KEADILAN PERIWAYAT

Makalah ini disampaikan di forum studi Qawa’id  At-Tahdis

Program Pascasarjana IAIN Antasari

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar belakang

Hadis sebagai sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-qur’an,[1] diakui oleh hampir seluruh umat Islam,[2] hanya sekelompok kecil umat Islam yang menolak hadits sebagai sumber ajaran Islam yang dikenal dengan ingkar al-Sunnah.[3]

Tidak diragukan lagi bahwa sunnah Rasulullah saw menempati posisi yang tinggi dalam agama Islam, oleh karena selain sunnah merupakan sumber penetapan hukum yang kedua setelah Al-Qur’an, sunnah juga merupakan sumber pengetahuan baik keagamaan atau ma’rifah diniyah, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan alam ghaib yang sumber satu-satunya adalah wahyu, seperti yang berkaitan dengan Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, surga dan neraka, hari kiamat dan tanda-tandanya, kejadian-kejadian diakhir zaman, ataupun pengetahuan yang berkaitan dengan aspek kemanusiaan atau jawanib insaniyah seperti yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Selain  itu sunnah juga merupakan sumber peradaban baik dalam tataran konsep peradaban fikhu hadhary, perilaku peradaban suluk hadhary ataupun pembentukan peradaban bina’ hadhary.[4]

Dalam studi hadis persoalan sanad dan matan terkhusus kepada sanad merupakan unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis sebagai sumber otoritas ajaran Nabi Muhammad SAW, unsur itu sangat penting artinya dan antara yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.[5]

Oleh karena posisi sunnah yang begitu urgen dalam agama, maka perhatian para ulama terhadap sunnah sejak masa sahabat sampai sekarang terus terjaga, baik dalam bentuk pemeliharaan sunnah dengan periwayatan kepada orang lain melalui hafalan atau tulisan dalam bentuk kajian-kajian yang mendalam terhadap metodologi penerimaan dan penyampaian sunnah, penilaian terhadap periwayat hadis dan penyeleksian sunnah dari segi bisa tidaknya penyandaran suatu ucapan, perbuatan, ataupun ketetapan terhadap nabi dipertanggungjawabkan keabsahannya. Untuk tujuan pertama kemudian melahirkan ilmu hadist riwayat, sementara untuk tujuan yang kedua melahirkan ilmu hadist dirayah.[6]

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis mengambil beberapa rumusan masalah diantaranya :

a.       Apa pengertian dan kriteria keadilan dalam periwayatan hadis?

b.      Apa tingkatan ta’dil dan lafal-lafalnya?

c.       Apa kaedah keadilan periwayat dalam hadis kaitannya dengan jarh wat ta’dil?

d.    Bagaimana perdebatan tentang keadilan sahabat?

 

 

 

 

BAB  II

PEMBAHASAN

 

A.  Pengertian dan kriteria keadilan dalam periwayatan hadis

Ada dua istilah dalam ilmu hadis yang terkait masalah keadilan para perawi yang pertama ‘adil dan yang kedua ta’dil :

Ta’dil menurut bahasa mempunyai beberapa arti: 1) menegakkan, misalnya orang menegakkan hukum; 2) membersihkan, misalnya orang membersihkan sesuatu; 3) membuat seimbang, misalnya orang membuat seimbang dalam penimbangan. Jadi, dalam hal ini ta’dil mempunyai tiga pengertian, yaitu menegakkan (al-taqwin), membersihkan (al-tazkiyah) dan membuat seimbang (al-taswiyah).[7]

Menurut istilah, Ta-dil adalah menyebutkan tentang keadaan rawi yang diterima periwayatannya. Hal ini merupakan gambaran terhadap sifat-sifat seorang rawi yang diterima.[8]

Al hakim berpendapat  bahwa seorang disebut ‘Adil apabila beragama

Sementara itu, TM. Hasbi Ash Shiddieqy mendefinisikan sebagai berikut:

وصف الرّ اوي بصفات تو جب عدالتي هي مداو الفبول لرو اليته

Artinya:

Mendefinisikan si perawi dengan sifat-sifat yang dipandang orang tersebut adil, yang menjadi puncak penerimaan riwayatnya.[9]

Para ulama berbeda pendapat tentang kriteria-kriteria periwayat hadis disebut ‘adil. Al hakim berpendapat bahwa seorang disebut adil apabila beragama islam, tidak berbuat bid’ah dan tidak berbuat maksiat.[10] Ibnu Shalah menetapkan lima kriteria seorang periwayat disebut adil, yaitu beragama islam, baligh, berakal, memelihara muru’ah dan tidak berbuat fasiq.[11] Pendapat serupa dikemukakan Al Nawawi.[12]  Sementara itu ibnu hajar menyatakan bahwa sifat adil dimiliki oleh seorang periwayat yang taqwa.

Banyaknya kriteria yang dikemukakan oleh ulama hadits di atas dapat diringkas menjadi empat kriteria yaitu; beragama islam,mukalaf, melaksanakan ketentuan agama dan memelihara muru’ah.[13]
1.  Beragama Islam
Keislaman merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi oleh periwayat yang adil. Menurut sebagian ulama, menyatakan hadits berkenaan dengan sumber ajaran islam. Orang yang tidak beragama islam, bagaimana mungkin dapat diterima beritanya tentang ajaran islam. Hanya orang yang beragama islam saja yang dapat diterima beritanya tentang sumber ajaran islam.
2. Berstatus Mukalaf
Menurut para ahli hadits, syarat berakal itu identik dengan kemampuan seseorang untuk membedakan. Jadi agar dapat menanggung dan menyampaikan suatu hadits, seseorang harus memasuki usia akil baligh.[14] Orang yang belum atau tidak memiliki tanggung jawab tidak dapat dituntut apa yang diperbuat dan dikatakannya.
3. Melaksanakan Ketentuan Agama
Orang yang tidak melaksanakan ketentuan agama Allah tidak merasa berat membuat berita bohong, baik yang sifatnya umum maupun yang bersifat khusus, dalam hal ini hadis nabi. Karenanya, orang yang tidak melaksanakan ketentuan agama Allah tidak dapat dipercaya beritanya, termasuk berita yang disandarkan kepada rasul.
4. Memelihara Muru’ah
Menurut Ibn Qudamah, Muru’ah rasa malu , orang yang memelihara rasa malunya berarti orang itu memelihara muru’ahnya. Orang yang memelihara muru’ahnya tidak akan membuat berita bohong. Karena, membuat berita bohong adalah perbuatan hina, perbuatan hina adalah perbuatan yang selalu dihindari oleh orang yang memelihara muru’ahnya.
Untuk mengetahui ‘Adil tidaknya periwayat hadits, para ulama hadits telah menetapkan beberapa cara yaitu: 

  1. Melalui popularitas keutamaan periwayat hadits di kalangan ulama hadits.
  2. Penilaian dari para kritikus periwayat hadits
  3. Penerapan kaidah jarh wa ta’dil[15]

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa menetapkan keta’dilan atau jarh kepada seseorang memegang peranan yang sangat penting, bahkan menurut Mahmud Ali Fayyad, menetapkan keta’dilan itu sama dengan persaksian terhadap bersihnya seorang perawi, dan menetapkan jarh itu sama dengan menetapkan bahwa seorang perawi yang dijarh itu tidak bermoral berdasarkan bukti-bukti kecacatan seseorang, betapa pentingnya persaksian ini karena pengamalan sunnah itu bergantung kepadanya.[16]

Dalam hubungan inilah perlunya kaedah al jarh wa ta’dil.

Kaedah-kaedah jarh dan ta’dil adalah sebagai berikut:

1.     Bersandar kepada cara-cara periwayatan hadis, shah periwayatan, keadaan perawi, dan kadar kepercayaan mereka. Ini disebut Naqdun Kharijiun atau kritik yang datang dari luar hadis (kritik yang tidak mengenai diri hadis).

2.    Berpautan dengan hadis sendiri, apakah maknanya shahih atau tidak dan apa jalan-jalan keshalihannya dan ketidak shalihannya, ini dinamakan Naqdun Dakhiliyun atau kritik dari dalam hadis.[17]

Dalam kaitannya dengan keadaan para periwayat, ulama ahli hadis telah menyusun peringkat para periwayat dilihat dari kualitas pribadi dan kapasitas intelektual mereka. Ulama ahli hadis tidak sepakat tentang jumlah peringkat yang berlaku untuk al-jarh wa at-ta’dil; sebagian ulama membagi menjadi empat peringkat; yang lain membagi menjadi lima peringkat; dan yang lain membagi menjadi enam peringkat.[18]

Menurut Arifuddin Ahmad, perbedaan jumlah peringkat bagi para periwayat hadis mengenai al-jarh wa at-ta’dil, sedikitnya disebabkan oleh tiga hal yaitu: (1) karena terdapat perbedaan pandangan dalam penetapan bobot kualitas terhadap periwayatan tertentu; (2) karena terdapat perbedaan lafal untuk penyifatan kualitas periwayat yang sama; (3) karena dari kalangan ulama ada yang tidak konsisten dalam menyifati periwayat tertentu.[19]

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kritik terhadap para periwayat, para ulama ahli hadis cukup hati-hati, baik dari segi keterpujian maupun dari segi ketercelaan.

Adapun kritik dari dalam hadis (naqdun dakhiliyun), Arifuddin Ahmad menegaskan bahwa apabila argumen-argumen yang diujikan untuk matan hadis bersangkutan telah memenuhi kaidah kesahihan matan hadis, maka matan hadis bersangkutan adalah shahih. Sebaliknya, apabila argumen-argumen yang diajukan tidak memenuhi kaidah keshahihan matan, maka matan hadis bersangkutan adalah dhaif  pula.[20]

Berdasarkan keterangan di atas, dapat ditegaskan bahwa, apabila penelitian itu dilakukan secara cermat dan menggunakan pendekatan yang tepat maka dapat dipastikan bahwa setiap sanad yang shahih pasti memiliki matan yang shahih, sebab adanya syadz dan atau illat pada matan tidak terlepas dari kelemahan pada sanad, seperti contoh dalam hadis ‘abdullah bin zaid tentang tatacara wudhu nabi bahwasanya “beliau mengusap kepala beliau bukan dengan sisa air basuhan tangan beliau” muslim meriwayatkan hadis ini melalui jalur ibnu wahab, sedangkan al baihaqy juga meriwayatkan hadis ini dengan jalur yang sama dengan lafaz “beliau mengambil air untuk mengusap kedua telinga beliau selain air yang digunakan untuk mengusap kepala beliau”. Riwayat al baihaqy adalah syadz karena orang yang meriwayatkan dari jalur ibnu wahab adalah perawi tsiqah, tetapi dia menyelisihi banyak periwayat lain. Sekelompok orang meriwayatkan dengan jalur ibnu wahab yang lafaznya sama dengan yang diriwayatkan muslim. Atas dasar ini riwayat al baihaqy tidak shahih sekalipun para perawinya adalah kredibel tsiqah.[21]  hal ini disebabkan pendekatan yang digunakan dalam mengambil natijah terhadap penelitian sanad ataupun matan kurang tepat. Misalnya sikap yang longgar dalam menilai seorang periwayat; penelitian terhadap lambang-lambang periwayatan yang kurang cermat dan matan hadis yang diteliti tampak bertentangan dengan matan hadis atau dalil lain yang lebih kuat dinyatakan sebagai hadis yang dhaif, padahal, hadis yang bersangkutan mungkin sifatnya berbeda, yang satu bersifat universal dan yang lain bersifat temporal atau lokal, kekeliruan disebabkan oleh kesalahan menggunakan pendekatan penelitian.

B.   Tingkatan ta’dil dan lafal-lafalnya

Tingkat pertama: yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta’dilan atau dengan menggunakan wazan “af ala”[22] yang menunjukkan arti “sangat” dalam kepercayaan, seperti ucapan:

a.         اوثق النا س                   = orang yang paling dipercaya

b.         اثبت الناس                      = orang yang paling teguh

c.         اليه المنتهى فى التثبيت       = orang yang paling top keteguhan hati dan lidahnya[23]

Tingkat kedua: dengan mengulang-ulang lafal ‘adalah dua kali atau lebih baik yang diulangnya itu, bentuk lafalnya sendiri, seperti ثبت ثبت=orang yang teguh lagi teguh, atau yang diulangnya itu dalam bentuk maknanya seperti ucapan mereka  ثقة حجّة= orang yang dipercayai lagi pula hujja dan ثقة ثبت= orang yang dipercayai lagi pula teguh.[24]

Setiap pengulangan lafal yang lebih banyak, itu menunjukkan atas kuatnya tingkatan rawi di dalam segi ‘adalah-nya.

Tingkatan ketiga: yaitu lafal yang menunjukkan pada tingkatan rawi yang mencerminkan kedhabithan, atau menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu. Seperti ucapan:  ثبت= orang yang teguh (hati dan lidahnya),  ثقة= orang yang tsiqah,  حجّة=seorang tokoh, dan,  متقن=orang yang meyakinkan (ilmunya).[25]

Tingkatan keempat: yaitu lafal-lafal yang menunjukkan kepada tingkatan perawi yang tidak mencerminkan kedhabithan penuh, atau yang menunjukkan adanya keadilan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian. Seperti ucapan  صدوق= jujur,  لاباس با=tidak mengapa dengannya, menurut selain Ibnu Ma’in, sebab menurut ibnu Ma’in kalimat adalah tsiqah, kemudian لاباس با = tsiqah. kemudian  خيارالناس= orang pilihan. Imam al-Sakhawi berkata setelah menyebutkan tingkatan-tingkatan ta’dil sebagai berikut” sesungguhnya penetapan pada ahli tingkatan-tingkatan yang dijadikan hujjah dengan keempat tingkatan yang pertama, diantaranya.”[26] Ucapannya bersesuaian dengan kelompok mu’tadilin ulama al-jarh wa al-ta’dil. Para pengkaji mengetahui bahwa sebagian ulama mengemukakan bahwa pemilik tingkatan keempat, hadisnya ditulis, diperhatikan, dan diberitahukan hadisnya sehingga diketahui kedhabithannya.

Tingkatan kelima: lafal-lafal yang menunjukkan pada tingkatan perawi yang terlintas persyaratan dhabith, tetapi lebih kecil kedhabithannya daripada tingkatan keempat. Seperti ucapannya:[27]

 = sesuatu mendekati hadisnya.                                                        ما اقرب حديثه

= hadisnya baik                                                                                   صالح الحديث

= guru yang  baik                                                                                     ثيح صالح

Tingkatan keenam: lafal-lafal yang menunjukkan pada tingkatan rawi yang memiliki sifat-sifat ‘adalah yang tidak kuat seperti ucapan:[28]

= insya Allah dia jujur                                                                     صدوق ان شاءالله

= orang yang diharapkan tsiqat atau tidak cacat.                            ارجو ان لا باس با

= orang yang sedikit kesalihannya.                                                               صو بلح

= ditulis hadisnya, dan                                                                              يكتب حديثه

= dii’tibarkan hadisnya  (hanya untuk dipertimbangkan hadisnya)               يعتبر به

Adapun hukum tingkatan ini menurut Syaikh Manna al-Qaththan adalah:

a.       Untuk tiga tingkatan yang pertama, dapat dijadikan hujjah, tetapi meskipun sebagian besar mereka lebih kuat dari sebagian yang lain.

b.      Adapun tingkatan keempat dan kelima, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadis mereka boleh ditulis, dan diuji kedhabithan mereka dengan membandingkan hadis mereka dengan hadis-hadis para tsiqah yang dhabith, jika sesuai dengan hadis mereka, maka bisa dijadikan hujjah, jika tidak sesuai maka ditolak, meskipun dia dari tingkatan kelima yang lebih rendah dari tingkatan keempat.

c.       Sedangkan tingkatan keenam, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadis mereka ditulis untuk dijadikan sebagai pertimbangan saja bukan untuk pengujian, karena mereka tidak dhabith.

d.      Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa rawi-rawi yang ditolak hadisnya untuk dijadikan hujjah, dalam segi keagamaannya ialah orang-orang baik dan ‘adalah, namun ketercelaanya hanyalah dari segi kedhabithannya saja (daya hafal dan daya ingat) kurang baik.[29]

C.   Kaedah keadilan periwayat dalam hadis kaitannya dengan jarh wat ta’dil

Para ulama ahli kritik hadis telah menetapkan suatu teknik atau teori agar penelitian terhadap periwayat hadis dapat lebih objektif, sebagai berikut:

1. التعاديل مقدّ م على المجرح                                                                                    

Artinya: at-ta’dil didahulukan atas al-jarh.[30]

Maksudnya, bila seorang periwayat dinilai terpuji oleh seorang kritikus dan dinilai tercela oleh kritikus lainnya, maka yang dipilih adalah kritikan yang bersifat pujian. Alasannya, sifat dasar periwayat hadis adalah terpuji. Sedangkan sifat tercela merupakan sifat yang datang kemudian.  Karenanya, bila sifat dasar berlawanan dengan sifat yang datang kemudian, maka yang dimenangkan adalah sifat dasarnya.  Pendukung teori ini oleh an-Nasa’i (w. 303 H/915 M), namun pada umumnya ulama hadis tidak menerima teori tersebut, karena kritikus yang memuji tidak mengetahui sifat tercela yang dimiliki oleh periwayat yang dinilainya, sedang kritikus yang mengemukakan celaan adalah kritikus yang telah mengetahui ketercelaan periwayat yang dinilainya.

2. الجرح مقدّم على التّعد يل                                                                                        

Artinya: al-jarh didahulukan atas at-ta’dil.[31]

Maksudnya, bila seorang kritikus dinilai tercela oleh seorang kritikus dan dinilai terpuji oleh kritikus lainnya, maka yang didahulukan adalah kritikan yang berisi celaan.

Alasannya adalah kritikus yang menyatakan celaan lebih paham terhadap pribadi periwayat yang dicelanya. Dan dasar untuk memuji seorang periwayat adalah persangkaan baik dari pribadi kritikus hadis, dan persangkaan baik itu harus “dikalahkan” bila ternyata ada bukti tentang ketercelaan yang dimiliki oleh periwayat yang bersangkutan. Pendukung teori ini adalah kalangan ulama hadis, ulama fiqh, dan ulama ushul fiqh.

Dikatakan oleh Imam Ahmad, “setiap rawi yang telah ditetapkan ‘adalah-nya tidak akan diterima pen-tarjih-an dari seseorang kecuali telah betul-betul dan terbukti bahwa keadaan rawi itu mengandung sifat jarh.”[32]

3. اذا تعا رض الجا رح والعدّ ل فا لحكم للمعدّ ل الا اذا ثبت الجرح الفسّر

Artinya:

Apabila terjadi pertentangan antara kritikan yang memuji dan yang mencela, maka yang harus dimenangkan adalah kritikan yang memuji, kecuali apabila kritikan yang mencela disertai penjelasan tentang sebab-sebabnya.[33]

Maksudnya, apabila seorang periwayat dipuji oleh seorang kritikus tertentu dan dicela oleh kritikus lainnya, maka pada dasarnya yang harus dimenangkan adalah kritikan yang memuji, kecuali bila kritikan yang mencela menyertai penjelasan tentang bukti-bukti ketercelaan periwayat yang yang bersangkutan.

Alasannya, kritikus yang mampu menjelaskan sebab-sebab ketercelaan periwayat yang dinilainya lebih mengetahui terhadap pribadi periwayat tersebut daripada kritikus yang hanya mengemukakan pujian terhadap periwayat yang sama.

Pendukung teori ini adalah jumhur ulama ahli kritik hadis. Namun, sebagian dari mereka ada yang menyatakan bahwa penjelasan ketercelaan yang dikemukakan haruslah relevan dengan upaya penelitian. Dan bila kritikus yang memuji telah mengetahui juga sebab-sebab ketercelaan periwayat yang dinilainya itu dan dia memandang bahwa sebab-sebab ketercelaannya itu memang tidak relevan, maka kritikannya yang memuji tersebut yang harus dipilih.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa kontradiktif antara jarh dan ta’dil hanya bisa terjadi bila betul-betul tidak ditemukan jalan penyelesaiannya. Sedangkan kontradiktif yang masih memungkinkan dihilangkan tidak dikatakan kontradiktif, bahkan bisa ditempuh cara lain yaitu tarjih.[34] (dicari yang lebih unggul).

Seperti seorang rawi di-rajh dengan penilaian fasik karena diketahui kefasikannya, tetapi taubat rawi itupun diketahui. Dengan demikian, rawi tersebut tidak termasuk jarh/berdusta pada Rasulullah.

4. اذا كان الجارح ضعيفا فلا يقبل جر حه للثّقة

Artinya:

Apabila kritikus yang mengemukakan ketercelaan adalah orang yang tergolong da’if, maka kritikannya terhadap orang yang siqah tidak diterima.[35]

Maksudnya, apabila yang mengkritik adalah orang yang tidak siqah, sedangkan yang dikritik adalah orang yang  siqah, maka kritikan orang yang tidak siqah tersebut harus ditolak.

Alasannya, orang yang bersifat siqah dikenal lebih berhati-hati dan lebih cermat daripada orang yang tidak siqah, dalam hal ini dapat dikemukakan pernyataan al-A’raj (w.117 H)[36] berkata bahwa Abu Hurairah banyak menerima hadis dari Nabi Muhammad saw, selalu hadir  pada majelis Nabi Muhammad saw. dan tidak akan lupa apa yang telah didengarnya dari Nabi Muhammad saw. Pernyataan al-A’raj menunjukkan bahwa Abu Hurairah merupakan periwayat hadis yang siqah, karena Al-A’raj tergolong kritikus yang siqah.

5. لايقبل الجرح الا بعد التّثّبت خثية الا شبا ه فى الجروحين

Artinya:

Al-jarh tidak diterima kecuali setelah ditetapkan (diteliti secara cermat) dengan adanya kekhawatiran terjadinya kesamaan tentang orang-orang yang dicelanya.[37]

Maksudnya, apabila nama periwayat memiliki kesamaan ataupu kemiripan dengan nama periwayat lain, lalu salah seorang dari periwayat itu dikritik dengan celaan, maka kritikan itu tidak dapat diterima, kecuali telah dapat dipastikan bahwa kritikan itu terhindar dari kekeliruan akibat adanya kesamaan atau kemiripan nama tersebut.

Alasanya, suatu kritikan harus jelas sasarannya. Dalam mengkritik pribadi seseorang, maka orang yang dikritik haruslah jelas dan terhindar dari keragu-raguan atau kekacauan. Pendukung teori ini adalah ulama ahli kritik hadis.

6. الجرح النا شئ عن عد اوة د نيو يّة لا يعتدّ به

Artinya:

Al-jarh yang dikemukakan oleh orang yang mengalami permusuhan dalam masalah keduniawian tidak perlu diperhatikan.[38]

Maksudnya, apabila kritikus yang mencela periwayat tertentu memiliki perasaan yang bermusuhan dalam masalah keduniawian dengan pribadi periwayat yang dikritik dengan celaan itu, maka kritikan tersebut harus ditolak.

Alasannya, bahwa pertentangan pribadi dalam masalah dunia dapat menyebabkan lahirnya penilaian yang tidak jujur. Kritikus yang bermusuhan dalam masalah dunia dengan periwayat yang dikritik dengan celaan dapat berlaku tidak jujur karena didorong oleh rasa kebencian.[39]

Dari sejumlah teori yang disertai dengan alasannya masing-masing, maka menurut penulis, yang harus dipilih adalah teori yang mampu menghasilkan penilaian yang lebih objektif terhadap para periwayat hadis baik yang berhubungan dengan intergritas kepribadiannya maupun kapasitas intelektualnya.

Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa apabila seorang rawi di-jarh oleh para ahli kritik yang siqah sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak. Dan apabila seorang rawi dipuji sebagai orang yang adil, niscaya periwayatannya diterima.

Dalam menetapkan Rijal al-Hadis, para ulama telah melaksanakan sebuah usaha untuk mengkritik perawi dan menerangkan keadaan-keadaan mereka. Ada tiga peristiwa penting yang mengharuskan adanya kritik atau penelitian para perawi (sanad) hadis.[40]

Pertama, pada zaman Nabi Muhammad saw. tidak seluruh hadis tertulis, kedua, sesudah zaman Nabi Muhammad saw, terjadi pemalsuan hadis, ketiga, perhimpunan hadis secara resmi dan massal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan-pemalsuan hadis. Hadis sebagai sumber ajaran Islam meniscayakan adanya kepastian validitas bersumber dari Nabi Muhammad saw.

Dalam hubungan ini, para ulama telah membuat undang-undang guna menetapkan mana orang-orang yang boleh diterima riwayatnya dan mana yang tidak. Mana yang boleh ditulis hadisnya dan mana yang tidak. Dan mereka menerangkan mana orang-orang yang tidak boleh sama sekali diterima hadisnya; lahirlah ilmu Jarhi wa Ta’dil.[41]

D. Perdebatan tentang keadilan sahabat

          Tentang siapa yang dimaksud dengan sahabat masih dalam perdebatan dimana ada yang mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang melihat nabi dan meninggal dengan keadaan Islam, namun ada juga pendapat yang lain. Masing-masing golongan ternyata memiliki pendapat yang beragam lengkap dengan alasan-alasan yang dikemukakan.

          Pembahasan tentang keadilan sahabat menjadi sangat luas, karena harus memahami terlebih dahulu siapa sebenarnya sahabat tersebut, kemudian pada tingkatan yang bagaimana yang kesaksianya dapat dipegang dan dipertanggungjawabkan, selanjutnya siapa yang termasuk dalam kategori adil dan siapa saja para sahabat yang bukan tergolong adil, lantas bagaimana yang disebut dengan dha’if, siapa saja yang tergolong dha’if dalam meriwayatkan hadis. Itu semua ternyata membawa pada perdebatan yang panjang dan belum menemukan titik temu yang jelas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.        

1. Pengertian Sahabat

            Secara etimologi perkataan sahabat berasal dari kata “Shahib” yang berarti “yang empunya dan yang menyertai”. Sedangkan menurut ‘uruf, kawan atau teman yang selalu berada bersama-sama kita. Dan kalimat shahib ini dijamakkan juga dengan shahbun, ashab dan shahabah (Hasbi Ash Shiddieqy, 1980:264).

            Sementara pendapat lain mengatakan bahwa sahabat berasal dari kata shuhbah, persahabatan, perkataan, perkawanan, pertemanan. Kata ini tidak dibatasi pada kuantitas shuhbah tertentu, juga berlaku untuk setiap orang yang menemani orang lain baik sesaat maupun lama. (Ajaj Al Khatib, 1999:419).

            Pada prinsipnya bahwa yang dimaksud sahabat adalah orang yang sering bertemu dan memiliki ikatan batin yang baik serta bersikap saling menolong dan membantu antara satu dengan lainnya. Hal ini berarti bahwa sahabat Rasulullah adalah teman, kawan atau orang yang sering menemani Rasulullah ketika beliau masih hidup.

            Adapun secara terminologi ada beberapa pendapat tentang pengertian sahabat antara lain sebagai berikut:

            Menurut Al-Maliki Al-Hasani sahabat ialah orang yang bertemu Rasulullah s.a.w lalu beriman sampai akhir hidupnya. (1995:107).

            Menurut  Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki bahwa sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi s.a.w., serta beriman kepada beliau dan mati dalam keadaan masih beriman. (t.th.:66).

            Menurut Jumhur ahli hadits ialah orang yang bertemu dengan nabi dalam keadaan Islam dimasa Nabi masih hidup. (Hasbi Ash Shiddieqy, 1980:264).

            Pendapat Jumhur ini diperkuat juga oleh Ibnu Hajar dengan mengatakan bahwa “Yang paling benar diantara pendapat-pendapat itu adalah bahwa sahabat yaitu orang yang bertemu dengan Nabi s.a.w dalam keadaan beriman dan meninggal dalam memeluk agama Islam, maka termasuk dalam ungkapan orang yang bertemu dengan Nabi saw adalah orang yang pernah lama atau sebentar duduk bersama beliau, orang yang meriwayatkan atau tidak meriwayatkan hadist dari beliau. Orang yang pernah atau tidak pernah berperang bersama beliau, orang yang pernah melihat beliau sekali saja dan tidak pernah duduk bersama beliau, dan orang yang tidak bisa melihat beliau karena suatu halangan, seperti kebutaan.

            Lebih ekstrim lagi sebagaimana yang diungkapkan oleh Anas Bin Malik, dimana ia berkata bahwa “Melihat Rasulullah saw tidaklah cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai sahabat”. Menurut Utsman Ibnu Saleh ialah orang yang menemui masa Nabi walaupun ia tidak dapat melihat Nabi dan dia memeluk Islam semasa Nabi masih hidup. (1980:265).

            Pendapat ini memberikan jawaban bahwa meskipun orang tersebut tidak sempat menemui Rasulullah, akan tetapi dia beriman dan menyatakan masuk Islam berarti dapat dikatakan sahabat. Karena pada prinsipnya yang dimaksud sahabat dalam perspektif tersebut adalah orang-orang yang memiliki ideologi yang sama dan pegangan hidup yang sama serta memiliki tujuan hidup yang sama, ini berarti siapa saja yang menyatakan diri beriman dan hidup pada jaman Rasululah sudah cukup disebut sebagai sahabat.

            Menurut ulama hadits, yaitu setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah s.a.w sebagaimana diungkapkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya bahwa siapapun orang Islam yang pernah bersahabat dengan Nabi s.a.w atau melihat beliau, ia termasuk diantara sahabat beliau. Sedangkan menurut Imam Ahmad yang dimaksud “diantara sahabat Rasulullah s.a.w adalah ahlul Badr (orang yang ikut dalam perang Badar). (Ajaj Al Khatib, 1999:420).

            Imam Ahmad pernah berkata, “Manusia paling utama setelah generasi mereka (Ahlul Badr) adalah yang hidup pada zaman ketika Rasulullah diutus yakni setiap orang yang pernah bersahabat dengan beliau baik selama satu tahun, satu bulan, satu hari maupun sesaat. Atau mereka (umat Islam yang pernah melihat beliau Rasulullah s.a.w). itulah orang-orang yang termasuk diantara sahabat beliau. Masing-masing mempunyai nilai persahabatan dengan beliau berdasarkan kadar berlangsungnya persahabatan dan yang paling tinggi dari kadar itu ialah yang menyertai beliau, mendengar (hadits) dari beliau dan melihat beliau. (Al-Kifayah:51).

            Ini berarti bahwa meskipun tidak pernah membantu dalam bentuk pekerjaan atau pertolongan lainnya, namun pernah melihat secara langsung kejadian yang dialami oleh Rasulullah meskipun hanya satu menit, bagi mereka sudah cukup disebut sahabat dan kesaksian mereka tentang kejadian dengan Rasulullah berhak untuk ditulis sebagai hadits.

            Sementara dalam Tadribur rawi sebagaimana diungkapkan oleh Al Khatib, bahwa pengertian sahabat menurut ulama ushul fiqh atau sebagian dari mereka yaitu setiap orang yang lama duduk bersama Rasulullah saw. Dengan cara mengikuti beliau atau menerima (hadits) dari beliau. (1999:423).

            Dengan demikian melihat berbagai pengertian tentang sahabat, maka pemakalah lebih cenderung bahwa yang dimaksud sahabat adalah orang-orang yang menyatakan diri beriman kepada Allah dan Rasulullah dan meninggal dalam keadaan beriman serta hidup pada zaman Rasulullah dan pernah bertemu dengan Rasulullah. Sedangkan bagi mereka yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, maka cukup diberi gelar orang mukmin, bukan sahabat. Dengan demikian, gelar sahabat cenderung hanya diperoleh oleh orang-orang yang berada di sekeliling rasulullah dan yang akrab dengan kehidupan rasulullah.

2. Cara Mengetahui Sahabat

            Tentang cara/jalan untuk mengetahui keberadaan seorang sahabat setelah melihat berbagai pendapat sejumlah dari sejumlah literatur tidak ada perbedaan yang menyolok tentang hal tersebut. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hasbi Asy Syiddieqi maupun Al Khatib, bahwa jalan untuk mengetahui sahabat didasarkan pada beberapa alasan yakni sebagai berikut:

a.       Khabar Mutawatir, bahwa orang itu adalah sahabat Nabi, seperti khalifah empat, dan sahabat sepuluh yang diakui mendapat surga dan orang-orang yang seumpama dengan mereka.

b.      Khabar Masyhur, atau khabar mustafidh, yang tidak mencapai batas mutawatir, bahwa orang itu sahabat Nabi seperti Dlammah ibn Tsas’labah dan ‘Ukasyah ibn Nihsham.

c.       Diakui oleh seorang sahabat yang terkenal persahabatannya, seperti Hamamah ibn Abi Hamamah Ad Dausi yang diakui persahabatannya oleh Abu Musa Al Asy’ari.

d.      Pengakuan yang diberikan olah seorang tabi’in yang kepercayaan. Hal ini berdasarkan kepada kita menerima pernyataan adil dari orang seorang.

e.       Dia mengakui bahwa dunia seorang sahabat, dari orang-orang yang semasa dengan Nabi, sedang dia seorang yang dipandang adil. Keadilannya menghalanginya dari berdusta. Asal saja yang demikian itu dilakukan sebelum berlalu 100 tahun dari kewafatan Nabi, mengingat hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Ibn Umar. (Hasbi Ashiddieqy, 1980:267).

            Dengan demikian bahwa gelar sahabat adalah merupakan gelar yang sangat terhormat, oleh karena itu tidak semua orang bisa mengaku sebagai sahabat, akan tetapi berdasarkan seleksi yang sangat ketat akan keabsahan sebagai sahabat dan berdasarkan dalil dan saksi-saksi yang dapat dipercaya. Sedangkan saksi-saksi yang berani mengutarakan tentang gelar sahabatpun harus memenuhi syarat-syarat serta prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh setiap saksi.

            Apabila seseorang mengaku dirinya sahabat, maka dapat diterima, kalau pengakuan itu sebelum berlalu seratus tahun (100) H dari hijrah, karena mengingat hadits Nabi:

     Yang artinya:

     “Apakah kamu lihat malammu ini? Maka sesungguhnya sesudah berlalu seratus tahun, tiadalah tinggal lagi atas permukaan bumi dari orang-orang yang sekarang ini telah ada diatasnya, seseorangpun”. (HR. Bukhari dalam shahinya dari Ibnu Umar).

3. Tabaqah Sahabat

            Terdapat kesepakatan bahwa para sahabat rasulullah memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Hal tersebut lebih dititik beratkan pada masalah senioritas keislamannya dan kesungguhan mereka dalam memperjuangkan Islam.

            Namun dalam menetapkan tingkatan pada sahabat terdapat perbedaan pendapat tentang thabaqat sahabat, sebagian ada yang menetapkan ke dalam 5 (lima) tingkatan, sedangkan yang lain ada yang menetapkan menjadi 12 tingkatan.

            Adapun pendapat yang paling masyhur sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Hakim yang membagi menjadi 12 tingkatan. Menurut Imam Hakim yang didukung oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Sholah bahwa thabaqah sahabat sebagai berikut:

a.    Para sahabat yang masuk Islam di Mekkah, termasuk didalamnya sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga dan Siti Khadidjah yang mulia.

b.   Para sahabat yang masuk Islam atau ikut serta dalam Darun Nadwah. Ketika Umar Bin Khattab masuk Islam, dia dibawa oleh Nabi saw ke Darun Nadwah, lalu para sahabat membai’atnya, mereka disebut Ashabun Nadwah.

c.    Sahabat yang ikut dalam perjalanan hijrah ke habasyah pada tahun ke-5 kenabian. Berjumlah sebelas orang laki-laki dan empat orang wanita, diantaranya Utsman bin Affan, Az Zubair bin Al Awwan, Ja’far bin Abi Thalib dan Ruqayyah binti Rasul (istri Utsman), serta shlah binti Sahl (istri Abu Huzaifah). Demikian juga para sahabat yang hijrah ke sana kelompok kedua, berjumlah 83 orang, antara lain Ja’far bin Abu Thalib dan istrinya (Asma’ binti Umeis), Ubeidillah bin Jahsy bersama istrinya (Ummu Habibah), saudaranya Abdullah, Abu Musa dan Ibnu Mas’ud.

d.   Para sahabat yang ikut dalam bai’at pertama.

e.    Para sahabat yang ikut dalam bai’at kedua, sekitar 70 orang laki-laki dan 2 orang wanita, mereka dari kalangan anshar, diantaranya Saad bin Ubadah dan Kaab bin Malik.

f.    Para sahabat yang menyambut Nabi saw di Masjid Kuba, sebelum beliau saw memasuki kota Madinah dan membangun Masjid di sana.

g.   Para sahabat ahli Badr Rasulullah saw. Bersabda tentang mereka.

    “Seakan-akan Allah memperhatikan para sahabat ahli badr, kemudian berfirman, “Berbuatlah sesukamu karena kau telah mengampunimu.”

h.   Para sahabat yang hijrah antara perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyah.

i.     Para sahabat yang ikut dalam Baiatur Ridhwan, yaitu mereka yang menyatakan kesetiaannya kepada Rasulullah saw. Ketika beliau dilarang melakukan umrah, lalu orang-orang kafir mengajak dengannya dan beliau hanya boleh umrah pada tahun berikutnya.

j.     Para sahabat yang hijrah antara perjanjian Hudaibyah dan penaklukan kota Mekah, antara lain Khalid bin Walid, Amr bin Ash Abu Hurairah dan para sahabat lainnya.

k.   Para sahabat yang masuk Islam pada waktu penaklukan kota Mekah, terdiri dari sekelompok yang quraish diantaranya Abu Sofyan bin Harb dan Hukaim bin Nizam.

l.     Anak-anak dari para remaja yang melihat Rasulullah saw pada saat Fathu Mekah, saat haji wada’ dan peristiwa penting lainnya. Diantaranya Hasan dan Husein, Ibnu Zubeir, Said bin Yazid dan Thufail, Amir bin Watsilah. (Al Malik, Al Hasani, 1995:119-120).

4.      Keadilan sahabat dan persoalannya

            Keadilan para sahabat bukan berarti menetapkan mereka sebagai orang yang terpelihara dari dosa dan maksiat, melainkan sebagai syarat diterimanya riwayat mereka, tanpa harus mencari-cari penyebab predikat keadilan dan kebersihan dirinya, kecuali kalau memang betul-betul terbukti melakukan kesalahan yang dapat menjatuhkan dirinya dari predikat adil.

            Sementara itu tentang keadilan para sahabat, Jumhur ulama berpendapat bahwa semua sahabat dipandang adil, baik yang turut campur dalam pertentangan-pertentangan antara sahabat dengan sahabat ataupun tidak. Pendapat ini juga diperkuat oleh satu pendapat yang mengungkapkan bahwa tidak layak bagi orang mukim meragukan keadilan sahabat, bahkan orang-orang yang beriman sebelum penaklukan kota Mekah, mereka juga dapat dipastikan bersifat adil. Berkaitan dengan hal tersebut Abu Zur’ah Al Raziy menyatakan barang siapa mengkritik sahabat Nabi yang mengakibatkan menurunnya kehormatan diri sahabat itu, maka orang tersebut termasuk zindiq. Orang itu telah menentang penghormatan Allah dan Rasulnya yang telah diberikan kepada para sahabat nabi.

            Pendapat ini cukup berlebih-lebihan, karena seluruh sahabat Nabi tanpa terkecuali telah dianggap sebagai manusia yang tak bercacat sedikitpun.

            Namun segolongan ulama yang lain berpendapat bahwa seorang shahabi itu tidaklah harus dipandang adil, karena dia dipandang shahabi. Keadaannya harus diteliti, karena diantara mereka ada yang tidak adil. Jadi keadaannya harus kita teliti lebih-lebih setelah timbul kekacauan-kekacauan antara sesama mereka. (Hasbi Ash Shidieqi, 1980:268). Bahkan Washil bin Atha justru meragukan sifat adil Ali dan kedua putranya, Ibnu Abbas, Thalhah, Az Zubair, Aisyah dan setiap orang dari kedua belah pihak yang bertikai yang ikut serta dalam perang Jamal. Sikap Washil ini juga didukung oleh sebagian besar tokoh-tokoh Qadariyah.

            Sementara itu kaum mu’tazilah berpandangan bahwa setiap orang yang memerangi Ali dengan sadar adalah orang fasik (penyelewengan) yang periwayatan dan kesaksiannya ditolak, sebab mereka memberontak terhadap Imam (pemimpin) yang sah.(Al Khatib, 1999:428).

            Adapun Khawarij mereka justru mengkafirkan Ali dan putra-putranya, Ibnu Abbas dan Abu Ayub al Anshari juga mengkafirkan Utsman, Aisyah, Thalhah dan Az Zubair dan mengkafirkan setiap orang yang tidak memisahkan diri dari pertikaian Ali dan Muawiyah setelah tahkim. Adapun Zaidiyah, maka Jarudiyah suatu sekte dari Zaidiyah mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman dan kebanyakan sahabat. Demikian juga pendapat sekte Sulaimaniah dan Bisririyah. Adapun Imamiyah maka kebanyakan dari mereka menganggap bahwa para sahabat telah murtad (keluar dari Islam) setelah Nabi s.a.w wafat, kecuali Ali dan kedua putranya dan sekitar tiga belas sahabat. Sekte Kamiliyah menganggap Ali juga telah murtad dan kafir karena Ali tidak memerangi mereka (lawan-lawan politiknya). (Al-Khathib, 1999:429). Sehingga dalam perspektif mereka orang-orang yang dimaksud diatas bukanlah tergolong sahabat yang adil.

            Namun menurut Al-Khatib sendiri, pendapat diatas adalah suatu kekeliruan dan memperuntukkan kehendak hati yang tidak benar. Orang yang mengetahui derajat, pengorbanan dan kedudukan para sahabat tidaklah akan berpendapat seperti itu. Apa yang terjadi diantara mereka menyangkut terjadinya pemberontakan adalah termasuk dalam kontek ijtihad. Dan bagi orang yang berijtihad dan ia mencapai kebenaran ijtihadnya maka ia memperoleh dua pahala dan orang yang keliru dalam ijtihadnya maka ia memperoleh satu pahala. Dengan demikian tidak ada alasan untuk merendahkan martabat dan meragukan sifat adil mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

a.       Apa pengertian keadilan dalam periwayatan hadis?

Al hakim berpendapat bahwa seorang disebut adil apabila beragama islam, tidak berbuat bid’ah dan tidak berbuat maksiat. Ibnu Shalah menetapkan lima criteria seorang periwayat disebut adil, yaitu beragama islam, balig, berakal, memelihara muru’ah dan tidak berbuat fasiq. Pendapat serupa dikemukakan Al Nawawi. sementara itu ibnu hajar menyatakan bahwa sifat adil dimiliki oleh seorang periwayat yang taqwa. Ta’dil menurut bahasa mempunyai beberapa arti: 1) menegakkan, misalnya orang menegakkan hukum; 2) membersihkan, misalnya orang membersihkan sesuatu; 3) membuat seimbang, misalnya orang membuat seimbang dalam penimbangan. Jadi, dalam hal ini ta’dil mempunyai tiga pengertian, yaitu menegakkan (al-taqwin), membersihkan (al-tazkiyah) dan membuat seimbang (al-taswiyah).

b.      Peringkat keadilan perawi?

Tingkat pertama: yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta’dilan atau dengan menggunakan wazan “af ala Tingkat kedua: dengan mengulang-ulang lafal ‘adalah dua kali atau lebih baik yang diulangnya itu, bentuk lafaknya sendiri Tingkatan ketiga: yaitu lafal yang menunjukkan pada tingkatan rawiyang mencerminkan kedhabithan, atau menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu Tingkatan keempat: yaitu lafal-lafal yang menunjukkan kepada tingkatan perawi yang tidak mencerminkan kedhabithan penuh, atau yang menunjukkan adanya keadilan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian Tingkatan kelima: lafal-lafal yang menunjukkan pada tingkatan perawi yang terlintas persyaratan dhabith, tetapi lebih kecil kedhabithannya daripada tingkatan keempat.

 

 

 

 

c.       Apa kaedah keadilan periwayat dalam hadis?

 

1.                    التعاديل مقدّ م على المجرح

2.                    . الجرح مقدّم على التّعد يل

3.                    . اذا تعا رض الجا رح والعدّ ل فا لحكم للمعدّ ل الا اذا ثبت الجرح الفسّر

4.                    . اذا كان الجارح ضعيفا فلا يقبل جر حه للثّقة

5.                    لايقبل الجرح الا بعد التّثّبت خثية الا شبا ه فى الجروحين

6.                    . الجرح النا شئ عن عد اوة د نيو يّة لا يعتدّ به

d.   Bagaimana keadilan sahabat

            Seluruh sahabat bersifat adil, adapun yang terjadi diantara mereka menyangkut terjadinya pemberontakan adalah termasuk dalam kontek ijtihad. Dan bagi orang yang berijtihad dan ia mencapai kebenaran ijtihadnya maka ia memperoleh dua pahala dan orang yang keliru dalam ijtihadnya maka ia memperoleh satu pahala.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Mawjud Muhammad Abdullatif, Ilmu Jarh wa Ta’dil, diterjemahkan oleh A. zarkasyi Chumaidy, Kredibilitas Para Perawi dan Pengimplementasiannya (cet.I; Bandung: Gema Media Pusakatama, 2003),

al-Din Abd al-Rahman bin Abi Bakar al-Suyuthiy, Miftah al-Jannah fi al-Ihyijaj bi al-Sunnah (Cet. III; al-Madinah al-Munawwarah Maktabah al-Rasyid, 1399 H/1979 M),

Al-kandahlay, Muhammad Yusuf, Sirah Sahabat, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1999.

Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Cet.I; Jakarta: Renaisan, 2005)

Bustamin dan M. Isa H.A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, (cet.I: Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),

Erfan Soebhar. Dr. HM, menguak fakta keabsahan Al- sunnah: kritik Mustafa al siba’I terhadap pemikiran ahmad amin mengenai hadis dalam fajr al Islam ( kencana : bogor) cet 1. 2003.

Gűlen, M. Fethullah, Kehidupan Rasulullah, Murai Kencana, Jakarta, 2002.

M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadits Telaah Kritis  dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Cet I; Jakarta: Bulan Bintang, 1988),

M.Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar, dan Pemalsunya, (Jakarta: Gema Insani Press’ 1985),

Mahmud Ali Fayyad, Manhaj al-Muhadditsiin fii Dhabth as-Sunnah, diterjmahkan oleh A. Zarksy Chumaidy (Cet.I;Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998),

Muhammad Ajjad al-Katib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Beirut: Dar al-Fikri 1395H/1975M0,

Muhammad bin Idris al-Syafi’I al-Um, (ttp: Dar al-Sya’ib t.th),

Nuruddin ‘Itr, Manhaj, an-Naqd fi Ulum al-Hadist, (Cet. III, Beirut: Dar al-Fikr, 1997),

Nuruddin ‘Itr, Manhaj, an-Naqd fi Ulum al-Hadist, (Cet. III, Beirut: Dar al-Fikr, 1997), 

Subhi al-Shaleh, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, (Cet.IX: Beirut:Darl al-Ilm li al-Malayin, 1977),

Syaikh Muhammad bin shalih al utsaimin, ‘ilmu mustalah al hadis (dar al atsar :kairo: mesir) cet. 1, 2002 diterjemahkan oleh ahmad s marzuki, Mustalahal hadits (media hidayah : jogyakarta) cet 1. 2008. H. 30

Yusuf al-Qardhawi, as-Suunah Masdhar li al-Ma’rifah wa al Hadharah, (Cet. II; Mesir: Dar as-Syuruq, 1998)

 


 

 

 

 

 

 

 


[1]Lihat Subhi al-Shaleh, Ulum al-Hadis wa Musthalahuhu, (Cet.IX: Beirut:Darl al-Ilm li al-Malayin, 1977), h.3. Lihat pula M.Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar, dan Pemalsunya, (Jakarta: Gema Insani Press’ 1985),h.3. lihat pula Muhammad Ajjad al-Katib, Ushul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Beirut: Dar al-Fikri 1395H/1975M0,h.18-19.

[2]Lihat Jalal al-Din Abd al-Rahman bin Abi Bakar al-Suyuthiy, Miftah al-Jannah fi al-Ihyijaj bi al-Sunnah (Cet. III; al-Madinah al-Munawwarah Maktabah al-Rasyid, 1399 H/1979 M), h.5. Lihat pula M. Syuhudi Ismail, Kaedah Keshahihan Sanad Hadits Telaah Kritis  dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Cet I; Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 3

[3]AL-Asyafi’I, membagi ingkar al-Sunnah kepada tiga golongan yaitu: a) golongan yang menolak seluruh; b) golongan yang menolak sunnah kecuali sunnah itu memiliki kesamaan dengan petunjuk al-Quran; dan c) golongan yang menolak sunnah yang berstatus ahad. Lihat Muhammad bin Idris al-Syafi’I al-Um, (ttp: Dar al-Sya’ib t.th), h. 250-256.

[4]Lihat Yusuf al-Qardhawi, as-Suunah Masdhar li al-Ma’rifah wa al Hadharah, (Cet. II; Mesir: Dar as-Syuruq, 1998) h. 8-9

[5]Erfan Soebhar. Dr. HM, menguak fakta keabsahan Al- sunnah: kritik Mustafa al siba’I terhadap pemikiran Ahmad Amin mengenai hadis dalam fajr al Islam ( kencana : bogor) cet 1. 2003. h. 175

[6]Nuruddin ‘Itr, Manhaj, an-Naqd fi Ulum al-Hadist, (Cet. III, Beirut: Dar al-Fikr, 1997), h. 25

[7]Nuruddin ‘Itr, Manhaj, an-Naqd fi Ulum al-Hadist. Op. Cit. h. 29

[8]Ibid.

[9]TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, op.cit., h. 327

[10]Alhakim Al-naisabury, marifah’ulumul al –hadis (maktabah al mutanabbih ; kairo ) tth. H. 53

[11]Abu ‘amar ‘ustman ibn ‘abd rahman ibn shalah, ulumul hadis (al maktab al islamiah :madina) 1972. H. 94

[12]Abu zakariyah yahya ibn syarf al nawawi, al taqrib al nawawi fann ushul al hadis (‘abd al rahman Muhammad :kairo) tth juz 1. H. 12 dalam buku idris. Dr. M.Ag, Study hadis (kencana : Jakarta) 2010. H. 163

[13]M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah,(cetakan III, Jakarta: Bulan Bintang, 2005), h. 161-174

[14]Subhi ash-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, diterjemahkan oleh Tim Pustaka Firdaus dengan judul Membahas Ilmu-ilmu Hadis,(Cetakan I, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 115. 

[15]Dr. Idri, M.Ag, op. cit., h. 162

[16]Mahmud Ali Fayyad, Manhaj al-Muhadditsiin fii Dhabth as-Sunnah, diterjemahkan oleh A. Zarksy Chumaidy (Cet.I;Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998), h. 58.

[17]TM. Hasbi Ash shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, loc.cit.

[18]Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Cet.I; Jakarta: Renaisan, 2005) h. 96.

[19]Ibid

[20]Ibid, h. 128. 

[21]Syaikh Muhammad bin shalih al utsaimin, ‘ilmu mustalah al hadis (dar al atsar :kairo: mesir) cet. 1, 2002 diterjemahkan oleh ahmad s marzuki, Mustalahal hadits (media hidayah : jogyakarta) cet 1. 2008. H. 30

[22]Syaikh Manna’ AL-Qaththan,op.cit., h. 88.

[23]Abdul Mawjud Muhammad Abdullatif, Ilmu Jarh wa Ta’dil, Loc. Cit.

[24]Ibid, h. 61 

[25]Abdul Mawjud Muhammad Abdullatif, Ilmu Jarh wa Ta’dil,op.t., h. 62.

[26]Ibid, h. 64

[27]Ibid, h. 65.

[28]Ibid, h. 67

[29]Syaikh Manna’ AL-Qaththan,op.cit., h. 89.

[30]M. Syhudi Ismail,op.cit., h. 77

[31]Ibid, h. 78

[32]Abdul Mawjud Muhammad Abdullatif, Ilmu Jarh wa Ta’dil, diterjemahkan oleh A. zarkasyi Chumaidy, Kredibilitas Para Perawi dan Pengimplementasiannya (cet.I; Bandung: Gema Media Pusakatama, 2003), h. 40.

[33]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis,op. Cit., h. 78.

[34]Abdul Mawjud Muhammad Abdullatif, op.cit., h. 79.

[35]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, op. Cit., h. 52

[36]Bustamin dan M. Isa H.A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, op.cit., h. 52.

[37]M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, op. Cit., h. 80.

[38]Ibid,h. 81.

[39]Ibid.

[40]Bustamin dan M. Isa H.A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, (cet.I: Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h.11.

[41]TM. Hasbi Ash Shiddieqy, op.cit., h. 79.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: