Cedde’ tentang Daulah Bani Umayyah_

Latar Belakang Masalah

Sepeninggal Ali ibn Abi Talib, Gubernur Syam tampil sebagai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal kedaulatan bani Umayyah. Muawiyah ibn Abu Sufyan ibn Harb adalah pendiri dinasti Umayyah dan sekaligus menjadi khalifah pertama[1] setelah Hasan ibn Ali berdamai dan menyerahkan kepemimpinan umat kepadanya . Ia memindahkan kekuasaan Islam dari Kufah ke Damascus.

 

Bani Umayyah atau dinasti Umayyah adalah kekhalifaan pertama setelah masa Khulafā’ al-Rāsyidīn yang memerintah dari tahun 661 sampai tahun 750 di jazirah Arab dan sekitarnya. Nama dinasti ini diambil dari nama tokoh Umayyah ibn ‘Abd al-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah, yaitu Muawiyah.[2]

 

Keberhasilan Muawiyah mendirikan kekuasaan dinasti Umayyah disebabkan dalam dirinya terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan administratur. Ia pandai bergaul dengan berbagai tempramen manusia, sehingga ia dapat mengakumulasi berbagai kecakapan tokoh-tokoh pendukungnya, bahkan bekas lawannya sekalipun.[3]

 

Berkat kepiawaiannya bersama dengan khalifah-khalifah yang lain dari dinasti ini, maka hanya dalam kurun waktu lebih kurang 90 tahun banyak bangsa baik di Timur maupun Barat yang masuk dalam kekuasaan Islam seperti Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Jazirah Arab, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Uzbekistan dan Kirgistan.[4] 

 

Di samping perluasan daerah kekuasaan, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam berbagai bidang, baik politik maupun sosial budaya. Ia juga memberi peluang bagi perkembangan berbagai aliran yang tumbuh di masyarakat yang tanpa disadari mengakibatkan timbulnya pertentangan-pertentangan terutama dalam hal perebutan kekuasaan yang pada akhirnya membawa kemunduran bahkan melululantahkan kekuasaan Bani Umayyah.

 

A. Ciri-Ciri Khusus Daulah Bani Umayyah

 

Ada beberapa ciri yang dimiliki oleh Daulah Bani Umayyah antara lain adalah: 

Pergantian Khalifah pada masa Bani Umayyah melalui sistem warisan secara turun temurun, berbeda dengan masa Khulafā’al-Rāsyidīn yang mempergunakan sistem syūrā dan pemilihan. 

Khalifah-khalifah Bani Umayyah telah meniru kebiasaan Kaisar Romawi dan Kisra Persia, kecuali Umar bin Abdul Aziz. Berbeda dengan Khulafā’al-Rāsyidīn yang bersifat sederhana dan tidak bermewah-mewahan. 

Daulah Bani Umayyah merupakan daulah yang murni dikuasai oleh bangsa Arab, berbeda dengan daulah berikutnya, yaitu Daulah Abbasiyah yang lebih banyak mengandalkan kekuasaannya kepada kekuatan non-Arab dari pada kekuatan Arab. 

Pada masa Daulah Bani Umayyah dipandang sebagai masa percampuran antara Arab dan non-Arab, baik dari sudut kebudayaan, bahasa maupun tradisi, sehingga non-Arab dapat memasukkan alam pikiran, keyakinan dan tradisinya kepada Arab Muslim. 

Pada masa ini, telah dimulai gerakan ilmiah dan sastra. Bahasa Arab merupakan bahasa resmi Daulah Bani Umayyah. 

Bertambahnya perluasan wilayah Islam. 

Munculnya sekte-sekte Islam seperti Syiah, Khawarij, Mu’tazilah dan lain-lain. 

Keutuhan kekuasaan wilayah Islam dalam satu penguasa , berbeda dengan masa Daulah Abbasiyah di mana Daulah-Daulah Islam bermunculan. [5] 

Bani Umayyah mempunyai toleransi dalam beberapa bidang. Sekalipun pro-Arabisme, namun tidak menjauhkan diri dari golongan non-Islam. Sikap ini telah membantu daulah tersebut mencapai kemajuan ilmiah, dan berhasil menerjemahkan buku-buku dari bahasa-bahasa asing ke dalam bahasa Arab.[6]

 

B. Sekilas Kejayaan Daulah Bani Umayyah

 

1. Ekspansi Wilayah Islam

 

Masa pemerintahan Bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif di mana perhatian tertumpu kepada usaha perluasan wilayah dan penaklukan yang terhenti sejak zaman Khalifah Usman bin Affan dan Khalifah Ali.[7] 

Perluasan wilayah yang dilakukan pada masa Bani Umayyah meliputi tiga front penting yaitu :

Pertama, front melawan bangsa Romawi di Asia Kecil dengan sasaran utama pengepungan ke ibu kota Kostantinopel serta penyerangan ke pulau-pulau di Laut Tengah.

Kedua, front Afrika Utara. Front ini meluas sampai ke pantai Atlantik kemudian menyeberangi Selat Jabal Tarik lalu masuk ke Spanyol. Front pertama dan kedua dinamakan juga front Barat.

Ketiga, front Timur yang menghadapi wilayah yang sangat luat sehingga ekspansi ini dibagi menjadi dua arah. Yang satu menuju utara ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun (Amu Dariah), sedangkan yang lainnya menuju selatan menyusuri daerah Sind [8], wilayah India bagian barat.

 

2. Pengembangan Sosial Budaya.

 

Dalam lapangan sosial budaya, Bani Umayyah telah membuka terjadinya kontak antara bangsa-bangsa Muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki tradisi yang luhur seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya. Hubungan itu lalu melahirkan kreatifitas baru yang menakjubkan di bidang seni dan ilmu pengetahuan.[9]

 

Di lapangan seni terutama seni bangunan (arsitektur), Bani Umayyah berhasil mendirikan beberapa bangunan mewah diantaranya; Mesjid Baitul Maqdis di Yerusalem yang terkenal dengan kubah batunya ( Qubbah al-Sakhra) yang dibangun oleh Khalifah Abdul Malik pada tahun 691 M dan istana Qusayr Amrah yang tebuat dari kapur berwarna bening kemerah-merahan.[10] Perhatian terhadap seni sastra juga meningkat pada masa ini,terbukti dengan lahirnya tokoh tokoh besar seperti Ahtal, Farazdaq, Jurair dan lain-lain.[11]

 

Ilmu pengetahuan pada masa ini telah berkembang misalnya ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu sejarah dan ilmu-ilmu akal lainnya. Buku-buku tentang ilmu-ilmu tersebut tersedia untuk dijadikan bahan ilmiah. Pendukung ilmu tidak lagi dari bangsa Arab asli tapi juga dari golongan non-Arab, bahkan golongan inilah yang membagi ilmu pengetahuan tersebut ke berbagai bidang seperti: 

Ilmu pengetahuan bidang agama, yaitu segala ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. 

Ilmu pengetahuan bidang sejarah, yaitu segala ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah dan riwayat. 

Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yangmempelajari bahasa, nahwu, sharaf dan lain-lain. 

Ilmu pengetahuan bidang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bangsa asing, seperti ilmu mantiq, kedokteran, kimia, astronomi, ilmu hitung dan lain-lain yang ada hubungannya dengan ilmu tersebut. [12]

 

C. Kemunduran dan Kehancuran Daulah Umayyah

 

Sudah merupakan sunnatullah terhadap semua makhluk-Nya , bahwa segala yang ada di muka bumi ini senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an ( 30 : 54) , yang menjelaskan fase-fase kehidupan manusia*

!$# “Ï%©!$# Nä3s)n=s{ `ÏiB 7#÷è|Ê ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB ω÷èt 7#÷è|Ê Zo§qè% ¢OèO Ÿ@yèy_ .`ÏB ω÷èt ;o§qè% $Zÿ÷è|Ê Zpt7øŠx©ur 4 ß,è=øƒs† $tB âä!$t±o„ ( uqèdur ÞOŠÎ=yèø9$# ㍃ωs)ø9$# ÇÎÍÈ  

 

Belajar dari makna firman Allah tersebut, maka kita dapat mengambil pelajaran dari perumpamaan manusia yang tadinya lemah kemudian menjadi kuat dan kokoh, yang pada gilirannya akan melemah selemah-lemahnya kembali, begitu juga matahari yang terbit dari ufuk timur kemudian meninggi dan akhirnya terbenam di ufuk barat. Demikian pula dengan negara seperti daulah bani Umayyah yang diawali dengan pembentukan dinasti lalu besar dan berkuasa di empat penjuru, namun akhirnya mengalami kemunduran yang mengakibatkan kehancurannya.

Faktor Kemunduran dan Kehancuran Daulah Umayyah

Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Muawiyah tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan ibn Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian pemimpin setelah Muawiyah diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.[13]

Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid kemudian mengirim surat kepada gubernur Madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya. Dengan cara ini, semua orang terpaksa tunduk, kecuali Husein ibn Ali dan Abdulah ibn Zubair. Bersamaan dengan itu, Syi’ah (pengikut Ali) melakukan konsolidasi (penggabungan) kekuatan kembali. [14]

Perlawanan orang-orang Syi’ah tidak padam dengan terbunuhnya Husein. Gerakan mereka bahkan menjadi lebih keras dan tersebar luas. Yang termashur diantaranya adalah pemberontakan Mukhtar di Kufah pada tahun 685-687 M. Mukhtar mendapat banyak pengikut dari kalangan kaum Mawali.. Mukhtar terbunuh dalam peperangan melawan gerakan oposisi lainnya, yaitu gerakan Abdullah ibn Zubair.

Abdullah ibn Zubair membina gerakan oposisinya di Makkah setelah dia menolak sumpah setia terhadap Yazid. Akan tetapi, dia baru menyatakan dirinya secara terbuka sebagai khalifah setelah Husein ibn Ali terbunuh. Untuk memperoleh dukungan Ia menyanjung-nyanjung Husein dan menjelek-jelekkan bani Umayyah. [15] Gerakan Abdullah ibn Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan Abd al-Malik.

Hubungan pemerintah dengan gerakan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Sepeninggal Beliau, kekuasaan Bani Umayyah berada di bawah khalifah Yazid ibn Abd al-Malik (720- 724 M). Penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada zamannya berubah menjadi kacau.

Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Khalifah berikutnya, Hisyam ibn Abd al-Malik (724-743 M). Bahkan di zaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan Bani Hasyim yang didukung oleh golongan mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan berikutnya kekuatan baru ini, mampu menggulingkan dinasti Umawiyah dan menggantikannya dengan dinasti baru, Bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn Abd al-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi terlalu kuat khalifah tidak berdaya mematahkannya. [16]

Sepeninggal Hisyam ibn Abd al-Malik, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. Akhirnya, pada tahun 750 M, Daulat Umayyah digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim al-Khurasani. Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah, melarikan diri ke Mesir, ditangkap dan dibunuh di sana.[17]

Kebesaran yang telah diraih oleh Bani Umayyah selama kurang lebih 90 tahun ternyata tidak mampu menahan kehancurannya akibat kelemahan-kelemahan internal dan semakin kuatnya tekanan dari fihak luar. Adapun faktor-faktor yang membawa kehancuran Bani Umayyah dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

  • Ketidakcakapan para penguasa serta kejahatan perilaku mereka merupakan faktor utama hancurnya kekuasaan dinasti ini. Hampir semua penguasanya lemah kecuali 5 khalifah besar bani Umayyah. Khalifah-kahalifah setelah Hisyam adalah penguasa yang tidak cakap dan bermoral jahat. Kesenangan mereka hanya berburu, meneguk anggur serta asyik mendengarkan musik dan tarian dari harem-harem istana. Para penguasa lupa mengurusi pemerintahan dan nasib rakyat, mereka malah membebani rakyatnya dengan pajak yang tinggi.[18] 
  • Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidakjelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.[19]
  • Pertentangan keras antara suku-suku Arab yang sejak lama terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok Mudariyah (Arab Utara) yang menempati Irak dan kelompok Himyariah (Arab Selatan) yang berdiam di wilayah Suriah. Di Zaman Umayyah, persaingan antaretnis itu mencapai puncaknya karena para khalifah cenderung kepada satu fihak dan menafikan yang lainnya.[20] 
  • Egoisme para pejabat pemerintahan dan terjadinya pembelotan militer. Pada umumnya para penguasa mempercayakan urusan pemerintahan kepada para pejabat istana. Pejabat istana menjalankan amanah itu untuk memuaskan ambisi dan tujuan-tujuan pribadi. Mekanisme pemerintahan tersebut tidak memuaskan semua pihak sehingga menimbulkan gerakan yang mengguncang stabilitas kerajaan. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya tentara kerajaan dengan pihak musuh.[21]
  • Perlakuan yang tidak Adil terhadap non-Arab (Mawali). Muslim non-Arab merasa tidak senang dengan tindakan penguasa Umayyah yang selalu membedakan mereka dengan Muslim Arab baik dari segi sosial politik maupun ekonomi. Akibatnya muslim non-Arab sering melakukan pemberontakan dan terakhir mereka bergabung dengan gerakan Abbasiyah. [22]
  • Ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam non Arab. Mereka adalah pendatang baru dari kalangan bangsa-bangsa taklukkan yang mendapatkan sebutan mawali. Status tersebut menggambarkan infeoritas di tengah-tengah keangkuhan orang-orang Arab yang mendapatkan fasilitas dari penguasa Umayyah. Padahal mereka bersama-sama Muslim Arab mengalami beratnya peperangan dan bahkan beberapa orang di antara mereka mencapai tingkatan yang jauh di atas rata-rata bangsa Arab. Tetapi harapan mereka untuk mendapatkan kedudukan dan hak-hak bernegara tidak dikabulkan. Seperti tunjangan tahunan yang diberikan kepada mawali itu jumlahnya jauh lebih kecil dibanding tunjangan yang dibayarkan kepada orang Arab. 
  • Propaganda dan gerakan Syi’ah. Mereka adalah pendukung Ali yang berkembangan menjadi suatu aliran setelah tragedi Karbala. Sejak semula kelompok ini tidak mengakui pemerintahan Umayyah dan menganggap para penguasanya sebagai perampas kekuasaan. Mereka tidak pernah memaafkan kejahatan pembunuhan Ali, Hasan dan Husen. Misi dan propaganda mereka untuk membela keturunan Nabi Muhammad secara efektif berhasil menarik simpati kelompok yang tertindas.[23] 
  • Kerajaan Islam pada zaman kekuasaan Bani Umayyah telah demikian luas wilayahnya, sehingga sukar mengendalikan dan mengurus administrasi dengan baik, tambah lagi dengan sedikitnya jumlah penguasa yang berwibawa untuk dapat menguasai sepenuhnya wilayah yang luas itu.
  • Latar belakang terbentuknya kedaulatan Bani Umayyah tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik. Kaum Syi’ah dan Khawarij terus berkembang menjadi gerakan oposisi yang kuat dan sewaktu-waktu dapat mengancam keutuhan kekuasaan Umayyah.
  • Adanya pola hidup mewah di lingkungan istana menyebabkan anak-anak Khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Di samping itu, golongan agama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang.
  • Penindasan terus menerus terhadap pengikut-pengikut Ali pada khususnya, dan terhadap Bani Hasyim (Hasyimiyah) pada umumnya, sehingga mereka menjadi oposisi yang kuat. Kekuatan baru ini, dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abdul al- Muthalib dan mendapat dukungan penuh dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum mawali yang merasa dikelasduakan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Hal ini menjadi penyebab langsung tergulingnya kekuasaan Dinasti Bani Umayyah.[24]
  • Propaganda dan gerakan Abbasiah. Propaganda kelompok Abbasiyah secara gencar menyerang segi-segi negatif dan kelemahan-kelemahan sepanjang pemerintahan dinasti Umayyah. Setelah propaganda mereka berhasil memobilisasi berbagai kelompok masyarakat termasuk tiga kelompok terbesar yaitu Abbasiyah, Syi’ah dan Mawali yang dipimpin oleh Abu Abbas, mereka berkoalisi mengadakan penyerbuan dan berakhir dengan runtuhnya Daulah Umayyah di bawah pemerintahan khalifah terakhir Marwan Ibn Muhammad.[25]

PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada pembahasan maka penulis menyimpulkan bahwa kesuksesan yang diperoleh bani Umayyah selama kurang lebih 90 tahun baik dalam bidang politik maupun dalam bidang sosial budaya ternyata tidak mampu menahan kehancurannya akibat kelemahan-kelemahan internal (seperti; ketidakcakapan penguasa, pemerintahan yang monarchi, egoisme para pejabat ) dan kuatnya tekanan dari pihak luar (seperti; pertikaian antarsuku Arab, konflik-konflik politik yang berkembang menjadi gerakan oposisi, ketidakpuasan sejumlah pemeluk Islam ).

DAFTAR PUSTAKA

Ali, K. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Cet. 3, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Fachruddin, Fuad Mohammad, Perkembangan Kebudayaan Islam, Cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1985.

Hasjmy, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1993

Magriby, Muhammad Ali, Tārīkh al- Daulah al-Umawiyah, Juz. II, Cet. 1, Kairo: Madāny, 1989.

Mansyur Amin, Muhammad, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Indonesia Sprit Foundation, 2004.

Mufrodi, Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cet. 1, Jakarta: Logos, 1997.

Nasution, Harun , Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Cet. 5 ; Jakarta : UI Press, 1985

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, Cet. 1, Jakarta: Prenada Media, 2003.

Shaban, M.A., Sejarah Islam (Penafsiran Baru) 600-750 M, Cet. 1, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Shalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, Cet. V, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988

al-Waqil, Muhammad Sayyid, Wajah Dunia Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Cet. 16 ; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.

http://in.wikipedia.org/wiki/Sejarah Bani Umayyah, diakses pada tanggal 18 Oktober 2010.

[1] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, ( Cet. 1; Jakarta: Logos, 1997), h. 69

[2] Wikipedia, Ensiklopedia berbahasa Indonesia, Sejarah Bani Umayyah, (Online) diakses pada tanggal 17 September 2007

[3] K. Ali , Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), (Cet. 3 ; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 167

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Cet. 16 ; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 44. Lihat juga Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Cet. 5 ; Jakarta : UI Press, 1985), h. 61

[5] Muhammad Mansyur Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Bandung: Inndonesian Spirit Foundation, 2004), h. 99-100.

[6] Fuad Muhammad Fachruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Cet. 1; Jakarta: Bulan Bintang, 1985), h. 38.

[7] Ali Mufrodi, op.cit., h. 80

[8] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, (Cet. V; Jakarta: Pustaka Al Husna, 1988), h. 142.

[9] Ali Mufrodi, op.cit., h. 83

[10] K. Ali, op.cit., h. 225

[11] Ali Mufrodi, log.cit.

[12] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, ( Cet.1; Jakarta: Prenada Media, 2003), h. 41.

[13] Badri Yatim, op.cit., h.45

[14] Bandingkan dengan Muhammad Sayyid al-Waqil, Wajah Dunia Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), h. 47

[15] M.A. Shaban, Sejarah Islam , (Penafsiran Baru) 600-750 M, (Cet.1; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), h. 77

[16] Badri Yatim, op.cit., h. 47

[17] Ibid.

[18] K. Ali, op.cit. h. 226

[19] Badri Yatim, op.cit., h. 48

[20] Muhammad Ali Magriby, Tārīkh al- Daulah al-Umawiyah, Juz II (Cet. 1 ; Kairo: al-Madāny, 1989), h. 1290

[21] K.Ali, log.cit.

[22] Muhammad Mansyur Amin, op.cit., h. 101.

[23] K.Ali, op.cit., h. 228

[24] Badri Yatim, op.cit., h.48-49 dan Hasjmy, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta; Bulan Bintang, 1993) h. 210

[25] Ibid. Lihat juga Muhammad Sayyid al-Waqil, op.cit., h. 72

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: