ITTHISHAL AL-SANAD___

(KETERSAMBUNGAN SANAD)

مِنْهُ صَحِيْحٌ وَهُوَ مَا يَتَّصِلُ # سَنَدُهُ دُوْنَ شُذُوْذٍ يَحْصُلُ

وَلَيْسَ فِيْهِ عِلَّةٌ تُعَطِّلُ # وَكُلُّ رَاوٍ ضَابِطٌ مُعَدِّلُ

(الاستذكار لشيخ محمد مهاجرين امسار الداري)

 

A.    PENDAHULUAN

Kaidah penelitian hadits sejatinya telah ada sejak lahirnya hadits itu sendiri sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat seperti Abu Bakr, Umar bin Khattab, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radiyallahu ‘anhum dengan melakukan check and recheck tentang kebenaran berita langsung kepada Nabi saw.

Pada kurun berikutnya dimulai pada abad 3 hijriyah, para ulama seperti Syafi’I, Bukhari, Muslim, Ibnu Ma’in dan lain-lain mempertegas kaidah tersebut dalam kerangka yang sistematik.

Di antara ulama hadits yang berhasil menyusun rumusan kaidah kesahihan hadits adalah Abu Amr Utsman  ibn Abd Rahman ibn Shalah al-Syahrazuri, yang biasa disebut dengan sebutan Ibn al-Shalah (w. 577 H). Menurutnya hadits sahih adalah hadits yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi saw., diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhabith sampai akhir sanad, dan tidak terdapat kejanggalan (syadz), dan cacat (ilat).

Dari definisi tersebut dapat diketahui tiga unsur hadits sahih yaitu, pertama, ithisal al-sanad yakni sanad yang bersambung, kedua, ‘adl al-riwayah wa dhabtuhu, yakni perawi yang adil dan dhabit, ketiga, faqdu al-syudzuz wa al-illat, yakni bebas dari kejanggalan dan cacat.

Dan dari unsur tersebut dapat diurai menjadi tujuh, yakni lima berhubungan dengan sanad; (1) sanad bersambung (2) perawi yang adil (3) perawi yang dhabith (4) terhindar dari kejanggalan (syadz) (5) terhindar dari cacat (illat). Dua butir yang lain berhubungan dengan matan; (1) terhindar dari kejanggalan (syadz) (2) terhindar dari cacat (illat).

Ulama hadits setelahnya seperti Muhy al-Din Abu Zakariyya Yahya ibn Syaraf al-Nawawi  yang dikenal dengan al-Nawawi (w.676 H) kemudian menganut definisi dan unsur hadis sahih tersebut bahkan hingga sekarang.

Dengan mengacu pada kriteria tersebut maka suatu hadits akan dinilai sahih bilamana memenuhi semua unsur tersebut baik sanad ataupun matannya. Bilamana satu unsur saja tidak terpenuhi maka hadits yang dimaksud tergolong pada hadits hasan bahkan dhaif.[1] Senada dengan hal tersebut apa yang dikemukakan oleh Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dari dalam kitabnya Al-Qawlu al-Hatsits fi Musthalah al-Hadits dan kitab Al-Istidzkar fi Taqyid Ma La Budda min Thal’ati al-Anwar.[2]

Adapun kaitannya dengan penelitian sanad, maka kaidah kesahihan yang berlaku untuk sanad dalam unsur-unsur tersebut menjadi acuannya, baik yang berhubungan dengan kondisi perawi ataupun yang bertalian dengan ketersambungan sanad. Pada makalah ini penulis akan mengkaji ketersambungan sanad dalam perspektif penelitian sanad mengacu pada pendapat beberapa ahli ilmu hadits.

B.     PENGERTIAN SANAD

Drs M. Syuhudi Ismail menjelaskan bahwa sanad menurut bahasa adalah sandaran; yang dapat dipegangi atau dipercayai; kaki bukit atau kaki gunung. Sedangkan menurut istilah adalah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadis. Dalam pengertian lain sanad juga berarti thariq atau wajh. Beliau memberikan satu contoh hadits yang disertai sanadnya sebagai berikut:

حَدَّ ثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوْسَى قَالَ : اَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِيْ سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْاِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ شَهَادَةُ أَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَاِقَامُ الّصلاَةِ وَاِيْتَاءُ الّزَكَاةِ وَالْحَجُّ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. (رواه البخاري)

yang dimaksud sanad dalam contoh di atas adalah deretan kata-kata mulai dari   

          حَدَّ ثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنِ مُوْسىَ  sampai kepada قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّ الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ   itulah yang dinamakan sanad.

Jadi jelas, urutan sanad dalam hadits di atas adalah :

a.       Ubaidullah bin Musa sebagai sanad yang pertama atau dikenal dengan awwalu sanad,

b.      Handzhalah bin Abi Sufyan sebagai sanad kedua,

c.       Ikrimah bin Khalid sebagai sanad ketiga, dan

d.      Ibnu Umar ra. sebagai sanad keempat atau dikenal dengan akhiru sanad.[3]

Karena ada istilah awal sanad dan akhir sanad, tentu ada pertengahan sanad yang dikenal dengan istilah awshatu sanad, dalam hal ini yang menjadi awshatu sanad  adalah Handzhalah bin Abi Sufyan dan Ikrimah bin Khalid, sebab keduanya berada di antara Ubaidullah bin Musa sebagai awal sanad dan Ibnu Umar sebagai akhir sanad. Adapun jumlah sanad dalam suatu hadits tidak mesti empat seperti contoh tersebut, mungkin saja lima atau lebih.[4]

            Dalam hubungannya dengan istilah sanad dikenal juga istilah Musnid, Musnad dan Isnad. Musnid adalah orang yang menjelaskan hadits dengan menyebutkan sanadnya, sedangkan Musnad adalah hadits yang yang dijelaskan dengan menyebutkan seluruh sanadnya hingga sampai kepada Nabi saw. Adapun Isnad  adalah sesuatu yang menerangkan sanadnya hadits (jalan datangnya hadits).[5]

            Berkaitan  dengan isnad ada istilah shighatu isnad, yakni lafaz-lafaz yang terdapat dalam sanad yang digunakan oleh perawi dalam menyampaikan hadits.

C.    KETERSAMBUNGAN SANAD MENURUT BUKHARI DAN MUSLIM

Bukhari dan Muslim adalah dua ulama hadits yang kitab haditsnya didaulat sebagai kitab hadis yang paling autentik dalam periwayatan hadits, namun demikian keduanya memiliki sedikit perbedaan pendapat berkaitan dengan kriteria ittishalu sanad.

            Menurut Bukhari, sebuah sanad baru diklaim bersambung apabila telah memenuhi dua kriteria, yaitu: pertama, al-liqa, yakni adanya pertautan langsung antara satu perawi dengan perawi berikutnya, yang ditandai dengan adanya sebuah aksi pertemuan antara murid yang mendengar secara langsung dari gurunya; kedua, al-mu’asharah, yakni terjadi persamaan hidup antara seorang guru dan muridnya, dengan kata lain sezaman.[6]

            Berbeda dengan Muslim, yang memberikan kriteria ketersambungan sanad cukup pada kriteria mu’asharah, dengan alasan bahwa antara satu perawi dengan perawi berikutnya begitu seterusnya ada kemungkinan bertemu karena keduanya hidup dalam kurun waktu yang sama sementara tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh bila diukur dengan kondisi saat itu. Dengan demikian Muslim merasa cukup memberikan satu kriteria mu’asharah dengan keyakinan tersebut.[7]

            Namun demikian dari perbedaan kriteria tersebut bukan berarti Muslim tidak memperhatikan pertemuan antara perawi, Muslim juga memperhatikan hal tersebut meski tidak disampaikan secara eksplisit sebagaimana Bukhari.

Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa Bukhari lebih ketat persyaratannya dalam mengklaim sebuah hadits memiliki ketersambungan sanad dibanding Muslim, sehingga pantas saja dalam marotib kutub al-hadits kitab hadits yang disusun Bukhari (shahih Bukhari) menempati kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan kitab hadits yang disusun oleh Muslim (shahih muslim).

D.    LANGKAH-LANGKAH MENELITI KETERSAMBUNGAN SANAD

Dr. Philp. H. Kamaruddin Amin, M.A. menjelaskan tentang langkah praktis meneliti ketersambungan sanad bahwa untuk mengetahui apakah sanad itu tersambung atau tidak diperlukan kajian yang mendalam tentang biografi setiap perawi. Penelitian ini meliputi tempat, tanggal lahir, dan wafat para perawi, bahkan sikap dan kepercayaannya sekalipun mesti dikaji dengan teliti dan hati-hati. Hal demikian diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ke-tsiqah­-an para perawi, juga dapat menentukan kemungkinan atau ketidakmungkinan perawi tersebut menjalin hubungan intelektual dengan perawi sebelumnya. Agar dapat memperoleh informasi yang komprehensif tentang biografi perawi, seorang peneliti hadits dapat merujuk langsung kepada kitab-kitab rijal al-hadits yang mu’tabar. Pada makalah ini akan dipaparkan lebih rinci berkaitan dengan kitab yang digunakan dalam meneliti ketersambungan sanad pada bagian tersendiri.[8]

            Berkaitan dengan hal tersebut, langkah selanjutnya adalah penelitian shighat isnad yang menghubungkan satu perawi dengan perawi yang lain juga sangat penting dilakukan, sebab hal tersebut dipercaya berimplikasi pada cara periwayatan hadits. Dalam ilmu hadits terdapat delapan cara atau bentuk periwayatan hadits:

1.      Sama’ yakni murid menghadiri kuliah seorang ahli hadits. Periwayatan hadits semacam ini sangat sederhana yakni dengan cara pendiktean (imla’) baik dari hafalan ataupun catatan berupa buku dan lain-lain. Terminologi yang sering digunakan pada model ini adalah سَمِعْتُ , حَدَّثَنِيْ , اَخْبَرَنَا , atau أَنْبَأَنَا .

2.      Qira’ah,yakni murid membacakan hadits-hadits yang sudah dikumpulkan kepada guru hadits. Terminologi yang sering digunakan pada model ini adalah أَخْبَرَنِيْ  atau    قَرَأْتُ عَلىَ.

3.      Ijazah, yakni mendapatkan izin atau ijazah dari seorang ulama hadits untuk diriwayatkan. Terminologi yang digunakan adalah أَخْبَرَنِيْ  atau أَجَزَنِيْ .

4.      Munawalah, yakni mendapatkan sekumpulan hadits dan mendapatkan izin untuk menyebarluaskan isinya kepada orang lain. Terminologi yang digunakan adalah   أَخْبَرَنِيْ .

5.      Mukatabah, yakni menerima hadits-hadits secara tertulis dari seorang ulama, baik secara langsung ataupun melalui surat menyurat, dengan seizin ulama tersebut untuk menarasikannya kepada orang lain. Terminologi yang digunakan adalah كَتَبَ إِلَيَّ atau مِنْ كِتَابِ .

6.      ‘Ilam al-Rawi, yakni pernyataan seorang ulama hadits kepada seorang murid bahwa ia menerima sejumlah hadits tertentu atau buku-buku dari seseorang yang mempunyai otoritas tertentu, tanpa memberi izin kepada murid-muridnya untuk meriwayatkan hadits tersebut. Terminologi yang digunakan adalah أَخْبَرَنِيْ atau عَنْ .

7.      Washiyah, yakni memperoleh karya-karya seorang ulama hadits atas kehendaknya sendiri pada saat ia meninggal. Terminologi yang digunakan adalah أَخْبَرَنِيْ وَصِيَّةً عَنْ atau وَصَّنِيْ .

8.      Wijadah, yakni menemukan sejumlah hadits tertentu dalam sebuah buku, mungkin setelah seorang ulama hadits meninggal, tanpa menerimanya dengan otoritas yang diakui.  Terminologi yang digunakan adalah وَجَدْتُ , قَالَ , أُخْبِرْتُ , dan حُدِّثْتُ .[9]

Berkaitan dengan shighat isnad tersebut M. Syuhudi Ismail lebih rinci dalam membagi tingkatannya sesuai dengan tingkat akurasinya sebagai berikut:

1.      Tingkatan Pertama terdiri dari kata:

a.       سَمِعْتُ artinya saya telah mendengar

b.      سَمِعْنَا artinya kami telah mendengar

c.       حَدَّثَنِيْ artinya dia telah menceritakan kepada saya

d.      حَدَّثَنَا artinya dia telah menceritakan kepada kami

e.       قَالَ لِيْ artinya dia telah berkata kepada saya

f.       قَالَ لَنَا artinya dia telah berkata kepada kami

g.      ذَكَرَنِيْ artinya dia telah menyebutkan kepada saya

h.      ذَكَرَنَا artinya dia telah menyebutkan kepada saya

2.      Tingkatan kedua terdiri dari kata:

a.       أَخْبَرَنَيْ artinya dia telah mengabarkan kepada saya

b.      قَرَأْتُ عَلَيْهِ artinya saya telah membaca padanya

3.      Tingkatan ketiga terdiri dari kata:

a.       أَخْبَرَنَا artinya dia telah mengabarkan padanya

b.      قَرَئَ عَلَيْهِ وَأَنَاَ أَسْمَعُ artinya dia telah membaca padanya sedang saya mendengarkan

c.       قَرَأْنَا عَلَيْهِ artinya kami telah membaca padanya

4.      Tingkatan keempat terdiri dari kata:

a.       أَنْبَأَنِيْ artinya dia telah memberi tahu kepada saya

b.      نَبَّأَنِيْ artinya dia telah memberi tahu kepada saya

c.       أَنْبَأَنَا artinya dia telah memberi tahu kepada kami

d.      نَبَّأَنَا artinya dia telah memberi tahu kepada kami

5.      Tingkatan kelima terdiri dari kata:

نَاوَلَنِيْ artinya dia telah menyerahkan kepada saya

6.      Tingkatan keenam terdiri dari kata:

شَافَهَنِيْ artinya dia telah mengucapkan kepada saya

7.      Tingkatan ketujuh terdiri dari kata:

كَتَبَ إِلَيَّ artinya dia telah menulis kepada saya

8.      Tingkatan kedelapan teridiri dari kata:

a.       عَنْ artinya dari pada

b.      أَنَّ,إِنَّ artinya sesungguhnya, bahwasanya

c.       وَجَدْتُ فِيْ كِتَابِيْ عَنْ artinya saya dapati dalam kitab saya dari

d.      رَوَى artinya dia telah meriwayatkan

e.       قَالَ artinya dia telah berkata

f.       ذَكَرَ artinya dia telah menyebut

g.      بَلَغَنِيْ artinya dia telah sampai kepada saya

h.       وَجَدْتً بِخَطِّ فُلاَنٍ artinya saya telah memperoleh dengan tulisan pulan.[10]

Ada beberapa singkatan shighat sanad yang sering digunakan dalam penulisan hadits pada berbagai kitab hadits, sebagai berikut:

1.      Simbolدَثَنَا atau نَا atau ثَنَا adalah singkatan dari حَدَّثَنَا

2.      Simbol اَرَنَا atau  اَخَنَا atau اَبَنَا atau اَنَا adalah singkatan dari اَخْبَرَنَا

3.      Simbol ق adalah singkatan dari قَالَ

4.      Simbol ثَنِيْ adalah singkatan dari حَدَّثَنِيْ[11]

Tidak semua shighat di atas menunjukan suatu pertalian atau ketersambungan sanad antara satu perawi dengan perawi yang lain, banyak di antara shighat tersebut yang masih diperdebatkan ulama hadits bahkan ada shighat tertentu yang mengarah pada klaim bahwa sanad pada suatu hadits itu terputus, seperti pada shighat أَنَّ . Pada shighat ini perlu ada qarinah atau bukti yang menerangkan bahwa riwayat tersebut tidak terputus. Shighat yang lainnya yang masih dipertentangkan ulama hadits dalam konteks ketersambungan sanad adalah shighat عَنْ  dan قَالَ .[12]

Dari analisa shighat isnad ini dapat ditentukan kemudian bagaimana seorang perawi yang satu dengan perawi yang lain menerima hadits tersebut, dengan demikian dapat ditentukan pula acuan proses tahammul wal ada, yakni proses menerima riwayat dan menyampaikan riwayat tersebut, apakah dengan cara tersebut perawi yang menerima riwayat itu bertemu langsung atau tidak, sezaman atau tidak, sehingga dapat ditentukan kemudian kemungkinan ke-tsiqah-an seorang perawi, tentunya setelah meneliti terlebih dahulu biografi atau sejarah hidup perawi-perawi tersebut. Setelah kedua langkah tersebut telah dilakukan baru lah kemudia menentukan klaim, apakah sanad suatu hadits tersambung atau terputus.

Langkah-langkah seperti ini dalam ilmu hadits spesifiknya naqd sanad dilakukan setelah proses ekstraksi ranah i’tibar sanad, yakni peninjauan sanad dengan cara membuat skema yang mencantumkan jalur seluruh sanad, termasuk nama-nama perawi untuk seluruh sanad, dan metode periwayatan yang digunakan oleh masing-masing periwayat.

E.     KITAB-KITAB YANG DIGUNAKAN DALAM MENELITI KETERSAMBUNGAN SANAD

            Banyak kitab yang disusun oleh para ulama yang digunakan untuk meneliti ketersambungan sanad sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Dr. Surjadi MA dan Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag sebagai berikut:

1.      Kitab-kitab yang membahas secara khusus biografi para sahabat Nabi di antaranya adalah:

a.       Marifah man Nazala min al-Sahabah Sair al-Buldan karya al-Hasan Ali ibn Abdullah al-Madani (w. 234. H)

b.      Kitab al-Marifah karya Abu Muhammad Abdullah ibn Isa al-Marwazi (w. 293 H)

c.       Kitab al-Shahabah karya Abu Hatim Muhammad ibn Hibban al-Busti

d.      Al-Istiab fi Marifah al-Ashab karya Abu Umar Yusuf ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Abd al-Barr al-Namiri al-Qurtubi (w. 463 H)

e.       Usd al-Gabah fi Marifah al-Sahabah karya Izzudin Abd al-Hasan Ali Ibn Muhammad ibn al-Asir (555-630 H)

f.       Tajrid Asma al-Sahabah karya al-Hafiz, Syams al-Din Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad al-Zahai (w. 748 H)

g.      Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Syihab al-Din Ahmad ibn Ali al-Kanani al-Atsqalani (w. 852 H)

h.      Durr al-Sahabah fi Man Dakhala Mishra min al-Sahabah  karya al-Hafiz Jalal al-Din Abdurrahman ibn Abu Bakr al-Suyuthi (w. 911 H)

i.        Al-Badr al-Munir fi Sahabah al-Basyir al-nazir  karya Muhammad Qasim ibn Salih al-Sindi

2.      Kitab-kitab yang membahas periwayat hadits yang disusun berdasarkan tabaqat diantaranya adalah:

a.       Al-Tabaqat al-Kubra karya Abu Abdullah Muhammad Ibn Sad Katib al-Waqidi (w. 230 H)

b.      Tazkirah al-Huffaz karya Abu Muhammad ibn Ahmad ibn Usman al-Zahabi (w. 748 H)

3.      Kitab-kitab hadis yang membahas periwayat hadits untuk kitab hadis tertentu. Di antara kitab-kitab  tersebut adalah :

a.      Al-Hidayah wa al-Irsyad fi ma’rifah ahli Tsiqah wa Sadad  karya Abu Nasr Ahmad ibn Muhammad  al-Kalabazi (w. 309 H). Kitab ini secara khusus membahas para perawi yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari.

b.      Rijal Sahih Muslim karya Abu Bakr Ahmad ibn Ali al-Asfahani atau lebih dikenal dengan Ibn Manjuyah (w. 428 H)

c.       Al-jam baina al-Rijal al-Shahihain karya Abu al-Fadl Muhammad ibn Tahir al-Muqaddasi yang terkenal dengan Ibnu al-Qirani (w. 507 H)

d.      Al-Tarif bi al-Rijal al-Muwatta  karya Muhammad ibn Yahya al-Hadda al-Tamami (w. 416 H) yang memuat rawi-rawi dalam al-Muwatta dan kualitasnya.

e.       Tahzib al-Kamal karya al-Hafiz Abu al-Hajjaj Yusuf ibn al-Zaki al-Mizzi (w. 742 H)

f.       Akmal Tahzib al-Kamal karya al-Hafiz Alauddin Muglataya (w. 762 H)

g.      Tahzib al-Tahzib karya Abu Abdullah Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Zahabi.

h.      Al-Kasyif fi Marifah man lah Ruwah fi al-Kutub al-Sittah karya Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad al-Zahabi

i.        Tahzib al-Tahzib karya ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H)

j.        Taqrib al-Tahzib karya ibnu Hajar al-Asqalani

k.      Khulasah Tahzib Tahzib al-Kamal karya Safiyuddin Ahmad ibn Abdullah al-Khazraji al-Anshari al-Saadi.

l.        Al-Tazkirah bi Rijal al-Asyrah karya Abu Abdullah Muhammad ibn al-Asma Ali al-Husaini al-Dimisyqi (w.765 H)

m.    Tajil al-Manfaah bi Zawaid Rijal Aimmah al-Arbaah karya ibn Hajar al-Asqalani.

4.      Kitab-kitab yang membahas kualitas para periwayat hadits

a.       Rawi-rawi tsiqah

Di antara kitab-kitab yang masyhur adalah:

1)      Kitab al-Tsiqat  karya Abu al-Hasab Ahmad ibn Abdullah ibn Salih al-Jilli (w. 261 H)

2)      Kitab al-Tsiqat karya Muhammad ibn Ahmad ibn Hibban al-Busti (w. 354 H)

3)      Tarikh Asma al-Tsiqat min man Nuqila anhum al-Ilm Umar ibn Ahmad ibn Syahin (w. 385 H)

b.      Rawi-rawi dhaif

1)      Al-Duafa al-Kabir  karya al-Bukhari

2)      Al-Duafa al-Shagir karya al-Bukhari

3)      Al-Duafa wa al-Matrukun  karya al-Nasai

4)      Kitab al-Duafa karya Abu Jafar Muhammad ibn Amr al-Uqali (323 H)

5)      Marifah al-Majruhin min al-Muhaddisin karya Abu Hatim Muhammad ibn Ahmad ibn Hibban al-Busti (w.394 H)

c.       Para perawi hadits yang kualitasnya masih dipersoalkan:

1)      Al-Kamil fi Duafa al-Rijal karya Abu Ahmad Abdullah ibn Adi al-Jurjani (w.356 H)

2)      Mizan al-Itidal fi Naqd al-Rijal karya al-Zahabi

3)      Lisan al-Mizan karya Ibn Hajar al-Atsqalani

5.      Kitab-kitab yang membahas periwayat hadits berdasarkan negara asal mereka

a.       Tarikh Wasit karya Abu al-Hasan Aslam ibn Sahl (w. 288H)

b.      Mukhtasar Tabaqat Ulama Ifriqiyyah wa Tunis karya Abu Arab Muhammad Ahmad al-Qiruwani (w. 333 H)

c.       Tarikh al-Riqqah karya Muhammad ibn Saad al-Qusyairi.

d.      Tarikh Daraya karya Abu Abdullah Abd al-Jabbar al-Darani (w. 370 H)

e.       Zikr Akhbar Asbahan karya Abu Nuaim Ahmad ibn Abdillah al-Asbahani (w 430 H)

f.       Tarikh Jurjan karya Abu al-Qasim Hamzah ibn Yusuf al-Sahmi (w. 427 H)

g.      Tarikh Naisabur karya Muhammad ibn Abdillah al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 H)

h.      Tarikh Baghdad karya Abu Bakr Ahmad ibn Ali ibn Sabit ibn Ahmad al-Baghdadi al-Khatib (w. 493 H)

i.        Tarikh Dimasyq karya Abu Al-Qasim Ali ibn al-Husain ibn Asakir al-Dimisyqi (w. 571 H)

6.      Kitab-kitab yang membahas illah hadis:

a.       Ilal al-Hadis karya ibn Abi Hatim al-Razi (w. 328 H)

b.      Al-Ilal wa Marifah al-Rijal karya Ahmad ibn Hanbal.

c.       Al-Ilal karya karya Ibn Al-Madini (w.234 H)

d.      Al-Ilal Kabir karya al-Turmuzi (w.279 H)

e.       Al-Ilal Saghir karya al-Turmuzi

f.       Al-Ilal al-Waridah fi al-Ahadits al-Nabawiyah karya al-Daruquthni (w.385 H)

7.      Kitab-kitab yang ditulis berdasar nama-nama, kunyah-kunyah, laqab-laqab dan nasab-nasab.

a.       Tentang nama-nama, kunyah-kunyah, laqab-laqab di antaranya adalah :

1)      Al-Asami wa al-Kuna karya Ali ibn Abdillah ibn Jafar al-Madini (w. 234 H)

2)      Al-Asma wa al-Kuna  karya Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H)

3)      Al-Kuna karya Muhammad ibn Ismail al-Bukhari

4)      Al-Kuna karya Ahmad ibn Syuaib

5)      Al-Kuna karya Abdul Rahman ibn Abi Hatim al-Razi

6)      Kitab Al-Kuna wa al-Asma karya Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi (w. 261 H)

7)      Al-Kuna wa Al-Asma karya Abu Basyar Muhammad ibn Ahmad ibn Hammad ibn Sad al-Anshari al-Daulabi (w. 320 H)

8)      Al-Asma wa al-Kuna karya Abu Ahmad Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-hakim al-Naisaburi (w. 378 H)

9)      Fath al-Bab fi al-Kuna wa al-Alqab karya Abu Abdillah Muhammad ibn Ishaq ibn Mandah al-Asbihani (w.395 H)

10)  Al-Mutalif wa al-Mukhtalif fi Asma Naqalah al-hadits karya Abu Muhammad Abd al-Gani ibn Said al-Asadi al-Misri (w. 409 H)

11)  Takmilah al-Mutalif wa al-Mukhtalif karya Abu Bakr Ahmad ibn Ali ibn Sabit al-Baghdadi (al-Khatib) (w. 463 H) Al-khatib dalam bidang ini juga menulis kitab Asma wa al-Kuna, Al-Asma al-Mubham fi al-Anba al-Muhkamah dan Talkhis al-Mutasyabihfi al-Rasm fi al-Rasm fi Asma al-Ruwah.

12)  Al-Ikmal fi Raf al-irtiyab an al-Mutalif wa al-Mukhtaklif min al-Asma wa al-Kuna wa al-Ansab karya Abu Nasr Ali ibn Hibatillah ibn Jafar ibn Makul al-Baghdadi (w. 486 H)

13)  Kasyf an-Nuqab an al-Asma wa al-Alqab karya Abu Al-Farj Abd al-Rahman ibn Ali ibn al-Jauzi (w. 597 H)

14)  Al-Mustadrak ala al-ikmal li ibn makul karya Muhammad ibn Abd al-Ghani al-baghdadi (Ibn Nuqtah) (w. 629 H)

15)  Al-Musytabih fi Asma al-Rijal karya Syams al-Din Muhammad ibn Usman al-Zahabi (w. 748 H). Selain menulis kitab ini al-Zahabi dalam bidang ini juga menulis kitab Muqtana fi Sdr al-Kuna

16)  Tuhfah Zaw al-Arab fi Musykil al-Asma wa al-Nasab karya ibn Khatib al-Dahsyah Mahmud ibn Ahmad al-Hamdani al-Fayyumi (w.834 H)

17)  Nuzhah al-Albab fi al-Alqab  karya Abu al-Fadl Syihab al-Din ibn Hajar al-Atsqalani (w. 852 H).

b.      Tentang nasab-nasab

1)      Ma Ittafaq min Asma al-Muhaddisin wa Ansabuhum Gaira Anna fi Badih Ziyadah Harf Wahid karya Abu Bakr Ahmad ibn Ali ibn Sabit al-Baghdadi (w.463 H)

2)      Al-Ansab al-Muttafaqah fi al-Khatt al-Mutamasilah fi al-Naqt wa al-Dabt karya Muhammad ibn Tahir al-Maqdisi (w. 507 H)

3)      Iqtibas al-Anwar wa Iltimas al-Azhar fi Ansab al-Sahabah wa Ruwah al Aasar karya Abu Muhammad Abdullah ibn Ali al-Lakhmi al-Andalusi (w.542 H)

4)      Al-Ansab karya Taj al-Islam Said al-Karim ibn Muhammad ibn Abi al-Tamimi Samani (w. 562 H)

5)      Al-Lubab karya Ali ibn Muhammad al-Syaibani al-jazari (w. 630 H)

6)      Nisbah al-Muhaddisin ila al-Aba wa al-Buldan karya Muhib al-Din Mhammad ibn Mahmud al-Najjar (w.643 H)

7)      Al-Aknab fi Takhish Kutub al-Ansab karya Qutb al-Din Muhammad ibn Muhammad al-Khaidari al-Syafii (w.894 H).[14]

F.     KESIMPULAN

Dari uraian makalah di atas dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.      Kriteria hadits sahih meliputi; pertama, ketersambungan sanad, kedua, perawi yang adil dan dhabit, ketiga,bebas dari syadz dan illat  baik pada sanad ataupun matan.

2.      Menurut Bukhari ketersambungan sanad dapat diklaim bilamana seorang perawi memenuhi kriteria; pertama, liqa, yakni pertemuan langsung meskipun hanya sekali, kedua, mu’asharah,yakni hidup sezaman. Sedangkan menurut muslim kriteria ketersmbungan sanad cukup dengan mu’asharah, sebab dalam konteks zaman itu seorang yang hidup sezaman sangat dimungkinkan dapat bertemu langsung.

3.      Menurut Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. langkah meneliti sanad suatu hadits dapat dilakukan dengan langkah sistematis; pertama, meneliti biografi perawi dengan teliti dengan merujuk kitab rijal al-hadits yang mu’tabar, kedua, dengan meneliti shighat tahamul wal ada atau dikenal dengan  shighat isnad, ketiga, menentukan derajat ketersambungan sanadnya.

4.      Kitab-kitab yang menjelaskan tentang biografi perawi atau dikenal dengan kitab rijal al-Hadits sangat banyak, sehingga dapat dikategorikan kepada; kitab yang membahas biografi para sahabat, kitab yang membahas periwayat hadis berdasarkan tabaqat, kitab yang membahas periwayat hadits secara umum, kitab yang membahas periwayat hadits berdasarkan kitab-kitab tertentu, kitab yang membahas kualitas para periwayat hadits yang meliputi: a) rawi yang tsiqoh b) rawi yang dhaif dan c) rawi yang masih dipersoalkan kualitas riwayatnya, kitab yang membahas periwayat hadits berdasarkan negara asalnya, kitab yang membahas illat hadits, dan kitab yang ditulis berdasarkan nama, kunyah, laqab dan nasab.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ad-Dary, Muhammad Muhadjirin Amsar, Al-Qawlu Al-Hatsis fi Musthalah al-Hadits,Bekasi: Ma’had An Nida Al-Islamy, 1989.

 

——————————————————,Al-Istidzkar fi Taqyidi Ma La Budda Min Thal’ati al-Anwar, Bekasi: Ma’had An-Nida Al-Islamy, 1995.

 

Amin,Phil H. Kamaruddin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, Jakarta: Hikmah, 2009.

 

Ismail, M. Syuhudi, Pengantar Ilmu Hadits, Bandung: Angkasa, tt.

 

Sumbulah, Umi, Kritik Hadis Pendekatan Historis Metodologis, Malang: UIN Malang Press, 2008.

 

Suryadilaga, Muhammad Alfatih dan Suryadi, Metodologi Penelitian Hadits,Yogyakarta: TH Press, 2009.


[1]Prof. Dr. Suryadi, MA dan Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, M.Ag, Metodologi Penelitian Hadits, (Yogyakarta: TH Press, 2009), h. 100-102.

[2] Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, Al-Qawlu Al-Hatsis fi Musthalah al-Hadits, (Bekasi: Ma’had An Nida Al-Islamy, 1989), Cetakan Ke-4, h. 7-10, lihat juga dalam kitabnya yang lain Al-Istidzkar fi Taqyidi Ma La Budda Min Thal’ati al-Anwar, (Bekasi: Ma’had An-Nida Al-Islamy, 1995), Cetakan ke-3, h. 14.

[3] Drs. M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung: Angkasa, tt.), h. 16-18

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Dr. Umi Sumbulah, M.Ag, Kritik Hadis Pendekatan Historis Metodologis, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h.45-47.

[7] Ibid.

[8] Dr. Phil H. Kamaruddin Amin, MA, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis, (Jakarta: Hikmah, 2009), h. 21-23

[9]Ibid.

[10] Syuhudi, Op. Cit., h. 19-21

[11] Ibid.

[12] Suryadi dan Suryadilaga, Op.Cit., h. 72-73

[13] Ibid., h.74

[14]  Ibid., h. 117-123

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: