makalah sejarah peradaban Islam pada zaman dinasti Abbasiyah_POLITIK, SOSIAL & BUDAYA

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Berdirinya Bani Abbasiyah dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada masa pemerintahan khalifah Hisyam Ibn Abdi Al-Malik muncul kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang dipelopori keturunan Al-Abbas Ibn Abd Al-Muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti Umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah Umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW, dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya.
Dinasti Abbasiyah didirikan secara revolusioner dengan menggulingkan kekuasaan dinasti Umayyah. Terdapat beberapa faktor yang mendukung keberhasilan pembentukan dinasti ini. Diantaranya adalah: meningkatnya kekecewaan kelompok Mawalli terhadap dinasti Bani Umayyah, pecahnya persatuan antarsuku-suku bangsa Arab, dan timbulnya kekecewaan masyarakat agamis dan keinginan mereka memiliki pemimpin kharismatik.
Kelompok Mawalli, yakni orang-orang non Arab yang telah memeluk agama Islam, diperlakukan sebagai masyarakat kelas dua, sementara itu bangsa Arab menduduki kelas bangsawan. Mereka tersingkir dalam urusan pemerintahan dan dalam kehidupan sosial, bahkan penguasa Arab selalu memperlihatkan sikap permusuhan terhadap mereka. Sounders mencatat bahwa di Kufah antara orang Arab dan masyarakat Mawalli masing-masing memiliki mesjid sendiri-sendiri dan perkawinan antara mereka sangat dihindari. Selain itu masyarakat Mawalli ini dikenakan beban pajak yang berat.
Sebelum berdirinya Daulah Abbasiyah terdapat tiga poros yang merupakan pusat kegiatan, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman Nabi SAW.
Dengan berdirinya kekuasaan dinasti Abbasiyah terjadilah beberapa perubahan sosial politik. Perubahan yang menonjol adalah tampilnya kelompok Mawalli, khususnya Persia-Irak. Mereka menduduki peran dan posisi penting dalam pemerintahan menggantikan kedudukan bangsawan Arab. Pada waktu zaman ekspansi, masyarakat Arab merupakan kelompok bangsawan yang berkuasa dan merasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan masyarakat non-Arab yang dikuasainya. Posisi yang demikian ini hampir berkembang pada seluruh aspek kehidupan sosial dan politik. Masyarakat 
Factor-faktor tersebut di atas pada satu sisi mendukung jatuhnya kekuasaan dinasti Umayyah, dan pada sisi lainnya sekaligus mendukung keberhasilan gerakan pembentukan dinasti Abbasiyah.
B.     Rumusan Masalah
a)         Bagaimana masa pembentukan Bani Abbasiyah?
b)        Bagaimana kemajuan Bani Abbasiyah terhadap Sejarah Peradaban Islam?


PEMBAHASAN
A.     Masa Pembentukan Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah mewarisi imperium dari Dinasti Umayyah. Hasil besar yang telah dicapai oleh Dinasti Abbasiyah dimungkinkan karena landasannya telah di persiapkan oleh Umayyah dan Abbasiyah memanfaatkannya.[1]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan di Bagdad. Secara turun temurun kurang lebih tiga puluh tujuh khalifah pernah berkuasa di negeri ini. Pada dinasti ini  Islam mencapai puncak kejayaannya dalam segala bidang.
Pemerintahan Abbasiyyah adalah keturunan daripada al-Abbas, paman Nabi SAW. Pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah as-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi ide yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW, agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak-saudaranya.[2]
Kekuasaan dinasti Bani Abbasiyah, sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1.         Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2.         Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3.      Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4.         Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaandinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.         Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.[3]
Dinasti Abbasiyah berkedudukan mencapai keberhasilannya disebabkan dasar-dasarnya telah berakar semenjak Umayyah berkuasa. Ditinjau dari proses pembentukkanya, Dinasti Abbasiyah didirikan atas dasar-dasar antara lain:
1.         Dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan yang timbul di dinasti sebelumnya;
2.         Dasar universal (bersifat universal), tidak terlandaskan atas kesukuan;
3.         Dasar politik dan administrasi menyeluruh, tidak diangkat atas dasar keningratan;
4.         Dasar kesamaan hubungan dalam hukum bagi setiap masyarakat Islam;
5.         Pemerintahan bersifat Muslim moderat, ras Arab hanyalah dipandang sebagai salah satu bagian saja di antara ras-ras lain;
6.         Hak memerintah sebagai ahli waris nabi masih tetap di tangan mereka.[4]
Di antara situasi-situasi yang mendorong berdirinya Dinasti Abbasiyah dan menjadi lemah dinasti sebelumnya adalah:
1.         Timbulnya pertentangan politik antara Muawiyah dengan pengikut Ali bin Abi Thalib;
2.         Munculnya golongan Khawarij, akibat pertentangan politik antara Muawiyah dengan Syiah, dan kebijakan-kebijakan land reform yang kurang adil;
3.         Timbulnya politik penyelesaian khilafah dan konflik dengan cara damai;
4.         Adanya dasar penafsiran bahwa keputusan politik harus didasarkan pada Alquran dan oleh golongan Khawarij orang Islam non-Arab;
5.         Adanya konsep hijrah di mana setiap orang harus bergabung dengan golongan Khawarij yang tidak bergabung dianggapnya sebagai orang yang berada pada dar al-harb, dan hanya golongan khawarijlah yang berada pada dar al-Islam;
6.         Bertambah gigihnya perlawanan pengikut Syiah terhadap Umayyah setelah terbunuhnya Husein bin Ali dalam pertempuran Karbala;
7.         Munculnya paham mawali, yaitu paham tentang perbedaan antara orang Islam Arab dengan non-Arab.[5]
Secara kronologis, nama Abbasiyah menunjukkan nenek moyang dari Al-Abbas, Ali bin Abi Thalib dan Nabi Muhammad. Hal ini menunjukkan kedekatan pertalian keluarga antara Bani Abbas dengan nabi. Itulah sebabnya kedua keturunan ini sama-sama mengklaim bahwa jabatan Khalifah harus berada di tangan mereka. Keluarga Abbas mengklaim bahwa setelah wafatnya Rasulullah merekalah yang merupakan penerus dan penyambung keluarga Rasul.[6]
Perjuangan Bani Abbas secara intensif baru dimulai berkisar antara lima tahun menjelang Revolusi Abbasiyah. Pelopor utamanya adalah Muhammad bin Ali Al-Abbas di Hamimah. Ia telah banyak belajar dari kegagalan yang telah dialami oleh pengikut Ali (kaum Syiah)dalam melawan Dinasti Umayyah. Kegagalan ini terjadi karena kurang terorganisasi dan kurangnya perencanaan. Dari itulah Muhammad bin Ali Al-Abbas mengatur pergerakannya secara rapid an terencana. Ia mulai melakukan pergerakannya dengan langkah-langkah awal yang penting. Kemudian propaganda atau langkah itu berhasil membakar semangat api kebencian umat Islam kepada Dinasti Umayyah.
Setelah Muhammad bin Ali meninggal tahun 734 M, perjuangan dilanjutkan oleh saudaranya Ibrahim sampai tahun 749 M. Kemudian, sejak 749 M Ibrahim menyerahkan pucuk pimpinan kepada keponakannya, Abdullah bin Muhammad. Pada masa inilah revolusi Abbasiyah berlangsung.
Abdullah bin Muhammad alias Abul Al-Abbas diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. Dalam khutbah pelantikan yang disampaikan di Masjid Kufah, ia menyebut dirinya dengan Al-Saffah (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Hal ini sebenarnya menjadi permulaan yang kurang baik diawal berdirinya dinasti ini, dimana kekuatannya tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai kebijaksanaan politiknya.
Al-Saffah berusaha dengan berbagai cara untuk membasmi keluarga Umayyah. Antara lain dengan kekuatan senjata. Ia mengumpulkan tentaranya dan melantik pamannya sendiri Abdullaah bin Ali sebagai pimpinannya. Target utama mereka adalah menyerang pusat kekuatan Dinasti Umayyah di Damaskus, sekaligus untuk melenyapkan Khalifah Marwan (khalifah terakhir Bani Umayyah). Pertempuran terjadi di lembah Sungai Az-zab (Tigris). Pada pertempuran itu Marwan mengalami kekalahan dan mengundurkan diri ke Utara Syria, Him, Damsyik, Palestina dan akhiirnya sampai ke Mesir. Pasukan Abdullah bin Ali terus menyerangnya hingga terjadi lagi pertempuran di Mesir dan Marwan pun tewas.
Usaha lain yang dilakukan Al-Saffah untuk memusnahkan keluarga Umayyah adalah dengan cara mengundang lebih kurang 90 orang anggota keluarga Umayyah untuk menghadiri suatu upacara perjamuan kemudian membunuh mereka dengan cara yang kejam. Disamping itu agen-agen dan mata-mata disebarkan ke seluruh imperium untuk memburu para pelarian seluruh anggota keluarga Umayyah. Hanya satu orang saja yang berhasil melarikan diri kemudian kelak mendirikan Dinasti Umayyah di Andalusia. Ia dikenal dengan sebutan Abdurahman Ad-Dakhil.
Perlakuan kejam itu tidak hanya pada anggota keluarga yang masih hidup, tetapi juga yang sudah meninggal. Kuburan-kuburan mereka dibongkar dan jenazahnya dibakar. Ada dua kuburan saja yang selamat dari kekejamannya yaitu kuburan Muawiyah bin Abu Sufyan dan Umar bin Abdul Aziz . perlakuan-perlakuan kejam itu tentu saja tentu saja telah menimbulkan kemarahan para pendukung Dinasti Umayyah di Damaskus, tetapi mereka berhasil ditumpas oleh Abbasiyah.
Abu Al-Abbas hanya memerintah dalam kurun waktu singkat, yakni empat tahun. Oleh karena itu, ia kehilangan jati dirinya. Kehidupannya yang dikenal dalam sejarah pertama-tama hanyalah sebagai pembasmi Dinasti Umayyah.
Abu Abbas Al-Saffah meninggal tahun 754 M. dan digantikan oleh saudaranya, Abu Jafar Al-Mansur dari tahun 754-774 M. Dialah sebenarnya yang dianggap sebagai pendiri Dinasti Abbasiyah. Dia tetap melanjutkan kebijaksanaan Al-Saffah yakni menindak tegas setiap orang yang menentang kekuasaannya, termasuk juga dari kalangan keluarganya sendiri.
Sifat dan watak Al-Mansur dikenal oleh para penulis sejarah sebagai seorang politikus yang demoktratis, peemberani, cerdas, teliti, disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dan memperhatikan kepentingaan rakyat. Oleh karena itu, tidaklah mengerankan bahwa selama lebih kurang 20 tahun kekuasaannya, ia telah berhasil meletakkan landasan yang kuat dan kokoh bagi kehidupan dan kelanjutan kekuasaan Dinasti Abbasiyah itu.[7]
B.     Kemajuan Bani Abbasiyah
Umat Islam sesungguhnya banyak dipacu untuk dapat mengembangkan dan memberikan motivasi, melakukan inovasi serta kreativitas dalam upaya membawa umat kepada keutuhan dan kesempurnaan hidup.
Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbasiyah dalam sejarah lebih banyak berbuat ketimbang Bani Umayyah. Pergantian Dinasti umayyah kepada Dinasti Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah mengubah, menorah wajah Dunia Islam dalam refleksi kegiatan ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbasiyahmerupakan iklim pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.[8]
Kontribusi ilmu terlihat pada upaya Harun Al-Rasyid dan putranya Al-Makmun ketika mendirikan sebuah akademi pertama dilengkapi pusat peneropong bintang, perpustakaan terbesar yang di beri nama Baitul Hikmah dan dilengkapi pula dengan lembaga untuk penerjemahan.[9]
1.         Lembaga dan Kegiatan Ilmu Pengetahuan
Sebelum Dinasti Abbasiyah, pusat kegiatan Dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan centre of edication. Pada Dinasti Abbasiyah inilah mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan ke dalam ma’had. Lembaga ini kita kenal dua tingkatan yaitu :
a.         Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, menghitung dan menulis serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama.
b.        Tingkat pedalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi ke luar daerah atau ke masjid-masjid bahkan ke rumah-rumah gurunya.
 
Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibuka madrasah-madrasah yang dipelopori Nizhamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. Lembaga inilah yang kemudian berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah. Nizhamul Muluk merupakan pelopor pertama yang mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada seperti sekarang ini dengan nama madrasah. Madrasah ini dapat ditemukan di Bagdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil dan kota-kota lainnya. Madrasah yang didirikan ini mulai dari tingkat rendah, menengah, serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan.
 
2.         Corak Gerakan Keilmuan
Gerakan keilmuan pada Dinasti Abbasiyah lebih bersifat spesifik. Kajian keilmuan yang kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran, disamping kajian yang bersifat pada Al-Qur’an dan Al-Hadis; sedang astronomi, mantik dan sastra baru dikembangkan dengan penerjemahan dari Yunani.
3.         Kemajuan dalam Bidang Agama
Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu dan metode tafsir mulai berkembang terutama dua metode penafsiran, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi.
Dalam bidang hadis, pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan, pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada zaman ini juga mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadis Shahih, Dhaif, dan Maudhu. Bahkan dikemukakan pula kritik sanad dan matan, sehingga terlihat jarah dan takdil rawi yang meriwayatkan hadis tersebut.
Dalam bidang fiqih, pada masa ini lahir fuqaha legendaris yang kita kenal, seperti Imam Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafei (767-820 M) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (780-855 M).
Ilmu lughah tumbuh berkembang dengan pesat pula karena bahasa Arab yang semakin dewasa memerlukan suatu ilmu bahasa yang menyeluruh. Ilmu bahasa yang dimaksud adalah nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi, arudh dan insya. Sebagai kelanjutan dari masa Amawiyah I di Damaskus.
 
4.         Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
Kemajuan ilmu teknologi (sains) sesungguhnya telah direkayasa oleh ilmu Muslim. Kemajuan tersebut adalah sebsgai berikut.
a.         Astronomi, ilmu ini melalui karya India Sindhind kemudian diterjemahkan oleh Muhammad Ibnu Ibrahim Al-Farazi (777 M). Ia adalah astronom Muslim pertama yang membuat astrolabe, yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. Di samping itu, masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya, seperti Ali ibnu Isa Al-Asturlabi, Al-Farghani, Al-Battani, Umar Al-Khayyam dan Al-Tusi.
b.        Kedokteran, pada masa ini dokter pertama yang terkenal adalah ibnu Rabban Al-Tabari. Pada tahun 850 ia mengarang buku Firdaus Al-Hikmah. Tokoh lainnya adalah Al-Razi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.
c.         Ilmu kimia. Bapak ilmu kimia Islam adalah Jabir ibnu Hayyan (721-815 M). Sebenarnya banyak ahli kimia Islam ternama lainnya seperti Al-Razi, Al-Tuqrai yang hidup pada abad ke-12 M.
d.        Sejarah dan geografi. Pada masa Abbasiyah sejarawan ternama abad ke-3 H adalah Ahmad bin Al-Yakubi, Abu Jafar Muhammad bin Jafar bin Jarir Al-Tabari. Kemudian, ahli ilmu bumi yang masyhur adalah ibnu Khurdazabah.
 
5.         Perkembangan Politik, Ekonomi dan Administrasi
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa Dinasti Abbasiyah, umat Islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden age dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, terutama pada masa Khalifah Al-Makmun.
Daulat Abbasiyah berkuasa kurang lebih selama lima abad (750-1258 M). pemerintahan yang panjang tersebut dapat dibagi dalam dua periode. Periode I adalah masa antara tahun 750-945 M, yaitu mulai pemerintahan Abu Abbas sampai Al-Mustakfi. Periode II adalah masa antara tahun 945-1258 M, yaitu masa Al-Mu’ti sampai Al-Mu’tasim. Pembagian periodisasi ini diasumsikan bahwa pada periode pertama, perkembangan di berbagai bidang  masih menunjukkan grafik vertikal, stabil dan dinamis. Sedangkan pada periode II, kejayaan terus merosot sampai datangnya pasukan Tartar yang berhasil menghancurkan Dinasti Abbasiyah.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah periode I, kebijakan-kebijakan politik yang dikembangkan antara lain:
a.         Memindahkan ibukota negara dari Damaskus ke Bagdad
b.        Memusnahkan keturunan Bani Umayyah
c.         Merangkul orang-orang Persia, dalam rangka politik memperkuat diri, Abbasiyah memberi peluang dan kesempatan yang besar kepada kaum mawali
d.        Menumpas pemberontakan-pemberontakan
e.         Menghapus politik kasta
 
Selain kebijakan-kebijakan di atas, langkah-langkah lain yang diambil dalam program politiknya adalah:
a.         Para Khalifah tetap dari Arab, sementara para menteri, gubernur, panglima perang dan pegawai lainnya banyak diangkat dari golongan Mawali
b.        Kota Bagdad ditetapkan sebagai ibukota Negara dan menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi dan kebudayaan
c.         Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi.
 
Pada masa pemerintahan Abbasiyah II, kekuasaan politik mulai menurun dan terus menurun, terutama kekuasaan politik pusat. Karena negara-negara bagian sudah tidak begitu mempedulikan lagi pemerintahan pusat, kecuali pengakuan secara politis saja.
Dalam masa permulaan pemerintahan Abbasiyah, pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan cukup stabil dan menunjukkan angka vertikal Devisa negara penuh berlimpah-limpah. Khalifah Al-Mansur merupakan tokoh ekonom Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan negara.
Di sektor pertanian, daerah-daerah pertanian diperluas disegenap wilayah negara, bendungan-bendungan dan digali kanal-kanal sehingga tidak ada daerah pertanian yang tidak terjangkau oleh irigasi.
Disektor perdagangan, kota Bagdad disamping sebagai kota politik agama dan kebudayaan, juga merupakan kota perdagangan yang terbesar di dunia saat itu. Sedangkan kota Damaskus merupakan kota kedua Sungai Tigris dan Efrat menjadi pelabuhan transmisi bagi kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia. Terjadinya kontrak perdagangan tingkat Internasional ini semenjak Khalifah Al-Mansur.
Dalam bidang administrasi negara, masa Dinasti Abbasiyah tidak jauh berbeda dengan masa Umayyah. Hanya saja pada masa ini telah mengalami kemajuan-kemajuan, perbaikan dan penyemprunaan.
Secara umum, menurut Philip K. Hitti, kendali pemerintahan dipegang oleh khalifah sendiri. Sementara itu, dalam operasionalnya, yang menyangkut urusan-urusan sipil dipercayakan kepada wazir (menteri), masalah hukum diserahkan kepada qadi (hakim) dan masalah militer dipegang oleh amir. [10]


 
PENUTUP
 
A.     Kesimpulan
1.         Dinamakan Bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya adalah keturunan Al Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Abbas.
2.         Kejayaan Bani Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan anaknya Al-Makmun. Pada masanya berkembang Ilmu Pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan agama. Disamping itu berkembang pula ilmu astronomi, kedokteran, kimia, geografi, politik dan ekonomi.
 
 
 


 
DAFTAR PUSTAKA
 
Ali, 1996. Sejarah Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Mufrodi, Ali, 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Surabaya : Logos Wacana Ilmu.
Thohir, Ajid, 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syalabi, 1997. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : PT Alhusna Zikra.
Yatim, Badri, 2003. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
 

[1] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 44
[2] Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, cet. IX, 1997,  hlm. 1
 
[3] Dr. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, cet. XIV, 2003, hlm. 49
[4] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 44
[5] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 45
[6] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 46
[7] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 48
[8] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 50
[9] DR. Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, cet. I, 1997, hal. 102
[10] Drs. Ajid Thohir, M.Ag, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam , cet. I,  2004, hal. 55
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: