RIWAYAT HIDUP DAN PEMIKIRAN AL-KINDI

A. Biografi al-Kindi

Nama Al-Kindi merupakan nama yang diambil dari suku
yang menjadi asal cikal bakalnya, yaitu Banu Kindah. Banu Kindah adalah
suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab
yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak
dikagumi orang.

Sedangkan nama lengkapAl-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Isma’ilal-Asy’ad bin Qays al-Kindi. Lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kuffah.

Ayahnya Ishaq As-Shabbah adalah gubernur Kuffah pada masa pemerintahan al-Mahdidan Harun ar-Rasyid dari bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah
al-Kindi lahir.

Pada masa kecilnyaal-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid yangterkenal kepeduliannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim.Ilmu pengetahuan berpusat di Baghdad yang sekaligus menjadi pusat perdagangan.

Pada masa pemerintahan ar-Rasyid sempat didirikan lembaga yang disebut bayt
al-Hikmah
(Balai Ilmu Pengetahuan). pada waktu al-Kindi berusia 9 tahun
ar-Rasyid wafat dan pemerintahan diambil alih oleh putranya al-Amin yang tidak
melanjutkan usaha ayahnya ar-Rasyid untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun
setelah beliau wafat pada tahun 185 H (813 H) kemudian saudaranya al-Makmun
menggantikan kedudukannya sebagai khalifah (198-228 H) ilmu pengetahuan
berkembang pesat. Fungsi Bayt al-hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada masa
pemerintahan al-Makmun berhasil dipadukannya antara ilmu-ilmu keislaman dan
ilmu-ilmu asing khususnya dari Yunani. Dan pada waktu inilah al-Kindi menjadi
sebagai salah seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menterjemahkan
kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan dia memberi komentar terhadap
pikiran-pikiran pada filosuf Yunani.

Masa kecil al-Kindimendapat pendidikan di Bashrah. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.

Tentang siapa guru-gurunya tidak dikenal,karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikannyadi Bashrah ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat, ia banyak mengusai berbagaimacam ilmu yang berkembang pada masa itu seperti ilmu ketabiban (kedokteran),filsafat, ilmu hitung, manthiq (logika), geometri, astronomi dan lain-lain.Pendeknya ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani juga ia pelajari dansekurang-kurangnya salah satu bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan
baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke
dalam bahasa Suryani inilah Al-Kindi menterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Pada masa pemerintahanal-Mu’tashim yang menggantikan al-Makmun pada tahun 218 H (833 M) nama al-Kindisemakin menanjak karena pada waktu itu al-Kindi dipercaya pihak istana menjadiguru pribadi pendidik putranya yaitu Ahmad bin Mu’tashim. Pada masa inilahal-Kindi mempunyai kesempatan untuk menulis karya-karyanya, setelah pada masaal-Ma’mun menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.

Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.

Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.

Setelah era Khalifah AL-Mu’tasim berakhir dan tampuk kepemimpin beralih ke Al-watiq dan Al-Mutawakkil, peran Al-Kindi semakin dipersempit. Namun, tulisan kaligrafinya yang menawan sempat membuat Khalifah kepincut. Khalifah AL-Mutawakkil kemudian mendapuknya sebagai ahli kaligrafi istana. Namun, itu tak berlangsung lama.

Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-Kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat diambil alih putera-putera Musa. Namun akhirnya Al-Kindiyah – perpustakaan pribadi itu – dikembalikan lagi.

Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-Kindi memandang filasafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama da merupakan sebab dari semua realitas lainnya.

Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

Salah seorang penulis buku tentang studi Islam, Henry Corbin, menggambarkan akhir hayat dari sang filosof Islam. Menurut Corbin, pada tahun 873, Al-Kindi tutup usia dalam kesendirian dan kesepian. Saat itu, Baghdad tengah dikuasai rezim Al-Mu’tamid. Begitu dia meninggal, buku- buku filsafat yang dihasilkannya banyak yang hilang.

Sejarawan Felix Klein-Franke menduga lenyapnya sejumlah karya filsafat Al-Kindi akibat dimusnahkan rezim Al-Mutawakkil yang tak senang dengan paham Muktazilah. Selain itu, papar Klein-Franke, bisa juga lenyapnya karya-karya AL-Kindi akibat ulah serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang membumi hanguskan kota Baghdad dan Baitulhikmah.

Hingga kini, Al-Kindi tetap dikenang sebagai ilmuwan Islam yang banyak berjasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

B. Kiprah Al-Kindi

Al-Kindi adalah seorang filsuf, matematikawan, fisikawan, astronom, dokter, geografi dan bahkan seorang ahli dalam musik.

Dalam matematika, ia menulis empat buku tentang sistem bilangan dan meletakkan dasar dari sebagian besar aritmatika modern. Tidak diragukan sistem angka Arab sebagian besar dikembangkan oleh al-khawarizmi, tetapi al-Kindi juga membuat kontribusi yang kaya untuk itu. Dia juga memberikan kontribusi untuk geometri bola untuk membantu dirinya dalam studi astronomi.

Dalam kimia, ia menentang gagasan bahwa logam dasar bisa diubah menjadi logam mulia. Berbeda dengan pandangan alkimia yang berlaku, ia tegas bahwa reaksi kimia tidak bisa membawa transformasi elemen. Dalam fisika, ia membuat kontribusi kaya untuk optik geometri dan menulis buku tentang itu. Buku ini kemudian dengan pedoman yang disediakan dan inspirasi bagi ilmuwan terkemuka seperti Roger Bacon.

Dalam pengobatan, kontribusi utamanya terdiri dari fakta bahwa ia adalah orang pertama yang secara sistematis menentukan dosis untuk administrasi yang terdaftar dari semua obat yang dikenal pada waktu itu. Hal ini diselesaikan pandangan benturan-ting yang berlaku di antara dokter pada dosis yang menyebabkan kesulitan dalam menulis resep.

Sangat sedikit yang diketahui pada aspek ilmiah musik di zamannya. Ia menunjukkan bahwa berbagai catatan yang bergabung untuk menghasilkan harmoni, memiliki lapangan khusus masing-masing. Dengan demikian, catatan dengan terlalu rendah atau terlalu tinggi pitch yang adalah non-pleatant. Tingkat harmoni tergantung pada frekuensi catatan, dll Ia juga menunjukkan kenyataan bahwa ketika suara diproduksi, itu menghasilkan gelombang di udara yang menyerang telinga-drum. Karyanya berisi notasi dalam menentukan pitch.

Dia adalah seorang penulis yang produktif, jumlah buku yang ditulis oleh dia adalah 241, yang menonjol antara yang dibagi sebagai berikut: Astronomi 16, Aritmatika 11, Geometri 32, Kedokteran 22, Fisika 12, Filsafat 22, Logic 9, Psikologi 5, Music 7.

Selain itu, berbagai monografi yang ditulis oleh dia pasang surut perhatian, instrumen astronomi, batu, batu mulia, dll Dia juga seorang penerjemah awal karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab, tetapi fakta ini sebagian besar telah over-dibayangi oleh tulisan-tulisan banyak nya asli. Sangat disayangkan bahwa sebagian besar buku-bukunya tidak lagi masih ada, tetapi mereka ada berbicara sangat tinggi standar tentang beasiswa dan kontribusi. Dia dikenal sebagai Alkindus dalam bahasa Latin dan sejumlah besar buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard dari Cremona. Buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan terdiri Risalah dar Tanjim, Ikhtiyarat al-Ayyam, Ilahyat-e-Aristu, al-Mosiqa, Mad-o-Jazr, dan Aduiyah Murakkaba.

Pengaruh Al-Kindi tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat signifikan dalam kebangkitan ilmu pengetahuan dalam periode tersebut. Pada Abad Pertengahan, Cardano menganggapnya sebagai salah satu dari dua belas pikiran terbesar. Karya-karyanya, pada kenyataannya, menyebabkan perkembangan lebih lanjut dari berbagai subjek selama berabad-abad, terutama fisika, matematika, kedokteran dan musik.

C. Filsafat al-Kindi

Bagi Al-Kindi, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut dia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan).

Dalam pandangan filsafat Al-Kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalah Pencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. AL-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera.

Menurut Al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan Zat-Nya. Jiwa atau roh adalah salah satu pembahasan Al-Kindi. Ia juga merupakan filosof Muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci.

Al-Kindi membagi roh atau jiwa ke dalam tiga daya, yakni daya nafsu, daya pemarah, dan daya berpikir. Menurutnya, daya yang paling penting adalah daya berpikir, karena bisa mengangkat eksistensi manusia ke derajat yang lebih tinggi.

Al-Kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas.

Akal yang bersifat potensial, papar Al-Kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-Kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas.

D. Epistemologi Al-Kindi

Al-Kinditelah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namunsebagai seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati
yang tak tergoda dan tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Al-Kindi
mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan, menunrutnya pengetahuan
manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu : (a)
Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut pengetahuan inderawi,
(b) Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut pengetahuan rasional,
dan (c) Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan
pengetahuan isyraqi atau iluminatif.

 

a.      Pengetahuan Inderawi

Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung
ketika orang mengamati terhadap obyek-obyek material (sentuhan, penglihatan,
pendengeran, pengcapan dan penciuman). Kemudian dalam proses yang sangat
singkat tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya, obyek-obyek yang telah
ditangkap oleh indera tersebut berpindah ke imajinasi (musyawwiroh),
kemudian diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafizhah
(recolection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini (Inderawi)
tidak tetap dan akan selalu berubah; karena obyek yang diamati pun tidak tetap,
selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang
kuantitasnya, dan berubah-ubah pula kualitasnya.

Pada dasarnya pengetahuan inderawi ini mempunyai
kelemahan yang cukup banyak, sehingga pengetahuan yang didapatkan belum tentu
benar. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain Indera terbatas, benda
yang jauh terlihat kecil berbeda ketika benda tersebut berada di dekat kita,
lalu apakah benda tersebut memang berubah menjadi kecil? tidak, keterbatasan
kemampuan indera ini dapat memberikan pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua
adalah Indera menipu, gula yang rasanya manis akan terasa pahit ketika
dirasakan oleh orang yang sakit, begitu juga udara yang yang panas akan terasa
dingin. Sehingga hal ini akan memberikan pengetahuan yang salah juga. Kelemahan
ketiga ialah Obyek yang menipu, seperti ilusi, fatamorgana. Di sini
Indera menangkap obuek yang sebenarnya tiada. Kelemahan keempat berasal dari
indera dan obyek sekaligus, indera misalnya mata tidak dapat melihat obyek
secara keseluruhan dan begitu juga obyek yang tidak memperlihatkan dirinya
secara keseluruhan, sehingga hal ini akan memberikan informasi pengetahuan yang
salah pula.

b.      Pengetahuan Rasional

Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan
jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial dan bersifat
immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu; tetapi genus dan
spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki,
pendek, jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan
menghasilkan pengetahuan inderawi. tetapi orang yang mengamati manusia,
menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah
makhluk berfikir (rational animal = hewan nathiq), telah memperoleh pengetahuan
rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia. Manusia yang
telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar
yang telukis dalam perasaan.

Kelihatannya sudah cukup jelas bahwa pengetahuan
hanya terbagi menjadi dua, karena keduanya sudah saling melengkapi, tapi
ternyata hal tersebut belum cukup. Indera (empiris) dan akal (rasio/logis) yang
bekerjasama belum mampu mendapatkan pengetahuan yang lengkap dan utuh. Indera
hanya mampu mengamati bagian-bagian tertentu tentang obyek. Dibantu oleh akal,
manusia juga belum mapu memperoleh pengetahuan yang utuh. Akal hanya sanggup
memikirkan sebagian dari obyek.

Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak
mengacaukan metode yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap
ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai dengan wataknya. Watak ilmulah
yang menentukan metodenya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu
metode suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodenya sendiri.
Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metode ilmu alam untuk metafisika.

c.       Pengetahuan Isyraqi

Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi
saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat-hakikat.
Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang genus dan spesies.
Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan
ini. Al-Kindi, sebagaiman halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya
jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu
pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan
ini adalah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal
dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal
dari wahyu tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah untuk memperolehnya.
Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan
jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa meraka untuk memperoleh kebenaran
dengan jalan wahyu. Akal meyakinkan pengetahuan pengetahuan mereka berasal dari
tuhan, karena pengetahuan itu ada ketika manusia tidak mampu mengusahakannya,
karena hal itu memang di luar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan
lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan mereka kepada
kehendak tuhan, membenarkan semua yang dibawakan para nabi.

Untuk memberi contoh perbedaan pengetahuan manusia
yang diperoleh dengan jalan upaya dan pengetahuan para nabi yang diperoleh
dengan jalan wahyu, Al-Kindi mengemukakan pertanyaan orang-orang kafir tentang
bagaimana mungkin tuhan akan membangkitkan kembali manusia dari dalam kuburnya
setelah tulang-belulangnya hancur menjadi tanah; sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an
surah Yasin ayat 78-82. Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an ini
amat cepat diberikan oleh nabi Muhammad saw. karena berasal dari wahyu tuhan,
dan tidak yakin akan dapat dijawab dengan cepat dan tepat serta jelas oleh
filosuf.

Pertanyaan yang diajukan pada nabi Muhammad saw.
adalah sebagai berikut: Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang
yang telah membusuk? Segeralah tuhan menurunkan wahyu jawabannya:
Katakanlah yang memberinya hidup adalah penciptanya yang pertama kali yang
mengetahui segala kejadian, Dia yang menjadikan bagimu api dari kayu yang
hijau, kemudian kamu menyalakan api darinya. Tiadakah yang telah menciptakan
langit dan bumi sanggup menciptakan yang serupa itu? Tentu saja karena Dia maha
Pencipta, maha Tahu. Bila Dia menghendaki sesuatu, cukuplah Dia perintahkan,
”jadilah”, maka iapun menjadi.

Al-Kindi memberikan penjelasannya tentang ilmu
yang berasal dari Tuhan sebagaimana dicerminkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an
tersebut sebagai berikut:

Tidak ada bukti bagi akal yang terang dan bersih
yang lebih gamblang dan ringkas daripada yang tertera dalam ayat-ayat Al-Qur’an
tersebut, yaitu bahwa tulang-belulang yang benar-benar telah terjadi setelah
tiada sebelumnya, adalah sangat mungkin apabila telah rusak dan busuk ada kembali.
Mengumpulkan barang yang berserakan lebih mudah daripada membuatnya dari tiada,
meskipun bagi Tuhan tidak ada hal yang dapat dikatakan lebih mudah ataupun
lebuh sulit. Kekuatan yang telah menciptakan mugkin menumbuhkan sesuatu yang
telah dihancurkan.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa tuhan telah menjadikan
kayu hijau dan dapt dibakar menjadi api; hal ini mengandung ajaran bahwa
sesuatu mungkin bisa terjadi dari lawannya. Tuhan menjadikan api dari bukan api
dan menjadikan panas dari bukan panas. Jika sesuatu mungkin terjadi dari
lawannya, maka akan lebih mungkin lagi sesuatu terjadi dari dirinya sendiri.

Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa tuhan yang telah
menciptakan langit dan bumi berkuasa pula menciptakan yang serupa itu, karena
Dia adalah tuhan yang maha pencipta lagi maha mengetahui. Al-Kindi menjelaskan
bahwa hal tersebut dapat diyakini kebenarannya secara amat jelas tanpa
memerlukan argumentasi apapun. Orang-orang kafir mengingkari penciptaan langit,
karena mereka mengira bagaimana langit itu diciptakan, berapa lama waktu yang
diperlukan jika dibandingkan dengan perbuatan manusia melakukan suatu
pekerjaan. Sangkaan mereka itu tidak benar, tuhan tidak memerlukan waktu jika
menghendakiuntuk menciptakan sesuatu. Tuhan berkuasa menciptakan sesuatu dari
yang bukan sesuatu dan mengadakan sesuatu dari tiada. Sesuatu ada bersamaan
dengan kehendak-Nya.

Al-Kindi mengakhiri penjelasannya tentang
ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan contoh-contoh di atas sebagai beriku: “Tak
ada manusia yang dengan filsafat manusia sanggup menerangkan sependek
huruf-huruf yang tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepada
Rasul-Nya itu, yang menerangkan bahwa tulang-belulang akan hidup setelah
membusuk dan hancur, bahwa kekuasaan tuhan seperti menciptakan langit dan bumi,
bahwa sesuatu dapat terjadi dari lawannya. Kata-kata manusia tidak sanggup
menuturkannya, kemampuan manusia tidak sanggup melakukannya; akal manusia yang
bersifat parsial tidak terbuka untuk sampai pada jawaban yang demikian itu.”

Pengetahuan Isyraqi ini, selain didapatkan oleh
para nabi. Ada kemungkinan juga didapatkan oleh orang-orang yang beris, suci
jiwanya, walaupun tingkatan atau derajatnya berada dibawah dari pengetahuan
yang dipeoleh para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan para nabi yang diperoleh
dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan para filosuf
yang tidak dari wahyu.

E. Karya-karya al-Kindi

Karya yang telah
dihasilkan oleh al-Kindi kebanyakan hanya berupa makalah-makalah. Ibnu Nadim,
dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan lebih dari 230 buah.
George N. atiyeh menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan
al-Kindi sebanyak 270 buah.

Dalam bidang Filsafat, karangan
al-Kindi pernah diterbitkan oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan judul Rosail
al-Kindi al-Falasifah
(Makalah-makalah filsafat al-Kindi) yang berisi 29
makalah. Prof. Ahmad Fuad Al-Ahwani pernah menerbitkan makalah al-Kindi tentang
filsafat pertamanya dengan judul Kita al-Kindi ila al-Mu’tashim Billah fi
al-Falsafah al-Ula
(Surat al-Kindi kepada Mu’tashim Billah tentang filsafat
pertama).

Karangan-karang al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan
kecermatannya dalam memberikan batsasan-batasan makna istilah-istilah yang
digunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Ilmu-ilmu filsafat yang ia bahas mencakup
epistemologi, metafisika, etika dan sebagainya. Sebagaimana halnya para
penganut Phytagoras, al-Kindi juga mengatakan bahwa dengan matematika orang
tidak bisa berfilsafat dengan baik.

Kalau dilihat dari
karangannya al-Kindi adalah penganut aliran eklektisisme. Dalam
metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles, dalam
Psikologi ia mengambil pendapat Plato, dalam bidang etika ia mengambil
pendapat-pendapat Socrates dan Plato. Namun kepribadian al-Kindi sebagai
filosuf Muslim tetap bertahan. Misalnya dalam membicarakan tentang kejadian
alam al-Kidi tidak sependapat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam itu
abadi, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa alam adalah ciptaan Allah,
diciptakan dari tiada dan akan berakhir menjadi tiada pula.

Sebagai seorang filosuf yang mempelopori mempertemukan agama dengan filsafat Yunani, al-Kindi menghadapi banyak tantangan para ahli agama. Ia dianggap telah meremehkan bahkan membodoh-bodohi ulama’ yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Fitnah-fitnah yang ditujukan kepadanya semakin deras dan keras, terutama pada masa pemirantahan Mutawakkil. Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat adalah semulia-mulianya ilmu dan yang tertinggi martabatnya, dan filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir (ulul albab) untuk memiliki filsafat itu. Pernyataan ini terutama tertuju kepada ahli-ahli agama yang mengingkari filsafat dengan dalih sebagai ilmu syirik, jalan menuju kekafiran dan keluar dari agama. Menurut al-Kindi, berfilsafat tidaklah berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama. Filsafat sejalan dan dapat mengabdi kepada agama.

to be continue…

 

DAFTAR PUSTAKA

Musthofa, Ahmad. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. PUSTAKA SETIA.

Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Umum, Akal dan hati sejak Thales sampai
Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: