IJAZ DAN ITHNAB (ISMAIL JEHANA)

  1. A.    PENDAHULUAN

   Dalam interaksi sehari-hari kita dituntut untuk menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti  orang lain. Penggunaan bahasa yang baik dan diungkapkan dengan sopan akan sangat membantu untuk terbinanya hubungan yang baik dengan orang lain.

   Dalam percakapan sehari-hari  ketika kita  ingin mengutarakan isi hati atau ketika ingin menyampaikan sesuatu , akan memilih salah satu dari ketiga cara pengungkapan ini. Terkadang mengutarakannya dengan menggunakan kalimat dengan seringkas-ringkasnya, terkadang mengutarakannya panjang lebar, dan terkadang diutarakan dengan sedang-sedang saja. Kesemuanya itu tergantung penyesuaian dengan kedaan dan situasi pembicaraannya.

   Al-Quran yang menggunakan bahasa Arab pun  tidak terlepas dari hal itu.  ada kalimat yang diungkapkan secara ringkas, ada perkataan atau ungkapan yang panjang lebar dan ada kalimat yang diungkapkan sedang-sedang saja  dari apa yang dimaksud.

   Dalam memahami Al-Quran, banyak pembahasan makna Al-Quran yang berhubungan dengan lafaz, antara lain musawah, fashl, washl, ijaz,ithnab, dan qashr. Makalah ini membahas tentang ijaz dan ithnab. Ijaz dan Ithnab keduanya adalah bagian dari ilmu balaghoh yag paling utama.[1]  Dengan demikian rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

 

  1. Apa pengertian Ijaz ?
  2. Ada berapa pembagian ijaz ?
  3. Apa pengertian Ithnab ?
  4. Ada berapa macam  ithnab

 

  1. B.     IJAZ DAN ITHNAB
    1. Pengertian Ijaz

   Ijaz  adalah mengumpulkan makna yang banyak dalam kata-kata yang sedikit dengan jelas dan fasih. Ijaz merupakan salah satu cara untuk menyatakan maksud dengan pernyataan yang kata-katanya kurang dari sebagaimana mestinya, tetapi pernyataan itu cukup memenuhi maksud.

   Adapun ijaz menurut ahli balaghah terbagi menjadi dua, yaitu :

a)      Ijaz Qashar

   Ijaz Qashar yaitu penyampaian maksud dengan cara menggunakan ungkapan yang pendek, namun mengandung banyak makna tanpa disertai pembuangan beberapa kata atau kalimat. Menurut Imam Jalaludin As Suyuthi (2007:247), ijaz yaitu pembicaraan yang ringkas ditinjau dari kata-katanya. Syeikh Baha’uddin berkata : “ Pembicaraan yang sedikit itu merupakan suatu pembicaraan yang memberikan makna yang lebih panjang, maka disebut sebagai ijaz qashr”[2]

Contoh:

وَلَكُمْفِيالْقِصَاصِحَيَاةٌيَاأُولِيالألْبَابِلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ (١٧٩)

179. dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.(QS. Al-Baqarah: 179)

  Pada ayat Al-Quran surah  Al-Baqarah: 179), Allah menyatakan qishash itu menjadi kehidupan, padahal qishash itu menghukum setimpal, membunuh dengan membunuh, melukai dengan melukai. Kalau ditinjau dari sepintas kilas, qishash itu akan cepat mengurangi banyaknya orang. Akan tetapi hikmahnya adalah bila orang-orang mengetahui bahwa setiap orang yang membunuh akan dibunuh lagi, dengan demikian tentu semua akan takut membunuh orang lain sebab takut qishash. Akhirnya menimbulkan kehidupan yang aman, tenang, dan tentram, tidak terjadi kejahatan dan pembunuhan.

b)      IjazHadzf

    Ijaz Hadzf yaitu ijaz dengan cara membuang sebagian kata atau kalimat dengan syarat ada karinah yang menunjukkan adanya lafaz yang dibuang tersebut.Menurut Imam Jalaludin As Suyuthi (2007:258), ada beberapa sebab adanya pembuangan adalah:

1)      Semata-semata untuk meringkas dan menghindari kesia-siaan, karena memang sesuatu itu telah menjadi jelas

2)      Untuk mengingatkan bahwa waktu tidak cukup untuk mengatakan sesuatu yang dibuang itu dan menyibukkan diri dengan menyebutnya dapat berakibat meninggalkan sesuatu yang lebih penting.

Contoh:

1)      Al-Quran Surat  Al-A’raaf : 54

أَلالَهُالْخَلْقُوَالأمْرُ (٥٤)

54. Ingatlah, menciptakandanmemerintahhanyalahhak Allah.

   Bila kita perhatikan contoh bagian pertama di atas, kita dapatkan bahwa kata-kata pada setiap kalimat sedikit jumlahnya, namun mencakup banyak makna. Pada contoh pertama terdapat dua kata yang mencakup segala sesuatu dan segala urusan dengan sehabis-habisnya.

2)      Al-Quran Surat  Al-Fajr : 22

      وَجَاءَرَبُّكَوَالْمَلَكُصَفًّاصَفًّا (٢٢

22. dandatanglahTuhanmu; sedangMalaikatberbaris-baris.

   Pada contoh kedua kita menemukan bahwa kalimatnya ringkas. Untuk mengetahui rahasia keringkasannya kita perhatikan  sebagian katanya dibuang, sebab diperkirakan asal kalimatnya “ wajaa-a amru Rabbika”  Tanpa mengucapkan amru  kalimat tersebut sudah mencukupi makna, maka kata amru dalam kalimat tersebut dibuang karena makna yang ingin disampaikan telah terpenuhi.

3)      Al-Quran SuratQaaf : 1-2

قوَالْقُرْآنِالْمَجِيدِ (١)بَلْعَجِبُواأَنْجَاءَهُمْمُنْذِرٌمِنْهُمْ

1. Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri,

   Demikian juga halnya pada contoh yang ketiga. Pada contoh ketiga ada sebagian kalimat yang dibuang yaitu jawab qasam, karena diperkirakan asal kalimatnya adalah “ Qaaf, wal Qur-aanil-majiid latub’atsunna” (sungguh engkau benar-benar akan dibangkitkan).

4)      Al-Quran Surat Al-Qashash : 24-25

فَسَقَىلَهُمَاثُمَّتَوَلَّىإِلَىالظِّلِّفَقَالَرَبِّإِنِّيلِمَاأَنْزَلْتَإِلَيَّمِنْ

خَيْرٍفَقِيرٌ (٢٤)فَجَاءَتْهُإِحْدَاهُمَاتَمْشِيعَلَىاسْتِحْيَاءٍقَالَتْإِنَّأَبِي

يَدْعُوكَلِيَجْزِيَكَأَجْرَمَاسَقَيْتَلَنَا (٢٥)

24. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian Dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yangEngkau turunkan kepadaku”.

25. kemudiandatanglahkepada Musa salahseorangdarikeduawanitaituberjalankemalu-maluan, iaberkata: “Sesungguhnyabapakkumemanggilkamu agar iamemberikanBalasanterhadap (kebaikan)mu memberiminum (ternak) kami.

   Adapun pada contoh yang keempat, lafaz yang buang adalah beberapa kalimat, yang seandainya tidak banyak dibuang niscaya alur ceritanya adalah “lalu kedua wanita itu pergi menemui ayah mereka, dan mereka menceritakan hal-hal yang terjadi pada diri Musa. Maka ayah mereka mengutus salah seorang dari mereka untuk menemui Musa.

  1. Pengertian ITHNAB

    Ithnab yaitu mendatangkan makna dengan ucapan yang lebih banyak dari maknanya, karena ada faedah yang hendak dicapainya, namun tetap tidak bertele-tele. Dengan kata lain  ithnab kebalikan dari ijaz.

Maca-macam ithnab, sebagai berikut:

a)      Ighol, ialah suatu pembicaraan dengan ucapan yang berfaedah, sekalipun tanpa ucapan tersebut kalam itu sudah cukup memadai, seperti:

اتَّبِعُواالْمُرْسَلِينَ (٢٠)اتَّبِعُوامَنْلايَسْأَلُكُمْأَجْرًاوَهُمْمُهْتَدُونَ (٢١)

20. ….. ikutilah oleh kamu sekalian para  utusan (rasul) itu”.

21. ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Yaasiin : 20-21)

b)      Tadzyiil, ialah mengikutkan kalimat jumlah pada kalimat jumlah lainnya, padahal kalimat jumlah lainnya yang mengikutinya itu mencakup makna yang terkandung dalam kalimat yang diikutinya itu, seperti:

وَقُلْجَاءَالْحَقُّوَزَهَقَالْبَاطِلُإِنَّالْبَاطِلَكَانَزَهُوقًا (٨١)

81. dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

                 Lafazinnabaathilakaanazahuuqaaadalahkalimatjumlah yang mengikutikalimatjumlah yang lain, yang maksudnyaadalahuntukmenguatkan. Andaikalimatjumlahinitidakdiikutkanitupunmaknanyasudahmemadai, karenasudahtercakup di dalamnyaitu.

                 Perbedaan antara ighol dan tadzyiil ialah:

  1. Ighol tidak bermakna taukid dan harus di akhir kalam
  2. Tadzyiil bermakna taukid dan tidak harus berada di akhir kalam

Tadzyiil terbagi atas dua macam:

1)      Apabila kalimat jumlah kedua sendirian sudah dapat mencapai tujuan dan tidak bersandar pada kalimat jumlah sebelumnya, maka ia berlaku sebagai misal, seperti  وَقُلْجَاءَالْحَقُّ (katakanlah ! semisal telah datang kebenaran/hak)

2)      Tidak berlaku sebagai misal, jikalau jumlah kedua bersandar pada kalimat jumlah yang pertama dalam memberikan pengertiannya, seperti :

ذَلِكَجَزَيْنَاهُمْبِمَاكَفَرُواوَهَلْنُجَازِيإِلاالْكَفُورَ (١٧)

17. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

 

c)      Takriir, ialah pengulangan kalimat seperti:

كَلاسَوْفَتَعْلَمُونَ (٣)ثُمَّكَلاسَوْفَتَعْلَمُونَ (٤)

3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Maksudnya ialah mengulangi penyebutan suatu lafaz. Hal ini berfaedah untuk mengetuk jiwa pendengarnya terhadap makna yang dimaksud untuk menghindari kesalahpahaman karena banyaknya anak kalimat yang memisahkan unsur pokok kalimat yang berasngkutan.

d)     I’tirodh, ialah berpaling dari suatu kalimat jumlah ke kalimat jumlah yang lainnya, yang masih berhubungan dengannya, seperti:

الله فعال لما يريد , واعلم رعاك الله إنه لا يضيع من قصدة

Yaknidipalingkanataudiselangkanolehkalimatواعلم رعاك الله

e)      Takmiil, ialah penyempurnaan pengertian dan disebut juga ihtiros yaitu menjaga dari kemungkinan terjadi salah paham seperti:

تَنَزَّلُالْمَلائِكَةُوَالرُّوحُفِيهَابِإِذْنِرَبِّهِمْمِنْكُلِّأَمْرٍ (٤)

4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.(QS. Al-Qadr : 4)

f)       Tatmiim, ialah menyempurnakan kalam agar tidak menimbulkan kesalahan sasaran, seperti :

ويطعمون الطعام على حبه مسكينا

“ mereka itu memberi makanan kepada orang-orang miskin, padahal mereka pun menyenanginya atau masih membutuhkannya”

Maksudnya adalah bahwa yang diberikan itu bukan barang bekas atau sisa makanan.

g)      Pengathafan yang khusus kepada yang umum, seperti:

حَافِظُواعَلَىالصَّلَوَاتِوَالصَّلاةِالْوُسْطَى (٢٣٨)

238. peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

Kalimat jumlah  الصَّلاةِالْوُسْطَى  sebenarnya telah tercakup dalam lafalالصَّلَوَاتِ yang berbentuk jamak الصلاة   . Dijelaskan dengan  الصَّلاةِالْوُسْطَىadalah bermaksud agar lebih diperhatikan, sebab waktu ashar (wustho) itu adalah waktu untuk melepaskan lelah. Akan tetapiwalaupundalamwaktu yang demikianitukitatetapwajibmengerjakannya.

  1. C.    KESIMPULAN
  1. Kalam ijaz ialah rangkaian perkataan yang kandungan lafalnya lebih sedikit dari makna yang dikehendaki yakni singkat tanpa mengurangi maksudnya.
  2. Kalam ithnab ialah mendatangkan makna dengan ucapan yang lebih banyak dari maknanya, karena ada faedah yang hendak dicapainya namun tidak bertele-tele.

 

DAFTAR PUSTAKA

As Suyuthi, Jalaludi, Imam. Samudera Ulumul Quran, Jilid 3: Surabaya : PT Bina Ilmu, 2007

Akhdori, Imam. Terjemah Jauharul Maknum : Ilmu Balaghah, Surabaya: al-Hidayah,t.th

‘Akkariy, In’am Fawwal. Al-Mu’jam al-Mufasshol fi Ulum al-Balaghah. Beirut : Dar al-Kutub al-Alamiyah, 1971

Kusmana, Syamsuri. Pengantar Ilmu Al-Quran: Tema Pokok, Sejarah dan Wacana Kajian, UIN Jakarta Pres, 2004

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]As Suyuti, Jalaludi, Imam, 2007, samudera ulumul quran, jilid 3. Surabaya: pt bina ilmu, hal. 245

[2]Pengarang Kitab ‘Arus Al-Alfrah fi syarhi talkhisil idlah. Dan namanya adalah Baha’uddin Ahamad bin Ali bin Abdul Kafi As Subki Asy bSyafi’i, salah seorang ulama pada masa abad ke delapan hijriyah, wafat tahun 773

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: