ASBAB AL-WURUD AL-HADITS

A. PENDAHULUAN

Hadits atau Sunnah Nabi dalam pandangan umat Islam merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Secara struktural ia menduduki posisi kedua setelah al-Qur’an. Sedangkan secara fungsional ia merupakan bayan (penjelas) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat ‘am (umum), mujmal (global) atau mutlaq. Dengan demikian hadits memiliki posisi yang sangat signifikan dan strategis. Oleh sebab itu, kita sangat berkepentingan untuk menggali butir-butir ajaran Islam yang tedapat dalam hadits-hadits tersebut. Agaknya tidak berlebihan jika kita katakan bahwa sebagian besar ajaran Islam yang bersifat perincian (tafshili) terdapat di dalam hadits.

            Secara tersirat, al-Qur’an pun mendukung ide tersebut, antara lain firman Allah surat al-Nahl ayat 44,

“………dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

            Mengenai pentingnya hadits (sunnah) dalam ajaran Islam, Nabi sendiri pernah bersabda melalui hadits yang diriwayatkan Imam Malik, yaitu:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة رسوله.[1]

“Aku tinggalkan untukmu sekalian dua hal. Jika kalian mau berpegang teguh kepadanya niscaya kamu sekalian tidak akan sesat selama-lamanya. Dua hal itu adalah kitab Allah (al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya (al-Hadits).”

Namun demikian, nampaknya untuk menggali dan memahami kandungan makna dari suatu hadits secara “baik”, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, mengetahui dan memahami latar belakang munculnya suatu hadits atau asbab al-wurud al-hadits sangat diperlukan dalam rangka memahami dan mencari mutiara hikmah serta ide-ide dasar dalam suatu hadits.

            Dengan mengetahui asbab wurud tersebut, maka diharapkan kita dapat menangkap pesan moral dari sebuah hadits, sehingga kita tidak hanya terkungkung di bawah bayang-bayang teks-teks hadits yang sering kali bersifat kasuistik, temporal, kultural dan bahkan lokal.

Mengetahui asbab al-wurud al-hadits (sebab-sebab munculnya hadits) adalah termasuk salah satu bagian dari disiplin ilmu hadits, sebagaimana dalam Ulum al-Qur’an juga dikenal Asbab al-Nuzul al-Qur’an. Ibnu Taimiyah berkata, sebagai dikutip Fatchur Rahman: “Mengetahui sebab itu, menolong dalam memahamkan al-hadits dan ayat. Sebab mengetahui sebab itu dapat mengetahui musabbab (akibat).

 

B. PEMBAHASAN             

1. Pengertian Asbab al-Wurud al-Hadits

Para ahli bahasa mendefinisikan sebagai dikutip al-Suyuthi, bahwa yang dimaksud dengan “sebab” (Arab: sabab) adalah “al-Habl”: tali, yang menurut lisan al-‘Arab dinyatakan bahwa: kata ini dalam bahasa Arab berarti “saluran”, yang artinya dijelaskan sebagai: “segala sesuatu yang menghubungkan satu benda ke benda lainnya”. Para ahli istilah memaksudkannya sebagai: “segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”.[2]

Sementara itu, para ahli hukum Islam mendefinisikannya dengan: “suatu jalan menuju terbentuknya suatu hukum tanpa adanya pengaruh apapun dalam hukum itu”.[3]

Sedangkan menurut Said Agil Husin Munawwar, secara etimologis, “asbab al-wurud” merupakan susunan idhafah (kata majemuk) yang berasal dari kata asbab dan al-Wurud. Kata “asbab” adalah betuk jamak dari kata “sabab”, yang berarti segala sesuatu yang dapat menghubungan kepada sesuatu yang lain. Atau penyebab terjadinya sesuatu. Sedangkan kata “wurud” merupakan bentuk isim masdar (kata benda abstrak) dari “warada, yaridu, wurudan”  yang berarti datang atau sampai. [4]

Adapun arti wurud (datang;[5] sampai; muncul) adalah sebagai berikut:

Sementara ahli mengatakan bahwa al-wurud berarti “air yang memancar, atau air yang mengalir”.

Dari uraian definisi itu, kita dapat menarik arti Wurud sebagai: “sesuatu yang membatasi arti suatu hadits, baik berkenaan dengan arti umum atau khusus, mutlak atau terbatas, dinasikh (dihapus) dan seterusnya”, atau, “suatu arti yang dimaksud oleh sebuah hadits saat kemunculannya”.[6]

Secara sederhana dapat diartikan bahwa asbab al-wurud adalah sebab datangnya sesuatu. Karena istilah tersebut biasa dipakai dalam diskursus ilmu hadits, maka asbab al-wurud bisa diartikan sebagai sebab-sebab atau latar belakang (background) munculnya suatu hadits.

Menurut Imam al-Suyuthi sebagai dikutip Said Agil Husin Munawwir, secara terminologi asbab al-wurud diartikan sebagai,

أنه ما يكون طريقا لتحديد المرد من الحديث من عموم أو خصوص أو اطلاق أو تقييد أو نسخ أو نحو ذالك.

“Sesuatu yang menjadi thariq (metode) untuk menentukan maksud suatu hadits yang bersifat umum, atau khusus, mutlaq atau muqayyad, dan untuk menentukan ada tidaknya nasakh (pembatalan) dalam suatu hadits.”[7]

Ilmu Asbab Wurud al-Hadits ialah:

علم يعرف به السبب الذى ورد لاجله الحد يث والزمان الذى جاءفيه

“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan”.[8]

Ilmu Asbabil Wurudil Hadits atau Sababul Atsar, ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan sebab lahirnya hadits. [9]

Ilmu ini mempunyai kaitan erat dengan ilmu Tawarikh al-Mutun[10]. Akan tetapi karena ilmu ini mempunyai sifat-sifat yang khusus yang tidak seluruhnya tercakup dalam ilmu tarikh dan mempunyai faedah yang besar sekali dalam lapangan ilmu hadits, maka kebanyakan muhadditsin menjadikan ilmu itu suatu ilmu pengetahuan tersendiri, sebagai cabang ilmu hadits dari jurusan matan. [11]

Sementara menurut pendapat Hasbi al-Shiddiqie, beliau mendefinisikan asbab al-wurud sebagai berikut:

علم يعرف به السبب الذى ورد لاجله الحديث والزمان الذى جاءفيه.

“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masa Nabi menuturkannya.”[12]

Ada pula ulama yang mendefinisikan asbab al-wurud dengan pengertian yang agak mirip dengan pengertian asbab al-nuzul, yaitu:

ما ورد الحديث أيام وقوعه.

“Sesuatu (baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan) yang terjadi pada waktu hadits itu disampaikan oleh Nabi.”[13] 

Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik benang merah bahwa asbab al-wurud adalah konteks historisitas, baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan atau lainnya yang terjadi pada saat hadits itu disampaikan oleh Nabi. Ia dapat berfungsi sebagai pisau analisis untuk menentukan apakah hadits itu bersifat umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, nasakh atau mansukh dan lain sebagainya.

 

2.      Cara-cara Mengetahui Asbab al-Wurud al-Hadits

Di antara maudlu’ pokok dalam ilmu Asbabil Wurudil Hadits, ialah pembicaraan tentang cara-cara untuk mengetahui  sebab-sebab lahirnya hadits.

Cara-cara untuk mengetahui sebab-sebab lahirnya hadits itu adalah dengan melihat aspek riwayat atau sejarah yang berkaitan dengan peristiwa wurudnya hadits[14]. Karena tidak ada jalan bagi logika.[15]

Menurut penelitian al-Bulqiny sebagai dikutip Fatchur Rahman, bahwa sebab-sebab lahirnya hadits itu ada yang sudah tercantum dalam hadits itu sendiri dan ada pula yang tidak tercantum di dalam hadits sendiri, tetapi tercantum di hadits lain. [16] Dalam hal tidak tercantum, maka ditelusuri melalui riwayat atau sejarah atas dasar pemberitaan dari para sahabat.[17]

Sebagai contoh Asbabul Wurudil Hadits yang tercantum di dalam hadits itu sendiri, seperti hadits Abu Dawud yang  tercantum dalam kitab Sunannya, yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudry, sebagai dikutip Fatchur Rahman[18]. Kata Abu Sa’id:

 

انه قيل لرسول الله صلى الله عليه وسلم اتوضأ من بئر بضا عة, وهي بئر يطرح فيه الحيضو ولحم الكلب والنتن فقال: الماء طهور لاينجسه شيئ.

 

” Bahwa beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang perbuatan yang dilakukan Rasulullah: ‘Apakah Tuan mengambil air wudlu dari sumur Budla’ah, yakni sumur yang dituangi darah, daging anjing dan barang-barang busuk?’ Jawab Rasulullah: ‘Air itu suci, tak ada sesuatu yang menjadikannya najis’.”

            Sebab Rasulullah bersabda, bahwa setiap air itu suci, lantaran ada pertanyaan dari sahabat, tentang hukum air yang bercampur dengan darah, bangkai dan barang yang busuk, yang persoalan itu dilukiskan dalam rangkaian hadits itu sendiri. [19]

Contoh Asbabul Wurud al-Hadits yang tidak tercantum dalam rangkaian hadits itu sendiri, tetapi diketahuinya dari hadits yang terdapat di lain tempat yang sanadnya juga berlainan, seperti hadits yang diketengahkan oleh Imam al-Sittah (Imam Bukhari dalam Kitab Bad’ul Wahyi 1/1, Imam Muslim dalam Kitab al-Imarah 2/1907, An-Nasa’i dalam Kitab al-Thaharah 1/51, Ibnu Majah dalam Kitab Suhud 2/1413) tentang niat dan hijrah, yang diriwayatkan melalui Umar ibnu al-Khatthab yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda:

انما الاعمال بالنيات وانما لامرئ ما نوا فمن كانت هجرته الى الله ورسوله,  فهجرته الى الله ورسوله,   ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أوامرأة يتزوجها  فهجرته الى ما هاجر اليه.

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu hanyalah menurut niatnya masing-masing. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; barang siapa yang hijrahnya karena duniawi, maka dia akan memperolehnya; atau karena wanita, maka dia akan mengawininya. Maka hijrah seseorang itu hanya kepada apa yang diniatkan dalam hijrahnya.”[20]

Asbabul Wurud dari  Hadits tersebut, ditemukan pada hadits yang dikatakan Al-Zubair ibnu Bakkar di dalam kitab Akhbarul Madinah –sebagai dikutip al-Suyuthi- bahwa telah menceritaan kepadaku (al-Zubair) Muhammad ibnul Hasan, dari Muhammad ibnu Thalhah ibnu Abdul Rahman, dari Musa ibnu Muhammad ibnu Ibrahim ibnu al-Harits, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, sahabat-sahabatnya terserang penyakit demam di Madinah. Kemudian datanglah seorang lelaki, lalu ia mengawini seorang wanita Muhajirah. Kemudian Rasulullah duduk di atas mimbarnya dan bersabda:

يا أيها الناس انما الاعمال بالنية. ثلاثا. فمن كانت هجرته الى الله ورسوله,  فهجرته الى الله ورسوله,   ومن كانت هجرته فى دنيا يطلبها, أوامرأة يخطبها فانما هجرته الى ما هاجر اليه.

“Hai, manusia, sesungguhnya amal-amal perbuatan itu hanyalah menurut niatnya –sebanyak tiga kali- Maka barangsiapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti dia berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang niat hijrahnya karena duniawi, maka dia dapat mencarinya; atau karena wanita, dia dapat melamarnya. Maka sesungguhnya hijrah seseorang itu hanyalah kepada apa yang ia niatkan dalam hijrahnya.”[21]

3. Macam-macam Asbab al-Wurud al-Hadits

Menurut Imam al-Suyuthi, sebab-sebab munculnya suatu hadits terbagi dalam beberapa bagian;

  1. Berupa ayat al-Qur’an

Hal ini disebabkan turunnya ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki bentuk umum, namun yang dikehendaki oleh ayat itu adalah makna khusus. Kenyataan ini pasti membutuhkan keterangan yang lebih spesifik, lebih rinci dan dapat dipahami secara literal oleh pengikut Nabi.[22]

  1. Berupa hadits

Ucapan-ucapan Rasulullah saw yang sulit dipahami oleh sahabat, lalu beliau menjelaskannya melalui hadits lain yang menjawab kemusykilan (tentang sesuatu yang sulit dipahami) itu. Hadits-hadits tentang risalah termasuk dalam jenis ini.[23]

c. Merupakan penjelasan kepada para sahabat yang mendengarkan saat itu[24]

Bila ditinjau dari kaitan dan terpisahnya hadits satu sama lain, maka “Wurud al-Hadits” ini dapat dibagi dalam dua jenis:

1. Bila “wurud al-Hadits” ini bersambung dengan haditsnya, maka ia dinukil dari hadits itu. Tentang ini al-Balqini mengatakan: semisal hadits yang berkenaan dengan pertanyaan malaikat Jibril.

2. Bila “wurud al-hadits“nya terpisah dari hadits itu, maka ia dinukil melalui jalan yang lain. Tentang ini al-Balqini  mengatakan pula: Dan keadaan semacam inilah yang mesti diperhatikan dengan cermat. Lalu dicontohkannya hadits “al-kharaj” (pajak tanah) dengan “al-dhiman” (jaminan). [25]

 

4. Urgensi dan Signifikansi Mempelajari Asbab al-Wurud al-Hadits

Dari definisi asbab al-wurud tersebut di atas, kita dapat menangkap fungsi mempelajari asbab al-wurud al-hadits, yakni: membatasi arti suatu nash hadits dalam segi-segi berikut:

a. Mentakhsish (mengkhususkan) arti yang umum.

Sebagai akibat dari adanya pemahaman terhadap asbab al-wurud al-hadits adalah adanya pengkhususan makna dari sesuatu yang bersifat umum kepada sesuatu yang bersifat khusus.[26]

b. Membatasi arti yang mutlak[27]

c. Merinci yang mujmal (global)[28]

d. Menentukan persoalan nasakh dan menjelaskan nasikh dan mansukh[29]

e. Menerangkan illat (alasan) suatu hukum[30]

f.  Menjelaskan kemusykilan (kesulitan memahami)[31]

 

5. Hubungan Asbab al-Wurud al-Hadits dengan Asbab al-Nuzul al-  Qur’an

Sebab-sebab lahirnya sebuah hadits dan sebab-sebab turunnya sebuah ayat al-Qur’an, ada ditemukan kaitan persamaan antara keduanya dalam beberapa segi;

a.       Dalam faedah

Keduanya menentukan arti yang dimaksud, dan mengkompromikan dua hadits atau men-tarjih-kannya (mencari hadits mana yang lebih shahih) manakala terjadi pertentangan arti. [32]

b.      Ayat al-Qur’an memiliki sebab-sebab turunnya ayat tersebut, demikian pula halnya dengan hadits, ia memiliki sebab-sebab kelahirannya.[33]

c.       Dalam jenis-jenisnya

Seakan-akan turunnya ayat al-Qur’an menjadi sebab munculnya sebuah hadits, atau adanya sebuah hadits menjadi sebab turunnya ayat al-Qur’an. Juga seakan-akan suatu hadits itu muncul sebagai pelajaran bagi para sahabat, yang demikian pula halnya dengan ayat al-Qur’an.[34]

d.      Dalam bentuk       

Ada sebagian ayat yang turun sebagai bagian dari ayat yang lain, maka sebab munculnya suatu hadits pun juga ada yang merupakan bagian dari hadits yang lain.[35]

 

6. Sejarah, Perintis Ilmu Asbab al-Wurud al-Hadits dan Kitab-Kitab yang Paling Terkenal tentang Asbab al-Wurud al-Hadits

 

Ilmu Asbab al-Wurud al-Hadits terhitung telah lama ada, benih-benih ilmu ini telah ditanamkan di masa sahabat dan tabi’in. Hanya saja ilmu ini belum tersusun secara sistematis dalam suatu bentuk kitab-kitab.[36]

Al-Zarkasy dalam al-Burhan-nya –sebagai dikutip al-Suyuthi- menuturkan kisah yang berkenaan dengan firman Allah surat al-Ma’idah ayat 92,

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

Al-Zarkasy menuturkan: Disebutkan bahwa Qudamah bin Mazh’un dan ‘Amr bin Ma’dikarib berkata: Khamr itu mubah, dan mereka berdua beralasan dengan ayat tersebut di atas yang tidak mereka ketahui sebab turunnya ayat tersebut, yang sesungguhnya menolak pendapat mereka, yakni apa yang dikemukakan oleh al-Hasan dan ulama lainnya berikut ini:

Di saat turun ayat yang mengharamkan khamr, para sahabat bertanya-tanya:

 “Bagaimana halnya dengan saudara-saudara kita yang telah meninggal dan mereka pernah minum khamr, sedangkan Allah telah mengemukakan bahwa khamr itu haram”.

Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut di atas.[37]

Bertolak dari riwayat tersebut, maka jelaslah bahwasanya objek kajian ini merupakan salah satu di antara Ilmu-ilmu Hadits yang sejak awal telah memperoleh perhatian baik dari para ulama.

Mengenai kapan dimulainya penyusunan buku-buku yang berkenaan dengan masalah ini, al-Suyuthi menuturkan dengan menukil al-Dzahabi dan Ibnu Hajar yang menyatakan adanya beberapa karya tentang objek ini, yakni:

a.       Asbab al-Wurud al-Hadits, karya Abi Hafsah al-Akbari (wafat 399 H).[38] Ia adalah salah seorang guru Abu Yahya Muhammad bin al-Husain al-Farra’ al-Hanbaly dan salah seorang murid dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (309 H).[39]

b.      Al-Bayan wa al-Ta’rief, karya Ibrahim ibn Muhammad yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah al-Husainy (1120 H). Dicetak tahun 1329 H.[40]

c.       Asbab al-Wurud al-Hadits, karya Abu Hamid Abdul Jalil al-Jubari.

d.      Al-Luma’ Fi Asbab al-Wurud al-Hadits, karya al-Suyuthi.

e.       Al-Bayan Wa al-Ta’rif Fi Asbab al-Wurud al-Hadits al-Syarif, karya Abi Hamzah al-Dimasyqi. [41]

Al-Muhaddits as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin yang terkenal dengan Kunyah Ibnu Hamzah al-Husainy (1054-1120) mengarang pula kitab Asbab al-Wurud al-Hadits dengan diberi nama Al-Bayan wa Ta’rif fi Asbab al-Wurud al Hadits al-Syarif. Kitab yang disusun secara alfabetis ini dicetak pada tahun 1329 H di Halab dalam dua juz besar-besar. [42]

 

7. Tata Cara Memahami Hadits dengan Baik

Untuk mendapatkan pesan moral yang ideal, komprehensif dan sesuai dengan situasi dan kondisi serta menghindari penyimpangan, pemalsuan dan penafsiran yang buruk dalam memahami hadits, ada beberapa hal dan ketentuan-ketentuannya, di antaranya apa yang disebutkan Yusuf Saefullah dan Cecep Sumarna dalam bukunya Pengantar Ilmu Hadits, sebagai berikut:

a.       Memahami al-Sunnah sesuai dengan petunjuk al-Qur’an.

b.      Menghimpun hadits-hadits yang terjalin dalam tema yang sama. Setelah itu lalu mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengkaitkan yang mutlaq kepada yang muqayyad dan menafsirkan yang ‘am kepada yang khas.

c.       Penggabungan atau pentarjihan antara hadits yang (tampaknya) bertentangan.

d.      Memahami hadits dengan mempertimbangkan latar belakang, situasi dan kondisinya ketika diucapkan serta tujuannya.

e.       Membedakan antara sarana yang berubah-ubah dengan sarana yang tetap.

f.       Membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dengan yang bersifat majaz dalam memahami hadits.

g.      Membedakan antara alam ghaib dan alam kasat mata.

h.      Memastikan makna dan konotasi kata-kata dalam hadits.[43]

 

 

C. PENUTUP

Kesimpulan

            Dari uraian di atas, tersurat bahwa kajian terhadap asbab al-wurud al-hadits menjadi sangat penting untuk penentuan makna ideal dalam memahami hadits. Memang tidak semua hadits mengandung sebab-sebab keluarnya, tetapi sebagian hadits yang memiliki sebab-sebab dimaksud akan memberikan kemudahan memberikan interpretasi terhadap makna suatu hadits.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

            Malik, Imam al-. 2002. Al-Muwattha. Beirut: Dar al-Fikr.

 

Munawwar, Said Agil Husin dan Mustaqim, Abdul. 2001. Asbab al Wurud Studi Kritis Hadits Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Munawwir, Ahmad Warson. 2002. Al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.

 

Rahman, Fatchur.  Ikhtisar Musthalah al-Hadits. Bandung: Alma’arif.

 

Saefullah, Yusuf Sumarna, dan Cecep. 2004. Pengantar Ilmu Hadits. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

 

Shiddiqie, M. Hasbi al-. 1993. Sejarah Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang.

 

            Soetari, Endang. 2005. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Bandung: Mimbar Pustaka.

 

Suyuthi, Al-Hafizh Jalal al-Din al-. 1985. Asbab al-Wurud al-Hadits au al-Luma’ fi Asbab al-Hadits (Terj.) H. O. Taufiqullah dan Afif Muhammad. Bandung: Pustaka.

 

——-. 2005. Al-Luma’ (Brilian) fi Asbab al-Wurud (Terj.) Bahrun Abu Bakar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Al-Imam Malik,  AlMuwattha, Kitabu al-Qadaru,  Babu al-Nahyu ‘Ani al-Qauli Bi al-Qadari, hadits No. 1622, (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), hlm. 549.

[2]Al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthi, Asbab al-Wurud al-Hadits Terj. H.O. Taufiqullah, Afif Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1985), cet. ke-1 hlm. 5.

[3]Ibid.

[4] Said Agil Husin Munawwar dan Abdul Mustaqim, Asbabul Wurud Studi Kritis Hadits Nabi Pendekatan Sosio-Historis-Kontekstual, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), cet. ke-1, hlm. 7.

[5] Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2002), cet. ke- 25, hlm. 1551.

[6]Al-Suyuthi, Asbab al-Wurud,  hlm. 5.

[7]Munawwar dan Mustaqim, Asbabul Wurud, hlm. 7-8.

[8]Endang Soetari, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah, (Bandung: Mimbar Pustaka. 2005), cet. ke-4, hlm. 212. Lihat juga M. Hasbi al-Shiddiqie, Sejarah Ilmu Hadit,s (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 163-164.

[9]Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalah al-Hadits, (Bandung: Al-Ma’arif. t.t), cet. ke-11, hlm. 326.

[10] Soetari, Ilmu Hadits, hlm. 212.  

[11]Rahman, Ikhtisar Mushthalah , hlm. 326.

[12]M. Hasbi al-Shiddiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. ke-11. hlm. 163-164.

[13]Munawwar dan Mustaqim, Asbabul Wurud , hlm. 8-9.

[14] Soetari, Ilmu Hadits, hlm. 212.  

[15]Rahman, Ikhtisar Mushthalah, hlm. 327.

[16]Ibid.

[17] Soetari, Ilmu Hadits, hlm. 212.  

[18]Rahman, Ikhtisar Mushthalah, hlm. 327-328. Lihat: CD Kutubu al-Tis’ah, Sunan Abu Daud, Kitabu al-Thaharah, Babu Maajaa’a Fii Bada’I Bi’ri Budha’ah, hadits No. 60.

[19] Rahman, Ikhtisar Mushthalah, hlm. 328.

[20]Al-Imam Jalal al-Din al-Suyuthi, Al-Luma’ Fi Asbab al-Wurud al-Hadits Terj. Bahrun Abu Bakar,  (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), cet. ke-1 hlm. 28.

[21]Ibid., hlm. 28-29.

[22] Contoh lihat Al-Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthi, Asbab al-Wurud al-Hadits Terj. H.O. Taufiqullah, Afif Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1985), cet. ke-1 hlm. 16-17.

[23] Ibid,. hlm. 17-18.

[24] Ibid,. hlm. 19.

[25]Ibid.

[26]Ibid,. hlm. 6.

[27] Ibid,. hlm. 7-10.

[28]Ibid,. hlm. 10-11.

[29]Ibid,. hlm. 11-13.

[30]Ibid,. hlm. 15.

[31]Ibid,. hlm. 15-16.

[32]Al-Suyuthi, Asbab al-Wurud, hlm. 20.

[33]Ibid.  Contoh lihat: Al-Imam Jalal al-Din al-Suyuthi, Al-Luma’ Fi Asbab al-Wurud al-Hadits Terj. Bahrun Abu Bakar,  (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), cet. ke-1 hlm. 41-46.

[34]Ibid., hlm. 25-27.

[35]Ibid,. hlm. 27-28.

[36]Lihat Al-Imam Jalal al-Din al-Suyuthi, Al-Luma’ Fi Asbab al-Wurud  Terj. Bahrun Abu Bakar,(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), cet. ke-1 hlm. 23-27.

[37]Al-Suyuthi, Asbab al-Wurud, hlm. 30.

[38]Ibid,. hlm. 31.

[39]Rahman, Ikhtisar Mushthalah, hlm. 329. Lihat M. Hasbi al-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,  (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), cet. ke-11, hlm. 164.

[40] Al-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar, hlm. 164.

[41]Al-Suyuthi, Asbab Wurud, hlm. 31.

[42]Rahman, Ikhtisar Mushthalah, hlm. 329. Lihat juga M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), cet. ke- 1, hlm. 5.

[43] Yusuf Sumarna dan Cecep Saefullah,  Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 131-132.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: