MAKNA DAN PENGERTIAN SYAZ

A.    Pendahuluan

            Hadis merupakan materi primer dari ilmu hadis. Dikatakan materi primer karena semua aspek hadis dikaji oleh ilmu ini. Ilmu hadis muncul dalam kepentingan penetapan kaidah-kaidah untuk menjaga dan memastikan sebuah hadis sampai pada konsumen hadis dengan selamat. “Selamat” dalam artian sampai pada pembaca, penelaah, pengkaji, dan peneliti hadits, dengan transformasi yang terjaga kesahihannya. Bagaimana tidak? Ilmu hadis merupakan disiplin ilmu yang bertujuan untuk memisahkan hadis yang sahih dengan yang saqim[1] baik perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat-nya.[2]

Ulama sepakat bahwa hadis meliputi perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifah al-khalqiyah maupun sifah al-khuluqiyah.[3] Bisa dinyatakan sepakat karena substansi definisi yang berkembang di kalangan ulama, semuanya memuat poin-poin yang sama walaupun mereka berbeda pada redaksi dan beberapa hal.[4] Sebagian ulama lain ada yang tidak memasukkan unsur taqrir ke dalam definisi tersebut, namun menjadikannya sebagai unsur kaidah minor pada unsur mayor hadis fi‘liyah.[5]

Kemunculan ilmu hadis yang bertujuan untuk mengawal kemurnian hadis tersebut sampai kepada konsumennya menjadi sebuah keniscayaan. Untuk itu salah satu pembahasan ilmu hadis yang urgen adalah kaidah kesahihan hadis. Kaidah ini meneliti dan memastikan sebuah hadis terjamin transformasinya aman dari penyimpangan, pemalsuan, perubahan dan terhindar dari unsur syaz.

            Kaidah kesahihan hadis tersebut selanjutnya dikategorisasikan kepada beberapa poin yang kemudian menjadi variabel-variabel dalam penelitian kesahihan sebuah hadis. Jika merujuk pada beberap pokok bahasan terdahulu, maka kaidah kesahihan hadis itu terdiri dari: (1) Bersambung sanadnya (ittisal al-sanad); (2) Periwayatnya adil; (3) Periwayatnya dabit; (4) Terhindar dari unsur syaz; (5) Tidak mengandung ‘illah.

Kelima kaidah ini bisa dikatakan, merupakan kesepakatan ulama yang terus digunakan sampai saat ini dalam mengukur kualitas sebuah hadis, walaupun ada perbedaan pembagian klasifikasi di antara mereka. Namun perbedaan itu tetap tidak menghilangkan salah satu unsur pun dari kelima kaidah di atas.

Syuhudi hanya membagi kaidah kesahihan ke dalam tiga kaidah yaitu: (1) Sanad hadis tersebut harus bersambung mulai dari mukharrij-nya sampai kepada Nabi saw.; (2) Seluruh periwayat dalam hadis itu harus bersifat adil dan dabit; (3) hadis itu (sanad dan matannya) harus terhindar dari kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illah).[6]

Jika kelima unsur kaidah ini terpenuhi syarat-syaratnya oleh hadis, saat itu hadis tersebut dinyatakan valid dan bisa dijadikan hujjah. Lebih tepatnya dalam istilah ilmu hadis dinyatakan dengan hadis sahih. Dalam makalah ini penulis akan membahas pengantar tentang syaz.

 

B.     Pengertian Syaz dan Pandangan Para Ulama

Sebelum mendeskripsikan perbedaan definisi yang ada pada ulama, maka perlu dideskripsikan terlebih dahulu terminologi syaz menurut bahasa. Berikut ini pengertian syaz menurut bahasa dalam beberapa literatur.

1.      Mu‘jam Maqayis al-Lugah: dengan kata dasar al-syin dan al-zal menunjukkan pada al-infirad (sendirian, asing, terisolasi[7]) dan al-mufaraqah (terpisah, pertentangan, paradok).[8]Syuzaz al-nas artinya orang-orang yang ada pada suatu kaum padahal mereka bukan dari suku dan bukan asli penduduk di situ.[9]

2.      Al-‘Ain,syazza al-rajul min ashabih (orang itu berbeda dari teman-temannya) yaitu infarad ‘anhum (terpisah dari mereka). Segala sesuatu yang tersendiri, terisolasi maka disebut syazza.[10]

3.      Qamus al-Muhit mengartikanSyazza – yasyuzzu – yasyizzu – syazzan – wa syuzuzan yaitu nadar ‘an al-jumhur (aneh dari orang pada umumnya).[11]

4.      Al-Mu‘jam al-Wasit mengartikan dengan al-munfarid (menyendiri, terpisah), aw al-kharij ‘an al-jama‘ah (yang keluar dari jamaah), al-Syaz juga berarti makhalaf al-qa‘idah aw al-qiyas (menyalahi kaidah atau qiyas), atau ma yanharif ‘an al-qa‘idah (menyimpang dari kaidah).[12]

Literatur ilmu hadis yang membahas kaidah kesahihan hadis selalu mencantumkan perbandingan definisi syaz dengan mengutip definisi tiga ulama besar yaitu definisi Imam Syafi’i, al-Hakim al-Naisaburi dan Abu Ya‘la al-Khalili.[13] Muara pengutipan definisi syaz, jika ditinjau referensi yang mereka kutip, pada umumnya mengutip literatur karya al-Hakim dan Ibn al-Salah. Walaupun ada ulama yang tidak mengutip al-Hakim dan Ibn al-Salah, lebih dalam, sesungguhnya kutipan dari literatur yang mereka kutip biasanya juga mengutip dari al-Hakim dan Ibn al-Salah.

            Definisi Syaz menurut Imam Syafi‘i (150-204 H.)

الشَّاذُ هُوَ أَنْ يَرْوِيَ الثِقَةُ حَدِيْثًا يُخَالِفُ مَا رَوَي النَّاسُ.[14]

Artinya:

Al-Syaz adalah bahwa seorang siqah meriwayatkan sebuah hadis yang bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak.

Berbagai literatur hadis menjadikan definisi Imam Syafi‘i sebagai salah satu rujukan utama dalam mendefinisikan hadis syaz. Definisi Imam Syafi‘i ini selalu dikutip dalam menjelaskan hadis syaz. Hal ini sebagaimana telah penulis nyatakan di atas. Pertanyaan mendasar terhadap fakta ini adalah pada umumnya pengutipan itu tidak langsung mengutip pada literatur yang merupakan karya Imam Syafi‘i, tapi footnote-footnote yang mereka cantu/mkan justru mengutip pada sumber lain (literatur skunder).

            Kaidah syaz merupakan kaidah keempat dari kaidah kesahihan hadis. Kaidah kesahihan hadis sebagaimana dijelaskan di atas merupakan kaidah yang digunakan dalam memverifikasi kualitas sebuah hadis bernilai sahih atau tidak.

Lebih tegasnya lagi bahwa pengertian Kaidah Kesahihan Hadis adalah segala syarat, kriteria, atau unsur yang harus terpenuhi oleh suatu hadis yang berkualitas sahih. Kaidah kesahihan hadis meliputi sanad dan matan hadis. Untuk menjelaskan rentetan kemunculan kaidah kesahihan hadis sampai terangkum dan menjadi sebuah teori yang disepakati ulama saat ini.

Ulama hadis dari kalangan al-Mutaqaddimin, yakni ulama hadis sampai abad ke III Hijriah, belum memberikan pengertian definisi yang eksplisit (sarih) tentang hadis sahih. Mereka pada umumnya hanya memberikan penjelasan tentang penerimaan berita yang dapat diperpegangi. Pernyataan-pernyataan mereka, misalnya berbunyi: (1) tidak boleh diterima suatu riwayat hadis, terkecuali yang berasal dari orang-orang yang siqah[15]; (2) hendaklah orang yang akan memberikan riwayat itu diperhatikan ibadah shalatnya, prilaku dan keadaan dirinya; apabila tidak, maka riwayatnya tidak boleh diterima; (3) tidak boleh diterima riwayat hadis dari orang yang tidak dikenal memiliki pengetahuan hadisnya; (4) tidak diterima riwayat hadis dari pendusta, mengikuti hawa nafsu dan tidak mengerti hadis yang diriwayatkannya; (5) tidak diterima riwayat hadis orang yang ditolak kesaksiannya.[16]

Kelima kriteria di atas tertuju kepada kualitas dan kapasitas periwayat, artinya belum melingkupi seluruh syarat kesahihan suatu hadis. Imam al-Syafi‘i telah mengemukakan penjelasan yang lebih konkret. Dia menyatakan, khabar al-khassah (hadis ahad) tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali:

1.      Diriwayatkan oleh para periwayat yang: (a) dapat dipercaya agamanya; (b) jujur dalam menyampaikan berita; (c) paham hadis yang diriwayatkannya; (d) mengetahui perubahan makna hadis bila terjadi perubahan lafal; (e) meriwayatkan hadis secara lafal bukan riwayat makna; (f) terpelihara hafalannya, catatan bukunya jika meriwayatkan lewat buku; (g) apabila hadis yang diriwayatkannya diriwayatkan juga oleh orang lain, maka bunyi hadis itu tidak berbeda; (h) terlepas dari perbuatan penyembunyian cacat (tadlis).

2.      Rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi, atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi.[17]

Kriteria yang dikemukakan oleh al-Syafi‘itersebut sangat menekankan pada sanad dan cara periwayatan hadis. Kriteria sanad hadis yang dapat dijadikan hujjah tidak hanya berkaitan dengan persambungan sanad. Cara periwayatan hadis yang ditekankan oleh al-Syafi‘i adalah cara periwayatan secara lafal (harfiah).

Menurut Ahmad Muhammad Syakir, kriteria yang dikemukakan oleh al-Syafi‘idi atas telah mencakup seluruh aspek yang berkenaan dengan kesahihan hadis. Kata Syakir, al-Syafi‘iulama yang mula-mula menerangkan secara jelas kaidah kesahihan hadis.[18] Pernyataan Syakir ini memberi petunjuk, bahwa kaidah kesahihan hadis yang dikemukakan oleh al-Syafi‘i telah melingkupi semua bagian hadis yang harus diteliti, yakni sanad dan matan hadis. Dalam hubungan ini dapat dinyatakan bahwa untuk sanad hadis, kriteria al-Syafi‘i tersebut pada dasarnya telah secara tegas melingkupi seluruh aspek yang seharusnya mendapat perhatian khusus. Akan tetapi yang berkenaan dengan matan, al-Syafi‘i terlihat belum memberikan perhatian khusus secara tegas. Walaupun demikian tidaklah berarti kriteria al-Syafi‘i sama sekali tidak menyinggung masalah matan. Sebab dengan ditekankan pentingnya periwayatan hadis secara lafal, maka dengan sendirinya masalah matan tidak dapat diabaikan. Dalam kaitan ini al-Syafi‘i sangat yakin, bahwa bila suatu hadis telah memenuhi kriteria yang telah disebutkan itu, maka hadis dimaksud sulit dinyatakan tidak berkualitas sahih. Pendapat al-Syafi‘i itu memang cukup beralasan. Hanya saja, al-Syafi‘i secara metodologi tidak menyinggung kemungkinan adanya hadis yang pada lahirnya telah memenuhi kriteria yang telah dikemukakannya tetapi sesungguhnya hadis dimaksud bila diteliti lebih jauh ternyata mengandung cacat (‘illah) dan atau kejanggalan (syuzuz).

Bukhari dan Muslim juga tidak membuat definisi yang tegas tentang hadis sahih. Hasil penelitian ulama memberikan gambaran tentang hadis sahih menurut kriteria al-Bukhari dan Muslim.[19] Terdapat perbedaan pokok yang prinsip antara keduanya yaitu Bukhari mensaratkan “harus terjadi pertemuan antara para periwayat dengan periwayat terdekat dalam sanad, walaupun pertemuan itu hanya satu kali saja”. Sedang Muslim tidak mensaratkan pembuktian pertemuan, yang penting antara mereka telah terbukti kesezamanannya.[20]

Adapun persamaan persaratan antara keduanya menurut penelitian ulama antara lain: (1) rangkaian sanadnya bersambung; (2) periwayatnya siqah (‘adil dan dabit}); (3) Hadis itu terhindar dari ‘illah dan syuzuz;(4) para periwayat terdekat dalam sanad harus sezaman.[21]

Menurut al-Nawawi (w. 676 H./1277 M), semua persaratan di atas telah mencakup persaratan kesahihan sanad dan matan hadis.[22] Karena, persaratan yang disebutkan ketiga berkaitan dengan sanad dan matan, sedangkan tiga syarat lainnya berkaitan dengan sanad saja.

Definisi yang ditawarkan oleh ulama al-Muta’akhkhirin tidak terlepas dari berbagai keterangan yang telah dikemukakan oleh ulama al-Mutaqaddimin, khususnya definisi yang dikemukakan oleh al-Syafi‘i, al-Bukhari dan Muslim. Ibn al-Salah (w. 643 H/1245 M) adalah salah seorang ulama hadis al-Muta’akhkhirin  yang banyak pengaruhnya dikalangan ulama hadis sezaman dan sesudahnya. Dari definisi yang dia berikan dapat disimpulkan bahwa hadis sahih adalah hadis yang: (1) sanadnya bersambung sampai kepada Nabi; (2) seluruh periwayatnya adil dan dabit; (3) terhindar dari syazdan ‘illah.

Al-Nawawi menyetujui definisi hadis sahih yang dikemukakan oleh Ibn al-Salah tersebut dan meringkasnya dengan rumusan sebagai berikut:

مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِالعُدُوْلِ الضَّابِطِيْنَ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍمَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِالعُدُوْلِ الضَابِطِيْنَ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ.[23]

Artinya:

(Hadis sahih adalah) hadis yang bersambung sanadnya, (diriwayatkan oleh orang-orang) adil dan dabit, serta tidak terdapat (dalam hadis itu) kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illah).

 

Ulama hadis lainnya dari kalangan al-Muta’akhkhirin, misalnya Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H/1449 M), Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911 H/1505 M), Jamal al-Din al-Qasimi (w. 1332H/ 1914 M), dan Zakariya al-Kandahlawi (lahir. 1315 H/1898 M), telah pula mengemukakan definisi hadis sahih. Definisi yang mereka kemukakan, walaupun redaksinya tampak berbeda-beda tetapi pada prinsipnya isinya sama.[24]

Ulama hadis pada masa berikutnya, misalnya Mahmud al-Tahhan, Subhi al-Salih (w. 1407 H/1986 M), dan Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, juga memberikan pengertian yang sama. Walaupun pengertian hadis sahih di kalangan ulama di atas sama, namun tidak berarti telah terjadi ijmak. Ibn Kasir (w. 774 H/1373 M), misalnya, berpendapat bahwa hadis sahih bukan hanya yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi, melainkan juga yang bersambung sampai kepada tingkat sahabat. Sekalipun demikian Ibn Kasir mengakui, bahwa pendapat yang diikuti oleh ulama pada umumnya adalah pendapat yang telah dikemukakan oleh Ibn al-Salah dan al-Nawawi di atas.[25]

Disamping itu ada juga ulama lain, misalnya, Abu Muhammad al-Juwaini (w. 478 H/1085 M) berpendapat bahwa hadis sahih haruslah diriwayatkan oleh (sedikitnya) dua orang pada setiap tingkat (tabaqah) sanadnya.[26] Mahmud Abu Rayyah mengutip suatu pendapat yang menyatakan, bahwa hadis sahih adalah hadis yang di satu segi menjadikan jiwa tenang, serta terhindar dari kejanggalan (syuzuz) dan cacat (‘illah). Tetapi kedua pendapat terakhir ini tidak banyak pendukungnya.

Sebagian ulama fiqh dan ushul fiqh tidak mensaratkan keterhindaran dari syuzuz dan ‘illah untuk hadis sahih. Dalam kaitan ini al-‘Iraqi (w. 806 H./1404 M.) menandaskan, pengertian hadis sahih haruslah didasarkan kepada ulama yang ahli di bidang hadis, bukan kepada yang ahli di bidang pengetahuan lainnya.[27] Ini bentuk penolakan al-‘Iraqi terhadap pendapat ulama fiqh dan ushul fiqh di atas.

Dengan demikian dapat dinyatakan, bahwa pengertian hadis sahih yang diikuti oleh mayoritas ulama hadis adalah pengertian yang telah dikemukakan oleh Ibn al-Salah dan yang diringkas oleh al-Nawawi di atas. Hal ini berlaku sampai sekarang.

Pengertian hadis sahih yang disepakati oleh mayoritas ulama hadis di atas telah mencakup sanad dan matan hadis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa tiga kaidah pertama untuk penelitian sanad, sementara dua yang terakhir untuk penelitian sanad dan matan.[28] Karenanya, ulama hadis pada umumnya menyatakan bahwa hadis yang sanadnya sahih belum tentu matannya juga sahih. Jadi kesahihan sebuah hadis tidak hanya ditentukan oleh kesahihan sanad saja, melainkan juga ditentukan oleh kesahihan matannya.

Pada akhirnya dari perjalanan sejarah perkembangan pemahaman terhadap hadis sahih tersebut, ulama berpendapat sama bahwa kriteria kaidah kesahihan hadis itu ada lima kaidah. Unsur-unsur kaidah tersebut adalah: (1) sanad bersambung; (2) seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil; (3) seluruh periwayat dalam sanad bersifat dabit; (4) terhindar dari syuzuz; (5) terhindar dari ‘illah.

Dengan demikian, suatu sanad hadis yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah hadis yang kualitas sanadnya tidak sahih, termasuk di antaranya kaidah keempat (terhindar dari syuzuz). Maka urgensi kaidah syazdalamkaidah kesahihan hadis memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kaidah yang lain. Hanya ada ulama yang menjadikannya sebagai kaidah minor, misalnya Muhammad Syuhudi Ismail merangkaikannya pada penelitian kaidah pertama yaitu unsur sanad bersambung.[29]

Penulis berpendapat bahwa penelitian terhadap unsur syazitu harus dilakukan, dan diteliti secara terpisah. Serta mengingat pembahasan verifikasi syaz memerlukan ruang yang luas dan ketelitian yang mendalam, peneliti sepakat untuk memberi ruang bahasan tersendiri, jadi tidak mejadikannya sebagai kaidah minor dari kaidah ittisal al-sanad.

            Argumentasi terhadap pernyataan ini adalah (1) ulama terdahulu mayoritas sepakat terhadap pemisahan tersebut; (2) salah satu sarat penelitian ke-syuzuz-an adalah telah diketahui terlebih dahulu bahwa kualitas hadis tersebut adalah sahih.[30]

            Demikian paparan makalah ini disampaikan agar dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis sendiri.


 

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad ‘Usman al-Khasyt, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1405/1985).

Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Usul al-Hadis ‘Ulumuh wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1395/1975).

Mahsyar, Telaah Kritis Kaidah Syaz dalam Kritik Matan Hadis (Tesis Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 2001).

Endang Soetari AD, Ilmu Hadis (Cet. II; Bandung: Amal Bakti Press, 1997)

Abu Muhammad ‘Abd al-Rahman al-Darimi, Sunan al-Darimi. Juz 1 (tt. Dar Ihya al-Sunnah al-Nabawiyah, t.th.).

Abu Abdullah Muhammad Ibn Idris al-Syafi‘i, al-Risalah,  Juz 2 (Kairo: Maktabah Dar al-Turas, 1399/1979).

Mahmud al-Tahhan, Taisir Mustalah al-Hadis, (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1399/1979).

Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani, Hady al-Syari Muqaddimah Fath al-Bari, Juz 14 (t.t: Dar al-Fikr dan al-Maktabah al-Salafiyah, t.th.).

Al-Husain ‘Abd al-Majid Hasyim, al-Imam al-Bukhari Muhaddisan Wa Faqihan (Kairo: al-Dar al-Qaumiyyah, t.th.)

Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud Ibn Amad al-‘Aini, Umdah al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari. Juz 1 (Beirut: Muhammad Amin Damaj, t.th.).

Al-Nawawi, Sahih Mualim Bi Syarh al-Nawawi. Juz 1(Mesir: al-Maktabah al-Misriyyah, 1924).

Mansur ‘Ali Nasif, al-Taj al-Jami‘Li al-Usul fi Ahadis al-Rasul Saw. Juz 1 (Mesir: Dar Ihya al-Turas al-‘Arabi, 1382/1962),

Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti, Tadrib al-Rawi Fi Syarh Taqrib al-Nawawi, Juz 1 (Beirut: Dar Ihya al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979).

Nur al-Din ‘Itr, al-Madkhal Ila ‘Ulum al-Hadis (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiah, 1972).


 


[1]Saqim adalah lawan dari sahih yaitu rusak.

[2] Muhy al-Din Ibn Syarf al-Nawawi (631-676 H), al-Taqrib wa al-Taisir Lima‘rifah Sunan al-Basyir al-Nazir, tahqiq, ta‘liq, taqdim oleh Muhammad ‘Usman al-Khasyt, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1405/1985), h. 5.

[3] Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Usul al-Hadis ‘Ulumuh wa Mustalah}uh (Beirut: Dar al-Fikr, 1395/1975), h. 19. Mahsyar, Telaah Kritis Kaidah Syaz dalam Kritik Matan Hadis (Tesis Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 2001), h. 1.

[4] Beberapa hal yang dimaksud adalah ulama mendefinisikan hadis dengan tidak memasukkan sesuatu yang berasal dari sahabat dan tabi‘in. Namun jumhur ulama menganggapnya termasuk khabar yang harus diakomodir sebagai hadis (khabar).

[5]Endang Soetari, IlmuHadis.Ilmu Hadis (Cet. II; Bandung: Amal Bakti Press, 1997), hal.3. Diantara yang tidak memasukkan unsur “taqrir” adalah Ibn Subki. Alasannya, karena taqrir telah tercakup dalam af‘al (segala perbuatan), maka, jika unsur taqrir dimasukkan, rumusan definisi akan menjadi gair mani‘ (tumpang tindih).

[6]Ibid. h. 73-74. Dalam buku ini Arifuddin mengutip pendapat Syuhudi dari bukunya Metodologi Penelitian.

[7] Atabik ‘Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdar, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia (Cet III; Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1996), h. 260.

[8]Ibid. h. 1778.

[9] Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris Ibn Zakariya, Mu‘jam Maqayis al-Lugah tahqiq dan dabt oleh ‘Abd al-Salam Muhammad Harun. Juz 3 (t.t: Dar al-Fikr, t.th.), h. 180.

[10] Abu ‘Abd al-Rahman al-Khalil Ibn Ahmad al-Farahidi (100-175 H.), Kitab al-‘Ain tahqiq oleh Muhdi al-Makhzumi dan Ibrahim al-Samura’i, Juz 6 (t.d.), h. 215.

[11] Majd al-Din Muhammad Ibn Ya‘qub al-Fairuzabadi al-Syairazi (729-817 H.), al-Qamus al-Muhit. Juz 1 (Mesir: al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Ammah Li al-Kitab, 1398 H./1978 M.), h. 351.

[12] Al-Fairuzabadi (729-817 H.), al-Mu‘jam al-Wasit (Cet. IV; Mesir: Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 1425 H./2004 M.), h.  476.

[13] Pernyataan ini bisa dibuktikan dengan merujuk kepada sekian banyak literatur ilmu hadis dimana semuanya mengutip definisi ketiga ulama hadis di atas. Sebagai data pembuktiannya adalah: (1) al-Hakim (321-405 H.), Ma‘rifah ‘Ulum al-Hadis, h. 119; (2) Ibn al-Salah (577-643 H), Muqaddimah, h. 36; (3) Sajid al-Rahman al-Siddiq, al-Mu‘jam al-Hadis Fi ‘Ulum al-Hadis (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1426/2005), h. 70.

[14] Ibn al-Salah, Muqaddimah, Ibid.,  al-Hakim al-Naisaburi, Ma‘rifah ‘Ulum al-Hadis, Ibid., dengan redaksi sama kecuali “yukhalif al-nas”. Muhammad Nasiruddin al-Alabani (selanjutnya disebut al-Albani), Irwa’ al-Galil Fi Takhrij Ahadis manar al-Sabil Juz 4 (Beirut, al-Maktabah al-Islami, 1399/1979), h. 177. Syakir (701-774 H), al-Ba‘is al-Hasis Fi Ikhtisar ‘Ulum al-Hadis\ (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, t.th.), h. 53. Ibrahim Ibn Musa Ibn Ayyub al-Burhan al-Abnasi (selanjutnya disebut al-Abnasi), al-Syazza al-Fayah min ‘Ulum Ibn al-Salah Juz 1 (Riyad: al-Maktabah al-Rasyd, 1418/1998), h. 180.

[15] Istilah siqah pada zaman itu lebih banyak diartikan sebagai kemampuan hafalan yang sempurna daripada diartikan sebagai gabungan dari istilah ‘adil dan dabit yang dikenal luas pada zaman berikutnya. Lebih lanjut lihat misalnya contoh ke-siqah-an periwayat hadis yang dikemukakan oleh Abu Muhammad ‘Abd al-Rahman al-Darimi (selanjutnya disebut al-Darimi), Sunan al-Darimi. Juz 1 (tt.: Dar Ihya al-Sunnah al-Nabawiyah, t.th.), h. 112.

[16]Ibid. h. 112-114, Abu Muhammad Ibn ‘Abd al-Rahman Ibn Abi Hatim al-Razi (selanjutnya disebut al-Razi), al-Jarh Wa al-Ta‘dil Juz 2 (Haidar Abad: Majlis Dairah al-Ma‘arif, 1371/1952), h. 27-33. Abu Bakar Ahmad Ibn Ali Ibn Sabit al-Khatib al-Bagdadi (selanjutnya disebut al-Khatib al-Bagdadi), al-Kifayah Fi ‘Ilm al-Riwayah (Mesir: Matba‘ah al-Sa‘adah, 1972), h. 72-73 dan 78.

[17] Abu Abdullah Muhammad Ibn Idris al-Syafi‘i (selanjutnya disebut al-Syafi‘i), al-Risalah ditahqiq dan disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir. Juz 2 (Kairo: Maktabah Dar al-Turas, 1399/1979), h. 369-371. Pernyataan al-Syafi‘i tersebut telah diulas oleh ulama hadis pada masa berikutnya. Misalnya pada karya Abu Bakar Ahmad Ibn al-Husain al-Baihaqi (selanjutnya disebut al-Baihaqi), Ma‘rifah al-Sunan Wa al-Asar, diteliti dan diberi notasi oleh al-Sayyid Ahmad Saqr. Juz 1 (t.t: Lajnah Ihya Ummahat Kutub al-Sunnah al-Majlis al-A‘la li al-Syu’un al-Islamiah al-Jumhuriyah al-‘Arabiyah al-Muttahidah, 1389/1969), h. 41-44, Abu Lubabat Husain, al-Jarh Wa al-Ta‘dil (Riyad: Dar al-Liwa’, 1399/1979), h. 77-78.

[18] Pernyataan Ahmad Syakir dalam memberikan syarah terhadap: Ibid. (al-Syafi‘i), (catatan kaki no. 3), h. 369.

[19] Mahmud al-Tahhan, Taisir Mustalah al-Hadis,  (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1399/1979), h. 43.

[20] Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Hajar al-‘Asqalani (selanjutnya disebut Ibn Hajar), Hady al-Syari Muqaddimah Fath} al-Bari, sampul luar terlihat Fath al-Bari. Juz 14 (t.t: Dar al-Fikr dan al-Maktabah al-Salafiyah, t.th.), h. 12. Al-Husain ‘Abd al-Majid Hasyim, al-Imam al-Bukhari Muhaddisan Wa Faqihan (Kairo: al-Dar al-Qaumiyyah, t.th.), h. 90-91. Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud Ibn Ahmad al-‘Aini (selanjutnya disebut al-‘Aini), ‘Umdah al-Qari Syarah Sahih al-Bukhari. Juz 1 (Beirut: Muhammad Amin Damaj, t.th.), h. 5. Al-Nawawi, Sahih Mualim Bi Syarh al-Nawawi. Juz 1(Mesir: al-Maktabah al-Misriyyah, 1924), h. 14-15. Mansur ‘Ali Nasif, al-Taj al-Jami‘Li al-Usul fi Ahadi al-Rasul Saw. Juz 1 (Mesir: Dar Ihya al-Turas al-‘Arabi, 1382/1962), h. 16. Sebagian ulama menyatakan bahwa al-Bukhari tidak hanya menetapkan kesezamanan dan pertemuan saja sebagai salah satu syarat kesahihan sanad hadis, tetapi juga terjadinya periwayatan harus dengan cara al-sama‘. Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman Ibn Abi Bakar al-Suyuti (selanjutnya disebut al-Suyuti), Tadrib al-Rawi Fi Syarh Taqrib al-Nawawi Juz 1 (Beirut: Dar Ihya al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979), h. 70.

[21]Ibid.Ibn Hajar, h. 8-10; Hasyim, h. 89-91; Al-‘Aini, h. 5-6; al-Nawawi, h. 15,50 dan 60); Muslim, al-Jami‘ al-Sahih, disunting kembali oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Juz 1 (t.t: ‘Isa al-Babi al-Halabi Wa Syurakah, 1375/1955), h. 5-9. Ibn al-Salah, ‘Ulum al-Hadis (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiyah, 1972), h. 15-22. ‘Ali Ibn Sultan al-Harawi al-Qari (selanjutnya disebut al-Qari), Syarh Nukhbah al-Fikar (Beirut: al-Dar al-Qawmiyyah, 1398/1978), h. 66-67.

[22]Al-Nawawi menyatakan hal tersebut tatkala dia mengomentari pernyataan Imam Muslim tentang persyaratan hadis yang berkualitas sahih. Ibid. (al-Nawawi), h. 60.

[23] Al-Nawawi, al-Taqrib Li al-Nawawi Fann Usul al-Hadis (Kairo: ‘Abd al-Rahman Muhammad, t.th.), h. 2.

[24] Ibn Hajar, Nuzhah al-Nazar Syarah Nukhbah al-Fikar (Semarang: maktabah al-Munawwar, t.th.), h. 12-13. al-Suyuti, op. cit., Juz 1. h. 63-64. Ahmad Muhammad Syakir (selanjutnya disebut Syakir), Syarah} Alfiyat al-Suyuti Fi ‘Ilm al-H{adis (Beirut: Dar al-Ma‘arif, t.th.), h, 3. Jamal al-Din al-Qasimi (selanjutnya disebut al-Qasimi), Qawa‘id al-Tah}dis Min Funun Mustalah al-Hadis (t.t: ‘Isa al-Babi al-Halabi Wa Syurakah, 1380/1961), h. 79. Muhammad Zakariya Ibn Muhammad Yahya al-Kandahlawi (selanjutnya disebut al-Kandahlawi), Muqaddimah Aujaz al-Masalik Ila Muwatta’ Malik Juz 1(India: Matba‘ah al-Sa‘adah, 1339/1973), h. 116.

[25] Abu al-Fida Ibn Kasir (selanjutnya disebut Ibn Kasir), Ikhtisar ‘Ulum al-Hadis, disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir dan diberi judul al-Ba‘is al-Hasis Fi Ikhtisar ‘Ulum al-Hadis (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h.6-7.

[26] ‘Abd al-Rahim Ibn al-Husain al-‘Iraqi (selanjutnya disebut al-‘Iraqi), al-Taqyid Wa al-Idah Syarah Muqaddimah Ibn al-Salah (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-Salafiah, 1400 H), h. 22.

[27]Mahmud Abu Rayyah, Adwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyah Aw Difa‘an ‘an al-Hadis (Mesir: Dar al-Ma‘arif, t.th.), h. 281.

[28]Nur al-Din ‘Itr, al-Madkhal Ila ‘Ulum al-Hadis (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-‘Ilmiah, 1972), h. 15.

[29] Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad, op. cit. h. 146. Syuhudi Ismail mengatakan bahwa pada unsur sanad bersambung ditambah unsur kaidah minornya dengan terhindar dari syuzuz, sehingga sanad yang dinyatakan bersambung telah benar-benar bersambung.

[30] Argumen yang kedua ini memiliki alasan yang kuat dimana ulama menyatakan bahwa sebuah hadis syaz awalnya berstatus sahih. Syuhudi, Kaedah Kesahihan, op. cit. h. 170. Ibn Hajar, al-Nukat, op. cit. Juz 1. h. 223-224.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: