PROLOG AT TA’RIF WA AL QAWA’ID TAKWIL

TAKWIL

(TA’RIF DAN QAWA’ID)

 

Oleh:

AL KAUTSAR KALEBBI

NIM: 1302521135

 

Dosen Pemandu:

Prof. Dr. H. A. ATHAILLAH, M. Ag.

 

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

2013

A.  PENDAHULUAN

    Pada mulanya tafsir dan takwil dipahami sebagai dua kata yang memiliki makna sinonim, kemudian keduanya dibedakan seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an pada kurun awal hijriah. Kedua istilah ini dipahami sebagai sebuah kegiatan dalam rangka menggali dan menjelaskan kandungan ayat-ayat Al Qur’an. Pada masa Rasulullah, tafsir dan takwil dianggap sama (mutaradif), karena memang yang memiliki otoritas penuh dalam menjelaskan isi Al Qur’an adalah Rasulullah.

     Namun di era modern saat ini, di samping lafadz Al-Qur’an dijelaskan dengan metode tafsir. Al-Qur’an juga terkadang diungkapkan secara tersirat (implisit) dan tidak tersurat (eksplisit), atau diisyaratkan terutama dalam ayat-ayat Mutasyabihat,[1] sehingga maknanya tersembunyi di bawah permukaan lafadz. Makna tersebut dapat ditemukan dengan menggunakan metode lain yaitu takwil, sebuah metode untuk menemukan makna batin (esoteris) dalam pengungkapan teks.

     Jadi, takwil dapat berarti pendalaman makna (intensification of meaning) dari tafsir. Seperti firman Allah QS. Al-An’am (6) ayat 95 yang berbunyi:

Terjemahnya:

          “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka mengapa kamu masih berpaling?”

          “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati”, jika yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah mengeluarkan burung dari telur, maka itulah tafsir. Tetapi jika yang dimaksud adalah mengeluarkan orang beriman dari orang kafir, atau orang berilmu dari orang yang bodoh, maka itulah takwil.[2]

             Berdasarkan pendahuluan di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut: Definisi takwil secara etimologi dan terminologi. Serta uraian singkat tentang kaidah-kaidah dalam takwil menurut para Ulama.

B.  PENGERTIAN TAKWIL (ETIMOLOGI)

    Kata takwil berasal dari kata ala ya’ulu aulan yang berarti kembali kepada asal.[3] Takwil berasal dari kata (الأَوْلُ yang artinya الرجوع (kembali) dan العاقبة (akibat atau pahala). Sedangkan isim makan dan zamannya adalah موئلا atau الموئل yang berarti المرجع tempat kembali.[4]

      Seperti dalam QS. Al-Kahfi (18) ayat 58;

         Terjemahnya:

        “Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.”

       Serta definisi takwil dari kata  أَوَّلَ yang berartiيعتمد عليه و إليه  الرجوع (kembali dan bersandar kepadanya), juga memberi pengertian unggul dan memiliki pengikut, seperti dalam QS. At-Taubah (9) ayat 108 dan QS. Al-An’am (6) ayat 163:

       Terjemahnya:

      “Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

         Terjemahnya:

       “Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

         Kata أَوَّلِ digunakan karena sesudahnya kembali dan bersandar kepadanya.[5] Takwil adalah muradif tafsir dalam pengertian bahasa yang sangat terkenal. Lafadz takwil dalam arti menjelaskan dan menerangkan.[6]

        Takwil juga menurut lughat adalah menerangkan, menjelaskan. Diambil dari kata “awwala-yuawwilu-takwilan” atau “al-ruju’ ila Al-ashl” (berarti kembali pada pokoknya).[7]

C.  PENGERTIAN TAKWIL (TERMINOLOGI)

     Sedangkan dalam terminologi Islam, Ibnu Manzhur menyebutkan dua pengertian takwil secara istilah dalam Lisan Al-Arab; pertama, takwil adalah sinonim (muradhif) dari tafsir. Kedua, takwil adalah memindahkan makna zhahir dari tempat aslinya kepada makna lain karena ada dalil.

     Takwil adalah mengalihkan lafadz ambigu (muhtamal) dari maknanya yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena adanya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh pembicara adalah makna yang lemah.

      Abu Hamid Al-Ghazali dalam bukunya Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul mengatakan, “Takwil adalah sebuah ungkapan (istilah) tentang pengambilan makna dari lafadz yang ambigu (muhtamal) dengan didukung dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafadz dzahir”.[8]

    Abu Al-Hasan Al-Amidi Rahimahullah salah seorang ulama ushul dalam Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam mengatakan, “Takwil adalah mengalihkan lafadz yang muhtamal  dari makna zhahirnya berdasarkan dalil yang menguatkannya”.

      Lebih terperinci lagi, Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatwa menegaskan bahwa istilah takwil memiliki tiga pengertian;

     Pertama, berarti maksud dari sebuah perkataan baik sesuai dengan dzahir lafadz maupun bertentangan (makna estetoris). Dalam QS. Al-A’raf (7) ayat 53:

Terjemahnya: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”

   Kedua, berarti tafsir sebagaimana yang digunakan oleh kebanyakan para ulama ahli tafsir. Seperti perkataan Mujahid (imam al-mufassirin), “Sesungguhnya orang-orang yang mendalam ilmunya (rasikhun) mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihat”. Kata takwil yang beliau maksudkan adalah tafsir dan penjelasan maknanya.

      Ketiga,  berarti mengalihkan lafadz dari makna dzahirnya karena adanya dalil yang menunjukkan hal itu. Pengertian istilah ini belum ada pada zaman salaf, baru dikenal pada zaman mutaakhkhirin (khalaf) dari kalangan ahli fiqih, kalam, dan tasawwuf.[9]Jadi, takwil dalam istilah salaf adalah sinonim dari tafsir. Kemudian pada masa khalaf mengalami perubahan makna menjadi suatu pengalihan makna lafadz yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) dengan berdasarkan dalil.

    Takwil menurut Al-Jurjani dalam kamus istilahnya yang terkenal At-Ta’rifat, menyatakan “Takwil secara bahasa bermakna kembali, sedangkan secara istilah bermakna mengalihkan lafadz dari maknanya yang zhahir kepada makna lain (batin) yang terkandung di dalamnya, apabila makna yang lain itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah”.[10]

صَرْفُ اللَّفْظِ عَنِ مَعْنَاهُ الظَّاهِرِ إِﱃَ مَعْنَاهُ يُحْتَمِلُهُ إِذَا كَانَ الْمُحتَمِلُ الَّذِيْ يَرَاهُ مُوافِقًا باِلْكِتاب والسُّنَّةِ٠

     Sedangkan takwil menurut ulama mutaakhkhirin (khalaf) dari kalangan ulama ushul, kalam, dan tasawwuf yaitu;

صَرْفُ اللَفْظِ عَنِ الْمَعْنَى الراجِحِ إِلىَ مَعْنَى الْمُرَجُوْحِ لِدَلِيْلٍ يَقْتِرِنُ بِهِ .

     “Mengalihkan suatu lafadz dari maknanya yang (rajih) pada makna yang (marjuh), karena ada dalil yang menyertainya.”[11]

     Ringkasnya, pengertian takwil dalam penggunaan istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafadz-lafadz (ayat-ayat) Al-Qur’an melalui pendekatan memahami arti atau maksud sebagai kandungan dari lafadz itu. Dengan kata lain, takwil berarti mengartikan lafadz dengan beberapa alternatif kandungan makna yang bukan makna lahiriahnya, bahkan penggunaan secara masyhur kadang-kadang diidentikan dengan tafsir.

       Dari berbagai bahasan tentang definisi takwil, dapat disimpulkan dua makna takwil, yaitu:

   Pertama, takwil adalah mengalihkan makna dari yang meragukan atau membingungkan pada makna yang meyakinkan dan menentramkan. Dalam pengertian ini, takwil hanya berhubungan dengan ayat-ayat mutasyabihat.

    Kedua, takwil adalah selain makna lahiriah juga termasuk batiniyah. Takwil dalam arti ini berhubungan dengan semua ayat Al Qur’an.[12]

      Lebih jauh ke belakang, pada masa Rasulullah Saw., kata takwil pernah beliau gunakan ketika mendoakan Ibnu Abbas dalam do’anya yang sangat terkenal “Allahumma faqqihhu fii ad-din wa allimhu at-ta’wil” (Ya Allah, jadikanlah ia mengerti tentang agama dan ajarkan kepadanya takwil). Karena do’anya itu, Ibnu Abbas menjadi pakar tafsir dan takwil dan menjadi rujukan ulama-ulama setelahnya.[13]

     Az-Zarkasyi menambahkan bahwa, tafsir dalam istilah para ulama adalah menyingkap atau menemukan makna-makna Al-Qur’an dan menjelaskan maksudnya, ia lebih umum dari takwil yang hanya sekedar membahas lafadz-lafadz yang ambigu atau makna yang dzahir atau permasalah lafadz lainnya. Tafsir lebih banyak digunakan dalam kalimat-kalimat.

      Jadi, takwil dalam istilah salaf adalah sinonim dari tafsir. Kemudian pada masa khalaf mengalami perubahan makna menjadi suatu pengalihan makna lafadz yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) dengan berdasarkan dalil.

     Takwil merupakan bagian dari tafsir, jika tafsir menyingkap tabir makna dari sebuah lafadz, maka takwil menemukan makna dari lafadz yang ambigu setelah tabir tersingkap. Jadi, takwil dapat berarti pendalaman makna (intensification of meaning) dari tafsir.

     Tafsir menyingkap tabir makna dari lafadz yang tersirat (implisit) sedangkan takwil menemukan makna batin (estetoris) dari lafadz yang eksplisit (tersurat) atau ambigu (mutasyabih).

D. KAIDAH-KAIDAH DALAM TAKWIL

    Takwil harus berdasarkan dengan dalil (qarinah) yang kuat, karena merupakan syarat utama sebagai takwil yang shahih, Jika tidak berdasarkan pada dalil yang shahih maka takwil tersebut adalah takwil batil dan mengikuti hawa nafsu. Selain itu, sebelum melakukan takwil seorang muawwil juga harus memperhatikan makna zhahir lafadz terlebih dahulu atau tafsir terlebih dahulu. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Az-Zarkasyi bahwa “Lâ mathmaha fi al-wushul ila al-bâthin qabla ihkâm al-zhâhir“, tidak ada harapan sampai kepada makna batin teks sebelum meraih makna dzahirnya.[15]Dalam masalah ini, para ulama telah meletakkan kaidah-kaidah takwil, di antaranya sebagai berikut:

1.      Adanya pertentangan antara dua dalil yang shahih, jika salah satunya lemah maka yang diambil adalah yang shahih dan tidak ada takwil. Seperti antara QS.An-Nisa (4) ayat 2 yang berbunyi:

         Terjemahnya:

         “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka,…

          Dan di surah yang sama QS. An-Nisa (4) ayat 6 yang berbunyi:

          Terjemahnya:

          “Dan ujilah[269] anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin,…”

        Pada ayat yang pertama, Allah memerintahkan untuk memberikan harta anak yatim (mutlak), yaitu orang yang ditinggal mati oleh bapak atau ibunya (yatim atau piatu) sebelum usia baligh (berdasarkan klasifikasi usia anak-anak hingga dewasa). Akan tetapi makna ayat ini bertentangan dengan ayat yang kedua yang bermakna perintah untuk memberikan harta anak yatim ketika sudah usia baligh (anak-anak hingga dewasa). Maka, kata yatim pada ayat pertama harus ditakwil dengan mengalihkan maknanya dari makna hakiki kepada makna majazi.[16]

2.      Takwil tidak boleh menggugurkan nash syar’i lainnya, karena takwil merupakan salah satu metode ijtihad yang bersifat zhanni sedangkan nash yang bersifat zhanni tidak bisa mengalahkan nash yang bersifat qath’i. Seperti QS. Al-Maidah (5) ayat 6 yang berbunyi:

         Terjemahnya:

         “Dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,…”

      Kemudian dibaca kasrah (أَرْجُلِكُمْ) oleh kalangan Syi’ah, mereka memilih kasrah bukan fathah dengan alasan athaf. Hal ini akan berimplikasi kepada pemahaman ayat, bolehnya (cukupnya) mengusap kaki dalam wudhu. Pemahaman ini akan berdampak negatif kepada dua hal yaitu: Menggugurkan hadis-hadis shahih yang memerintahkan untuk membasuh kaki. Lazimnya mengusap kaki hanya sebatas mata kaki. Sehingga pembatasan (qaid) pada mata kaki menjadi tidak berguna. Padahal kerancuan makna dalam kalamullah mustahil terjadi.[17]Hal perbedaan lafadz teks Al-Qur’an dalam kondisi ini juga disebabkan oleh faktor qira’ah (bacaannya).

3.      Lafadz yang ingin ditakwil adalah lafadz ambigu dan bisa ditakwil.[18]

          Firman Allah. Swt dalam Al-Qur’an, QS. Adz-Dzariyat (51) ayat 47:

          Terjemahnya;

         “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.”

        Dalam ayat ini digunakan kata ايد  bentuk jamak dari يد. Ayat ini tidak boleh dipahami makna hakiki yang seakan mengatakan Allah. Swt memiliki anggota badan atau tangan yang sangat banyak. Olehnya, pemahaman makna hakiki ditakwil ke makna majazi yang bermakna kekuasaan Allah. Swt.

4.      Takwil (mengalihkan lafadz dari makna dzahir kepada makna batin) harus berdasarkan pada dalil yang shahih dan dalil makna batin harus lebih kuat dari pada makna dzahir.[19]

         Firman Allah. Swt dalam Al-Qur’an, QS. Shad (38) ayat 75 yaitu:

        Terjemahnya;

        “Allah berfirman: “Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”

        Adapun tentang penciptaan Nabi Adam di atas adalah untuk pemuliaan (penyandaran langsung kepada Allah disini disebut bahwa penciptaan Nabi Adam sangat dimuliakan oleh Allah atau Idlafah at-Tasyrif). Tentang ayat ini tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki anggota badan atau dua tangan, karena jelas pemahaman seperti ini jelas tidak sesuai dengan ke-Agungan Allah.

5.      Orang yang hendak melakukan takwil, haruslah berkualifikasi    mujtahid yang memiliki bekal ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu syar’i serta ilmu sains modern[20]

       Sesuai dalam firman Allah. Swt QS. Al-Isra’ (17) ayat 36 yang berbunyi:

          Orang yang tidak memiliki kualifikasi tersebut dilarang melakukannya karena akan terjatuh pada perbuatan yang dilarang yaitu mengucapkan sesuatu tanpa ilmu.[21] Misalnya, upaya penakwilan ayat-ayat Al-Qur’an  dan perdebatan tentang muhkam dan mutasyabih telah terjadi sejak Al-Qur’an turun.

      Upaya yang menakwilkan dilakukan oleh orang-orang yang ahlul kitab dengan Nabi di Madinah yang meragukan kebenaran Al-Qur’an. Dengan mengajak Nabi memperdebatkan Al-Qur’an.[22]Sesuai dalam firman Allah. Swt QS. Ali-Imran (3) ayat 7 yang berbunyi:

         Terjemahnya:

         “Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat,….”

6.      Takwil yang dihasilkan harus sesuai dengan makna bahasa Arab, makna syar’i, atau makna urf (kebiasaan orang Arab) dan makna lughawi. Misalnya, menakwil quru` Seperti dalam firman Allah. Swt QS. Al-Baqarah  (2) ayat 228) yang berbunyi:

           Terjemahnya:

           “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[142],…”  [142] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh.

         Dengan arti haid atau suci adalah takwil sahih, karena sesuai dengan makna bahasa Arab untuk quru`. Takwil yang tidak sesuai makna bahasa, syar’i, atau urf, tidak diterima.[23]

7.      Jika takwil dengan qiyas maka, hendaknya menggunakan qiyas.[24]

         Sesuai dalam firman Allah. Swt QS. Al-Ma’idah (5) ayat 90 yang berbunyi:

         Terjemahya:

    “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

 Qiyas, masih dugaan bukan keyakinan dalam hal tidak adanya sisi perbedaan (i’tibar al-fariq) antara far’ dan ashl, seperti qiyas antara anggur dengan khamr ketika diminum dalam jumlah yang sedikit. Karena mungkin khamr memiliki kelebihan (lebih keras) bila dibandingkan dengan anggur.[25]hal ini juga memiliki kesamaan dengan air tape.

E. PENUTUP

          Pertama, beberapa poin yang perlu diperhatikan dari uraian di atas adalah bahwa takwil pada masa salaf merupakan sinonim dari tafsir, kemudian istilah takwil mengalami perubahan definisi pada masa khalaf yaitu mengalihkan lafadz dari maknanya yang kuat kepada makna yang lemah karena ada indikasi (qarinah) kuat yang menunjukkan hal itu. Indikasi (qarinah) dalam pengalihan makna lafadz tersebut berupa dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, Qiyas, dan kaidah-kaidah dasar syari’ah.

          Takwil memiliki kaitan yang cukup erat dengan tafsir. Takwil merupakan pendalaman makna (intensification of meaning) dari tafsir. Ruang lingkup takwil lebih dalam dari pada tafsir; tafsir mengungkap makna suatu lafadz yang tersembunyi dan hanya memiliki satu makna, sedangkan takwil memilih makna dari sebuah lafadz yang ambigu yang memiliki beberapa makna berdasarkan qarinah. Terkadang takwil juga mengungkap makna yang tidak bisa diungkap tafsir.

        Para ulama juga telah membagi ruang lingkup tafsir dan takwil, ruang lingkup takwil lebih dalam dan lebih sulit dari pada ruang lingkup tafsir. Dalam kajian ilmu tafsir, nash dan dzahir adalah bagian dari pembahasan tafsir, sedangkan yang terdalam; muawwal, dalalah iqtidha’, dan dalalah isharah adalah bagian dari pembahasan takwil.

        Sedangkan dalam kajian ushul fiqh, yang menjadi objek takwil adalah an-nash dan adz-dzahir. Sedangkan mufassar dan muhkam adalah bagian tafsir. Dalam kaitannya dengan masalah makna, pengalihan makna suatu lafadz dari yang kuat kepada makna yang lemah harus memperhatikan; makna lughawi, makna istilah-istilah syar’i, dan makna istilah dalam urf tertentu seperti istilah-istilah dalam ilmu nahwu, fiqh, hadis, dan ilmu-ilmu lainnya. Setiap lafadz harus dikembalikan maknanya kepada tiga macam makna tersebut sesuai dengan qarinah lafadznya.

        Jika menunjukkan kepada makna lughawi maka harus dikembalikan kepada makna lughawi, jika menunjukkan kepada makna syar’i maka harus dikembalikan kepada makna syar’i, dan jika menunjukkan kepada makna urf maka harus dikembalikan kepada makna urf. Terkadang dalam ketiga makna tersebut masih memiliki bagian, seperti makna syar’i terkadang terbagi menjadi hakiki dan majazi.

      Kedua, kaidah-kaidah takwil yang dibuat oleh para ulama dan konsep pengalihan makna dalam takwil ini merupakan perbedaan yang sangat mendasar antara takwil dan hermeneutika. Dalam hermeneutika seseorang tidak terikat dengan makna istilah-istilah syar’i, tidak perlu menggunakan dalil-dalil syar’i, tidak memperhatikan apakah hasil penafsiran tersebut sesuai dengan nash-nash syar’i yang lain atau bertentangan, dan tidak memperhatikan orang yang melakukannya apakah memiliki kemampuan atau tidak.

    Dengan demikian, hasil penafsiran dalam hermeneutika menjadi biasa dan relatif tergantung kepada orang yang melakukan penafsiran. Namun menurut dosen pemandu kami hermeunetika yang menggunakan akal pikiran semata itu kafir. Meskipun pada kenyataannya, metode ini update, Inilah yang harus diwaspadai menurut beliau saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Zarkasyi, Al burhan fi Ulum Al Qur’an , (Beirut: al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1972), jilid. II

Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, (Tafakur: Kelompok Humaniora – anggota IKAPI , 2009), cet. II.

As-Suyuthi Jalaluddin, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2008).

H.E. Syibli Syarjaya, Tafsir Ayat-Ayat Ahkam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008). Ed.I.

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, (Beirut: Dar Thayyibah, 1999). vol.III.

Ibnu Taimiyah, Al-Iklil fi Al-Mutashabih wa At-Ta’wil, (Iskandariyah: Dar Al-Iman, tt).

Shihab Quraish, Al Qur’an tajwid dan terjemahannya, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004).

Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009). Ed.III.

Ali bin Muhammad Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah).

Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul , (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah, 2008).

Abu Ishaq Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, (Khubar: Dar Ibnu Affan, 1997). vol.III.

Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqih. vol.I.

Ali bin Muhammad Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, (Riyadh: Dar Ash-Shami’i, 2003). vol.III.

Ali Asy-Syaukani Muhammad, Irsyadul Fuhul. vol II.


[1] Dalam Al-Qur’an ada dua macam ayat; muhkamat dan mutasyabihat. Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas maksud dan maknanya. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan dapat ditentukan arti yang dimaksud dengan kajian yang mendalam (takwil) atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Allah, seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan perkara-perkara yang ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain. Termasuk juga huruf -huruf yang terputus (huruf muqattha’ah) dalam permulaan-permulaan surat Al-Qur’an. Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2008). h.425.

[2] Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, (Beirut: Dar Thayyibah, 1999). vol.III. h.304.

[3] H.E. Syibli Syarjaya, Tafsir Ayat-Ayat Ahkam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008). Ed.I h.10.

[4] Ibnu Taimiyah, Al-Iklil fi Al-Mutashabih wa At-Ta’wil, (Iskandariyah: Dar Al-Iman, tt). h.30.

[5] Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba’) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS At-Taubah (09) : 108). Shihab Quraish, Al Qur’an tajwid dan terjemahannya, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2004) h. 105.

[6] Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2009). Ed.III h. 197.

[7] Anwar Rosihon, Ulum Al Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia. 2013). Cet.IV  h.211.

[8] Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa Min Ilmi Al-Ushul , (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiah, 2008). h. 312

[9] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, (Riyadh: Dar Al-Wafa’, 2005). Vol. IV h. 68-69.

[10] Ali bin Muhammad Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiah). h. 50

[11]Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, op. cit., h.212.

[12] Anwar Rosihon, Ulum Al Qur’an, op. cit., h. 13

[13] Al-Zarkasyi, Al burhan fi Ulum Al Qur’an , (Beirut: al-Maktabah al-’Ashriyyah, 1972), jilid. II  h. 149.

[14] Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir, (Tafakur: Kelompok Humaniora – anggota IKAPI , 2009), cet. II  h. 11.

[15] Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan. h.420

[16] Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Kattani, At-Takwil. h.9

[17] Ibid.,

[18] Abu Ishaq Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, (Khubar: Dar Ibnu Affan, 1997). vol.III h. 330

[19]Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqan, op. cit., h. 331

[20] Ibid.,

[21]Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’ (17) : 36).

[22] Nashr Hamid Abu Zaid, Menalar Firman Tuhan, (Mizan-Anggota Ikapi, 2003). Cet. I h. 207

[23]‘Ali Asy-Syaukani Muhammad, Irsyadul Fuhul. vol II h. 759

[24] Ibid.,

[25] Ibid.,

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: