar-Rijal.

b.        ‘Ilalu al-Hadits, Karya Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H)

c.         Al-Musnadu al-Mu’allal, Karya al-Hafidz Ya’qub bin Syaibah as-Sudusy al-Bashry (182-279 H)

d.        Al-‘Ilal, karya Imam Muhammad bin Isa at-Turmudzy (209-279 H)

Kemudian kitab-kitab ilal al-Hadits yang lahir sesudah abad tersebut ialah:

e.         ‘Ilalu al-Hadits, karya al-Hafidz Abdur Rahman bin Abi Hatim ar-Razy (204-327 H)

f.         Al-‘Ilal al-Waridah fi al-Ahaditsi An-Nabawiyah, karya al-Hafidz Ali bin Umar ad-Daruquthny (306-375 H). Kitab ini sudah mencakup seluruh tulisan dalam ilmu ‘ilalu al-Hadits yang telah disusun oleh ulama yang mendahuluinya.[14]

 

C.      KESIMPULAN

Ulama hadis mendefinisikan hadis mu’allal dengan hadis yang tersingkap (diketahui) cacatnya, baik cacat itu pada sanad (silsilah periwayat hadis), pada matan (teks) hadis, atau pada keduanya, sekalipun secara sepintas hadis itu kelihatan tidak ada cacatnya.

Cara mengetahui illah hadis adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadis dan mencermati perbedaan perawinya dan ke-dhabit­-an mereka, yang dilakukan oleh orang yang ahli dalam ilmu ini. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadis itu mu’tal (ada illah-nya) atau tidak. Jika menurut dugaan penelitinya ada illah pada hadis tersebut maka dihukumi sebagai hadis tidak sahih.

Perhatian ulama tentang persoalan cacat-cacat hadis sejak zaman klasik cukup tinggi. Hal ini didasarkan atas keyakinan bahwa hadis yang merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an dan berfungsi sebagai penjelas bagi hukum-hukum yang dikandung al-Qur’an harus mendapat perhatian yang serius, sehingga hadis-hadis yang digunakan sebagai dasar hukum benar-benar hadis yang sahih dan dapat dipertanggung jawabkan kesahihannya. Untuk itu cukup banyak kitab-kitab ulum al-hadits yang ditulis ulama hadis secara khusus mengungkap berbagai cacat yang dikandung hadis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Amzah, 2009)

Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadits, (Bairut: Dar al-Fikr, tth)

Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Muanawwir

Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi: Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail, (Jakarta: MSCC, 2005)

Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Bandung, PT. Alma’arif, 1974)

Ibnu Hajr al-‘Asqalaniy, al-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn al-Shalah, (Riyadh: Adhwa al-Salaf, 1998)

M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994)

Mifdhol Abdurrahman, Lc., Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), h. 99

Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi, Qawaid at-Tahdits min Funun Mushthalah  al-Hadits, (Isa al-Bibiy al-Halaby wa Syurakat, 1961)

Shubhi Shaleh, Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, (Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin, tth)

Thahir ibnu Shalih ibnu Ahmad al-Jaza’iriy ad-Dimasyqiy, Taujih  al-Nazhar ila Ushul al-Atsar, (Madinah: Al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, t.t.)

 

Lampiran

Al-Hakim Abu Abdillah membagi jenis-jenis illah itu menjadi sepuluh macam sebagai berikut:

1.        Me-muttashilkan-kan sanad hadis yang munqathi’

Keadaan sanad itu menurut lahirnya adalah sahih[15] (muttasil)[16], akan tetapi setelah diadakan penelitian ternyata ada bahwa salah seorang rawi yang mendengar sendiri dari rawi yang dijadikan sandaran penerimaan berita, yang lebih terkenal dengan sanad yang munqathi’.[17] Dengan ungkapan lain illah yang pertama ini dapat dikaidahkan dengan: Me-muttashil-kan sanad hadis yang munqathi’. Contohnya ialah seperti hadis kaffarat al-majlis berikut:

Menurut Imam Bukhari hadis ini berasal dari perkataan ‘Aun bin Abdillah bukan dari Nabi karena tidak ada orang yang menerangkan bahwa Musa bin Uqbah pernah mendengar hadis dari Suhail. Ini menunjukkan bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Musa bin Uqbah adalah munqathi karena ia tidak pernah mendengar hadis dari Suhail, tetapi disambung sanadnya sampai kepada Rasulullah saw. Selain illah pada sanad, hadis ini juga mengandung illah pada matan karena bukan merupakan perkataan Rasulullah saw.

2.        Keadaan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah adalah mursal[18], akan tetapi hadis itu diriwayatkan secara marfu’[19]. Ketentuan illah yang kedua ini dapat dikatakan dengan ringkas: Me-marfu’-kan hadis yang mursal. Misalnya hadis Qabishah bin Utbah yang bersanad Sufyan, Khalid bin Hadzdza’i, Ashim dan Abu Qilabah yang diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi.

Qabishah dikala meriwayatkan hadis tersebut mangatakan bahwa ia menerimanya dari Sufyan dari Khalid Al-Khadzdza’i dari ‘Ashim dari Abu Qilabah dan terakhir ia mengatakan telah menerimanya dari Nabi Muhammad saw. (nomor 1). Abu Qilabah adalah seorang tabi’iy. Kalau ia mengaku menerima hadis dari Nabi, tentu tidak langsung ia menerima dari beliau. Dia harus menerima dari seorang sahabat. Dengan demikian hadis Qabishah ini sebenarnya adalah hadis mursal, karena digugurkan seorang rawi utamanya, yakni sahabat. Akan tetapi dalam meriwayatkan hadis itu ia mengatakan bahwa apa yang diwartakan itu diangkat dari Rasulullah saw. (marfu’).

Sahabat yang menerima sabda Rasulullah saw. itu sebenarnya adalah Anas bin Malik ra. Hal ini kita ketahui setelah mengadakan penelitian sanad hadis tersebut melalui periwayatan At-Turmudzy, At-Turmudzy mentakhrijkannya melalui sanad-sanad Sufyan bin Waqi’, Humaid bin Abdurrahman, Dawud Al-‘Athar, Ma’mar, Qatadah dan Anas bin Malik ra. (nomor 2). Nyatalah sekarang bahwa sahabat yang tidak mewedarkan sabda Rasulullah saw. kepada Abu Qilabah atau dengan kata lain sahabat yang digugurkan oleh Abu Qilabah (di-irsal­-kan) itu adalah Anas bin Malik ra.

Dengan demikian jika kita mengambil hadis yang ditakhrij oleh Qabishah bin Utbah, maka berarti kita menggunakan hadis yang ma’mul (ber-illah). Sedangkan kalau kita mengambil hadis yang ditakhrij oleh at-Turmudzy, berarti kita memakai hujjah hadis musnad.

Al-Hakim dengan nada sinis mengatakan: “Andaikata hadis Qabishah itu sahih, niscaya sudah kumasukkan ke dalam kelompok hadis sahih.”

3.        Keadaan hadis yang diriwayatkan dari seorang sahabat yang sudah tertentu itu adalah mahfudz,[20] akan tetapi hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat lain yang membedakan domisilinya dan ternyata (nilainya) adalah syadz[21] (langka). Dengan kata lain illah hadis yang ketiga ini adalah: “men-syadz-kan hadis yang mahfudz.” Sebagai contoh misalnyahadis Musa bin Uqbah yang diterima dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari ayahnya, yaitu Abu Musa al-Asy’ary ra.

Hadis yang ditakhrij oleh Musa bin Uqbah yang bersanad Abi Ishaq, Abu Burdah dan ayahnya, yaitu Abu Musa al-Asy’ary ra. (nomor 1) adalah hadis syadz. Para perawinya adalah orang-orang tsiqah, memenuhi persyaratan Imam Bukhari dan Muslim.

Rawi-rawi berdomisili di Madinah ini jika meriwayatkan hadis dari rawi-rawi yang berdomisili di Kufah banyak membuat kekeliruan. Sebenarnya hadis ini menurut rawi-rawi yang tsiqah diriwayatkan oleh Abu Burdah dari sahabat Al-Agharr Al-Muzanny, bukan dari Abu Musa. Hal yang demikian ini dapat kita ketahui setelah mengadakan penelitian terhadap sanad-sanad yang lain. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Muslim mentakhrij hadis tersebut melalui sanad-sanad Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin sa’id dari Hammad bin Zaid, dari Tsabit, dari Abu Burdah, dari Al-Agharr Al-Muzany ra. dari Rasulullah saw. (nomor 2).

Hadis Musa bin ‘Uqbah adalah syadz pada sanadnya. Karena sanadnya adalah berlainan dengan sanad-sanad rawi yang lebih tsiqah, sedang hadis Muslim, yang rawi-rawinya lebih tsiqah mahfudz. Dengan demikian kalau kita mengambil hadis Musa bin Uqbah berarti men­-syadz-kan hadis yang sudah mahfudz. Akan tetapi kalau kita mengambil hadis Muslim tidak ada persoalan, karena sanadnya tiada ber-illah.

4.        Keadaan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang sudah tertentu itu adalah mahfudz, akan tetapi hadis itu diriwayatkan dari seorang tabi’in dan diduga (waham) sahih. Bahkan sebaliknya melalui jalan ini hadis tersebut tidak ma’ruf (dikenal). Dengan kata lain illah keempat ini ialah: me-waham-kan sanad hadis yang mahfudz. Misalnya hadis yang ditakhrijkan oleh Al-‘Askary yang bersanad Zuhair bin Muhammad, ’Utsman bin Sulaiman dari ayahnya yang mengatakan:

Hadis yang ditakhrijkan oleh Al-‘Askary dengan sanad Zuhair bin Muhammad, ‘Utsman bin Sulaiman dari ayahnya (nomor 1) adalah ma’mul. Karena Al-‘Askary menyangka (waham) bahwa Utsman menerima hadis tersebut dari ayahnya, Sulaiman. Padahal berdasarkan penyelidikan ayah Utsman tidak mendengar dari Nabi dan bahkan dia sendiri tidak pernah melihat Nabi (karena ia seorang tabi’in). Sebenarnya Utsman menerima hadis tersebut dari Nafi’ bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, yakni Jubair bin Muth’im.

Menurut muhaddisin bahwa sahabat yang meriwayatkan sabda Rasulullah saw. itu adalah Jubair bin Muth’im. Imam Bukhari mentakhrijkan hadis Jubair bin Muth’im melalui sanad-sanad: ‘Abdullah bin Yunus, Malik, Ibnu syibah, Muhammad bin Zubair bin Muth’im (nomor 2). Imam Muslim mentakhrijkan melalui sanad-sanad: Yahya bin Yahya, Malik, seterusnya sama sengan sanad-sanad Imam Bukhary (nomor 3). Imam Abu Daud mentakhrijkan melalui sanad-sanad: Al-Qa’naby, Malik, seterusnya sama sengan sanad-sanad Imam Bukhary (nomor 4). Imam An-Nasa’iy juga meriwayatkan hadis itu dengan sanad-sanad: Qutaibah, Malik, seterusnya sama sengan sanad-sanad Imam Bukhary (nomor 5). Imam Ibnu Majah mentakhrijkan melalui sanad-sanad: Muhammad bin Ash-shabah, Sufyan, Ibnu Sibah, seterusnya sama dengan sanad-sanad Imam Bukhary (nomor 6).

Nyatalah sekarang apabila kita mengambil hadis Al-‘Askary yang bersumber dari Sulaiman (tabi’iy) yang tidak mendengar dari Rasulullah saw. berarti kita menggunakan hadis yang ma’lul. Sedangkan kalau kita mengambil hadis itu dari sumber sahabat Jubair bin Muth’im ra. Maka kita menggunakan hujjat hadis mahfudz.

5.        Meriwayatkan secara ‘an’anah[22] suatu hadis yang sanadnya telah digugurkan seorang atau beberapa orang. Diketahui bahwa ada sanad yang gugur harus sesudah diadakan perbandingan dengan hadis mahfudz. Misalnya hadis yang diriwayatkan melalui Yunus dari Ibnu Syibah dari Ali bin Husain dari seorang laki-laki Anshar yang mengatakan:

Hadis yang melalui periwayatan Yunus yang diterimanya dari Ibnu Syibah dari Ali bin Al-Husain yang mengatakan bahwa Ali menerimanya dari orang Anshar (nomor 1) adalah ma’mul. Illah-nya ialah karena Yunus menggugurkan seorang sanad, yaitu Ibnu Abbas ra. Kemudian ia meriwayatkan dengan menggunakan lafaz ‘an (dari) yang seolah-olah adalah persambungan pendengaran antara Ali bin Al-Husain dengan orang Anshar yang menceritakan kejadian itu. Padahal sebenarnya hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas ra. yang mengatakan: “orang laki-laki Anshar menceritakan kepadaku bahwa konon orang-orang Anshar bersama-sama dengan Rasulullah saw. dan seterusnya.”

Rawi yang digugurkan adalah Ibnu Abbas ra. yang kita ketahui berdasarkan kepada penelitian sanad-sanad dari periwayat rawi yang lain.

Imam At-Turmudzy mentakhrijkan hadis tersebut melalui sanad: Nashr bin Ali Al-Jahdlami, Abdul-A’la, Ma’mar, Ibnu Syibah Az-Zuhry, Ali bin Al-Husain dan Ibnu Abbas ra. dari orang-orang Anshar (nomor 2). Imam Muslim mentakhrijkannya melalui sanad-sanad: Zuhair bin Harb, Al-Wahid bin Muslim, Al-Auza’iy, Az-Zuhry, Ali bin Al-Husain dan Ibnu Abbas ra. (nomor 3). Juga melalui sanad Hasan bin Ali Al-Hulwany, Ya’kub bin Ibrahim, Shalih, Az-Zuhry dan seterusnya dari sanad-sanad seperti di atas (nomor 4).

6.        Adanya keberlainan rawi dalam menyandarkan (mengisnadkan) pemberitaan dengan mengisnadkan rawi lain yang lebih kuat. Hadis yang diriwayatkan rawi yang kuat ini adalah yang mahfudz dan diterima isnad-nya. Ringkasnya illah keenam ini ialah: melawani peng-isnad-an rawi yang lebih tsiqah. Misalnya hadis Umar bin Khattab ra. yang bertanya kepada Rasulullah saw, ujarnya:

Hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi tsiqah dari Ali bin Al-Husain bin Waqid, dari ayahnya (Waqid) dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dari Umar bin Khattab ra (nomor 1) adalah hadis mahfudz yang dilawani sanadnya. Sedang hadis yang menurut periwayatan Ali bin Khasyram, dari Ali bin Al-Husain bin Waqid dari Umar bin Khattab ra. (nomor 2) adalah hadis ma’mul. Illah-nya ialah terletak pada Ali bin Khasyram yang menyandarkan periwayatannya dengan mengatakan: “Haddatsan Ali bin Al-Husain bin Waqid, balaghany ‘an Umar … (telah menceriterakan kepadaku Ali bin al-Husain bin Waqid, telah sampai kepadaku dari Umar …). sebab rawi-rawi yang tsiqah dalam menyandarkan pemberitaan itu tidak menggunakan shighat jazm (semisal haddatsana, balaghany  dan lain-lain), yang memberi kesan kepastian bertemunya seorang rawi dengan guru yang memberikan hadis kepadanya.

7.        Adanya kelainan nama guru dari seorang rawi yang memberikan hadis kepadanya dengan nama guru dari rawi-rawi lain yang lebih tsiqah dari padanya atau dalam meriwayatkannya rawi-rawi tersebut enggan menyebut nama gurunya secara jelas. Dengan ringkas illah yang ketujuh ini ialah: men-tadlis-syuyukh-kan hadis yang mahfudz. Misalnya hadis Abu Daud yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah ra. yang diriwayatkan secara marfu’:

Hadis Abu Daud yang bersanad: Nasr bin Ali, Abu Ahmad, Sufyan, Hajjaj bin Farafidlah, rajulun (seorang laki-laki), Abu Salamah dan Abu Hurairah ra. (nomor 1) adalah ma’mul. Sebab di dalam sanadnya terdapat seorang laki-laki yang mubham, tidak disebut namanya, sehingga sulit diketahui identitasnya. Siapakah sebenarnya rajulun yang tidak disebutkan namanya itu dapatlah diketahui apabila kita meneliti sanad hadis tersebut melalui dari jalan (periwayatan) yang lain. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: Imam At-Turmudzy meriwayatkan hadis tersebut melalui sanad-sanad Muhammad bin Rafi’, Abdur-Razaq, Bisyr bin Rafi’, Yahya bin Abi Katsir, Abu Salamah dan Abu Hurarirah (nomor 2). Bahkan Imam Abu Daud dalam sanad yang lain meriwayatkannya melalui Muhammad bin Al-Mutawakkil Al-‘Asqalany dari Abdur-Razaq dan seterusnya sama dengan sanad-sanad Imam At-Turmudzy (nomor 3).

Jelaslah sekarang bahwa orang yang tidak disebutkan namanya oleh Hajjaj bin Farafidlah, rawi Abu Daud itu, ialah Yahya bin Abi Katsir.

8.        Meriwayatkan suatu hadis yang tidak pernah didengar oleh gurunya, walaupun sang guru itu pernah memberikan hadis lain kepadanya. Ringkasnya illah kedelapan ini ialah: men-tadlis-isnad-kan hadis yang mahfudz. Misalnya hadis Yahya bin Abi Katsir yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik ra.

Imam al-Baihaqy meriwayatkan hadis tersebut melalui dua sanad. Sanad pertama terdiri dari: Abu Zakaria bin Abi Ishaq, Abul Abbas, Muhammad bin Ubaidillah, Yazid bin Harun, Hisyam Ad-Dastuwa’iy, Yahya bin Abi Katsir dari Anas bin Malik ra. sanad kedua terdiri dari: Abu Al-Hasan, Ali bin Muhammad Al-Maqry, Al-Hasan bin Muhammad bin Ishaq, Yunus bin Ya’qub, Muslim bin Ibrahim, Hisyam Ad-Dastuwa’iy, Yahya bin Abi Katsir dan Anas bin Malik ra. (periksa bagan di atas).

Yang menjadi pangkal adanya illah di dalam hadis tersebut adalah Yahya bin Abi Katsir.

 

Menurut Imam al-Baihaqy, Hadis tersebut adalah hadis mursal. Lantaran Yahya bin Abi Katsir tidak mendengar hadis itu dari Anas bin Malik ra. sebenarnya ia mendengarnya dari orang Bashrah yang bernama ‘Amr bin Zabib. Dengan demikian sanad itu sebenarnya berangkat dari Yahya bin Abi Katsir yang diterimanya dari Ibnu Zabib dari sahabat Anas bin Malik ra. katanya: “ … “

Walaupun Yahya bin Abi Katsir banyak menerima hadis dari Anas bin Malik ra., namun hadis di atas tidak diterimanya dari Anas bin Malik ra. Pembajakan pemberitaan inilah yang menjadikan cacat (illah-nya) hadis itu.

9.        Keadaan hadis itu mempunyai sanad tertentu akan tetapi salah seorang rawinya meriwayatkan hadis tersebut dari sanad lain di luar sanad yang sudah tertentu itu secara waham (duga-duga). Ringkasnya illah yang kesembilan ini ialah: meng-isnad-kan secara waham suatu hadis yang sudah musnad.[23] Misalnya hadis:

Para imam ahli hadis mentakhrijkan hadis tersebut dengan sanad yang berbeda-beda dari sahabat yang berbeda-beda pula dengan nilai yang berlain-lain dan kebanyakan ulama menilainya dengan dha’if.[24]

Jika kita mengambil hadis tersebut dari musnad Ishaq bin Rahawaih, maka hadis ini adalah musnad. Sanadnya terdiri dari Abdul Aziz, dari Abdullah bin Fadll, Al-A’raj, Ubaidillah bin Abi Rafi’dari sahabat Ali ra (nomor 1).

Kemudian Al-Munzir bin Abdillah Al-Haramy mengisnadkan (mencari sanad yang lain di luar sanad yang sudah ada) hadis tersebut secara waham dari Abdul Aziz, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar ra. (nomor 2). Di mana di dalam periwayatan itu dikatakan bahwa Ibnu Umar ra. mengetahui sendiri apa yang telah diperbuat Rasulullah saw.

10.    Me-mauquf-kan hadis yang marfu’. Misalnya hadis:

Hadis Al-Baihaqy yang bersanad Abu Al-Qasim Zaid Abi Hasyim Al-Husainy, Abi Ja’far Muhammad bin Ali bin Dahim, Ibrahim bin Abdillah, Waki’, Al-A’masy, Abu Sufyan dari sahabat Jabir ra. (nomor 1) adalah ma’mul. Illah-nya terletak kepada Waki’, yang me-mauquf-kan apa yang diriwayatkan itu hanya kepada sahabat Jabir ra. Jelasnya Waki’ menerima berita dari Al-A’masy yang diterimanya dari Abu Sufyan itu mengatakan bahwa ketika Jabir ra. ditanya oleh Abu Sufyan tentang hukum orang yang tertawa diwaktu salat. Jabir menjawab: “yu ‘idhus-shalata wala yu ‘idul-wudhu’a”. Jadi yang diberitakan oleh Waki’ itu tidak lain hanyalah wawancara antara Abi Sufyan dan sahabat Jabir ra. Kalimat “yu ‘idhus-shalata” dan seterusnya itu bukan sabda Rasulullah saw. Inilah sebabnya berita itu dikatakan mauquf, karena hanya terhenti kepada sahabat saja.

Padahal hadis tersebut yang diriwayatkannya melalui jalur sanad Abu Bakar bin Al-Hasan, Hajib bin Ahmad, Muhammad bin Hammad, Abu Mu’awiyah, Al-A’masy, Abu Sufyan dan Jabir rabin Abdillah ra. (nomor 2) dan yang diriwayatkan oleh Abu Farwah Yazid bin Muhammad melalui jalur sanad ayahnya (Muhammad), kakeknya, Al-A’masy, Abu Sufyan dan Jabir ra. (nomor 3) adalah marfu’. Karena Abu Sufyan menerima dari sahabat Jabir ra. dan yang terakhir ini mengatakan menerima dari Rasulullah saw. tentang sabda itu. Dengan demikian berita yang disampaikan itu diangkat dari Rasulullah saw. (marfu’).

Perlu diketahui, bahwa kesepuluh fenomena yang dipaparkan al-Hakim di atas hanyalah sebagai sampel, dan masih banyak lagi fenomena hadis ma‘lul yang hanya diketahui oleh kalangan ahli hadis yang benar-benar pakar dibidangnya.

 

 


[1] Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Muanawwir, h. 1036

[2] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 256

[3] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Amzah, 2009), h. 189

[4] Muhammad Jamal al-Din al-Qasimi, Qawaid at-Tahdits min Funun Mushthalah             al-Hadits, (Isa al-Bibiy al-Halaby wa Syurakat, 1961), h. 131

[5] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Bandung, PT. Alma’arif, 1974), h. 340

[6] Mifdhol Abdurrahman, Lc., Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2009), h. 99

[7] Shubhi Shaleh, Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, (Bairut: Dar al-Ilm li al-Malayin, tth), h. 183

[8] Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-Hadits, (Bairut: Dar al-Fikr, tth), h. 133

[9] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi: Refleksi Pemikiran Pembaruan Prof. Dr. Muhammad Syuhudi Ismail, (Jakarta: MSCC, 2005), h. 99

[10] Fatchur Rahman, Op. Cit., h. 349

[11] Ibid., h. 341-347

[12]Ahmad Umar Hasyim, op. Cit., h. 133

[13]Thahir ibnu Shalih ibnu Ahmad al-Jaza’iriy ad-Dimasyqiy, Taujih  al-Nazhar ila Ushul al-Atsar, (Madinah: Al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, t.t.) h. 264. Lihat juga Ibnu Hajr al-‘Asqalaniy, al-Nukat ‘ala Muqaddimah Ibn al-Shalah, (Riyadh: Adhwa al-Salaf, 1998), h. 207.

[14] Fatchur Rahman, op. Cit., h. 365-366

[15] Hadis sahih adalah hadis yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh orang adil dan dhabit (kuat daya ingatan) sempurna dari sesamanya, selamat dari kejanggalan (syadz), dan cacat (illah)

[16] Hadis muttashil/Maushul adalah hadis yang bersambung sanadnya, baik periwayatan itu datang dari Nabi ataupun dari seorang sahabat bukan dari Tabi’iy.

[17] Hadis munqati’ adalah hadis yang sanadnya terputus, artinya seorang rawi tidak bertemu langsung dengan pembawa berita baik di awal, di tengah, atau di akhir sanad, maka masuk di dalamnya hadis mursal, mu’allaq dan mu’dhal.

[18] Hadis mursal adalah hadis yang diriwayatkan oleh tabi’iy dari Nabi baik dengan perkataan, perbuatan, atau persetujuan, baik tabi’iy senior atau yunior tanpa menyebutkan penghubung antara seorang tabi’iy dan Nabi yaitu seorang sahabat.

[19] Hadis marfu’ adalah berita yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, sifat dan persetujuan sekalipun sanadnya tidak bersambung atau terputus, seperti hadis mursal, muttasil dan munqati’

[20] Hadis mahfudz adalah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqah menyalahi orang tsiqah

[21] Hadis syadz adalah hadis yang ganjil, karena hanya dia sendiri yang meriwayatkannya atau periwayatannya menyalahi periwayatan orang tsiqah atau yang lebih tsiqah dan terakhir ini pendapat yang lebih sahih

[22] Hadis mu’an’an adalah hadis yang dalam periwayatannya hanya menyebutkan sanad dengan kata ‘an fulan (dari si fulan), tidak menyebutkan ungkapan yang tegas bertemu dengan gurunya, dan menunjukkan bertemu (ittishal)

[23] Hadis musnad adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal sampai akhir, tetapi sandarannya hanya kepada Nabi tidak pada sahabat dan tidak pula pada tabi’iy

[24] Hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi sebagian atau semua persyaratan hadis hadis hasan atau shaih

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: