Prolog KRITIK MATAN HADIS_

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang Masalah

 

Sebagai sumber hukum Islam, hadis memegang peranan penting sebagai penjelas atas apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Umat Islam tidak akan pernah dapat menjalankan ketentuan hukum dan cara ibadah tanpa melihat keterangan atau praktek yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu, hadis merupakan salah satu di antara dua buah sumber dasar dalam penetapan hukum syariat.

 

Bersama Al-Quran, Hadis menjadi pegangan pokok seluruh umat manusia dalam kehidupan sehari-harinya, baik dalam konteks hubungan antar sesama manusia ataupun antara manusia dengan Tuhannya. Dapat dikatakan bahwa seluruh hukum syari’at Islam yang begitu banyak dan meliputi berbagai bidang, bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang merupakan penjelasan dan praktek dari ajaran al-Quran itu sendiri. Mengingat begitu pentingnya peran hadis sebagai penjelas, maka tidak serta merta semua hadis dapat dijadikan sebagai landasan penjelas Al-Qur’an. Dengan demikian maka perlu dipertanyakan keshohihan sebuah hadis yang akan dijadikan sebagai landasan.

 

Untuk menguji keshahihan sebuah hadis, dalam ilmu Hadis berkembang teori tentang Ilmu Riwayah Hadis (ilmu yang dipakai untuk meneliti sanad suatu hadis) dan Ilmu Dirayah Hadis (ilmu yang dipakai untuk meneliti matan suatu hadis). Penerapan kedua ilmu ini dalam pengujian ribuan bahkan jutaan hadis sangatlah menyita waktu, sehingga pada perkembangan selanjutnya, ahli hadis lebih memfokuskan diri pada ilmu riwayah hadis (kritik sanad), sedang ilmu diroyah hadis (kritik matan), pada umumnya, lebih dikembangkan oleh para ulama fiqh.

 

Selama ini, keshahihan hadis pada umumnya masih baru teruji dari segi sanadnya saja. Padahal asumsi yang berkembang di kalangan ulama hadis sendiri mengatakan bahwa yang disebut hadis shohih tentulah hadis shahih dari segi sanad maupun matannya. Akibatnya, kritik matan terhadap hadis-hadis shahih (dari segi sanad) tersebut, dianggap tidak perlu.

 

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa jika sanad sebuah hadis sehat atau shahih maka demikian juga dengan redaksi matannya. Banyak lagi yang harus dikaji lebih mendalam terkait dengan redaksi matan hadis.

 

Sebuah hadis dapat dijadikan dalil dan argumen yang kuat (hujjah) apabila memenuhi syarat-syarat keshahihan, baik dari aspek sanad maupun matan. Syarat-syarat terpenuhinya keshahihan ini sangat diperlukan, karena penggunaan atau pengamalan hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat yang dimaksud, berakibat pada realitas ajaran Islam yang kurang relevan atau bahkan sama sekali menyimpang dari apa yang seharusnya, dari yang diajarkan Rasulullah.

 

Menyinggung masalah kritik matan hadis, tolak ukur yang dijadikan standar keshahihannya adalah matan yang terhindar dari syadz dan ‘illat yang meliputi aspek susunan redaksi dan kandugan matan itu sendiri. Untuk memperoleh hasil penelitian secara maksimal tentang kandungan matan ini, harus dilakukan beberapa pendekatan, di antaranya pendekatan koleratif dan pendekatan kontekstual.

 

Pendekatan korelatif yang dimaksud adalah pemahaman terhadap beberapa hadis dalam satu masalah yang secara lahir bertentangan, dengan cara mengkaji secara bersama terhadap hadis-hadis yang memiliki keterkaitan tema sentral, sehingga kompromi hadis-hadis yang bertentangan secara lahir dapat ditemukan.

 

Adapun pendekatan kontekstual yang dimaksud adalah sebuah upaya memahami hadis-hadis Rasulullah dengan memperhatikan dan mengkaji konteksnya atau keterkaitan dengan peristiwa atau situasi yang melatarbelakangi munculnya hadis-hadis tersebut.

 

Adapun di antara cara untuk mendeteksi adanya indikasi ’illat (kecacatan) dalam meneliti matan hadis adalah dengan memadukan hadis satu dengan hadis yang lainnya disebut juga dengan ’ilmu mukhtolafi al-hadis (comparative). Untuk itu dibutuhkan segenap perangkap metodologi yang berkompoten dalam mengkaji hadis yang diteliti, misalnya dari segi linguistik (bahasa), asbabul wurud atau konteks turunnya dan disiplin ilmu lain yang mengkaji tentang seputar redaksi hadis.

 

Berhubungan dengan kritik matan, kami mengetengahkan hadis yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan sholat. Al-Qur’an tidak menjelaskan secara langsung bentuk atau tata cara melakukan sholat, dan penjelasan tersebut hanya ditemukan dalam hadis Rasulullah saw. Nabi bersabda:

 

صَلـُّوا كَمَـا رَأَيْـتُـمُـونِى أُصَلّـِى

 

“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana engkau melihat aku shalat”

 

Teks lengkap hadis ini adalah:

 

 

 

 

 

صحيح البخارى

 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ أَبِى سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ ، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً ، فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا ، وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِى أَهْلِنَا ، فَأَخْبَرْنَاهُ ، وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ « ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ ، وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى ، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

 

Dalam tataran prakteknya, kita diwajibkan untuk membaca Fatihah bahkan jumhur ulama’ menetapkan wajibnya membaca fatihah dalam sholat, baik bagi imam dan makmum dalam sholat yang dilakukan berjamaah maupun munfarid (sendirian), dalam sholat jahriyyah ataupun sirriyyah kecuali makmum masbuq. Kewajiban membaca fatihah dalam sholat juga berlandaskan kepada hadis Nabi s.a.w:

 

صحيح البخارى

 

حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِىُّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

 

Adapun yang menjadi fokus hadis dalam penelitian matan ini adalah hadis yang takhrij oleh Bukhari r.a sebagai berikut:

 

صحيح البخاري

 

حدثنا حفص بن عمر قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يفتـتحون الصلاة بالحمد لله رب العالمين

 

Berangkat dari hadis di atas maka melahirkan perselisihan pendapat beberapa ulama mengenai; Apakah basmalah meruapakan ayat dari surat Al-Fatihah? dan bagaimana hukum membaca basmalah dalam Fatihah ketika sholat?.

 

Menurut madzhab Syafi’i, membaca basmalah pada waktu sholat dalam Fatihah hukumnya wajib. Apabila sholat itu termasuk sholat jahriyah (bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan lain-lain dengan suara keras), maka basmalahnya harus dibaca keras, dan apabila termasuk sholat sirriyah (bacaannya pelan) maka basmalahnya juga dibaca pelan. Menurut madzhab Syafi’i, Basmalah merupakan salah satu ayat dari surat Al-Fatihah, maka apabila tidak dibaca, maka fatihahnya menjadi kurang. Alasan madzhab Syafi’i, bahwa Basmalah itu salah satu dari surat Fatihah, adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh:

 

السنن الكبرى للبيهقي [ مشكول ] – (ج 2 / ص 60)

 

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ وَ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ عُمَرَ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالاَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُكْرَمٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَنِى نُوحُ بْنُ أَبِى بِلاَلٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهُ – صلى الله عليه وسلم – : إِذَا قَرَأْتُمُ الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاقْرَءُوا (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِنَّهَا أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِى وَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) إِحْدَاهَا.

 

Adapun dalil lainnya adalah hadis Nabi yang diriwiyatkan oleh Bukhari dari sahabat Anas r.a:

 

صحيح البخارى

 

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا . ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ ، وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ ، وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ .

 

Alasan rasional lainnya dari madzhab Syafi’i ialah, bahwa setiap mushaf sejak masa sahabat sampai sekarang, basmalah selalu ditulis pada bagian pertama dari surat Al-Fatihah, bahkan surat lain kecuali surat At-Taubah, padahal para sahabat dan tabiin sangat kuat menjaga orisinilitas (kemurnian) Al-Qur’an dari kemungkinan masuknya kata atau kalimat lain dari luar Al-Qur’an.

 

Menurut mazhab Hambali, membaca basmalah ketika membaca Fatihah dalam sholat secara tidak keras dan tidak disunnahkan membacanya secara keras.

 

Menurut madzhab Maliki, basmalah bukan merupakan bagian dari surat Fatihah atau surat-surat lain serta bukan merupakan ayat. Oleh karenanya tidak boleh membaca basmalah ketika membaca fatihah dalam keadaan sholat maqtubah (wajib) dan membolehkan membacanya dalam sholat sunnah.

 

Madzhab Hanafi berpendapat bahwa basmalah itu memang bagian dari Al-Qur’an, lebih tegasnya basmalah itu bagian dari ayat 30 surat an-Naml, diturunkan untuk membedakan antara setiap surat dan bukan ayat dari surat Al-Fatihah. Mazhab ini membolehkan membaca basmalah ketika membaca fatihah dalam sholat baik wajib maupun sunnah, akan tetapi dibaca secara tidak keras baik itu sholat jahriyyah atau pun sirriyyah.

 

Masing-masing madzhab tersebut juga mempunyai alasan dalil yang berasal dari sunnah Rasulullah beserta dalil dan alasan rasionalnya masing-masing (baca lebih jauh Al-Jami’li Ahkam al-Al-Qur’an, oleh Abi Abdillah Muhammad Al-Qurtubi, At-Tahrir wa at-Tanwir, oleh syaikh Muhammad Tohir bin Asyur, Mafatih al-Ghoib, oleh Muhammad Fahruddin ar-Razi dan Rowai’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam, oleh Muhammad Ali As-Shobuni.

 

Golongan yang berpendapat bahwa hendaklah basmalah itu dijaharkan dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. ialah: Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair. Dan yang menjaharkan dari kalangan Tabi’in ialah Said bin Jubair, Abu Qilabah, az-Zuhri, Ikrimah, Athaa’, Thaawuus, Mujahid, Ali bin Husain, Salim bin Abdullah, Muhammad bin Ka`ab al-Qurazhi, Ibnu Siirin, Ibnul Munkadir, Nafi` Maula Ibnu Umar, Zaid bin Aslam, Makhuul, Umar bin Abdil Aziz, Amr bin Dinar dan Muslim bin Khalid. Dan itu pula pilihan (Mazhab) Imam Syafi’i. Dan begitu pula salah satu pendapat dari Ibnu Wahab, salah seorang pemangku Mazhab Malik.

 

Dari kalangan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. yang berpendapat bahwa bismilah itu di baca sirri (tidak dibaca keras) ialah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Amar bin Yasir, Ibnu Maghal dan lain-lain. Dan dari Tabi`in, di antaranya ialah Hasan al-Bishri, asy-Sya`bi, Ibrahim an-Nakha`i, Qatadah, al-A’masy dan as-Tsauri. Puluhan Mazhab dari Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal pun condong kepada membacanya dengan Sirr. Alasan dari yang memilih (Mazhab) jahar ialah sebuah hadis yang dirawi¬kan oleh jamaah daripada sahabat-sahabat, di antaranya Abu Hurairah dan isteri Rasulullah s.a.w. Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. menjaharkan membaca bismillah.

 

Terlepas dari kedua perselisihan tersebut, penulis sangat yakin kedua pendapat itu mempunyai tendensi dalil yang sangat kuat. Namun dalam penelitian ini kami akan meneli hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah tidak membaca basmalah pada waktu sholat dalam Fatihah, bukan berarti penelitian ini untuk mencari kelemahan-kelemahan hadisnya ataupun sebaliknya, akan tetapi hanya mencoba untuk mempraktikan ilmu tahrijul hadis yang kami peroleh dari bangku perkuliahan. Sehingga apa yang dihasilkan dari penelitian ini hanya sekedar memberi pengetahuan tambahan bagi saudara-saudara dengan tanpa mengharuskan memilih salah satu dari kedua pendapat yang saling bertentangan ini.

 

A. Teks hadis Lengkap

 

صحيح البخاري – (ج 3 / ص 186)

 

حدثنا حفص بن عمر قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يفتتحون الصلاة بالحمد لله رب العالمين

 

C. Rumusan masalah

 

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dalam tugas akhir ini terdapat tiga masalah yang dirumuskan, yaitu:

 

1. Bagaimana kualitas hadis ditinjau dari segi matannya?

 

2. Apakah hadis tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an?

 

3. Apakah hadis tersebut mengandung illat (cacat)?

 

D. Tujuan penelitian

 

Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan item-item yang terdapat dalam rumusan masalah. Untuk itu peneliti perlu mengungkapkan beberapa hal yang menjadi titik tekannya, yang secara garis besar adalah:

 

1. Untuk mengetahui kualitas hadis dari segi matannya.

 

2. Untuk mengetahui apakah hadis tersebut bertentangan dengan Al-Al-Qur’an

 

3. Untuk mengetahui apakah hadis tersebut bersih dari illat.

 

E. Kegunaan penelitian

 

1. Dengan penelitian hadis ini diharapkan bisa menjadi sumber pengetahuan bagi kaum muslimin tentang bagaimana metode penelitian sebuah hadis dari segi matannya serta mengetahui serta memahami hadis yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini.

 

2. Diharapkan akan membuka cakrawala berpikir sebagian masyarakat yang selama ini mudah menerima sebuah statemen tanpa didasari oleh penelitian yang cukup, sehingga mereka akan lebih berhati-hati dan cermat dalam bertindak.

 

3. Penelitian ini juga diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi penulis untuk lebih menambah pengetahuan tentang meneliti dan ilmu hadis.

 

F. Sistematika Penulisan

 

Sebagaimana penulisan yang bersifat ilmiah, maka guna memudahkan pembahasan dan penulisannya, di sini penulisan dibagi 4 bagian, dan masing-masing bab dibagi lagi menjadi beberapa sub bab yang tertuang dalam laporan penelitian sebagai berikut:

 

BAB I: PENDAHULUAN

 

Berisi gambaran umum mengenai tema dan arah penelitian yang terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut:

 

1. Latar belakang masalah; yang berisi gambaran umum untuk melakukan penelitian dan fenomena serta data-data akurat yang berkaitan dengan penelitian ini.

 

2. Rumusan masalah ; adalah point-point penting yang hendak diteliti.

 

3. Tujuan penelitian; arahan arahan yang akan dicapai dalam penelitian.

 

4. Kegunaan penelitian ; yaitu nilai guna yang diharapkan dari hasil penelitian ini.

 

5. Sistematika pembahasan berisi urutan pembahasan dan penulisan.

 

BAB II: LANDASAN TEORI

 

Dalam bab II ini peneliti akan menjelaskan secara teoritis hal-hal yang berkaitan dengan ilmu Hadis.

 

BAB III: LAPORAN PENELITIAN

 

Dalam bab ini akan dibahas tentang hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi kualitas hadis dari aspek kualitas, kuantitas dan makna kandungan hadis..

 

BAB V: PENUTUP

 

Dalam bab ini akan terisi dengan kesimpulan dan saran-saran atas hasil penelitian ini.

 

BAB II

 

LANDASAN TEORI

 

2.1. Pembahasan Syudzudz

 

2.1.1. Pengertian Syudzudz

 

Ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi tentang syadz. Dalam hal ini, 3 tiga pendapat yang paling populer;

 

1) Perawi yang tsiqah menyalahi yang lebih tsiqah darinya.

 

2) Bersendirinya perawi yang tsiqah secara mutlak.

 

3) Bersendirinya rawi secara mutlak.

 

Pendapat pertama adalah yang terkuat dan tepat. Akan tetapi perlu penambahan batasan yang lebih lanjut. Sehingga definisi syadz yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang tsiqoh meyalahi (pada matan atau sanad, berupa adanya kekurangan atau penambahan) hadis lain yang riwayatnya lebih kuat serta tidak mampu untuk dipertemukan/digabungkan .

 

Definisi di atas lebih sempurna dan mencakup, sehingga memberikan syarat-syarat bagi sebuah hadis disebut syadz;

 

1) Bersendirinya perawi hadis yang tsiqah.

 

2) Menyalahi perawi lain yang lebih tsiqah.

 

3) Serta tidak mungkin menyatukan keduanya antara tsiqah dengan yang lebih tsiqah.

 

2.1.2. Macam-macam Syudzudz

 

Sebagaimana diketahui bahwa syadz terjadi pada matan dan sanad;

 

2.1.2.1. Syadz pada sanad

 

Contoh yang terletak pada sanad adalah;

 

Keterangan:

 

Hadis yang diriwayatkan at Tirmidzi dengan jalur sanad Ibn Uyaiynah dari Amr ibn Dinar dari Ausajah dari Ibn ‘Abbas adalah hadis mahfudz, karena di samping diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah juga mempunyai tabi’ yaitu melalui Ibn Juraij. Sedangkan jalur riwayat Ashabu Sunan dari Hammad ibn Zaid dari Amr ibn Dinar dari Ausajah adalah hadis mursal karena tanpa melalui Ibn Abbas padahal Ausajah adalah seorang Tabi’iy. Hammad termasuk rawi yang tsiqah yang diterima (maqbul) periwayatanya. Namun karena bertentangan dengan periwayatan Ibn Uyainah yang lebih rajih, karena sanadnya muttasil dan juga terdapat mutabi’ maka hadis yang melalui jalur sanad Ibn Uyainah disebut hadis mahfudz sedangkan yang melalui jalur Hammad disebut hadis syadz .

 

2.1.2.2. Syadz pada matan

 

Contoh yang terletak pada matan adalah;

 

Keterangan:

 

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui jalur sanad Abul Wahid dari al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah yang diriwayatkan secara marfu’ dianggap mempunyai syududz setelah di bandingkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur sanad Abdullah Ibn Yazid dari Sa’id Ibn Ayyub dari Abul Aswad dari Urwah ibn Zubair dar Aisyah r.a. Di sini diketahui bahwa riwayat Bukhari dianngap lebih tsiqah karena meriwayatkan atas dasar fi’li (perbuatan Nabi), sehingga ini disebut hadis mahfudz. Sedankan hadis yang diriwayakan oleh Abu Dawud lebih lemah karena atas dasar pekataan Nabi, ini disebut hadis syadz pada matanya .

 

Perbedaan-perbedaan diantara perawi hadis yang menjadi dasar munculnya syududz dalam sebuah hadis bisa di klasifikasikan sebagaimana berikut :

 

a) Berbeda dalam hal mauquf atau marfu’nya sebuah hadis.

 

b) Berbeda dalam hal mausul atau mursalnya sebuah hadis.

 

c) Berbeda dalam hal jelas atau samarnya salah satu rawi sebuah hadis.

 

d) Berbeda dalam jumlah jalur periwayatan sebuah hadis .

 

e) Berbeda dalam hal jenis tahammul dan ada’nya sebuah hadis .

 

f) Berbeda dalam menyebutkan nama guru .

 

g) Berbeda dalam tambahan yang terdapat dalam matan sebuah hadis.

 

h) Berbeda dalam tambahan yang terdapat dalam sanad sebuah hadis.

 

i) Berbeda dalam salah satu lafadz yang terdapat dalam matan sebuah hadis.

 

j) Berbeda dalam hal siapa mukharij dari sebuah hadis

 

2.1.2.3. Perbedaan Mahfudl dengan Syadz

 

Mahfudl artinya yang terpelihara, yaitu satu hadits shahih dan hasan yang diriwayatkan orang kepercayaan, tetapi menyalahi riwayat rawi kepercayaan lain yang akurat.

 

2.1.2.4. Perbedaan Ma’ruf dengan Mungkar

 

Ma’ruf artinya yang dikenal atau yang terkenal, yaitu hadits yang dirwayatkan oleh perawi kepercayaan, bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi dlaif. Sedangkan munkar artinya yang diingkari yang ditolak atau yang tertolak. Hadits munkar ada 3 yaitu:

 

1) Satu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rowi lemah serta bertentangan dengan riwayat yang lebih ringan lemahnya.

 

2) Satu hadits tunggal yang tidak diketahui matannya selin dari yang meriwayatkannya. Sedangkan rowi ini jauh daripada derajat dhabith.

 

3) Satu hadits yang dalam sanadnya banyak salahnya, lalainya atau fasiknya.

 

Sedang definisi lain tentang hadits munkar adalah hadis yang menyendiri dalam periwayatan dan diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya banyak kelengahannya, atau jelas kefasikannya yang bukan karena dusta. Atau definisi yang dikemukakan oleh abil fadil muhammad ibnu aly ibnu hajar al asqolany dalam kitabnya nuhbatul fikar yaitu hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang tidak siqoh (dhaif )berlawanan dengan riwayat yang siqoh.

 

Dari hubaib ibnu habib ia saudara hamzah ibnu habib azziad al mukri dari abi ishaq, dari aizar ibnu hurais, dari ibnu abbas, dari nabi SAW. Beliau bersabda:” barangsiapa mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, naik haji ke baitullah, soum, dan memberi makan tamu, niscaya akan masuk surga.(HR Ibnu Abi hatim)”

 

Keterangan:

 

1. secara sederhana susunan sanadnya adalah:

 

a. hubaib ibnu habib

 

b. abi ishaq

 

c. aizar ibnu hurais

 

d. ibnu abbad

 

e. Nabi SAW

 

2. sanad hadis diatas tidak kuat, karena hubaib ibnu habib (no. a) dilemahkan oleh abu zur’ah, dan ditinggalkan oleh ibnu mubarrok.

 

3. rowi lain lebih kuat dari hubaib yang meriwayatkan hadis tersebut dari pembiacaraan ibnu abbas, maka hadis yang dijadikan contoh diatas adalah munkar

 

2.1.2.5. Mudlthorib

 

Mudhltharib secara etimologi adalah isim fa’il dari kata اضطرب yang berarti apabila perkara rancuh . Menurut epistimologi adalah hadits yang diriwayatkan dari berbagai arah yang menyalahi dengan hadits yang lain, baik dari satu rawi atau banyak, yang saling dapat bertahan dengan tidak dapat ditarjih.

 

Dengan demikian ini, bahwa mudltharib adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi atau banyak rawi dengan beberapa jalan yang berbeda-beda, yang tidak mungkin dapat dikumpulkan atau ditarjih.

 

Dan jika salah satunya bisa ditarjih atau dikompromikan maka bukan lagi dihukumi sebagai hadits mudltharib. Sedangkan hadits yang rajih menjadi maqlub dan hadits yang marjuh menjadi hadits dzast atau mungkar.

 

Sebagaimana Idraj, ada yang terjadi pada sanad dan ada juga yang terjadi pada matan, demikian juga idlthirab ini adakalanya pada sanad dan ada kalanya pada matan. Bahkan ada yang terjadi pada sanad dan matan sekaligus.

 

1) Matan

 

Adapun yang terjadi pada matan seperti hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas r.a. tentang bacaan basmalah pada surat al-Fatihah ketika shalat.

 

Bentuk matan pertama :

 

كانوا يفتتحون الصلاة ب { الحمد لله رب العالمين } , bentuk matan ini sama dengan yang diriwayatakan oleh Bukhari :

 

صحيح البخاري – (ج 3 / ص 186)

 

حدثنا حفص بن عمر قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يفتتحون الصلاة بالحمد لله رب العالمين

 

Riwayat yang lain yang sama (pendukung atau penguat) diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad.

 

سنن أبي داود – (ج 2 / ص 435)

 

حدثنا مسلم بن إبراهيم حدثنا هشام عن قتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين

 

سنن الترمذي – (ج 1 / ص 416)

 

حدثنا قتيبة حدثنا أبو عوانة عن قتادة عن أنس قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر وعثمان يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين

 

سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 41)

 

حدثنا محمد بن الصباح أنبأنا سفيان عن أيوب عن قتادة عن أنس بن مالك ح و حدثنا جبارة بن المغلس حدثنا أبو عوانة عن قتادة عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين

 

مسند أحمد – (ج 24 / ص 99)

 

حدثنا إسماعيل حدثنا سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين

 

مسند أحمد – (ج 24 / ص 238)

 

حدثنا يحيى عن هشام حدثنا قتادة عن أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وعثمان كانوا يفتتحون القراءة بالحمد لله رب العالمين

 

Adapun bentuk matan kedua :

 

كانوا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم , bentuk matan ini sama dengan yang diriwayatkan oleh Hakim, Daruqutni dan Ibnu Hibban :

 

المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 2 / ص 373)

 

ما حدثني أبو بكر مكي بن أحمد البردعي ، ثنا أبو الفضل العباس بن عمران القاضي ، ثنا أبو جابر سيف بن عمرو ، ثنا محمد بن أبي السري ، ثنا إسماعيل بن أبي أويس ، ثنا مالك ، عن حميد ، عن أنس ، قال : صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم ، وخلف أبي بكر ، وخلف عمر ، وخلف عثمان ، وخلف علي ، فكلهم كانوا « يجهرون بقراءة بسم الله الرحمن الرحيم » .

 

سنن الدارقطني – (ج 3 / ص 289)

 

حدثنا عمر بن الحسن بن على الشيبانى أخبرنا جعفر بن محمد بن نصير حدثنا أبو الطاهر أحمد بن عيسى حدثنا ابن أبى فديك عن ابن أبى ذئب عن نافع عن ابن عمر قال صليت خلف النبى -صلى الله عليه وسلم- وأبى بكر وعمر رضى الله عنهما فكانوا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم

 

صحيح ابن حبان – (ج 5 / ص 106)

 

أخبرنا عبد الله بن قحطبة بفم الصلح قال حدثنا العباس بن عبد الله الترقفي قال حدثنا محمد بن يوسف قال حدثنا سفيان عن سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضوان الله عليهما لم الريح يجهرون ب بسم الله الرحمن الرحيم وكانوا يجهرون ب الحمد لله رب العالمين ذكر البيان بأن قول المرء في صلاته آمين يغفر له ما تقدم من ذنبه إذا وافق ذلك تأمين الملائكة .

 

Dan bentuk matan ketiga :

 

كانوا لا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم, bentuk matan ini sama dengan yang diriwayatkan oleh Ahmad, Daruqutni, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.

 

مسند أحمد – (ج 25 / ص 426)

 

حدثنا وكيع حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وخلف أبي بكر وعمر وعثمان وكانوا لا يجهرون ببسم الله الرحمن الرحيم

 

سنن الدارقطني – (ج 3 / ص 332)

 

حدثنا على بن عبد الله بن مبشر حدثنا أحمد بن سنان حدثنا زيد بن الحباب أخبرنى شعبة بن الحجاج حدثنا قتادة قال سمعت أنس بن مالك يقول صليت خلف رسول الله -صلى الله عليه وسلم- وأبى بكر وعمر وعثمان رضى الله عنهم فلم يكونوا يجهرون ب (بسم الله الرحمن الرحيم) 1/316

 

صحيح ابن حبان – (ج 5 / ص 105)

 

أخبرنا محمد بن أحمد بن أبي عون قال حدثنا هارون بن عبد الله الحمال قال حدثنا يحيى بن آدم قال حدثنا سفيان عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن أنس قال وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر رضوان الله عليهما لا يجهرون بسم الله الرحمن الرحيم

 

صحيح ابن خزيمة – (ج 2 / ص 329)

 

نا أحمد بن أبي شريح الرازي ، حدثنا سويد بن عبد العزيز ، حدثنا عمران القصير ، عن الحسن ، عن أنس بن مالك ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان « يسر بـبسم الله الرحمن الرحيم ) .

 

2) Sanad

 

Menurut pengarang al-Nuzhatu al-Nadhar (syarah Nukhbatul al-Fikr) bahwa pada matan itu sedikit sekali terjadi tanpa adanya idlthirab pada sanad.

 

Sebagian ’ulama berpendapat bahwa para ahli hadits pada umumnya tidak menamai suatu hadits dengan mudltharib kalau idlthirabnya tidak terjadi pada sanad. Andai kata idlthirabnya terjadi pada matan, maka hal itu menjadi tugas para mujtahid untuk membicarakannya, bikan tugas para muhaddits. Sebab tugas para muhaddits, hanya terbatas pada sanad saja.

 

Contoh hadits mudltharib pada sanad ialah Abu Bakar r.a. yang menanyakan kepada Rasulullah SAW. Apa yang menyebabkan beliau berubah. Katanya :

 

”Ya Rasulullah aku telah memperhatikan engkau telah beruban? Jawab Rasulullah yang telah menyebabkan saya beruban ialah surat Hud dan saudara-saudaranya (surat Al-Waqi’ah, Al-Haqqa dan Al-Ma’arij) :

 

يا رسول الله ، قد شبت ، قال : شيبتني هود وأخواتها

 

Menurut Daruqutni bahwa hadits tersebut adalah mudltharib sebab hadits itu hanya melalui jalan (sanad) Ibnu Ishaq As-Sabi’i. Dan dari jalan itu banyak terdapat perbedaan sampai kurang lebih sepuluh macam perbedaan. Antara lain, hadits itu diriwayatkan dengan mursal, sementara ada yang meriwayatkan dengan muttasil.

 

Para ‘ulama ada juga yang memperselisihkan sanadnya, sebagian mengatakan bahwa hadits itu bersumber dari ‘Ikrimah dari Abu Bakar, sebagian mendakwakan dari Al-Barra dari Abu Bakar dan ada pula mengatakan dari Al-Qamah dari Abu Bakar. Ada juga mengatakan sanadnya dari sahabat Sa’ad r.a. sebagian juga dari ‘Aisyah r.a. Menurut Ibnu Hajar, rawi-rawi itu adalah orang-orang yang tsiqah yang tidak mungkin ditarjih salah satunya, sebagian lagi mengatakan dari Abu Maisarah dari Abu Bakar, Sebagian mengatakan dari Ibnu Juhaifah dari Abu Bakar.

 

Menurut Ibnu Hajar, rawi-rawi itu adalah orang-orang yang tsiqah yang tidak mungkin ditarjih salah satunya.

 

Adapun dari ‘Ikrimah dari Abu Bakar :

 

سنن الترمذي – (ج 11 / ص 106)

 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ عَنْ شَيْبَانَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عِكْرِمَة َ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ شِبْتَ قَالَ شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالْمُرْسَلَاتُ وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ.

 

الشمائل المحمدية للترمذي – (ج 1 / ص 46)

 

حدثنا أبو كريب محمد بن العلاء قال : حدثنا معاوية بن هشام ، عن شيبان ، عن أبي إسحاق ، عن عكرمة ، عن ابن عباس قال : قال أبو بكر : يا رسول الله ، قد شبت ، قال : « شيبتني هود ، والواقعة ، والمرسلات ، وعم يتساءلون ، وإذا الشمس كورت »

 

المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 7 / ص 453)

 

حدثني أبو عمرو محمد بن جعفر بن محمد بن مطر ، وأنا سألته ، قال : حدثني أبو محمد جعفر بن أحمد بن نصر الحافظ ، ثنا أبو كريب ، ثنا معاوية بن هشام ، عن شيبان ، عن أبي إسحاق ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، قال : قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه لرسول الله صلى الله عليه وسلم : أراك قد شبت . قال : « شيبتني هود والواقعة وعم يتساءلون وإذا الشمس كورت » « هذا حديث صحيح على شرط البخاري ولم يخرجاه »

 

Sebagian mengatakan dari Ibnu Juhaifah dari Abu Bakar :

 

الشمائل المحمدية للترمذي – (ج 1 / ص 47)

 

حدثنا سفيان بن وكيع قال : حدثنا محمد بن بشر ، عن علي بن صالح ، عن أبي إسحاق ، عن أبي جحيفة قال : قالوا : يا رسول الله ، نراك قد شبت ، قال : « قد شيبتني هود وأخواتها

 

المعجم الكبير للطبراني – (ج 15 / ص 498)

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن عَبْدُوسِ بن كَامِلٍ، ومُحَمَّدُ بن عُثْمَانَ بن أَبِي شَيْبَةَ، قَالا: ثنا مُحَمَّدُ بن عَبْدِ اللَّهِ بن نُمَيْرٍ، ثنا مُحَمَّدُ بن بِشْرٍ، عَنْ عَلِيِّ بن صَالِحٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ ، قَالَ: قَالُوا:يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ، قَالَ: شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُها.

 

مسند أبي يعلى الموصلي – (ج 2 / ص 355)

 

حدثنا محمد بن عبد الله بن نمير ، حدثنا محمد بن بشر ، حدثنا علي بن صالح ، عن أبي إسحاق ، عن أبي جحيفة قال : قالوا : يا رسول الله ، قد شبت . قال : « شيبتني هود وأخواتها

 

Adapun periwayatan yang lain :

 

المعجم الكبير للطبراني – (ج 5 / ص 427)

 

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بن أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بن الْحَسَنِ الْوَرَّاقُ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بن سَلامٍ الْعَطَّارُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بن مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بن سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”شَيَّبَتْنِي هُودٌ وأَخَوَاتُهَا: الْوَاقِعَةُ، وَالْحَاقَّةُ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

 

المعجم الكبير للطبراني – (ج 11 / ص 334)

 

حَدَّثَنَا مُوسَى بن جُمْهُورٍ ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بن عَمَّارٍ ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، نا زَكَرِيَّا بن أَبِي زَائِدَةَ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ مَسْرُوقٍ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ , قَالَ : شَيَّبَتْنِي : الْوَاقِعَةُ ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ وَ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ ، لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ مَسْرُوقٍ ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ ، إلا زَكَرِيَّا بن أَبِي زَائِدَةَ ، تَفَرَّدَ بِهِ : أَبُو مُعَاوِيَةَ.

 

المعجم الكبير للطبراني – (ج 12 / ص 253)

 

حدثنا مُحَمَّدُ بن مُحَمَّدٍ التَّمَّارُ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا لَيْثُ بن سَعْدٍ، عَنْ يَزِيدَ بن أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنْ عُقْبَةَ بن عَامِرٍ، أَنَّ رَجُلا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شِبْتَ؟ قَالَ:”شَيَّبَتْنِي هُودٌ وَأَخَوَاتُهَا”.

 

شعب الإيمان للبيهقي – (ج 5 / ص 447)

 

أخبرنا أبو عبد الرحمن السلمي ، سمعت أبا علي السري ، يقول : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله روي عنك أنك قلت : « شيبتني هود » قال : « نعم » فقلت : ما الذي شيبك منه قصص الأنبياء وهلاك الأمم ؟ قال : « لا ، ولكن قوله ( فاستقم كما أمرت ) ».

 

Hadits mudltharib itu ditetapkan kedla’ifannya berdasarkan pada banyaknya tetapi berbeda. Oleh karena itu tidak mustahil ada hadits mudltharib yang sahih atau hasan.

 

Hadits mudlhtarib dihukumi dla’if karena banyaknya periwayatan yang berbeda sehingga berindikasi tidak adanya kedlhobitan perawimya. Dan kedlhobitan merupakan syarat terpenuhinya hadits sahih dan hasan .

 

Menurut hemat penulis bahwa mudltharib itu pada dasarnya terjadi pada matan, karena adanya penambahan dan pengurangan kata atau kalimat yang berbeda dengan yang lainnya. Dan jika terjadi ildhtirab sanad itu merupakan bagian pembahasan ilal dalam sanad yang sudah dibahas sebelumnya.

 

Catatan :

 

Idltirab terkadang menjadi bagian dari shahih, hal itu adanya perbedaan nama seorang rawi dan ayahnya serta penisbatannya dll. Akan tetapi, perawi itu sendiri adalah tsiqah. Maka dihukumi hadits shahih dan perbedaan itu tidak sampai mencacatkan, meskipun disebut sebagai hadits mudltharib.

 

Di dalam kitab shihain (Bukhari dan Muslim) banyak sekali contoh hadits seperti itu. Begitu juga Al-Sarkasyi berpendapat dalam kitab mukthasarnya bahwa terkadang qalbu, dzudzuz dan idlthirab masuk dalam lingkup pembagian shahih dan hasan.

 

2.1.3. Cara mengetahui syudzudz

 

Parameter yang dipergunakan dalam analisis syudzudz adalah dengan menggunakan dalil naql (al-Quran dan al-Hadis). Sedangkan salah satu metode menentukan ada atau tidaknya syudzudz dalam suatu hadis dapat dengan cara mendatangkan hadis yang satu tema atau hadis yang sama namun dari jalur lain untuk diperbandingkan. Sehingga dibutuhkan kemampuan yang lebih untuk mengetahui semua jalur sanad hadis-hadis yang serupa. Jika, setelah semua jalur sanad terkumpul maka tindakan selanjutnya adalah meneliti satu-persatu dengan membandingkan satu sama lainnya, mencari yang lebih tsiqoh diantara yang tsiqoh (sebagaimana telah diberian contoh pada pembahasan sebelumnya). Sehingga pada akhirnya, kita dapat menentukan mana yang lebih tsiqoh sebagai hadis mahfudz dan yang tsiqoh menyalahi yang lebih tsiqo sebagai hadis syadz.

 

2.1.4. Hukum Hadis Syadz

 

Hukum hadis syad adalah hadis-hadis yang tertolak. Dan tidak bisa dijadikan sandaran hokum. Adapun yang bisa dijadikan sandaran hokum adalah kebalikan dari hadis syad (mahfudl), apabila keduanya bisa dikumpulkan maka hukum keduanya bisa diterima .

 

2.1.5. Pembahasan Ilmu Mukhtalafil Hadis

 

2.1.5.1. Pengertian Ilmu Mukhtalafil Hadis

 

Yang disebut dengan ilmu mukhtalafil hadis menurut Fachtur Rahman ialah ilmu yang membahas hadis-hadis yang menurut lahirnya saling berlawanan, untuk menghilangkan perlawanannya itu atau mengkompromikan keduanya, sebagaimana halnya membahas hadis-hadis yang sukar dipahami atau diambil isinya, untuk menghilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakikatnya .

 

Sebagian ulama menamai ilmu ini dengan ilmu Musykilul-Hadis, ada juga yang menamai dengan ilmu Ta’wilul-Hadis dan sebagian yang lain manamainya dengan ilmu Talfiqul-Hadis.

 

Yang menjadi obyek ilmu ini ialah hadis-hadis yang saling berlawanan itu, untuk dikompromikan kandunganya maupun dengan mngkhususkan (takhsihs) keumumannya dan lain sebagainya, atau hadis-hadis yang musykil, untuk dita’wilkan, hingga hilang kemusykilannya, walaupun hadit-hadis musykil ini tidak saling berlawanan.

 

2.1.5.2. Pentingnya Ilmu Mukhtalafil Hadis

 

Ilmu mukhtalafil hadis termasuk salah satu dari ilmu-ilmu hadis yang sangat diperlukan oleh para muhadditsin, fuqaha dan lainnya. Bagi seseorang yang hendak memetik hukum dari dalil-dalilnya hendaklah mempunyai pengetahuan yang mendalam, pemahaman yang kuat, mengetahui keumuman dan kekhusuannya, mengenal akan kemutlakan dan kemuqayyadannya dalil-dalil tersebut. Ia tidak cukup menghafal hadis-hadis, sanad-sanadnya dan lafadz-lafadznya tanpa mengetahui ketentuan-ketentuannya dan tanpa memahaminya dengan sebenar-benarnya.

 

2.1.5.3. Cara-cara men-talfiq-kan

 

Usaha untuk mengumpulkan dua buah hadis yang nampaknya saling berlawanan maknanya itu disebut “talfiqul-hadis”. Jika dua buah hadis yang berlawanan itu dapat ditalfiqkan maknanya, maka tidak dibenarkan hanya diamalkan salah satu dari keduanya, sedang yang lain ditinggalkan.

 

Cara-cara mentalfiqnya adakalanya dengan men-takhshis-kan hadis yang umum, men-taqyid-kan hadis yang mutlak dan adakalnya dengan memilih sanadnya yang lebih kuat atau yang lebih banyak jalan datangnya.

 

Sebagai contoh dua buah hadis shahih yang maknanya berlawanan menurut lahirnya, tetapi dapat dikumpulkan, ialah seperti hadis Abu Hurairah r.a yang mengabarkan:

 

صحيح البخارى و مسلم.

 

وَقَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم- « لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

 

Kalimat matan : لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ (Tidak ada penularan, ramalan jelek, penyusupan (inkarnasi) roh orang yang telah meninggal ke burung hantu…) .

 

Dalam mengkompromikan kedua hadis tersebut terdapat 4 (empat) macam pendapat dari para Muhadditsin:

 

1). Penyakit itu tidak menular dengan sedirinya. Tetapi Allah-lah yang menularkannya dengan perantara adanya percampuran antara orang sakit dengan orang yang sehat, melalui sebab-sebab yang berbeda-beda. Penta’wilan ini dikemukakan oleh Ibnu Sholah.

 

2). Ketiadaan penularan tersebut adalah suatu ketentuan yang sudah tetap dan bersifat umum; sedang perintah lari dari oraang yang menderita suatu penyakit adalah sebagai saddu’dza-dzaria’ah (menutup adanya kemungkinan bahaya), agar tidak bertemu terhadap apa yang dicampurinya itu fengan takdir Allah semula, bukan penularan yang dianggap tidak ada itu. Yang demikian itu diduganya karena pencampuran, hinga ia harus mempercayai adanya penularan itu benar. Perintah untuk menjauhi itu, adalah dari segi materi belaka. Demikian analisa yang dipilih oleh Syaikhul-Islam.

 

3). Ketetapan adanya penularan dalam peyakit lepra dan semisalnya itu, adalah merupakan kekhususan bagi ketiadaan penularan. Dengan demikian arti rangkaian kalimat “la ‘adwa” (tidak ada penularan) itu, kecuali penyakit lepra dan semisalnya. Jadi seolah-olah Rasulullah saw, bersabda: “Tak ada suatu penyakit pun yang menular, selain apa yang telah kami terangkan saja yang menular. Penfapat semacam ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh al-Qodly Abu Bakar al-Baqilany.

 

4). Perintah lari dari penyakit itu, adalah untuk menenggang rasa keparahan orang yang sedang menderita penyakit lepra. Sebab orang yang berpenyakit lepara itu bila melihat orang-orang yang sehat, ia akan meras lebih berat penderitaannya dan bertambah merana hatinya. Analisa yang semacam ini adalah sesuai dengan sabda Rasulullah saw:

 

« لاَ تُدِيمُوا إِلَى الْمَجْذُومِينَ النَّظَرَ »

 

“Jangan lama-lama kamu memandang orang-orang yang menderita penyakit lepra”.

 

Di antara penta’wilan tersebut, penta’wilan Ibnu Sholah merupakan penta’wilan yang kuat. Sebab sesuai dengan ilmu kesehatan, bahwa penyakit yang menular itu dapat berpindah kepada orang lain melalui beberapa sebab. Sebab-sebab itu berbeda-beda sebagaimana halnya pengaruh perpindahan kepada orang lain pun berbeda-beda, menurut kondisi dan dan kekuatan badan masing-masing orang. Orang lemah badannya akan lebih mudah dari pada orang yang kuat badannya.

 

Makna hadis tersebut, menurut lahirnya, bertentangan dengan makna hadis riwayat Bukhori: وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ (Larilah dari orang yang menderita lepra, sebagaimana kamu lari dari singa…).

 

2.1.5.4. Promotor dan kitab-kitab Mukhtalafil Hadis

 

Ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu mukhtalafil hadis ini, ialah imam Asy-Syafi’iy. Ada sebagian ulam yang menyatakan bahwa imam Syafi’iy itu tidak ada maksud untuk menjadikan ilmu itu berdiri sendiri, tetapi beliau hanya menulisnya dalam membahas masalah-masalah dalam kitab beliau al-Umm. Kritikan tersebut tidak tepat, sebab di samping beliau mengutarakan hadis mukhtalif di dalam kitab al-Umm, juga menyusun sendiri dalam kitab tertentu dengan nama Mukhtalaful hadis. Kitab tersebut dicetak di bagian pinggiran (hamisy) juz ke-VII dari kitab al-Umm.

 

Setelah munculnya kitab Mukhtalafil Hadis oleh imam Asy-Syafi’iy, maka lahirlah kitab-kitab seperti:

 

1. Ta’wilu Mukhtalafil Hadis, karya al-Hafidz ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dainury (213 – 276 H).

 

2. Musykilul Atsar, karya imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad at-Thohawy (139 – 321 H)

 

3. Musykilul Hadis wa Bayanuhu, karya al-Muhaddits Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan (Ibnu Furak) al-Anshory al-Asbihany (wafat tahun 406 H).

 

2.1.6. Ilmu Nasikh wal Manskhuh

 

2.1.6.1. Pengertian Ilmu Nasikh wal Manskhuh

 

Ilmu pengetahuan yang membahas tentang hadis yang datang terkemudian sebagai pengahapus terhadap ketentuan hukum yang berlawanan dengan kandungan hadis yang datang lebih dahulu disebut ilmu Nasikh wal Manskhuh.

 

Para muhadditsin memberikan definisi ilmu itu secara lengakap ialah: “Ilmu yang membahas hadis-hadis yang saling berlawanan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum yang terdapat pada sebagiannya, karena ia sebagai nasikh (penghapus) terhadap hukum yang terhadap pada sebagian yang lain, karena ia sebagai mansukh (yang dihapus). Karena itu hadis yang mendahului adalah sebagai mansukh dan hadis yang terakhir adalah sebagai nasikh .

 

2.1.6.2. Faedahnya

 

Mengatahui ilmu Nasikh wal Manskhuh adalah termasuk kewajiban yang penting bagi orang-orang yang memperdalam ilmu-ilmi syari’at. Karena seorang pembahas ilmu syari’at tidak akan dapat memetik hukum dari dalil-dalil nash, dalam kaitan ini adalah hadis, tanpa mengetahui dalil-dalil nash yang sudah dinaskh dan dalil-dalil yang menasakhnya.

 

Atas dasar itulah al-Hazimy berkata: ilmu ini termasuk sarana penyempurna ijtihad. Sebab sebagaimana diketahui bahwa rukun utama di dalam melakukan ijtihad itu adalah adanya kesanggupan untuk memetik hukum dari dalil-dalil naqli (nash) dan menukil dari dalil-dalil naqli itu haruslah mengenal pula dalil yang sudah dinasakh atau dalil yang menasskhkannya.

 

Memahami khitob hadis menurut arti yang tersurat adalah mudah dan tidak banyak mengorbankan waktu. Akan tetapi yang menimbulkan kesukaran adalah mengistimbatkan hukum dari dalil-dalil nash yang tidak jelas penunjukannya. Di antara jalan untuk mentahqiqkan (mempositifkan) ketersembunyian arti yang tidak tersurat itu ialah mengetahui mana dalil yang terdahulu dan mana pula dalil yang terkemudian dan lain sebagainya dari segi makna.

 

2.1.6.3. Cara-cara untuk mengetahui nasakh

 

Jalan-jalan untuk mengetahui adanya nasakh suatu hadis itu antara lain:

 

1). Dengan penjelasan dari nash atau dari syari’ sendiri, yang dalam hal yang terakhir itu ialah Rasulullah saw peribadi. Misalnya sabda Nabi saw:

 

صحيح مسلم

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى – وَاللَّفْظُ لأَبِى بَكْرٍ وَابْنِ نُمَيْرٍ – قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِى سِنَانٍ – وَهُوَ ضِرَارُ بْنُ مُرَّةَ – عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِىِّ فَوْقَ ثَلاَثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ

 

“Konon aku pernah melarangmu menziarahi kubur. Kemudian ziarahilah. Dan konon aku pernah melarang makan daging binatang kurban selama lebih tiga hari, kemudian makanlah sesukamu”.

 

Larangan menziarahi kubur telah dinasakh dengan nash yang terdapat dalam matan hadis itu sendiri, yakni kalimat: “fazuruha”, demikian pula halnya larangan makan daging binatang kurban telah dinasakh dengan nash yang terdapat dalam rangkaian hadis itu sendiri, yakni kalimat: “fakulu”.

 

2). Dengan penjelasan dari sahabat.

 

Misalnya seperti kata Jabir r.a. :

 

سنن النَسائى

 

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ آخِرَ الأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَرْكُ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ

 

“Yang terakhir dari dua kejadian yang berasal dari Rasulullah saw, ialah meninggalkan wudlhu bekas tersentuh api”.

 

3). Dengan mengetahui tarikh keluarnya hadis.

 

Misalnya hadis Syaddad:

 

سنن أبى داود ورواه غيره

 

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ أَبِى الأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِالْبَقِيعِ وَهُوَ يَحْتَجِمُ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِى لِثَمَانَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ فَقَالَ « أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

 

“Batallah puasa orang yang membekam dan orang yang dibekam”.

 

Menurut imam Syafi’iy, hadis di atas telah dinasakh oleh hadis Ibnu ‘Abbas r.a:

 

صحيح البخارى

 

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عـَبَّـاسٍ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – احْتَجَمَ ، وَهْوَ مُحْرِمٌ وَاحْتَجَمَ وَهْوَ صَائِمٌ

 

“Bahwa Rasulullah saw, pernah berbekam padahal beliau sedang ihram dan berpuasa”.

 

Disebabkan karena hadis Syaddad tersebut disabdakan oleh Nabi pada tahun 8 Hijriah, yakni saat-saat dikuasainya kembali kota Mekkah, sedang hadis Ibnu Abbas disabdakan pada tahun 10 Hijriah, yakni pada haji wada’. Jadi, hadis Ibnu abbas tersebut sebagai nasikh dan hadis Syaddad sebagai hadis mansukh.

 

2.1.6.4. Perhatian ulama terhadap ilmu Nasikh wal Manskhuh

 

Para ulama banyak yang menaruh perhatian khusus dalam ilmu ini. Imam Syafi’iy adalah termasuk ulama yang mempunyai keahlian dalam ilmu nasikh wal manskhuh. Hal itu kita ketahui berdasarkan wawancara imam Ahmad dengan Ibnu Warih yang baru saja datang dari Mesir. Kata imam Ahmad: “Apakah kamu telah kutip tulisan-tulisan imam Syafi’iy ? “Tidak”, jawabnya. “Celakalah kamu”, bentak imam Ahmad”, kamu tidak dapat mengetahui dengan sempurna tentang mujmal dan mufassar serta nasikh dan mansukhnya suatu hadis sebelum kita semua ini duduk berguru dengan imam Syafi’iy.”

 

Pemimpin kita ‘Ali bin Abi Tholib r.a pernah bertemu dengan seorang qadli, lalu ditanyakan sang qadli itu. “ Apakah kamu mengenal nasikh dan mansukhnya suatu hadis? “Tidak”, jawab qadli itu. “ Celakalah dirimu dan membuat pula celaka orang lain”, bentaknya.

 

Kata az-Zuhry: “ Mengetahui nasikh dan mansukhnya suatu hadis adalah merupakan usaha yang memayahkan dan menghabiskan energi para fuqaha.

 

2.1.6.5. Kitab-kitab Nasikh dan Mansukh

 

Sebenarnya ilmu nasikh wal manskhuh itu sudah ada sejak pendewanan hadis pada awal abad pertama, akan tetapi belum muncul dalam bentuk ilmu yang beridri sendiri. Kelahirnya sebagai ilmu dipromotori oleh Qatadah bin Di’amah As-Sudusy (61 – 118 H) dengan tulisan beliau yang diberi judul “An-nasikh wal manskhuh”. Hanya perlu disayangkan bahwa kitab tersebut tidak bias kita manfaatkan, lantaran tiada sampai pada kita.

 

Pada tahun-tahun yang berada di antara abad kedua dan ketiga, bangunlah ulama-ulama untuk manulis kitab nasikh yang masyhur di abad ini adalah kitab Nasikhul-Hadis wa Mansukhuhu, buah karya Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (261 H), rekan imam Ahmad. Kitab yang terdiri dari 3 juz kecil-kecil.

 

Adapun kitab Nasikhul-Hadis wa Mansukhuhu , karya muhaddits Iraq, Abu Hafshin bin Ahmad Al-Bagdady, yang lebih populer dengan nama Ibnu Syhin (297 – 385) adalah kitab nasikh dan mansukh abad keempat yang sampai dan dapat kita manfaatkan. Kitab itu terdiri dari dua buah naskah tulisan tangan (manuskrip). Yang sebuah berada di perpustakaan Ahliyah (nasional) di Paris dan yang sebuah lagi disimpan di perpustakaan Escorial (Spanyol).

 

Kemudian setelah itu keluarlah kitab “Al-I’tibar fi-Nasikh “wa’l-Mansukh min al-Atsar”, karya Al-Hafidz Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimy (548 – 584). Beliau memanfaatkan usaha ulama-ulama yang terdahulu dalam ilmu ini, sehingga kitab yang disusunnya sudah mencakup seluruh buah pikiran ulama-ulama itu. Sistematisnya diatur menurut bab-bab fiqiyah. Pada setiap fiqiyah dikemukakan hadis-hadis yang nampaknya berlawanan itu dengan tidak mengabaikan pendapat-pendapat dari para ulama dan sekaligus nasikh dan mansukhnya.

 

Tidak sedikit pula kita dapatkan pendapat beliau sendiri dalam merajihkan suatu pendapat atas pendapat yang lain. Pada tahun 1319 H. kitab itu dicetak di India, kemudian pada tahun 1346 H, dicetak di Kairo dan pad tahun yang sama dicetak di Halab dengan tahqiq syaikh Raghib Ath-Thabakhy al-Halaby.

 

2.2. Pembahasan ‘Illat

 

2.2.1. Pengertian ‘Illat

 

Yang disebut ‘illat adalah suatu hadis menurut istilah Muhadditsin ialah; “Suatu sebab yang tersembunyi yang dapat membuat cacat suatu hadis yang nampaknya tiada cacatnya”.

 

Kajian ‘illat ini adalah merupakan kajian tersendiri dalam mengkaji suatu hadis, sehingga melahirkan bagian dari ilmu hadis lain yang disebut dengan ilmu ilalu’l-hadis.

 

Adapun ilmu ‘ilalu’l-hadis adalah ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi membuat kecacatan suatu hadis. Seperti me-muttashil-kan (menganggap bersambung) sanad suatu hadis yang sebenarnya sanad itu munqathi’ (terputus), me-rafa’-kan (mengangkat sampai Nabi berita yang mauquf (yang berakhir kepada sahabat), menyisipkan suatu hadis pada hadis yang lain, mempersulit sanad dengan matannya atau lain sebagainya.

 

Dapatlah dimengerti betapa sulitnya meneliti apakah sanad suatu hadis itu, adalah muttashil atau munqathi, marfu’ atau mursal dan seterusnya, jika seseorang itu tidak mempunyai pengetahuan yang banyak dan memadai tentang biografi dari rawi-rawi itu atau tidak menemukan sanad-sanad lain yang dapat dijadikan bahan perbandingan atau tidak banyak mempunyai hafalan matan hadis.

 

Ilmu yang paling mulia ini merupakan induk dari ilmu-ilmu hadis. Tidak banyak muhadditsin yang mempunyai keahlian dalam ilmu ini kecuali beberapa orang saja. Mereka yang sedikit itu antara lain ialah : Ibnu al-Madini, Ahmad, Al-Bukhari, Ya’qub bin Abi Syaibah, Abu Hatim, Abu Zur’ah, At-Tirmidzi dan Ad-Daruqutnhi.

 

Jika pada suatu hadis ditemukan ada ‘illatnya, menjadilah hadis itu hadis dlhaif, oleh karena itu tidak dapat dipakai untuk berhujjah dalam menetapkan suatu hukum. Dengan demikian kegunaan mempelajari ilmu ini adalah untuk menetapkan apakah hadis itu dapat diterima (makbul) atau ditolak (mardud). Adapun tempat-tempat ‘illat itu terdapat pada sanad, matan dan keduanya secara bersama.

 

2.2.2. Macam-macam ‘Illat

 

2.2.2.1. ‘Illat pada sanad

 

‘Illat yang terdapat di dalam sanad itu lebih banyak terjadi jika dibandingkan dengan ‘illat yang terdapat pada matan. Ia adakalnya menjadikan cacat pada sanadnya saja, tidak sampai mencacatkan matannya dan adakalnya kecacatannya itu merembet kepada matannya. ‘Illat pada sanad yang hanya berpengaruh pada sanadnya saja itu dapat diketahui apabila hadis tersebut juga diriwayatkan oleh rawi lain dengan sanad lain yang shahih. Misalnya sabda Rasulullah saw:

 

Keterangan:

 

Jika hadis tersebut kita ambil sanad Makhlad Bin Yazid dari Sufyan At-Tsaury dari ‘Amr bin Dinar dari Ibnu ‘Umar r.a , tahulah kita bahwa hadis tersebut sanadnya muttashil dan rawinya tsiqoh namun masih ber’illat (cacat). ‘Illatnya terletak pada adanya kekeliruan Makhlad bin Yazid dalam menyandarkan periwayatannya kepada Sufyan dari ‘Amr bin Dinar. Diketahui adanya kekeliruan itu setelah diadakan perbandingan dengan sanad lainnya. Yaitu sanad-sanad Qutaibah bin Sa’id , Muhammad bin Yusuf dan Al-Fadhlu bin Dukain . Mereka meriwayatkan melalui Sufyan At-Tsauri, Abdullah bin Dinar dan Ibnu ‘Umar r.a.

 

Dengan itu, nyatalah bahwa sanad Makhlad bin Yazid itu ber’illat. Karena ia menyandarkan periwayatannya dari ‘Amr bin Dinar padahal sebenarnya dari Abdullah bin Dinar. Meskipun sanad Makhlad ber’illat namun matannya shahih. Karena sama dengan matan hadis yang diriwayatkan oleh sanad-sanad lain yang tidak ber’illat (shahih).

 

‘Illat pada sanad yang membawa pengaruh kepada kecacatan matannya itu terjadi antara lain kalau ‘illat itu disebabkan karena me-mauquf-kan (memangkas pemberitaan hanya kepada sahabat), meng-irsal-kan (membuang sahabat pada sanad) tau me-mungqhoti’-kan (menggugurkan salah seorang rawi yang menjadi sanadnya).

 

‘Illat pada sanad yang membawa pengaruh kepada cacatnya matan hadis itu banyak terjadi. Misalnya:

 

2.2.2.2. ‘Illat pada matan

 

’Illat pada matan tidak sebanyak ‘illat pada sanad. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Tuhman

 

إذا استيقظ أحدكم من منامه فليغسل كفيه ثلاث مرات قبل أن يجعلهما في الإناء فإنه لايدري أين باتت يده

 

“Apabila seseorang dari kamu bangun dari tidur, cucilah kedua telapak tangannya 3 kali sebelum dimasukkannya ke tempat air wudu’. Sebab ia tidak mengetahui ke mana tangannya semalam.”

 

ثم ليغترف بيمينه من إناءه ليصب على شماله مقعدته

 

Kemudian hendaklah menciduk dengan tangan kanannya untuk dituang ke tangan kirinya, sesudah itu lalu cucilah pantatnya

 

Hadis Ibrahim bin Tuhman yang melalui jalur sanad Hisyam bin Hisan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah ra dan yang bersanad Suhail bin Abu Shalih dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra dianggap mempunyai ‘‘illat pada matannya. Sebab menurut Abu Hatim al-Razi, kalimat “thumma liyaghtarifa…” sampai akhir adalah perkataan Ibrahim sendiri. Ia menyambung perkataan itu pada akhir matan hadis sehingga orang-orang tidak bisa membedakan apakah itu termasuk matan hadis sebenarnya ataukah tambahan darinya. Hal ini diketahui setelah dibandingkan dengan matan hadis riwayat Bukhari dan Tirmidzi seperti di atas.

 

Perkataan seorang periwayat yang disisipkan pada suatu matan hadis disebut idraj. Apabila periwayat menjelaskan bahwa sisipan atau tambahan itu adalah untuk menjelaskan matan hadis, maka tidak termasuk ‘illat. Namun bila dimaksudkan sebagai matan, maka idraj tersebut termasuk ‘illat.

 

2.2.2.3. Ilat pada sanad dan matan

 

Contohnya hadis yang diriwayatkan oleh Baqiyyah bin al-Walid

 

من أدرك من صلاة الجمعة فقد أدرك

 

”Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Jumu‘ah maka berarti ia mendapatkan shalat itu dengan sempurna.” من أدرك من صلاة فقد أدرك

 

”Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat maka berarti ia mendapatkan shalat itu dengan sempurna”

 

Menurut Abu Hatim al-Razi; di dalam jalur sanad Baqiyyah bin al-Walid terdapat kekeliruan, ia mengatakan bahwa al-Zuhri menerima hadis dari Salim dari Ibn Umar, padahal yang benar adalah dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Hal ini diketahui setelah diadakan perbandingan dengan sanad-sanad yang lain seperti di atas.

 

Di samping mempunyai ‘illat pada sanadnya matan hadis Baqiyyah juga ber‘illat yaitu dengan adanya sisipan kata al-jumu‘ah yang tidak ada pada matan dari sanad yang lain. Sehingga hadis tersebut tidak shahih karena sanad dan matannya ma’lul (ber‘illat).

 

Macam-macam ‘Illat bila dilihat dari jenisnya bisa di bagi menjadi:

 

a. Me-muttasil-kan sanad hadis munqathi‘

 

b. Me-marfu’-kan hadis mursal

 

c. Meng-syadz-kan hadis yang mahfuz (keadaan hadis yang diriwayatkan dari seorang sahabat yang sudah tertentu)

 

d. Me-wahm-kan (menduga sahih) sanad hadis yang mahfuz

 

e. Meriwayatkan secara ‘an‘anah suatu hadis yang sanadnya telah digugurkan baik seorang atau beberapa orang, hal ini bisa dilakukan setelah diadakan perbandingan dengan hadis mahfuz

 

f. Adanya ketidaksamaan sanad dengan peng-isnad-an periwayat lain yang lebih tsiqah

 

g. Men-tadlis-shuyukh-kan hadis yang mahfuz (menyamarkan nama guru atau nama guru tidak sama dengan periwayat lain yang lebih tsiqah)

 

h. Men-tadlis-isnad-kan hadis yang mahfuz (meriwayatkan suatu hadis yang tidak pernah didengar dari gurunya)

 

i. Meng-isnad-kan secara wahm hadis yang sudah musnad (keadaan hadis sebenarnya telah mempunyai sanad tertentu, namun salah seorang periwayatnya meriwayatkannya dari sanad lain di luar sanad yang sudah tertentu berdasarkan dugaan (wahm)

 

j. Me-mawquf-kan hadis marfu‘

 

2.2.3. Cara mengetahui ‘illat:

 

2.2.3.1. Adanya perubahan titik (mushohhaf)

 

Mushahhaf menurut bahasa adalah isim maful dari kata “tashhif” yang artinya salah dalam tulisan, sedangkan menurut istilah “Mushahhaf adalah perobahan kalimat dalam hadits menyalahi riwayat tsiqah baik secara lafad atau makna . Pembagian Mushahhaf ada beberapa bagian dengan bermacam tinjauan.

 

1) Dengan meninjau mauqiinya (tempat) tashhif dibagi menjadi dua yaitu tashhif fi as-sanad dan fi al-matan

 

عن العوام بن مراجم عن أبى عثمان النهدى عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لتؤدن الحقوق الى أهلها

 

“Dari al-Awwam bin Murajim DART Abi Utsman al-Nandi dari Utsman bin Affan. R.a. berkata bahwa Rasulullah bersabda: Hendaknya tunaikan hak-hak kepada yang mempunyainya.”

 

Dalam sanad hadits ini ada nama al-Awwam bin Murajim, Yahya bin Ma’in mentashhif nama-Murajim (مراجم) dengan Muzahim (مزاحم)

 

ان النبى صلى الله عليه وسلم احتجر فى المسجد

 

“Bahwa Nabi telah mengamar (membuat kamar) dalam masjid”.

 

Hadits ini diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit, dalam matan hadits ini ada yang ditashhif oleh Abdullah bin Lahi’ah al-Mishry yaitu kata lhtajara (إحتجر) dengan kata ihtajama (إحتجم)

 

2) Dengan meninjau sebab terjadinya tashhif, tashhif menjadi dua bagian. yaitu Tashhif bashar dan sama’ .

 

Contoh:

 

إن النبى صلى الله عليه وسلم قال: من صام رمضان وأتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

 

“Nabi bersabda: Barang siapa yang herpuasa dihulan Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada hulan Syawal, maka ia seperti puasa sepanjang masa.”

 

Dalam hadits ini lafadz sittan (ستا) yang artinya enam, oleh Abu Bakar al¬Shuliy dirobah menjadi syai an (شيئا) yang artinya sedikit. hal ini terjadi karena jeleknya tulisan atau tulisannya tanpa titik.

 

حديث مروي عن “عاصم الأحوال”

 

Oleh sebagian ulama’ perawi Ashim al-Ahwal (عاصم الأحوال) ini diganti dengan Washil al-Ahdab(واصل الأحباب), hal ini timbul karena kurang sempurna pendengarannya, sehingga menyebabkan keserupaan beberapa kalimat dengan yang lain.

 

3) dengan meninjau lafadz dan maknanya tashhif ada dua bagian yaitu Tashhif fi al-lafdzi dan tashhif fi al-makna .

 

Contoh: untuk contoh tashhif fi al-afdzi sebagaimana contoh-contoh diatas. Sedangkan tashhif fi al-makna sebagai berikut:

 

أن النبى صلى الله عليه وسلم صلى الى العنزة

 

Artinya: “Bahwa Rasulullah bershalat pada anzah (tombak yang ditancapkan di kanan dan kiri untuk membatasi)”.

 

Dalam hadits ini terdapat lafadz al-’anzah (العنزة) , oleh Abu Musa al¬Mutsanna disangka makna al-’anzah itu adalah nama qabilah yang masyhur dinegeri Arab, yang ia juga masuk didalamnya, padahal yang dimaksud disisni adalah tombak yang ditancapkan di kanan dan kiri untuk membatasi.

 

2.2.3.2. Adanya perubahan huruf (muharraf)

 

Muharraf artinya yang dipalingkan atau yang diubah.Yang dikehendaki dalam pembahasan ilmu hadits adalah satu hadits yang harakat dan sukun dari huruf yang ada pada matan atau sanadnya, berubah dari asalnya. Umumnya para ulama hadits mendefinisikan:

 

“Hadits yang mengalami perubahan rupa huruf, yaitu berubah baris hidup dan baris mati”.

 

Atau definisi lain:

 

“Hadits yang mukhalafahnya (menyalahi dengan hadits riwayat orang lain), terjadi disebabkan perubahan syakal kata, namun masih tetapnya bentuk tulisannya”.

 

Contohnya:

 

عن جابر بن عبد الله قال : رمي أبى يوم الأحزاب على أكحله فكواه رسول الله صلى الله عليه وسلم

 

Dari Jabir ibn Abdillah, is berkata, “Ubai pernah dipanah dalam perang Ahzab, dan kena urat tangannya, lalu Rasulullah Saw kai (diobati dengan besi bakaran) dia”.

 

Keterangan:

 

1. Perkataan (أبى) yang ada pada matan itu, dapat dibaca dua macam yaitu Abi (أبى) atau Ubai (أبى ), jadi nama seorang sahabat Nabi Saw, yaitu Ubai ibn Ka’ab. (أبى) Abi artinya bapakku, bapak bagi Jabir, namanya Abdullah.

 

2. Yang sebenarnya ialah Ubai, bukan Jabir.

 

3. Salah seorang rawi yang namanya Chundra, membaca lafadh itu dengan (أبى) : Abi.

 

4. Karena yang sebenarnya Ubai, tetapi dibaca Abi, maka dinamakan dia Muharraf, karena perubahan dari Ubai menjadi Abi itu, hanya tentang harakat saja, sedang huruf-hurufnya tidak ada yang berubah sedikit pun.

 

2.2.3.3. Adanya pembalikan kata (muqallab)

 

Al-Munqalib artinya yang terbalik, yang berpaling dari tujuan semula, atau yang berputar ke belakang, yang berbalik ke belakang.Al-Munqalib adalah satu hadis yang sebagian dari lafadz matannya terbalik karena si rawi, sehingga berubah maknanya.

 

Sedangkan para urf ulama hadis mendefenisikan:

 

ما ينقلب بعض لفظه على الراوى فيتغير معناه

 

“Hadis yang bertukar salah satu lafadznya, karena si perawi, lalu berubalah maknanya”.

 

Pada dasarnya al-munqalib sama dengan maqlub. Tetapi ulama hadis membedakan bahwa munqalib kepada matan yang maqlub, bukan pada sanadnya. Dengan demikia, hadis yang maqlub pada sanad disebut hadis maqlub dan pada matan disebut hadis munqalib.

 

Contoh pertama:

 

عن أبى هريرة قال رسول الله ص: اختصمت الجنة والنار إلى ربها….فأما الجنة فإن الله لايظلم من خلفه أحدا وإنه ينشئ للنار من يشاء. البخارى

 

“Dari Abi Hurairah, telah bersabda Rasulullah Saw, “Surga dan neraka berbantahan di hadapan Tuhan mereka……Adapun surga, maka sesungguhnya Allah tidak akan menganianya seorang pun dari makhluk-Nya, dan sesungguhnya Ia adakan bagi mereka siapa-siapa yang Ia kehendaki”. (H.R. Bukhari)

 

Keterangan:

 

1. Perkataan “mereka” yang ada di akhir hadis ini keliru. Seharusnya “surga”, karena selain menurut susunan sabda Rasulullah Saw mesti begitu, juga menurut hadis lain seharusnya/mesti “surga”.

 

2. Hadis yang menunjukkan bahwa mestinya memakai lafadz “surga” itu, diriwayatkan juga dari jalan Abi Hurairah, terdapat dalam Shahih Bukhari, baba Manqib, dengan lafadz sebagai berikut:

 

…وأما الجنة فينشئ لها خلقا. البخارى

 

“…dan adapun surga, maka Allah adakan baginya makhluk”. (H.R. Bukhari).

 

3. Kekeliruan di atas rupanya dari rawi, yang maksudnya ingin menyebut “surga”, lalu terbalik menyebut dengan “neraka”, sehingga dengan sebab kekeliruan itu, berubahlah makna hadis yang pertama di atas. Hadis yang demikian disebut munqalib.

 

Contoh kedua:

 

Begitu juga dengan suatu hadis yang matannya terbalik dari mestinya atau kebiasaannya. Contoh hadis yang berbunyi:

 

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله ص إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه. أبو داود

 

“Dari Abi Hurairah ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Saw,”Apabila salah seorang dari kamu sujud, maka janganlah ia bersujud seperti unta, tetapi hendaklah ia berkata kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (H.R. Abu Daud).

 

Penjelasan:

 

Perakataan “kedua tangannya sebelum kedua lututnya” itu terbalik. Seharusnya “kedua lututnya sebelum kedua tangannya”.

 

Dikatakan terbalik, karena menurut kebiasaan unta jika hendak meletakkan badannya di bumi, ia mendahulukan kedua kakinya yang di muka lalu baru yang belakang.

 

Menurut hadis itu, cara unta inilah yang dilarang oleh Nabi Muhammad Saw. Jadi perintahnya itu seharusnya (bukan terbalik) mendahulukan lutut (seolah-olah kaki belakang bagi unta) kemudian baru tangannya.

 

2.2.3.4. Adanya tambahan kata atau kalimat (mudrraj)

 

Mudraj artinya yang termasuk atau boleh juga diartikan yang tercampur. Jadi hadits mudraj ialah hadis yang terdapat tambahan dengan sesuatu yang bukan bagiannya.

 

Penambahan yang dilakukan oleh para perawi itu, mungkin perkataanya sendiri atau perkataan orang lain baik sahabi maupun tabiin. Itu dimaksudkan untuk menerangkan makna dari kalimat-kalimat yang sukar atau mentaciyidkan makna yang mutlak.

 

Untuk mudraj pada matan sering terjadi pada akhir f adist, sebagian perawi hadis melakukannya dengan menyisipkan perkataan mereka sendiri dengan maksud menjelaskan dan menafsirkan sebagaimana dijelask an diatas tadi. Dar idraj di permulaan lebih banyak daripada di pertengahan.

 

1) Sebab-sebab idraj

 

Setelah kita lihat beberapa bagian diatas dapat kita simpulkan, sebab¬sebab terjadinya idraj antara lain:

 

a. Menerangkan atau menafsirkan lafadz

 

b. Menjelaskan hukum agama yang oleh perawi diratakan jalanm/a dengan sabda Nabi SAW. Dan idraj tersebut berada diawal matan.

 

c. Mengambil hukum dari hadits nabi, idraj ini biasanya biasanya berada. ditengah atau diakhir matan.3

 

C. Cara mengetahui hadis mudraj

 

Untuk mengetaui hadis mudraj ada beberapa cara antara lain:

 

a. Dengan adanya riwayat lain yang menunjukkan idraj hadis yang satu

 

b. Dengan diterangkan oleh ahli hadis yang benar-benar hafidz.

 

c. Dengan diterangkan oleh perawi sendiri

 

Sebab mustahil Nabi SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan orang. 4

 

2.2.4. Hukum hadis Mu’allal

 

Hadis muallal termasuk salah satu bagian hadis dho’if, maka hukum hadis muallah mengikuti hadis dh’if. Berkenaan dengan hadits dla’if para ulama mempunyai tiga madzhab:

 

1) Hadits dla’if tidak boleh dijadikan sebagai landasan hukum.

 

Madzhab ini dipelopori oleh para imam-imam besar hadits, seperti: al bukhari dan Muslim. Dalam Muqaddimah Shahihnya, Muslim dengan tegas mencela mereka yang memegangi hadits dla’if. Alasan golongan ini ialah : Agama ini diambil dari Kitab dan Sunnah yang benar. Hadits dla’if bukan Sunnah yang dapat diakui kebenarannya. Maka, berpegang kepadanya, berarti menambah-nambahi dalam Agama dengan tidak berdasar kepada keterangan yang kuat

 

2) Hadits-hadits dla’if dapat dipergunakan. guna menjelaskan fadhilah-fadhilah ‘amal (Fadla-ilul a’mal).Pendapat ini dilontarkan oleh sebahagian fuqaha dan ahli hadits.Imam Ahmad, menerima hadits-hadits dha’if ketika berpautan dengan targhib dan tarhieb dan menolaknya apabila berpautan dengan hukum. Di antara fuqaha yang berpendapat senada adalah, Ibnu abdil barri.

 

3) mempergunakan hadits dla’if, sebagai landasan hukum terkait permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan dasar huumnya baik di dalam hadits-hadits shahih maupun hasan. Pendapat ini, disandarkan kepada Abu Daud. Berkaitan dengan hadits dla’if ini Al Hafid

 

Ibnu Hajar Al Asqalany menegaskan, bahwa diperbolehkannya hadits dla’if sebagai landasan hukum, dengan menggunakan tiga prasyarat:

 

a) kelemahan hadis tidak seberapa, dan hadis dha’if tidak diriwayatkan oleh orang yang dusta.

 

b) hadits yang dijadikan dasar hukum tidak bertentangan dengan al-Quran maupun hadits yang lebih tinggi derajatnya (hadits shahih).

 

2.2.5. Pembahasan Ilmu Ma’anil Hadis dan Ilmu Asbabi Wurudil Hadis.

 

Maksud dari ilmu ini adalah ilmu tentang pemahaman hadis dari segi maknanya Pada pembahasan ini kami uraikan beberapa pemahaman hadis dari segi maknanya dalam beberapa perspektif, antara lain:

 

2.2.5.1. Dalam perspektif ilmu bahasa

 

1) Mengatasi Kata-kata Sukar dengan Asumsi Riwayat bil ma’na

 

Sebagian besar hadis Nabi itu diriwayatkan dengan makna (riwayat bil ma’na) bukan dengan riwayat bi al-Lafazh. Nuansa bahasa tidak lagi hanya menggambarkan keadaan dimasa Rasulullah. Karena itu gaya bahasa yang dijadikan tolok ukur memahami hadis cukup panjang. Berbeda dengan al-Quran, hanya menggunakan bahasa dimasa Rasulullah. Sebuah hadis menyebutkan.

 

سنن أبي داود – ج 12 / ص 211

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو السُّلَمِيُّ وَحُجْرُ بْنُ حُجْرٍ قَالَاأَتَيْنَا الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ وَهُوَ مِمَّنْ نَزَلَ فِيهِ( وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ )فَسَلَّمْنَا وَقُلْنَا أَتَيْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ وَمُقْتَبِسِينَ فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّواعَلَيْهَابِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

 

Hadis ini sangat populer sekarang, tetapi tidak populer dimasa Awal. Hadis yang diriwayatkan tidak kurang dari 4 kitab hadis ini hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat, bernama Irbadh. Hadis ini masuk dalam kitab-kitab hadis melalui jalur Ahmad bin Hambal. Itu artinya, hadis ini menyendiri. Karena melalui jalur Ahmad hadis ini nilainya hasan, maka ditulis dalam kitab hadis manapun nilainya paling tinggi juga hasan. Ia berisi nasehat bahwa suatu saat sepeninggal rasulullah terjadi perselisihan umat supaya berpegang kepada sunnah Rasulullah dan sunnah Khulafa al-Rasyidun al-Mahdiyyun. Persoalannya, siapa yang dimaksud dengan Khulafa al-Rasyidun itu? Apakah Khalifah empat itu? Dalam fakta sejarah, Khulafa al-Rasyidun adalah empat orang itu. Kalau ini yang dimaksud Rasulullah, apakah ketika Rasulullah menyampaikan sabdanya, para mukhattab memahami bahwa yang dimaksud adalah empat orang itu? Apakah Umar, Usman, Ali, mendengar hadis itu sudah memperkirakan bahwa mereka masing-masing merasa akan menjadi Khalifah? Jawabnya ”tidak”. Kalau begitu, kata Khulafa al-Rasyidun dalam hadis itu tidak dapat dipahami oleh para sahabat sebagai mukhattab andainya mereka mendengarkan hadis itu. Mengucapkan sesuatu yang yang tidak dapat dipahami oleh sahabat adalah hal yang mustahil. Dengan demikian ada peluang untuk mengatakan bahwa periwayatan hadis memiliki tendensi politik dalam meriwayatkan hadis ini dan diperkirakan orang yang tidak senang terhadap dinasti pasca Khulafa al-Rasyidun yang dikenal dalam sejarah. Bila hendak membela asumsi bahwa hadis ini otentik dari Rasulullah, kita kembali pada riwayat bil makna. Kita dapat berkata bahwa agaknya redaksi persis hadis bukan Khulafa al-Rasyidun tetapi ungkapan lain yang ide pokoknya orang-orang yang berpikiran cemerlang dan amat setia kepada Rasulullah. Menurut bahasa, arti Khulafa al-Rasyidun orang-orang sepeninggal Rasulullah yang kurang lebihnya cerdas dan setia seperti itu.

 

Tetapi boleh jadi juga, hadis itu redaksinya menggunakan kata Khulafa al-Rasyidun yang tidak dimaksudkan untuk dimaknai khalifah yang empat orang, sepeninggal Rasulullah. Maknanya, orang berfikiran cemerlang dan setia sepeninggal beliau. Kalau itu maknanya, maka Khulafa al-Rasyidun masih ada sampai sekarang, sepanjang mereka tulus dan cemerlang berfikir, tidak harus menjabat sebagai kepala negara.

 

2) Memahami kalimat

 

Setelah tidak ada kata-kata sukar, tidak otomatis sebuah hadis dapat segera dipahami. Kita melanjutkan dengan memahami kalimat. Kemana arah informasi itu ditujukan, apakah informasi itu masih berlaku, sebuah perintah berlaku umum atau untuk kelompok tertentu, situasi tertentu dan seterusnya, adalah sederetan pertanyaan yang mengantar kita memahami kalimat yang terkandung dalam hadis nabi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka memahami kalimat hadis.

 

• Tema Haqiqi dan Majazi

 

Menggunakan kata kiasan dalam mengungkap sebuah ide merupakan gejala universal disemua bahasa, Arab, Inggris, Indonesia, Belanda dll. Namanya juga kiasan, maka arti kalimat secara harfiyah tidak terjadi.

 

Sebuah hadis menginformasikan bahwa istri itu dicipta dari tulang rusuk yang bengkok milik suami. Bila suami mencoba meluruskan tanpa kebijaksanaan, ia akan patah; tetapi bila dibiarkan ia tetap bengkok. Tentu ilmu pengetahuan akan menyalahkan informasi ini. Tetapi para ulama menangkap hadis ini sebagai kiasan. Opini yang berkembang tempo dulu, wanita adalah anggota rumah tangga yang dikepalai oleh suaminya. Wanita pada umumnya lebih emosional dibanding pria, kaum pria lebih longgar hatinya. Emosionalitas itu disimbolkan sebagai tulang bengkok, meluruskannya harus dengan kesabaran dan pelan-pelan, bila meluruskannya dengan cara paksa maka ia akan patah, bila dibiarkan ia akan tetap bengkok.

 

• Mendapatkan Asbabul Wurud

 

Asbabul wurud adalah hal atau peristiwa yang melatarbelakangi munculnya hadis, sebagai hubungan kausa. Asbab al-Wurud diperlukan untuk menyibak hadis yang bermuatan norma hukum, utamanya lagi hukum sosial. Sebab, hukum dapat berubah karena perubahan dan perbedaan sebab, situasi dal illat. Asbab al-Wurud tidak dibutuhkan untuk memahami hadis yang bermuatan informasi alam ghaib atau aqidah, karena tema itu tidak terpengaruh oleh situasi apapun. Sebuah hadis yang tidak ada kata-kata sukar berbunyi:

 

صحيح مسلم – ج 5 / ص 437

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَرَأَى رَجُلًا قَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا لَهُ قَالُوا رَجُلٌ صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا بِمِثْلِهِ و حَدَّثَنَاه أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ النَّوْفَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ وَزَادَ قَالَ شُعْبَةُ وَكَانَ يَبْلُغُنِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ أَنَّهُ كَانَ يَزِيدُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ وَفِي هَذَا الْإِسْنَادِ أَنَّهُ قَالَ عَلَيْكُمْ بِرُخْصَةِ اللَّهِ الَّذِي رَخَّصَ لَكُمْ قَالَ فَلَمَّا سَأَلْتُهُ لَمْ يَحْفَظْهُ

 

” tidak baiklah berpuasa bagi orang yang bepergian.”

 

Tanpa mengetahui sebab timbulnya hadis ini maka ia tidak dapat diterima karena bertentangan dengan ayat al-Quran, bahwa musafir dan orang sakit serta orang yang sudah tua boleh meninggalkan puasa Ramadan. Tetapi berpuasa lebih baik jika mereka mengetahui. Tegasnya, menurut al-Quran surat al-Baqarah ayat 185, bagi musafir, puasa lebih baik daripada meninggalkannya. Sementara dalam hadis itu, bagi musafir lebih baik tidak berpuasa. Itu namanya saling bertentangan. Hadis ini muncul ketika dalam suatu perjalanan di terik padang pasir, ada seorang sahabat merasa kepayahan menjalankan puasa Ramadan. Kalau orang berpuasa supaya lapar, tampaknya benar; tetapi perintah puasa tidak bertujuan agar orang merasa kelaparan. Dan itulah solusi yang ditawarkan rasulullah ketika melihat ada orang yang merasa kelaparan dan kehausan.

 

Sabab wurud hadis sering kali dimuat dalam hadis itu sendiri ketika periwayatan menuturkan sebuah peristiwa secara utuh. Tetapi terkadang periwayat hanya mengutip potongan hadis tertentu karena ia hanya berkepentingan terhadap potongan hadis tersebut untuk dijadikan dalil dalam kasus tertentu pula. Dalam tradisi periwayatan hadis, sebuah matan diriwayatkan oleh perowi berulang-ulang karena diriwayatkan melalui beberapa jalur, semakin banyak jalur maka semakin terlihat bahwa materi hadis itu populer. Salah satu jalur dicantumkan sabab wurudnya (kalau memang ada), sementara jalur lain tidak disebutkan. Disini perlu kita sadari bahwa tidak semua hadis dapat ditemukan sabab wurudnya, seperti halnya tidak semua ayat al-Quran dapat kita temukan sabab nuzulnya. Dalam hal ini kita tidak dapat memaksakan. Sedangkan cara untuk mengetahui asbabul wurud hadis adalah dengan jalan riwayat saja, karena tidak ada jalan bagi logika.

 

2.2.5.2. Penalaran Induktif

 

Cara ini biasa digunakan sebagai salah satu pisau analisis ilmiah. Ia menempatkan teks, dalam hal ini Hadis, sebagai data / empiri yang dibentang bersama teks-teks lain agar ”berbicara sendiri-sendiri ” selanjutnya ditarik kesimpulan.

 

1) Menghadapkan hadis dengan al-Quran dan Dengan al-Hadis secara integrated

 

Sebagaimana sering disebutkan bahwa hadis itu catatan tentang kehidupan Rasulullah, maka teori besarnya, hadis berfungsi menjelaskan atau menjadi contoh bagaimana melaksanakan ajaran al-Quran. Kalau al-Quran itu bersifat konsep, maka hadis lebih bersifat operasional dan praktis. Seringkali hadis itu berupa reaksi spontan, adakalanya jawaban atas pertanyaan sahabat, teguran, petunjuk dan contoh prilaku ibadah tertentu. Itu semua mengesankan bahwa hadis itu parsial, dalam arti, informasinya terlepas dari ide besar al-Quran. Karena itu ketika kita ragu terhadap sebuah hadis maka kita boleh bersikap bahwa kalau meamang ia benar dari Rasulullah, tidak akan bertentangan dengan kandungan al-Quran. Sebuah hadis tentang perintah patuh kepada pemimpin:

 

صحيح البخاري – ج 22 / ص 42

 

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

 

”Barang siapa taat kepadaku maka ia taat kepada Allah. Barang siapa durhaka kepadaku ia durhaka kepada Allah. Barang siapa taat kepada amirku maka ia taat kepadaku. Barang siapa durhaka kepada amirku maka ia durhaka kepadaku.”

 

Hadis tersebut mengandung perintah taat kepada pemimpin masyarakat yang berada dalam sistem masyarakat Rasulullah. Perintah sang pemimpin, baik itu memberatkan atau menyenangkan supaya dipatuhi, kecuali perintah menuju maksiat. Hadis ini dapat kita hadapkan dengan ayat al-Quran, ”taatlah kamu kepada Allah dan Rasulnya, begitu pula pada ulil amri darimu.” dengan demikian, dari segi matan, hadis ini dapat diperkirakan menjelaskan ayat tersebut, setidaknya sejalan dengan pesan al-Quran. Tentu, peluang mendiskusikan tentang siapa yang dimaksudkan dengan ulil amri masih ada. Dewasa ini kita tidak mengenal lembaga ulil amri, yang ada lembaga legislatif atau eksekutif. Dulu, ulil amri yang dipahami adalah para pemegang kekuasaan, diambil dari arti harfiyahnya, pemilik perintah. Secara hermeunetik, pemegang kekuasaan yang ada sekarang agaknya dapat dimasukakan ke ulil amri. Karena hadis ini tidak mutawatir, maka berpeluang untuk dicurugai sebagai hadis rekayasa para penguasa. Agar penguasa tidak tergoyahkan oleh pembangkangan dan pemberontakan, diperlukan hadis-hadis yang melegitimasi kedudukannya. Tetapi harus diingat bahwa hadis ini tidak berdiri sendiri, tetapi mendampingi ayat al-Quran yang memerintahkan taat kepada Allah, Rasulullah dan Ulil amri.

 

2) Dalam perspektif ilmu pengetahuan.

 

Tidak semua hadis bermuatan dogma agama, ajaran ritual ataupun norma-norma sosial saja, tetapi ada juga hadis yang masuk dalam lorong ilmu pengetahuan. Dimaksud dengan ilmu pengetahuan di sini bisa saja ilmu akidah, ilmu hukum, ilmu fisika, ilmu sejarah, dll.kita ambil contoh:

 

Hadis yang menyebutkan bahwa setiap sayap lalat itu masing-masing ada racunnya dan penawarannya.. Redaksinya antara lain:

 

صحيح البخاري – (ج 11 / ص 99

 

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

 

Hadis ini menyebutkan, bila ada lalat kecemplung ke wadah (berisi air minum) supaya ditenggelamkan karena salah satu sayapnya mengandung racun dan sayap satunya lagi mengandung obat penawarnya. Hadis ini tidak membicarakan tentang syariat agama, tetapi tentang kehidupan dunia. Karena itu untuk mengkritisi hadis semacam ini tidak terlalu terbebani rasa salah atau dosa. Hadis ini secara mudah ditolak karena tidak dapat diterima akal. Dalam pandangan umum, lalat itu hewan pembawa penyakit yang harus disingkirkan, bahkan diberantas. Betapa banyak orang yang terserang penyakit karena mengkonsumsi makanan yang dihinggapi lalat.

 

Bagi”pembela hadits”, penolakan semacam itu perlu ditanggapi secara wajar karena hadis itu sanadnya sahih. Jangan sampai hanya karena belum diteliti secara benar hadis itu segera ditolak. Ibn Qutaibah masih meyakini kebenaran hadis itu dengan menunjukkan kasus lain. Misalnya untuk menawarkan gigitan ular berbisa seorang tabib menggunakan daging ular tersebut, untuk menyembuhkan sengatan kala jengking seorang tabib membedah perut kalajengking itu dan meletakkannya pada tempat yang tersengat tadi, untuk menguatkan mata menggunakan celak yang dibuat dari lalat yang ditumbuk halus, dan seterusnya. Belakangan, disebutkan oleh al-Jawabi, bahwa persoalan ini didiskusikan dikalangan ahli bedah. Sebuah penelitian menyingkap virus bakteri bufaj yang sangat berbahaya yang dibawa oleh lalat. Ternyata obat penawarnya ada pada sayap lalat itu sendiri. Dengan demikian hasil penelitian ini memperkokoh kebenaran hadis tersebut

 

2.2.5.3. Penalaran Deduktif

 

Disamping penalaran induktif , penalaran deduktif sering dilakukan dalam memahami hadis Nabi. Sebuah hadis menyebutkan:

 

صحيح البخاري – (ج 7 / ص 228

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الْكِرْمَانِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ حَدَّثَنَا يُونُسُ قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ الزُّهْرِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

 

Menurut hadis ini, silaturrahmi itu dapat memperluas dan memperbanyak rizki serta memperpanjang umur. Secara deduktif dapat di uraikan bahwa orang yang gemar silaturrahmi itu memperbanyak kawan dan saudara serta mempersedikit musuh. Beban psikis lebih ringan dibanding dengan orang yang dimana-mana ada musuh. Orang yang beban psikisnya ringan dengan sendirinya sehat rohani dan minimal menciptakan kondisi sehat jasmani. Sebaliknya dengan orang yang banyak musuh selalu merasa khawatir, takut, grogi, dan gugup, rawan mengidap sakit stress-jantung. Karena itu benar, silaturrahmi dengan segala ketenangan hidupnya memperpanjang umur. Banyak kawan juga mempermudah lancar arus informasi dan komunikasi serta tumbuh saling percaya. Biasanya, problem rizki terkait dengan kurang lancarnya arus informasi dan komunikasi. Maka benar bahwa banyak kawan hasil silaturrahmi memperlancar dan memperlebar rizki. Penalaran semacam ini sering dilakukan oleh pensyarah hadis tempo dulu.

 

BAB III

 

LAPORAN PENELITIAN

 

3.1. Klasifikasi Sanad Hadis

 

صحيح البخاري

 

حدثنا حفص بن عمر قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر رضي الله عنهما كانوا يفتتحون الصلاة بالحمد لله رب العالمين

 

Diagram transmiter dari sanad Hadis tersebut adalah sebagai berikut:

 

3.2. Analisis Kualitas Sanad

 

3.2.1. Biografi para rawi

 

Adapun para rawi sesuai dengan sanad dan matan hadis di atas, yaitu :

 

1) Hafsho bin Umar bin Harits bin Sukhbaroh al-Azdi al-Namiri.

 

Lebih dikenal dengan sebutan Abu Umar al-Haodlhi. Ia meninggal pada Jumadil Akhir tahun 225 H.

 

Hafsho meriwayatkan hadis dari guru-gurunya, diantaranya;

 

1. Syu’bah bin al-Hajjaj

 

2. Hisyam al-Dustuwai

 

3. Abu ‘Awanah al-Waddah

 

4. Ibrahim bin Sa’d al-Zuhri

 

Dan yang meriwayatkan dari Hafsho, diantaranya;

 

1. Bukhari

 

2. Abu Dawud

 

3. Ismail bin Ishaq al-Qodlhi

 

4. Yusuf bin Musa al-Khotton

 

5. Abu Hatim Muhammad bin Idris al-Rozi

 

2) Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Wardi al-‘Ataki al-Azdi.

 

Abu Bakar bin Manjawi berkomentar bahwa Syu’bah lahir pada tahun 82 H dan meninggal pada awal tahun 160 H. Ia wafat ketika berumur 77 tahun. Muhammad bin Sa’d berkata : ia wafat di Basrah pada awal tahun 160 H. Abu Dawud berkata : ketika ia meninggal Sufyan berkata : “telah hilang hadis”. Imam Bukhari berkata, dari Ali bin Al-Madini : Ia memiliki sekitar 2000 hadis. Al-Hakim Abu Abdillah berkata : Syu’bah adalah pemimpin para imam dalam mengetahui hadis di Basrah, ia berjumpa dengan sahabat Anas bin Malik dan Amr bin Salamah serta mendengarkan (hadis) dari 400 tabi’i. Amr bin Ali berkata saya mendengarkan Abu Bahr al-Bakrawi berkata : Saya tidak melihat orang yang paling banyak beribadah kepada Allah dari Syu’bah. Ia beribadah kepada Allah hingga kering kulit di punggungnya, tidak ada daging diantara kulit dan punggungnya.

 

An-Naldru bin Syumail berkata : Saya tidak melihat orang yang paling pemurah kepada orang miskin dari Syu’bah. Yahya bin Sa’id al-Qatton berkata : Syu’bah adalah termasuk golongan manusia yang paling lembut hatinya, tak kala ia menjumpai peminta-minta, ia memasuki rumahnya dan memberikan apa yang ia bisa berikan kepadanya. Abdurrahman bin Mahdi berkata : … saya tidak melihat orang yang paling susah hidupnya dari Syu’bah.

 

Shalih bin Muhammad al-Baqdadi berkata bahwa Syu’bah bin Hajjaj adalah yang pertama kali berkomentar tentang para perawi hadis, kemudian baru diikuti oleh Yahya bin Sa’id al-Qatton, kemudian diikuti oleh Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma’in. Yahya bin Sa’id al-Qatton berkata bahwa Syu’bah lebih tua dari at-Tsauri dengan selisih 10 tahun, dan at-Tsauri lebih tua dari Ibnu ‘Uyainah dengan selisih 10 tahun.

 

Syu’bah meriwayatkan hadis dari beberapa guru, diantaranya :

 

1. Qatadah bin Di’amah

 

2. Hisyam al-Dustuwai’

 

3. Budail bin Maisarah

 

4. Ayyub bin Abi Tamimah al-Sakhtiyani

 

5. Husain al-Muallim

 

6. Sa’id al-Jurairi

 

7. Abdul Waris bin Abi Hanifah

 

8. Sulaiman al-‘Amasy

 

9. Hakam bin ‘Utaibah

 

10. Ismail bin ‘Ulayyah (lebih mudah darinya)

 

Dan yang meriwayatkan dari Syu’bah, diantaranya;

 

1. Hafsho bin Umar bin Harits

 

2. Ayyub bin Abi Tamimah al-Sakhtiyani (gurunya)

 

3. Sulaiman al-‘Amasy (gurunya)

 

4. Sa’d bin Ibrahim al-Zuhri (gurunya)

 

5. Sufyan al-Tsauri (semasa)

 

6. Ismail bin ‘Ulayyah

 

3) Qatadah bin Di’amah bin Qatadah

 

Juga disebut dengan nama Qatadah bin Di’amah bin ‘Ikabah. Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata: “ Diantara sosok manusia yang paling teguh di sisi Qatadah adalah Sa’id bin Abi ‘Urubah, Hisyam dan Syu’bah. Dan Qatadah terkenal dengan kekuatan hafalannya.

 

Al-Atsram berkata: saya mendengar Ahmad berkata: Qatadah adalah orang Basrah yang paling kuat hafalannya, tidak mendengarkan sesuatupun kecuali ia menghafalnya. Dibacakan kepadanya buku lembaran hadis Jabir satu kali saja, lalu ia pun menghafalnya, Sulaiman al-Taimi dan Ayyub keduanya butuh kepada hafalannya dan bertanya kepadanya. Ia merupakan orang yang alim, ia meninggal ketika berumur 55 tahun. Abu Bakar bin Abi Khaitsamah berkata dari Yahya bin Ma’in bahwa ia lahir pada tahun 60/61 H. Dan ia meninggal pada tahun 117/118 H.

 

Qatadah meriwayatkan hadis dari beberapa guru, diantaranya;

 

1. Anas bin Malik (sahabat)

 

2. Hisyam al-Dustuwai’ (semasa)

 

3. Sa’id bin Al-Musayyib

 

4. Abu al-Jauza’i al-Rabi’i

 

Dan yang meriwayatkan dari Qatadah, diantaranya;

 

1. Syu’bah bin al-Hajjaj

 

2. Ayyub al-Sakhtiyani

 

3. Sa’id bin Abi ‘Urubah

 

4. Sulaiman al-‘Amasy

 

5. Hisyam al-Dustuwai’ (semasa)

 

6. Abu ‘Awanah al-Waddlhoh

 

4) Anas bin Malik

 

Anas bin Malik adalah merupakan sahabat Nabi SAW dan sekaligus pembantunya. Ia membantu Rasulullah SAW selama 10 tahun ketika di Madinah. Ketika Nabi ke Madinah, ia berumur 10 atau 8 tahun dan ketika Nabi SAW meninggal pada tahun 11 H, ia berumur 20 tahun. Dan ia telah didoakan oleh Rasulullah agar diperbanyak hartanya dan anaknya serta dipanjangkan umurnya. Ia telah memiliki harta yang melimpah serta ia memiliki ± 106 anak keturunan. Sebagian mengatakan umurnya sampai 103 tahun. Meninggalnya pada tahun 91/92/93 H dan ada juga mengatakan 95 H.

 

Tidak diragukan lagi bahwa ia meriwayatkan hadis secara langsung dari Rasulullah SAW. Begitu juga ia meriwayatkan dari beberapa sahabat lainnya. Di antaranya;

 

1. Abu Bakar

 

2. Abdullah bin Abbas

 

3. Abdullah bin Rawahah

 

4. Abdullah bin Mas’ud

 

5. Usman bin Affan

 

6. Abdullah Bin Usman

 

7. Umar bin Khottab

 

8. Mu’adz bin Jabal

 

9. Abu Hurairah. Dll.

 

Dan yang meriwayatkan dari Anas bin Malik, diantaranya;

 

1. Qatadah bin Di’amah

 

2. Budail bin Maisarah al-‘Aqili

 

3. Hasan al-Bashri

 

4. Khaitsamah bin Abi Khaitsamah al-Bashriy

 

5. Sa’id bin al-Musayyib

 

6. Sulaiman bin Mahran al-‘Amasy. Dll.

 

3.2.2. Pembahasan Ke-Tsiqoh-an Rawi

 

1). Hafsho bin Umar bin Harits bin Sukhbaroh al-Azdi al-Namiri.

 

Dalam kitab : (Tahdzibu al-Tahdzib dan Tahdzibu al-Kamal fii Asmai’ al-Rijal) disebutkan dengan komentar :

 

1. كان من المتـــثــبتـــين Ia di antara golongan orang yang teguh.

 

2. صدوقٌ متقنٌ أعربيٌ فصيحٌ Orang yang sangat jujur lagi meyakinkan ilmunya serta orang Arab yang fasih .

 

3. أوثـق و أحسن حديثا و أشهر Orang yang paling tsiqoh lagi paling bagus hadisnya serta paling terkenal.

 

4. ثبت ثبت متقن Orang yang teguh (hati dan lidahnya) lagi teguh lagi meyakinkan ilmunya.

 

5. ثبت مـتـقـن Orang yang teguh (hati dan lidahnya) lagi meyakinkan ilmunya.

 

6. صدوق ثبت Orang yang sangat jujur lagi teguh.

 

7. ثـقة Orang yang tsiqoh (sangat teguh).

 

8. أبو عمر الحـوضى أثـبـت من عبد الله بن رجاء Abu Umar al-Haodlhi lebih teguh (hati dan lidahnya) dari Abdullah bin Raja’.

 

Dalam kitab : (Al-Kasyif dan Mizanu al-I’tidal) disebutkan dengan komentar :

 

1. ثبت لا يـؤخـذ عليـه حرف : Orang yang teguh lagi tidak luput darinya satu hurup pun.

 

2. ثبت حجة : Orang yang teguh lagi petah lidahnya.

 

Dalam kitab Taqribu at-Taqrib Juz : 1 disebutkan dengan :

 

أشهر ثـقـة ثبت شئ بأخـذ الأجرة على الحديث

 

2). Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Wardi al-‘Ataki al-Azdi.

 

Dalam kitab : (Tahdzibu al-Kamal fii Asmai’ al-Rijal) disebutkan dengan komentar :

 

1. سفيان يقـول : شعبة أمير المؤمنين في الحـديث Sufyan berkata : “Syu’bah adalah pemimpin/penghulu orang mu’min tentang hadis.

 

2. يزيـدبن زريع غير مرة يقول : كان شعبة من أصدق الناس في الحديث Yazid bin Zura’i tidak sekali saja berkata bahwa Syu’bah adalah sosok manusia yang paling jujur dalam hadis.

 

3. قال يحيى بن مَعين : شعبة إمام المتقين Yahya bin Ma’in berkata : “Syu’bah adalah pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

 

4. عن يحيى بن سعيد القطان : مارأيت أحدًا قط أحـسن حديثًا من شعبة Dari Yahya bin Sa’id al-Qotthon : “Saya sama sekali tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bagus hadistnya dari Syu’bah”.

 

5. وشعبة يخطئ فيما لا يضره ولا يُعاب عليه يعنى : في الأسماء Syu’bah salah menyebutkan nama-nama (rawi), yang tidak sampai membahayakan dan mencacatkannya.

 

6. …ثـقة ثـبت في الحيث وكان يخطئ في أسماء الرجال قليلاً Seorang yang tsiqoh lagi teguh hati dan lidahnya, dan terkadang salah sedikit menyebutkan nama-nama rawi.

 

7. …وكان من سادات أهل زمانه حفظًا و إتقانًا وورعًاو فضلاً Di zamannya ia termasuk penghulu dalam segi kuat hafalan, ketekunan (dalam hadis), kewara’an dan keutamaan.

 

Dalam kitab : (Tahdzib al-tahdzib. Juz : 4) disebutkan dengan komentar :

 

1. كان سفيان رجلاً حافظاً وكان رجلاً صالحًا وكان شعبة أثبت منه و أنقى رجلاً Sufyan adalah sosok orang yang kuat hafalannya lagi sholeh, dan Syu’bah lebih teguh hati dan lidahnya dari Sufyan.

 

2. قال ابن سعْدٍ : كان ثقة مأمونًا ثبتًا حجةً صاحب الحديث Ibnu Sa’d berkata : “Ia adalah sosok orang yang tsiqoh lagi terpercaya lagi teguh (hati dan lidahnya) serta petah lidahnya.

 

Dalam kitab : (al-Kasyif. Juz : 2) di komentarai dengan :

 

1. أمير المؤمنين في الحديث : adalah pemimpin/penghulu orang mu’min tentang hadis.

 

2. ثبت حجة و يخطئ في الأسماء قليلاً : Orang yang teguh (hati dan lidahnya) lagi petah lidahnya, dan sedikit salah dalam menyebutkan nama-nama rawi.

 

Dalam kitab (Tarikh Bagdadi. Juz : 9) disebutkan dengan komentar :

 

1. قال أحمد بن حنبل : شعبة أنبل رجلاً وأنسق حديثًا : Ahmad bin Hambal berkata : “Syu’bah adalah sosok laki-laki yang paling cerdas lagi paling bersih hadisnya.

 

2. قال سفيان الـثــورى : مارأيتُ أحدًاأورع في الحديث من شعبة : Sufyan at-Tsauri berkata : “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih wira’i dalam hadis dari Syu’bah.

 

Dari keterangan di atas, dapat dikatakan bahwa Hafsho bin Umar adalah seorang yang tsiqoh. Ini dikarenakan tidak ada yang mencacatkan kepribadiannya. Pada tingkatan Syu’bah ada komentar yang menyatakan bahwa ia sedikit salah dalam penyebutan nama-nama rawi. Akan tetapi ini tidak sampai menurunkan kedlhobitannya. Dan itu sangat bisa dibenarkan dan ditoleran karena kesalahan tersebut disebabkan ia disibukkan menghafal matan hadis. Hal ini dikemukakan oleh Daru al-Qutni, artinya ia menekuni hadis. Maka pada tingkat sanad hadis ini masih dalam ketegori diakui ke-tsigho-hannya. Kemudian kita lanjutkan ke tingkatan rawi berikutnya yaitu;

 

3). Qatadah bin Di’amah bin Qatadah.

 

Dalam kitab : (Tahdzibu al-Kamal fii Asmai’ al-Rijal) disebutkan dengan komentar :

 

1. سعيد بن المسيب يقول : ماأتانى عِراقىّ أحفظ من قتادة : Sa’id ibn al-Musayyib berkata : Tidak seorang ahli Iraq pun mendatangiku yang paling kuat hafalannya dari Qatadah.

 

2. أحفظ و أجدر : Orang yang paling kuat hafalannya lagi paling layak (ahli).

 

3. أحفظ الـناس : Orang yang paling kuat hafalannya.

 

4. ثـقة : Orang yang tsiqoh (sangat teguh).

 

5. يُــتـّـهَمُ بالقدر : Orang yang tertuduh berfaham/beraliran Qodariyyah.

 

Beberapa komentar di atas sama dengan apa yang ada di kitab Tahdzibu al-Tahdzib, tetapi ditambah dengan komentar yang lain, yaitu : كان مدلّساً على قدر فيه : Orang yang mudallis (sekedarnya) yang diketahui (hadis-hadis yang ditadlis).

 

Dalam kitab : (Mizan al-I’tidal) disebutkan dengan komentar :

 

حافظ ثـقة ثبت، لكنه مدلس: ورمى بالـقدر، قاله يحيى بن معـين، ومــع هذا فاحتج به أصحـاب الصحـاح، لا سيما إذا قال حدثنا.

 

Orang yang kuat hafalannya lagi tsiqoh serta teguh, akan tetapi ia seorang mudallis serta dituduh berfaham Qadariyyah.

 

Akhirnya kita sampai pada tingkatan rawi Qatadah. Berdasarkan beberapa komentar di atas, ditemuka adanya tuduhan bahwa ia berfaham Qadariyah serta seorang yang mudallis. Adapun ia berfaham Qadariyah itu tidak sampai mengurangi kekuatan hafalannya dan kearifannya. Dan ia terkenal dengan kekuatan hafalannya dikalangan ulama’ ahli hadis (baik yang semasa dengannya ataupun murid-murid yang meriwayatkan darinya). Maka dari itu, ia masih dalam ketegori orang yang tsiqoh. Adapun ia seorang mudallis, maka ini berimplikasi kepada pembahasan berikutnya yaitu tentang bersambungnya sanad. Hadis ini akan turun derajatnya apabila nyata bahwa Qatadah tidak bertemu dengan sahabat Anas bin Malik, meskipun ia menggunakan kata haddatsana. Namun dari segi ketsiqohan, maka sanad hadis ini sampai pada tingkatan Qatadah masih diakui ketsiqohannya.

 

Kemudian, karena Anas bin Malik adalah seorang sahabat. Maka, sudah disepakati dan tidak diragukan lagi ke-tsiqo-hannya.

 

3.2.3. Pembahasan Ittisol As-Sanad

 

Dalam pembahasan ini yaitu tersambungnya sanad, yang merupakan bagian dari syarat untuk dikatakan suatu hadis shohih. Jika hal ini tidak terpenuhi, maka akan menurunkan derajat hadis menjadi hasan atau dlhoif. Dari sini kita akan memulai periwayatan imam Bukhari selaku mukhorrij al-hadis dari Hafsho;

 

1) Bukhari meriwayatakan dari Hafsho dengan sighot haddatsana (yang menunjukkan bahwa mendengarkan langsung dari seorang guru). Jadi, jelas bahwa ia mendengarkan langsung dari Hafsho. Dan ini juga dikuatkan dengan tahun wafat keduanya. Sebagaimana dalam biografi diatas, bahwa Hafsho wafat pada tahun 255 H, sedangkan imam Bukhari wafat pada tahun 256 H. Keduanya hanya selisih satu tahun. Jadi, keduanya masih sejawat dan sangat memungkinkan keduanya bertemu dan meriwayatkan hadis.

 

2) Hafsho meriwayatkan dari Syu’bah dengan shigot haddatsana (yang menunjukkan bahwa bertemu dan mendengarkan langsung dari seorang guru). Maka, jelas bahwa jalur sanad dari Syu’bah ke Hafsho masih bersambung.

 

3) Syu’bah meriwayatkan dari Qatadah dengan shigot ‘an (yang menunjukkan kemungkinan tidak bertemu dan mendengarkan seorang guru). Ini termasuk dalam kategori hadis mu’an’an. Bukhari tidak menerima hadis mu’an’an atau mu’an’an, jika rawi adalah seorang mudallis. Sesuai dengan beberapa komentar ulama’ ahli jarh dan ta’dil yang telah dikemukan di atas, Syu’bah bebas dari tuduhan sebagai orang yang mudallis.

 

Selain itu, dari data biografi, Syu’bah lahir pada tahun 82/83 H dan wafat pada tahun 160 H. Adapun Qatadah lahir pada tahun 60/61 H dan wafat pada tahun 117/118 H. Jadi, Qatadah berumur 57 tahun dan Syu’bah 77 tahun. Sehingga Qatadah lebih tua dari Syu’bah dengan selisih 22 atau 23 tahun. Dengan demikian dapat dirinci bahwa :

 

1. Ketika Qatadah berumur 56 tahun, Syu’bah berumur 34 tahun.

 

2. Ketika Qatadah berumur 50 tahun, Syu’bah berumur 28 tahun.

 

3. Ketika Qatadah berumur 45 tahun, Syu’bah berumur 23 tahun.

 

Dari perincian di atas, maka dalam fase-fase umur keduanya sangat memungkinkan untuk bertemu dan meriwayatkan. Jadi, jelas bahwa jalur sanad dari Qatadah ke Syu’bah masih bersambung.

 

4) Qatadah meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik dengan shigot ‘an (yang menunjukkan kemungkinan tidak bertemu dan mendengarkan seorang guru). Qatadah lahir pada tahun 60/61 H dan meninggal pada tahun 117/118 H. Jadi, ia berumur 57 tahun. Sedangkan Anas bin Malik meninggal pada tahun 91/92/93 H, dan ia berumur 20 tahun ketika Nabi SAW meninggal pada tahun 11 H, dikatakan bahwa ia berumur sampai 103 tahun. Berdasarkan tahun wafat, umur keduanya selisih ± 25 tahun. Jadi, bila diperinci sebagai berikut;

 

1. Ketika Anas berumur 80 tahun, Qatadah berumur 55 tahun.

 

2. Ketika Anas berumur 75 tahun, Qatadah berumur 50 tahun.

 

3. Ketika Anas berumur 70 tahun, Qatadah berumur 45 tahun.

 

4. Ketika Anas berumur 65 tahun, Qatadah berumur 40 tahun.

 

5. Ketika Anas berumur 60 tahun, Qatadah berumur 35 tahun.

 

Dari perincian di atas, maka dalam fase-fase umur keduanya sangat memungkinkan untuk bertemu dan meriwayatkan. Jadi, jelas bahwa jalur sanad dari Anas ke Qatadah adalah bersambung.

 

5) Adapun jalur sanad dari Rasulullah SAW ke sahabat Anas bin Malik sudah sangat jelas ketersambungannya.

 

3.2.4. Pembahasan Syudzudz dan Illat

 

Adapun pembahasan tentang syadz dan illat adalah perkara yang paling rumit bila dibandingkan denngan pembahasan ketsiqohan rawi dan ketersambungan sanad. Hal ini dikarenakan bahwa menentukan syadz atau illat suatu hadis adalah perkara yang tidak semua orang bisa melakukanya. Hanya saja perkara ini mampu dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang luas tentang matan hadis dan jalur sanadnya, sehingga memungkinkan untuk mengetahui semua jalur sanad yang sesuai atau tidak sesuai dengan hadis tersebut.

 

Jadi, sebagaimana pernyataaan Khotib Baqdadi dalam kitabnya “Ma’rifatu Al-Hadis Al-Muallal” bahwa untuk menentukan syadz dan illat suatu hadis adalah dengan mengumpulkan semua jalur sanad yang sesuai dengan hadis tersebut, menganalisa perbedaan periwayatannya serta menganalisis kualitas para rawinya dari segi hafalan, kecerdasan, ketekukan dan ketelitian.

 

Dengan demikian perkara untuk menentukan syad dan illat suatu hadis adalah perkara yang tidak mudah.

 

Namun di sisi lain, ulama telah mengarang beberapa kitab yang dapat kiranya membantu untuk mengetahui illat hadis, dalam kitab-kitab illlat itu dicantumkan beberapa hadis yang berillat dengan menyebutkan penyebab-penyebab illatnya. Akan tetapi, apakah ulama juga telah mengarang buku-buku yang khusus untuk mengetahui hadis-hadis yang syadz? jawabanya adalah ulama tidak mengarang buku-buku yang demikian.

 

Akan tetapi perlu diketahui bahwa sebelum syadz itu diketahui, ia merupakan satu jenis dari illat. Jadi, pada hakikatnya illat itu lebih luas dari pada syadz. Sehingga syadz adalah merupakan satu jenis dari illat, seperti al- idlthirob dan al-qolb. Adapun diantara buku-buku illat tersebut:

 

1. Ilalul hadis li Ibni Abi Hatim

 

2. Al-Ilal wa Ma’rifati al-Rijal li Ahmad bin Hanbal

 

3. Al-Ilal li Ibni al-Madini

 

4. Al-Ilal al-Kabir dan Al-Ilal al-Shogir li Tirmidzi

 

5. Al-Ilal al-Waridah fi al-Ahadisi an-Nabawiyyah, li Daruqutni.

 

1) Pembahasan Syudzudz Hadis yang Diteliti

 

Pada pembahasan ini merupakan pencarian akan ke-syadz-an hadis yang ditiliti. Tentunya dengan bekal pengetahuan peneliti tentang syudzudz hadis sebagaimana telah dibahas sebelumnya pada landasan teori (lihat halaman 55), kemudian mengumpulkan beberapa hadis yang serupa (lihat diagram hadis), kemudian dibandingkan dan dianalisis satu sama lainnya, sesuai dengan kemampuan kami, maka kami menentukan bahwa hadis basmalah riwayat Bukhari yang bersanad Hafsh, Syu’bah, Qatadah dan Anas bin Malik r.a adalah tidak ada indikasi syudzudz pada sanadnya

 

Hal itu dikarenakan rawi-rawi hadis riwayat Bukhari selain tsiqoh, juga tidak menyalahi periwayatan lainnya, serta dianggap tidak ada gejangalan di dalamnya, adapun periwayatan lainnya yaitu riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, Daruqutnih, Ahmad dan Syafi’i (lihat diagram hadis). Adapun pada matannya belum dianalisa.

 

2) Pembahasan Illat Hadis yang Diteliti

 

Mengingat begitu rumitnya dan diperlukan kemampuan yang lebih untuk menentukan illat suatu hadis, dan sesuai dengan kemampuan peneliti, maka untuk itu peneliti menghukumi bahwa hadis riwayat Bukhari yang bersanad Hafsh, Syu’bah, Qatadah dan Anas bin Malik r.a adalah tidak memiliki illat pada tataran sanad.

 

3.3. Analisis Kuantitas

 

3.2.5. Paparan data jalur lain dan kemutawatiran Hadis yang diteliti

 

Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa pembahasan hadis dari segi kuantitas dibagi menjadi dua yaitu mutawatir dan ahad. Adapun hadis yang kami teliti ini merupakan hadist ahad. Dari data yang kami temukan, hadis yang sama dengan redaksi hadis tersebut ada 8 jalur sanad dengan bersumberkan dari 3 sahabat saja, maka kami menggolongkan hadis ini hadis ahad, karena tidak memenuhi syarat mutawatir yaitu melalui 10 sahabat (untuk lebih jelasnya lihat diagram hadis).

 

3.4. Analisis Matan Hadis

 

Setelah melakukan penelitian pada sanad Hadis, maka dapat diketahui bahwa kualitas Hadis ini adalah shahih, sedangkan kuantitasnya masuk kategori Hadis Ahad. Selanjutanya peneliti akan menganalisis matan Hadis tersebut, untuk itu peneliti akan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

 

4. Pendekatan kebahasaan

 

5. Penalaran induktif

 

6. Penalaran deduktif

 

3.4.1. Pendekatan Kebahasaan

 

Sebagaimana diketahui bahwa Hadis sedang diteliti ini adalah shahih secara sanad, yang berisi mengenai tingkah laku Rasulullah ketika memulai sholat dengan bacaan al-hamdulillah. Untuk itu peneliti akan mengupas kata-kata sukar dalam Hadis ini dengan asumsi riwayat bi al ma’na.

 

1. Lafadz (كانوا يفتتحون الصلاة)

 

Dalam kitab Fath al Bari karangan Ibnu Hajar dikatakan bahwa yang dikehendaki dengan kata الصلاة adalah bacaan di dalam sholat. Dalam riwayat Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Munzier dan al Jazaqi dari Imam Al Bukhari dengan menggunakan kata كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ َ , Hadis ini terdapat pula dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Al Darimi, Musnad Ahmad dan Musnad Al Syafi’i dengan perawi yang berbeda dan redaksi yang berbeda pula, sebagaimana dalam contoh Hadis periwayatan yang lain yang telah disebutkan.

 

2. Lafadz (ب { الحمد لله رب العالمين })

 

Menurut Ibnu Hajar ada banyak perbedaan perbedaan pendapat dalam memberikan makna lafadz ب { الحمد لله رب العالمين } , diantaranya ada yang memberikan makna bahwa الحمد لله رب العالمين adalah surat al-Fatihah, pendapat ini menurut golongan ulama yang mewajibkan basmalah pada awal surat al Fatihah. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Syafi’i bahwa surat yang terdapat dalam Hadis ini adalah surat al-Hamdulillah yang memiliki makna surat al-Fatihah bukan bacaan lafadz al-Hamdulillahi rabbi al ’alamin. Ada pula yang mengatakan bahwa makna lafadz tersebut menggunakan makna dhahirnya Hadis tersebut yaitu bermakna bacaan الحمد لله رب العالمين. Pendapat ini dipelopori oleh golongan ulama yang tidak memasukkan basmalah dalam bacaan al Fatihah, karena dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan lafadz فكانوا يفتتحون ب { الحمد } yaitu tanpa menyebutkan basmalah. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, menurut peneliti dalam pemaknaan Hadis ini ada dua versi yaitu kata al-Hamdulillah pada Hadis tersebut bermakna surat al-Fatihah, dan ada pula yang memberi makna sesuai dengan makna dhahirnya lafadz dengan didukung oleh Hadis yang lain.

 

Oleh karena itu menurut hemat peneliti setelah menguraikan kata-kata sukar dalam Hadis ini, maka secara otomatis kalimat yang terdapat dalam Hadis ini langsung bisa difahami. Sedangkan untuk asbab al-wurud Hadis ini peneliti tidak menemukannya dalam kitab yang khusus membahas asbab al wurud.

 

3.4.2. Penalaran Induktif

 

Salah satu pisau analisis dalam kritik matan Hadis adalah penalaran induktif, yang befungsi untuk mengahadapkan Hadis yang diteliti dengan al-Quran, Hadis dengan Hadis dan Hadis dengan ilmu pengetahuan kalau ada.

 

1) Menghadapkan Hadis yang diteliti dengan Al-Quran

 

Ditilik dari redaksi dan maknanya, Hadis tersebut merupakan perbuatan Nabi saw, bersama shahabat Abu Bakar dan Umar yang masuk kategori Hadis Fi’liy. Sebagaimana fungsi Hadis yang merupakan penjelas dari al-Quran, tentu secara redaksional Hadis tersebut harus sejalan dengan Al-Quran dan secara makna pun harus ada kesesuaian. Ada beberapa ayat al-Quran yang berbicara berkenaan dengan shalat, walaupun tidak secara rinci menjelaskan mengenai ketentuan-ketentuan shalat, sebagaimana pada surat al-Hajj: 77

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (77)

 

Dalam ayat ini hanya menjelaskan komponen-komponen dalam shalat seperti ruku’ dan sujud tanpa menjelaskan bagaimana bacaan-bacaan sholat. Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah dalam tafsir al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini berkenaan shalat fardhu yang memiliki komponen ruku’ dan sujud. Menurut al-alusiy dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini menekankan ruku’ dan sujud masuk dalam kategori komponen shalat secara syar’i, karena pada awal-awal keislaman dalam melaksanakan shalat masih menggunakan syari’at nabi-nabi terdahulu, yaitu; ruku’ tanpa sujud dan sujud saja tanpa ruku’. Berkaitan dengan Hadis dalam penelitian ini yang menjelaskan mengenai bacaan-bacaan yang dibaca oleh Rasulullah saw bersama para shahabat menurut peneliti bahwa Hadis tersebut lebih banyak berbicara teknis shalat. Sudah tentu bahwa antara Hadis tentang bacaan shalat dan ayat al-Quran di atas saling melengkapi satu sama lain, bahkan Hadis ini mampu menjelaskan secara teknis sesuatu yang tidak disinggung dalam ayat tersebut. Untuk itu Hadis ini bukan saja sebagai pelengkap ayat namun juga sebagai penjelas dari ayat yang hanya menjelaskan komponen-komponen dalam shalat. Sedangkan ayat-ayat lain yang berkenaan sholat adalah berkaitan dengan bersuci secara biasa/berwudhu sebelum melakukan sholat (QS. 5: 6), bersuci dari hadas besar (QS. 4: 43), pakaian yang layak dikenakan dalam shalat (QS. 7: 31), berdiri dan menghadap kiblat (QS. 2: 144), waktu-waktunya (QS. 11: 114; 17: 78; 24: 58; 2: 238; 30: 17-18; dan 20: 130), tidak menyebut siapa pun selain Allah dalam Shalat (QS. 72: 18), jadi bisa dikatakan bahwa Hadis tentang bacaan al-Hamdulillah dalam sholat ini tidak bertentangan dengan al-Quran sama sekali, namun lebih bersifat menjelaskan secara rinci praktek shalat itu sendiri.

 

2) Menghadapkan Hadis yang diteliti dengan Hadis lain yang sesuai

 

Ada beberapa Hadis yang mendukung Hadis riwayat al-Bukhari ini diantaranya yaitu:

 

Hadis riwayat Abu Daud:

 

سنن أبي داود – (ج 2 / ص 435)

 

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ

 

{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

 

Hadis ini diriwayatkan dari Muslim bin Ibrahim, Hisyam, dari Qatadah dari Anas bin Malik keseluruhan perawi dalam Hadis ini adalah tsiqah. Hadis riwayat Abu Daud ini lebih transparan dan lebih jelas yang langsung menyebutkan bacaan al-hamdulillah.

 

Hadis riwayat at-Tirmidzi

 

سنن الترمذي – (ج 1 / ص 416)

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Hadis riwayat Ibnu Majah

 

سنن ابن ماجه – (ج 3 / ص 41)

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ح و حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ

 

{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

 

Hadis riwayat Ahmad bin Hambal

 

مسند أحمد – (ج 24 / ص 99)

 

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ

 

{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }

 

Hadis riwayat ad-Darimi

 

سنن الدارمي – (ج 3 / ص 487)

 

أَخْبَرَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ : بِهَذَا نَقُولُ وَلاَ أَرَى الْجَهْرَ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Hadis riwayat asy-Syafi’i

 

مسند الشافعي

 

أخبرنا سفيان ، عن أيوب ، عن قتادة ، عن أنس رضي الله عنه قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم وأبو بكر وعمر وعثمان يفتتحون القراءة بـالحمد لله رب العالمين

 

Dari beberapa Hadis yang saling mendukung dan memperjelas makna redaksi Hadis al-Bukhari ini bisa dikatakan bahwa Hadis yang diteliti tersebut tidak bertentangan sama sekali dengan Hadis lain.

 

Setelah melihat dari penalaran induktif dengan memadukan Hadis dengan al-Quran dan Hadis dengan Hadis, maka peneliti dapat mengatakan bahwa secara induktif Hadis ini sama sekali tidak bertentangan dengan ayat al-Quran dan Hadis.

 

3.4.3. Penalaran Deduktif

 

Hadis al-Bukhari di atas secara deduktif dapat difahami bahwa Hadis tersebut mengacu pada hukum fiqih, dalam kaitan ini ulama berbeda pendapat dalam mencermati redaksi Hadis yang kemudian dijadikan sebagai landasan hukum syar’i. Menurut Abu Isa Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu adalah Hadis shahih. Para shahabat, tabi’in dan tabi’ at tabi’in mengamalkan Hadis ini sesuai dengan redaksi Hadis, yaitu ketika memulai shalat langsung dengan bacaan الحمد لله رب العالمين yang dibaca pada awal surat al-Fatihah. Berbeda menurut asy-Syafi’i yang menyatakan bahwa Rasulullah saw dan shahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman membaca tetap membaca بسم الله الرحمن الرحيم pada awal surat al-fatihah sebelum membaca surah, jadi maknanya bukan tidak membaca basmalah, namun tetap membaca basmalah karena itu adalah awal setiap surat dalam al-Quran, jika pada shalat yang dilakukan dengan suara sirri maka bacaan بسم الله الرحمن الرحيم juga dibaca sirri, dan sebaliknya jika pada shalat yang mengahruskan membaca jahr, maka بسم الله الرحمن الرحيم juga harus dibaca jahr.

 

Dalam kitab Faidh al Bari Syarh al Bukhari dikatakan bahwa dalam memaknai Hadis ini golongan madzhab Hanafiyah menyatakan tetap membaca بسم الله الرحمن الرحيم dengan bacaan sirri, sedangkan golongan madzhab Syafi’iyyah menyatakan bahwa الحمد لله رب العالمين adalah nama dari surat al-Fatihah, maka bacaan بسم الله الرحمن الرحيم adalah bagian dari surat al-Fatihah dan cara memabacanya harus jahr. Menurut al-Hafid al-Zalai’i bahwa الحمد لله رب العالمين bukanlah nama surat al-Fatihah, karena nama surat al-Fatihah adalah الحمد saja, sesuangguhnya membaca bismillah baginya adalah sunnah. Sedangkan menurut Mahmud al-Alusi membaca بسم الله الرحمن الرحيم adalah wajib.

 

Melalui Hadis ini bisa dikatakan bahwa dalam memulai shalat umat Islam dapat memilih tiga pendapat dalam bacaan shalat, yaitu; pertama, memulai dengan bacaan الحمد لله رب العالمين tanpa harus didahului oleh بسم الله الرحمن الرحيم. kedua, memulai dengan bacaan بسم الله الرحمن الرحيم dengan bacaan jarh pada shalat yang wajib dibaca jahr, dan sirri pada shalat yang dibaca sirri. ketiga, sunnah mengawali dengan bacaan بسم الله الرحمن الرحيم .

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: